Bab 5

Reka membuka pintu kamarnya dengan perlahan, tidak menyangka bahwa dia akan disambut oleh pemandangan yang begitu megah. Matanya membelalak kaget saat melihat ruangannya yang begitu besar dan luas, serta dihiasi dengan kemewahan yang luar biasa.

Langkahnya terhenti di ambang pintu saat dia memerhatikan tempat tidur king-size yang menghiasi pusat kamar, dilapisi dengan selimut sutra yang lembut dan empuk. Di sekelilingnya, terdapat meja rias yang elegan dengan cermin besar, lemari besar dengan pintu kaca, dan lantai yang dilapisi dengan karpet mewah.

Reka merasakan perasaan campuran antara kagum dan terkejut. Dia tidak pernah membayangkan bahwa kamarnya akan begitu luas dan mewah. Ini jauh melampaui ekspektasinya, dan dia merasa terharu oleh kebaikan hati orang tuanya yang telah menyediakan tempat istirahat yang nyaman baginya.

Dengan langkah hati-hati, Reka memasuki kamarnya dan melangkah ke tengah. Dia merasa seperti sedang bermimpi, berada di dunia yang begitu jauh dari apa yang biasa dia kenal.

"Sungguh beruntung hidup Reka yang asli, dia hidup dengan sangat mewah," ujar Reka aka Naya, suaranya penuh dengan kekaguman saat dia memandang sekeliling kamarnya yang mewah.

"Kenapa author membuat hidup Reka sangat baik dan sempurna jika hanya untuk menjadi tumbal percintaan dua sejoli pubertas?" kata Reka aka Naya bertanya pada dirinya sendiri, suaranya penuh dengan kebingungan.

"Hahhh, aku sangat beruntung merasuk kedalam tubuh Reka. Aku bisa hidup dengan tenang tanpa takut kehabisan uang dan tidak takut akan ada musuh yang menyerang," lanjutnya, suaranya penuh dengan kepuasan.

Reka melangkah ke arah lemari besar dengan pintu kaca, jantungnya berdebar-debar saat memikirkan pakaian apa yang akan dia pilih dari koleksi mewah di dalamnya. Dia membuka salah satu pintu lemari dan terpesona oleh deretan pakaian yang teratur rapi, berbagai gaun, blus sutra, rok mewah, dan berbagai aksesoris yang menghiasi lemari tersebut.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusiasme, Reka memilih sebuah blus sutra berwarna biru langit yang lembut dan mengkilap. Blus itu dihiasi dengan renda di bagian kerah dan lengan, memberikan sentuhan elegan namun tetap sederhana. Dia memadukannya dengan rok pensil hitam yang pas di tubuh, menonjolkan siluetnya dengan anggun.

Reka berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan, mengagumi penampilannya. Blus sutra itu jatuh dengan sempurna di bahunya, menciptakan efek yang elegan dan berkelas. Rok pensil hitam memberikan kontras yang kuat namun tetap harmonis, membuatnya terlihat lebih dewasa dan anggun.

Saat dia melihat bayangannya di cermin, Reka merasakan perpaduan antara kepercayaan diri dan kekaguman. Dengan senyum puas, dia menyisir dan mengikat rambutnya.

Reka baru saja selesai mengganti pakaian dan sedang mengagumi penampilannya di cermin dibuat terkejut saat pintu kamarnya di dobrak paksa.

Dengan napas tertahan, Reka melihat dua pria tampan kembar masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi serius di wajah mereka. Mereka memiliki wajah yang identik dengan rahang tegas, mata tajam, dan postur tubuh yang atletis. Sebelum Reka sempat mengucapkan sepatah kata pun, salah satu dari mereka melangkah cepat ke arahnya.

Salah satu dari pria kembar itu melangkah cepat ke arah Reka dan menangkup pipinya dengan kuat, membuat bibirnya mengerucut karena tekanan.

"Sayangku yang manis, imut, dan lucu, apa kamu baik-baik saja? Kakakmu yang tampan tiada tara ini mendengar kalau kamu pingsan di sekolah," katanya dengan nada khawatir, meskipun tanpa sadar dia menangkup pipi reka dengan kuat.

Reka kesulitan menjawab karena pipinya yang dijepit begitu keras. "Uuu aaa awww," gumamnya, suaranya teredam dan tak jelas.

Pria itu tertawa kecil, namun matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Hoh, sungguh malang nasibmu. Kamu pasti sangat kesakitan hingga membuatmu kesulitan untuk berbicara," katanya, menatap Reka dengan penuh perhatian.

Reka merasakan sakit yang menjalar dari pipinya yang dijepit erat. Rasa kesal memuncak dalam dirinya, dan tanpa berpikir panjang, dia mengayunkan tinjunya ke arah pria tampan yang menangkup pipinya dengan kuat. Pukulan itu mengenai rahangnya dengan cukup keras, membuat pria itu tersentak mundur.

"Sakit, bodoh!" seru Reka dengan suara marah, matanya berkilat penuh kemarahan.

Pria tampan itu memegangi rahangnya yang sekarang terasa sakit, menatap Reka dengan campuran antara keterkejutan dan kekaguman. "Wow, ternyata adikku ini punya tenaga juga," katanya sambil tersenyum masam.

Pria kembar yang satunya hanya bisa tertawa, memandang mereka berdua dengan geli. "Kamu memang pantas mendapatkannya. Jangan mengganggu Reka lagi, atau kamu bisa merasakan lebih banyak pukulan," katanya sambil menahan tawa.

Reka masih berdiri dengan napas yang tersengal-sengal, berusaha menenangkan diri dari ledakan emosinya.

