Bus kota berjalan lambat, jalanan padat merayap. Hari senin benar-benar hari yang sangat sibuk untuk semua orang.
“Ki, kak Devi aneh banget ya, tak mungkin dia tak mendengar Husin memanggil namamu.” Shella berbisik pelan saat sopir bus berhenti menurunkan seorang penumpang.
“Sudahlah, mungkin memang dia tidak dengar.” Jawaban yang sama sekali tak membuat hati Shella menjadi lega, gadis itu membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot dengan bibir cemberut.
“Kia, duduklah disini,” panggil Evan tak jauh dari mereka berdua.
“Kamu aja udah Evan, aku nggak apa-apa kok berdiri sama Shella.”
“Ki, aku sudah duduk. Sorry…” Suara Shella membuat Kia terkejut, pasalnya gadis itu telah lebih dulu mendapatkan kursi, ia duduk tepat di samping seorang nenek-nenek yang juga tersenyum pada Kia. Cepet banget itu anak.
“Kia…” panggil Evan lagi.
Seorang wanita berambut keriting di samping kursi kosong yang ditawarkan Evan untuknya segera meninggalkan tempat. “Duduklah Dik bersama temanmu, aku mau turun di depan ini kok, duluan ya,” ucapnya menepuk pundak Kia pelan.
Kia yang merasa canggung mengucapkan terima kasih, lantas melihat Evan yang tersenyum padanya. Berjalan mendekati lelaki yang masih setia berdiri menunggu, dan memintanya duduk di kursi sebelah jendela.
“Makasih Van,” ujar Kia tulus. Kini mereka duduk bersebelahan, sedangkan Husin di kursi belakang sangat kesal melihat pemandangan ini. Tapi ia tak bisa berbuat banyak apalagi Devina terus saja mengajaknya berbicara.
Laju bus mulai stabil, melewati hutan membuat kendaraan berwarna putih itu tak lagi harus menurunkan penumpang. Kota Bengkala masih sama, sejuk dengan pemandangan pohon tabebuya yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Bunganya berguguran diterpa angin, membuatnya tampak semakin mirip sakura di negara asalnya.
Angin berhembus lembut dari jendela kaca di samping Kia, sinar matahari pagi juga masuk melalui celah yang membuat wajah gadis itu semakin terlihat bersinar. Evan tersenyum menyaksikan mata Kia yang tertutup dan kepalanya yang beberapa kali terjatuh ke depan. Rupanya gadis itu terlelap dalam perjalanan mereka menuju kampus.
Sopir Bus mendadak menginjak rem hingga kening Kia terantuk kursi depan, Evan menyangka gadis itu akan terbangun dan malu hingga ia berpura-pura memejamkan mata. Namun, tak sangka Kia malah bersandar pada kursi dan kembali tidur.
Evan mendengar sopir bus mengumpat pada pengendara motor yang tiba-tiba saja menyeberang jalan, penumpang lain pun ikut berkomentar hingga suasana bus menjadi sedikit gaduh. Evan yang penasaran hendak berdiri dan melihat ke depan seperti penumpang lain, tapi tiba-tiba saja kepala Kia terjatuh di atas pundaknya. Hal itu membuatnya kembali duduk dan diam mematung, bahkan menarik nafas pun rasanya sangat berat.
Jantungnya berdebar karena kelakuan gadis yang masih lelap dalam mimpi, entah kenapa Kia bisa mengantuk begini. Lelaki itu hanya bisa pasrah sambil mengulum senyum di bibirnya yang manis.
.
“Bisa-bisanya kamu tertidur di pundak Evan Ki? kamu nggak ileran kan?” Shella mengajukan banyak sekali pertanyaan sejak mereka berpisah dari Devina di samping mushola tadi. Gadis itu bilang ia ada mata kuliah yang akan diselenggarakan di perpustakaan, dan meminta kedua temannya pergi sendiri ke kelas mereka.
“Hah??!!” Kia berhenti sejenak, telapak tangan menutup mulut dan mata melotot. “Astaga, bagaimana kalau iya Shel? ya Allah kenapa aku bisa tertidur sih, malu-maluin banget. Bagaimana setelah ini aku harus menghadapi Evan?”
“Fiks sih, kamu harus minta maaf. Apalagi saat kamu bangun dan main nyelonong turun dari bus tinggalin kami tadi, aku sempat lihat Evan menggerak-gerakkan bahunya. Pasti itu kebas, kepala kamu berat Kia kamu bukan bayi,” omelnya.
“Aaahhh… gimana dong Shella…”
“Ya udah sana, cuci muka. Lihat tuh kotoran mata kamu segede kotoran cicak.” Shella menunjuk mata Kia. Kia pun cemberut dan segera melesat menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari deretan ruang kelas dan kantor dosen.
