Shella meraih kacamata yang sengaja ia letakkan di atas meja, bergegas memasang alat bantu penglihatan itu saat mendengar suara Kia berteriak-teriak dari arah luar kamar. Gadis itu segera membuka pintu dan mendapati temannya berjalan kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Warmin.
“Kia! Hey..Kia, apa yang kamu lakukan malam-malam disini? ngapain kamu panggil-panggil nama almarhum? astaghfirullah Kia…ya Allah… apa yang sebenarnya terjadi, ayo masuk!” Shella menarik tangan temannya itu, membawa paksa kembali ke dalam kamar..
Shella sangat mengkhawatirkan kondisi Kia, gadis itu diam membisu bagai orang linglung, tatapannya pun kosong. Di tengah panik melanda Shella tak sengaja menjatuhkan rak skincare milik Devina yang terletak di atas meja saat hendak mengambil botol minum. Membuat pemiliknya terbangun.
“Shella… Kia… kalian sedang apa?” Devina berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu kamar. Gadis itu mencoba bangun dan membantu Shella memapah Kia menuju bahu ranjang. “Kia kenapa Shel?”
“Entahlah Kak, dia kayak orang kesurupan di depan kamar. Masa manggil-manggil nama… maaf, pak Warmin,” ucap Shella takut-takut.
“Benarkah?” Devina sangat terkejut, ia melihat Kia menunduk dalam. Dicobanya menepuk pipi gadis itu berkali-kali, memanggil namanya hingga Kia tersadar.
“Hah, i-iya Kak? ada apa?” Seolah mengingat sesuatu Kia segera meminta kertas dan bolpoin pada Shella. Shella mengikuti semua permintaan Kia tanpa membantah, pasalnya ia juga sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh gadis indigo itu.
“Nih, mau buat apa sih? kamu bikin takut kami tau nggak sih?” gerutu Shella menyerahkan buku dan bolpoin pada Kia. Gadis itu segera menerimanya dan membubuhkan tinta pada kertas kosong. Menuliskan beberapa kata yang membuat Shella mengernyit heran, gadis berkacamata itu saling tukar pandang dengan Devina, sama-sama heran akan tingkah teman sekamarnya itu.
“Pulang, lantai merah, daun gugur? apaan nih maksudnya Ki? kamu aneh banget sih, kamu kesurupan ya Ki?”
“Kia, apa maksud tulisanmu? bisa kamu ceritakan pada kami?” tanya Devi, gadis itu menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba merinding, bersamaan dengan angin yang bertiup dari celah jendela nako yang mengarah ke rel kereta dimana kecelakaan Warmin terjadi.
Kia mulai menceritakan apa yang terjadi, sepertinya kali ini ia tak bisa menangani kasus ini seorang diri. Teka teki yang diucapkan arwah Warmin membutuhkan bantuan orang lain untuk memecahkannya.
Kia hanya menceritakan garis besar saat awal hantu kepala datang, menggelinding di depan kamar bagaikan bola. Hingga apa yang baru saja terjadi dan teka-teki yang harus diuraikan. Juga pertemuannya dengan Inem dan Heru yang mengaku sebagai pasangan kekasih. Tentu saja Shella mengecualikan fakta bahwa ia melihat pertengkaran Inem dan Warmin saat menjabat tangan wanita itu.
Shella mengangkat kaki ke atas ranjang, memeluk lutut dan menggigit jari jemari. Sedangkan Devina menyimak setiap cerita Kia dengan seksama.
“Aku sudah menyangka, ada yang aneh dengan mereka berdua. Apakah kalian juga berpikir seperti ku?” tanya Devi pada dua temannya itu.
“Bahwa mereka berselingkuh?” Shella menebak kecurigaan Devi, dan gadis cantik itu mengangguk mantap.
“Kalau tidak, tak mungkinkan mereka langsung jadian bahkan di hari kedua setelah kematian pak Warmin,” imbuh Devi lagi, gadis itu terlihat sedih. Jelas ia sangat marah pada Inem dan Heru saat ini, bisa-bisanya mereka berdua berkhianat pada lelaki sebaik Warmin. “Kita harus bantu Pak Warmin Kia, Shel. Bisa kan?”
“Kita usahakan Kak, aku juga gedeg sama kang selingkuh. Rasa-rasanya ingin ku cabein aja itu apemnya agar nggak bisa menggatal lagi.” Shella bersungut-sungut membuat Kia tak bisa menahan tawa.
“Ki, kenapa? kesurupan part dua nih?” Shella beringsut menjauh, saat Kia masih saja tertawa terpingkal-pingkal, bahkan Devina terlihat bingung menatapnya.
