Bab 18

Reka menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang sangat empuk, merasa lelah setelah hari yang penuh dengan peristiwa. Tatapannya memandang langit-langit kamarnya yang tenang, tapi pikirannya justru dipenuhi dengan pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.

"Tiba-tiba saja aku ditarik paksa untuk mengulang isi cerita," gumam Reka kepada dirinya sendiri, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Apakah karena aku meminta pembatalan pertunangan pada daddy membuat cerita berubah? Apakah itu yang membuatku kembali ke awal cerita, di mana aku masih berstatus sebagai tunangan Gazef?"

"Kenapa aku harus mengalami ini semua?" ucap Reka berbicara kepada langit-langit kamarnya, mencari jawaban yang tidak kunjung datang.

Namun, tak ada jawaban yang datang. Hanya keheningan yang memenuhi ruangan, menyisakan Reka dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.

Reka bangun dari tidurnya dengan rasa penasaran yang semakin memuncak. Pikirannya masih dipenuhi oleh kebingungan atas mengapa dia kembali ke awal cerita, hanya karena membatalkan pertunangan dalam alur cerita.

"Atau ada pemicu lainnya? Tidak mungkin hanya karena aku meminta membatalkan pertunangan, cerita jadi berulang kembali," gumam Reka.

Reka berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia membukanya dan melihat pakaian-pakaian yang tergantung dengan rapi.

"Meskipun gegabah, hanya ini satu-satunya ide yang terlintas di otakku," kata Reka dengan tatapan yang tertuju pada dress panjang berwarna putih.

Reka memakai dress putih dan melihat ke pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih itu melingkari tubuhnya dengan indah, menonjolkan keanggunan dan kecantikan alaminya.

"Cantik," gumam Reka kepada dirinya sendiri, senyum terukir di wajahnya saat dia memperhatikan penampilannya yang mempesona di cermin.

Saat dia memperhatikan dirinya dengan penuh kekaguman, suara kecil di dalam hatinya mulai bersuara. "Kamu layak mendapatkan kebahagiaan, Reka. Kamu layak mendapatkan yang terbaik," bisiknya kepada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hatinya.

Reka tersenyum miring saat melihat pantulan dirinya di cermin. Senyuman itu tidak seperti senyuman biasanya. Senyuman itu membuat wajah Reka terlihat mengerikan, seperti seseorang yang memiliki rencana jahat atau rahasia gelap yang disembunyikan di dalam hatinya.

*******

Rosa berdiri di depan cermin, menata rambutnya dengan cermat, sementara dress merah muda yang dia kenakan membuatnya terlihat anggun. Dia sedang bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Gazef, dan raut wajahnya terpancar kegembiraan.

"Sialan, aku harus tampil sempurna malam ini," gumam Rosa kepada dirinya sendiri, sambil menyemprotkan sedikit parfum di lehernya. "Aku harus membuat Gazef tak bisa lepas dari pandanganku."

Dia tersenyum puas melihat hasil akhir dari penampilannya, lalu menatap dirinya sendiri di cermin dengan penuh keyakinan. "Kau memang luar biasa, Rosa. Kau bisa membuat siapapun terpesona dengan pesonamu."

Dengan langkah mantap, Rosa meninggalkan kamarnya menuju tempat pertemuan dengan Gazef, siap untuk membuat malam itu menjadi salah satu yang tak terlupakan.

Rosa menunggu dengan gelisah di depan halaman rumahnya, matanya terus memantau setiap kendaraan yang melintas di depannya. Wajahnya dipenuhi dengan ekspektasi dan antusiasme yang tak tersembunyi.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya, dan pintunya terbuka perlahan. Gazef keluar dari mobil dengan langkah elegan, memperlihatkan senyumnya yang mempesona.

"Maaf aku terlambat, sayang," ucap Gazef dengan suara yang lembut, sambil menghampiri Rosa dengan langkah ringan.

Rosa tersenyum manis, membalas sapaan Gazef dengan hangat. "Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kamu sudah datang," jawabnya, wajahnya berseri-seri melihat kehadiran Gazef.

Gazef mengulurkan tangannya, mengundang Rosa untuk masuk ke dalam mobil. "Mari kita mulai malam ini dengan indah," ucapnya dengan penuh keyakinan.

Rosa menggenggam tangan Gazef dengan penuh kebahagiaan, lalu bersama-sama mereka melangkah menuju mobil mewah itu, siap untuk menghabiskan malam yang romantis bersama.

Mobil mewah melaju di jalanan malam yang tenang, lampu-lampu kota yang gemerlap menyinari perjalanannya. Akhirnya, mobil Gazef berhenti di depan sebuah restoran mewah, yang terkenal sebagai tempat makan eksklusif bagi kalangan kaya.

Gazef membuka pintu mobil dengan gagahnya dan menawarkan tangannya pada Rosa. "Inilah tempat makan malam kita malam ini, sayang. Aku harap kamu akan menyukainya," ujarnya dengan senyum lebar.

Rosa tersenyum kagum melihat bangunan megah yang terhampar di hadapannya. "Wow, ini benar-benar luar biasa, Gazef! Terima kasih sudah membawaku ke sini," ucapnya, matanya bersinar-sinar melihat kemegahan restoran tersebut.