“Kamu berangkat aja dulu Shel, nggak usah anter aku.”
“Ih PD banget kamu Ki, siapa juga yang mau anter kamu. Aku nggak mau ya telat di hari pertama kuliah. Kamu masih ingat kan kata kak Devi tadi dimana letak kelasnya? nanti susul aja. Aku tinggal Ki.”
Kia hanya mengangguk dan tersenyum, segera masuk ke dalam toilet untuk sekedar mencuci muka. Keadaan toilet sangat sepi, mungkin karena beberapa menit lagi mata kuliah akan segera dilaksanakan, jadi para mahasiswi sudah bersiap di ruang kelas masing-masing.
“Huhuhuhu hiks hiks…”
Kia yang tengah berdiri di depan cermin segera menghentikan aktivitasnya, suara tangisan dari salah satu bilik toilet membuatnya tersadar jika ia sedang tak sendirian dalam ruangan itu. Siapa yang menangis? haruskan ku biarkan saja?
Ia kembali memoles make up tipis di wajah, tak ingin kepo dengan tangisan yang semakin terdengar nyaring dan memilukan. “Astaga, sebesar apa masalahnya sampai menangis seperti itu?” gumamnya menatap salah satu bilik toilet yang pintunya tertutup rapat. “Apa dia sakit? atau terluka. Haruskah aku menolongnya?” ucapnya lagi.
Kia berjalan mondar mandir di depan cermin, hati nuraninya menolak abai akan tangisan gadis di dalam sana. Mencoba mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. Kia menjadi panik saat tangisan berhenti dan terdengar suara benda jatuh dari dalam bilik itu.
Ia segera membuka paksa pintu yang ternyata tak terkunci. Seorang gadis dengan lingkaran hitam di mata duduk di atas closet menatap heran. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Kia. Gadis berkulit putih cenderung pucat itu masih diam tak berkedip memandangnya, membuat Kia jadi serba salah. “Kenapa hanya diam? kamu kenapa menangis sekeras itu, kamu terluka?” imbuhnya lagi.
“Hey, apa gadis itu gila? kenapa dia bicara sendiri?” Dua gadis yang berdiri di pintu masuk mengurungkan niatnya, mereka berjalan mundur dan segera meninggalkan Kia sendiri. Kia baru sadar apa yang terjadi, ia segera memasukkan perlengkapan make up nya ke dalam tas, membawa tas jinjing di atas pundak dan berjalan cepat keluar toilet tanpa menoleh ke belakang lagi.
Akan tetapi ia sadar ada yang mengikutinya di belakang, hanya saja ia tak mendengar langkah kaki. “Kamu melihatku? iya kan?” tiba-tiba saja wanita pucat dengan lingkaran mata menghitam itu melayang di depan mata, Kia sempat terkejut tapi ia memilih diam dan terus berjalan menembus hantu wanita itu. Berpura-pura tak melihat dan mendengar apapun, Kia berjalan menuju ruang kelas.
“Hey, aku tau kamu melihatku, bahkan mengajakku berbicara. Jangan berpura-pura,” ucap sosok arwah yang melayang mengikuti langkahnya, Kia masih tak peduli.
“Baiklah kalau itu maumu.” Hantu wanita berbaju putih itu turun ke lantai di depan Kia, dan dalam sekejap mata wajahnya berubah menjadi mengerikan. Wajah hancur dengan kepala sedikit penyok dan berlubang. Dari salah satu mata mengeluarkan darah dan nanah yang mengeluarkan aroma busuk menyengat.
Kia sadar di sekeliling hanya ada dirinya dan hantu wanita itu yang terus berjalan mendekat, ia mundur perlahan sambil terus mencoba bersikap tenang, tangannya menyentuh liontin di balik hijab yang menutup leher, Kia mengucapkan basmalah dan dalam sekejap liontin kristal kembali mengeluarkan sinar berwarna biru terang, sama seperti malam saat ia berjumpa hantu kepala.
Sinar itu mendorong kuat tubuh menjijikkan di depan Kia, melemparnya jauh meninggalkan suara jeritan menggema. Kia mendadak lemas, tubuhnya terhuyung ke samping.
BRUK!!
Kia beradu pandang dengan sosok bermata elang yang menatapnya dengan senyum smirk di wajah “Kamu lagi,” ucap lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
Rendra
2024-06-19
0
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
Rendra yaa, si penguasa kampus /Casual/
2024-06-01
1
FiaNasa
siapa ya pria itu,,,Evan atau Husin ya
2024-06-01
0