“Aku nggak pernah kesurupan Shel, aku cuma ketawain bahasa kamu. Apem kamu bilang? dapat darimana sih bahasa kayak gitu?” ucapnya sembari menghapus air yang meleleh di sudut mata.
“Ah Kia, udahlah kita tidur aja lagi. Masih jam dua nih. Besok aja deh kita coba pecahkan teka-teki ini. Aku masih sangat mengantuk.”
Ketiganya mengangguk setuju, Kia dan Devi kembali merangkak ke atas ranjang dan Shella mengunci pintu. Malam masih panjang, setidaknya mereka harus kembali tidur untuk malam ini.
.
Senja di sore itu terlihat sedikit aneh, warna langit tampak kemerahan dan sangat mengerikan. Udara terasa pengap dan panas, tak ada sedikitpun angin berhembus di sekitar.
Seberkas cahaya menyilaukan mata, menutup merahnya langit dengan sinar keperakan. Sinar yang awalnya hanya berada dalam satu titik, lama-lama membesar seolah hendak menelan Kia yang tengah berdiri menatap langit sore itu. Gadis itu merasakan kalung liontin biru yang dikenakannya bergerak-gerak lantas menyorotkan sinar biru melawan sinar perak.
Dan kalian tau apa yang terjadi? sosok wajah manis dengan kumis tipis di sekitar bibir datang mendekat. Tak ada senyum , wajah itu justru terlihat sangat sedih.
“Pak Warmin?” sapa Kia.
“PULANG, LANTAI MERAH, DAUN GUGUR…PULANG, LANTAI MERAH, DAUN GUGUR, PULANG, LANTAI MERAH, DAUN GUGUR….
“Aarrghh…huh huh huh.”
“Kia, ada apa? kenapa kamu berkeringat banyak? kamu mimpi buruk ya?” Shella yang baru saja hendak mengenakan mukena untuk sholat subuh terkejut karena tiba-tiba saja Kia menjerit.
Kia mengangguk, ia masih syok sebab dalam mimpi Warmin kembali mengingatkan kata-kata teka-teki itu. “Shel, kali ini dia datang dalam mimpi untuk mengatakan hal sama.”
“Bukankah berarti arwahnya memintamu segera memecahkan maksud dari teka teki itu Kia, mungkin ini yang membuatnya tak bisa meninggalkan dunia.”
“Kamu benar, lantas apa maksud dari pulang? apakah arwah itu memintaku pulang? sepertinya bukan itu maksudnya.”
“Mungkin karena hantu itu ingin pulang ke tempat asal. Tapi, bagaimana caranya?”
“Tunggu, mungkin ini berhubungan dengan kata kedua. Lantai merah? Dimanakah lantai merah ini berada?" Keduanya benar-benar tak memahami clue dari teka teki itu.
Kedatangan Devi membuat keduanya sadar bahwa mereka harus segera berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
***
Tak ada yang menyangka jika hari senin di desa Gondowangi sangatlah sibuk, warga berebut angkot untuk berangkat bekerja ke kota, bahkan anak-anak sekolah menengah atas juga menggunakan kendaraan yang sama. Sebab hanya angkot lah kendaraan yang murah meriah tapi cocok untuk saku pelajar dan pekerja pabrik.
Kia dan kedua temannya harus merelakan angkot terakhir yang menolak mereka, terlalu asyik membahas teka-teki Warmin adalah penyebabnya. Yang menjadikan mereka telat berangkat ke kampus.
“Kia, Shella, kita naik bus aja yuk. Nggak apa lah agak mahal daripada telat,” ucap Devina menarik tangan keduanya menuju bus kota yang berhenti tak jauh dari tempat mereka. Namun, sepertinya pagi itu ketiga gadis sedang tak beruntung, bahkan bus yang mereka tumpangi juga telah penuh.
Kia menyisir deretan kursi dari belakang ke depan, bagian kanan dan kiri. Ia bisa melihat Husin melambaikan tangan ke arahnya. “Kia, sini!” ucapnya. Tepat di samping Husin tersedia satu bangku kosong sebab penumpang baru saja turun.
“Ki, dipanggil Husin tuh,” bisik Shella menyiku lengan temannya. Baru juga Kia melangkah saat Devina melewatinya, gadis itu lebih dulu duduk di samping Husin dengan senyuman lebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ass Yfa
yang dipanggil Kia, yg datang Devi
2024-06-21
0
Zuhril Witanto
devina gercep
2024-06-19
0
ren rene
warmin korban pesugihan kyknya.
2024-06-03
0