"Maukah kamu membiarkan aku menghabiskan malam ini dengan makan malam yang istimewa?" tanya Gazef, sambil menggenggam erat tangan Rosa.

Rosa mengangguk dengan antusias. "Tentu saja, aku mau, aku tidak akan melupakan pengalaman ini bersamamu, Gazef," jawabnya dengan senyuman bahagia.

Dengan langkah penuh kebanggaan, mereka berdua memasuki restoran yang mewah itu.

Gazef dan Rosa memasuki restoran dengan langkah gemulai, diikuti oleh aroma makanan lezat yang menggoda. Mereka menemukan meja yang nyaman dan duduk dengan anggun, menatap menu yang tersedia di atas meja.

"Pilihan makanannya terlihat begitu menggoda, bukan?" ucap Gazef, memperhatikan senyum bahagia di wajah Rosa.

"Iya, benar sekali. Aku tidak sabar untuk mencoba hidangan-hidangan khas restoran ini," jawab Rosa, matanya berbinar-binar.

Mereka memesan hidangan favorit mereka dan mulai menikmati makanan yang lezat. Suasana restoran yang tenang dan mewah membuat mereka semakin menikmati momen yang mereka habiskan bersama.

"Sungguh malam yang indah, bukan?" kata Gazef sambil menatap mata Rosa dengan penuh kasih sayang.

"Ya, sangat indah. Terima kasih sudah membuat malam ini begitu istimewa, Gazef," jawab Rosa, tersenyum lembut.

Mereka melanjutkan makan malam mereka dengan penuh kebahagiaan, menikmati setiap hidangan dan setiap momen bersama.

Setelah menikmati makan malam yang lezat, Gazef dan Rosa keluar dari restoran dengan senyum mempesona di wajah mereka. Udara malam yang sejuk menyambut mereka saat mereka berjalan keluar.

"Bagaimana kalau kita menonton teater malam ini, sayang?" tawar Gazef, tangannya yang gagah memegang tangan Rosa dengan lembut.

Rosa tersenyum senang mendengarnya. "Itu adalah ide yang bagus, Gazef! Aku selalu menyukai pertunjukan teater," jawabnya, matanya bersinar-sinar.

Gazef dan Rosa masuk ke dalam mobil, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju gedung teater yang terletak di pusat kota. Saat mereka melaju di tengah jalan yang agak sepi, sebuah mobil sport mewah mendadak muncul di depan mereka, menghentikan mobil Gazef dengan tiba-tiba.

Mobil hitam berkilauan itu berhenti tepat di depan mereka, memaksa Gazef untuk menginjak rem dengan keras. Sorot lampu mobil sport itu menciptakan bayangan gelap di malam yang tenang.

Gazef menatap ke depan dengan ekspresi bingung, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Ada apa ini?" gumamnya, mengetatkan genggaman di kemudi.

Rosa yang duduk di sampingnya juga terkejut dengan kejadian tersebut. "Kenapa kita dihentikan seperti ini, Gazef?" tanyanya dengan nada cemas.

Dari dalam mobil, Reka keluar dengan anggun, mengenakan dress putih yang mempesona sambil memegang senjata Desert Eagle Mark XIX di tangannya. Wajahnya tersenyum sinis saat dia melihat Gazef dan Rosa yang terkejut di dalam mobil.

Gazef dan Rosa saling pandang dengan kebingungan, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka menatap Reka dengan ekspresi campuran antara takut dan kebingungan.

Reka mengarahkan Desert Eagle Mark XIX-nya ke arah Gazef yang terduduk di dalam mobil. Dengan sikap tenang, dia menarik pelatuknya tanpa ragu, melepaskan tembakan yang menggetarkan udara, peluru cepat melesat dan menembus kaca mobil sebelum akhirnya menemui sasaran tepat di kepala Gazef.

Gazef terkulai tak bernyawa di kursi pengemudi, darah segera membanjiri lukanya yang fatal. Rosa, yang menyaksikan adegan mengerikan ini, tidak bisa menahan teriakan histerisnya.

"Gazef!" teriak Rosa dengan penuh keputusasaan, air mata berlinang di pipinya. "Kenapa kamu melakukan ini, Reka?!"

Reka hanya menatap dingin ke arah Rosa, tanpa sepatah kata pun. Reka mendekati Rosa yang terduduk di dalam mobil, tubuhnya gemetar dalam kepanikan dan keputusasaan. Dengan gerakan yang kasar, Reka membuka pintu mobil bagian penumpang dan menarik Rosa keluar dengan kasar.

Rosa terjatuh ke tanah dengan tubuh yang gemetar, airmata mengalir deras di wajahnya yang pucat karena ketakutan dan kepanikan. Namun, Reka tidak menghiraukan tangisan Rosa dan terus menyeretnya dengan kasar.

Terpopuler

Comments

Wisteria

Wisteria

reka adegan bos si authornya g kasih aba" kalau mau belok
aku tadi sempet bingung jg

2024-08-01

0

Erni Nofiyanti

Erni Nofiyanti

kirain mukanya rusak

2024-06-14

0

Grey

Grey

apa jangan² karena perasaan kael? author nya terlalu terobsesi sama peran si kael? atau author nya terobsesi sama ending dari pemeran utama yg dia ciptakan?

2024-06-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!