"Ya, maaf, aku kan khawatir," kata pria tampan itu sambil memegangi rahangnya yang masih terasa sakit. "Daddy bilang adik manis, imut, lucu pingsan karena terkena lemparan bola basket."

"Berhenti memanggilku manis, imut, lucu! Aku jijik mendengarnya!" bentak Reka, wajahnya merah karena marah.

"Awww, hatiku yang mungil terasa sangat sakit dan hancur berkeping-keping mendengar perkataan adinda yang terkasih," balas pria itu dengan nada dramatis, berpura-pura sedih.

"Ku bilang berhenti! Jika Kak Arsan tidak berhenti, aku akan memberikan pukulan yang lebih kuat," ancam Reka, mengepalkan tinjunya.

"Aduh, takutnya," kata Arsan dengan nada mengejek.

Arsad, pria kembar lainnya, menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Arsan, hentikan. Kamu suka sekali mengganggu Reka. Kasihan dia jadi bahan kejahilanmu setiap hari."

"Aku tidak bisa berhenti mengganggu adikku yang manis, imut, lucu. Sehari saja aku tidak mengganggunya, rasanya badanku meriang," jawab Arsan dengan nada bercanda, meski dia tahu adiknya sudah sangat marah.

"Menjijikkan!" seru Reka, melangkah cepat menuju Arsan dengan niat memukulnya lagi. Namun, Arsan dengan cepat berlindung di balik tubuh Arsad, yang berdiri tegap sambil menahan tawa.

"Reka, tenanglah. Arsan hanya bercanda," kata Arsad sambil meletakkan tangan di bahu Reka, mencoba menenangkan adiknya yang sudah sangat kesal.

Reka berhenti sejenak, napasnya masih tersengal-sengal karena marah. Meskipun Arsad mencoba meredakan suasana, Reka merasa frustasi dengan tingkah laku Arsan yang mengganggunya.

"Kami kesini hanya ingin melihat keadaanmu. Aku senang jika kamu baik-baik saja," kata Arsad dengan suara lembut, mencoba menenangkan situasi.

"Ya, Kak... Maaf sudah membuat keributan," sahut Reka dengan nada kesal.

"Astaga, jin tomang mana yang merasuki tubuh cebol adik ku, " kata Arsan dengan nada mengejek.

"Diamlah sebelum ku jahit mulut sialanmu itu," balas Reka dengan marah.

"Adik ku benar-benar kerasukan, wahai jin tomang, jin botol, jin lampu ajaib atau jin apapun itu, keluarlah dari dalam tubuh cebol adik yang goblok ini," lanjut Arsan dengan suara yang dibuat takut.

"Kali ini aku akan benar-benar memukul kakak lebih kuat dari pukulan yang tadi!" ancam Reka, tangannya sudah terkepal siap untuk menyerang lagi.

"Mommy, Arsan takut! Jin tomang, jin botol mengamuk, jin tomang masuk ke tubuh cebol Reka!" teriak Arsan sambil berlindung di balik Arsad, menatap Reka dengan wajah yang sangat mengesalkan bagi reka.

Arsad hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa kecil melihat kelakuan kedua adiknya. "Cukup, kalian berdua seperti anak kecil saja. Reka, tenanglah, dan Arsan, berhentilah mengganggunya."

"Dia duluan yang memulai," kata Reka dengan nada kesal, menunjuk ke arah Arsan.

"Kenapa aku? Aku kan tidak bersalah karena aku pria tampan dengan badan tegap berotot yang mempesona," jawab Arsan dengan nada menyebalkan.

"Pria tampan tidak pernah salah. Yang salah itu kamu, sudah cebol, suka marah-marah lagi," lanjutnya menambahkan.

Reka merasa semakin kesal mendengar perkataan Arsan. Tanpa kata-kata lagi, dia melepas sendal yang dia pakai dan dengan langkah mantap mengambil sendal tersebut. Dengan hati yang masih berdegup kencang karena amarah, Reka mendekati Arsan dan tanpa ragu memukul tubuhnya dengan sendal yang dipegangnya.

Tanpa ragu, Reka mengayunkan sandal tersebut, memukul tubuh Arsan dengan penuh emosi. "Kamu pikir kamu bisa mengejek ku begitu saja?!" teriak Reka, setiap pukulan sandal yang mendarat di tubuh Arsan seakan melepaskan kekesalan yang selama ini terpendam dalam dirinya.

Arsan terkejut, mencoba menghindar namun tak sepenuhnya berhasil. "Hei, hei, tenang, Reka!" teriaknya, tapi Reka tidak mendengar apa-apa selain suara hatinya yang marah.

Arsad memperhatikan Reka dengan tatapan penuh kasih saat dia memperhatikan Reka yang memukul Arsan tanpa ampun.

"Benar kata Daddy, sifat Reka berubah," gumam Arsad dalam hati, senyum kecil terukir di bibirnya. "Aku senang jika sifatnya selalu seperti ini."

Arsad tertawa kecil melihat Arsan yang terus dipukuli oleh Reka meskipun telah memohon maaf. Arsad merasa sedikit kasihan, namun Arsad memilih diam dan menonton, menurut Arsad, Arsan memang pantas mendapatkan pukulan karena perkataannya yang menyebalkan.

Akhirnya, setelah beberapa pukulan, Reka berhenti, napasnya tersengal, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Jangan pernah menganggu ku lagi," ucapnya dengan suara bergetar, melemparkan sandal itu ke lantai marmer.

"Aduh duhhh, adikku yang manis, imut, lucu sudah pandai menghajar kakaknya sendiri, kakak makin suka deh. Adikku yang manis, will you marry me, Raarrrwww," kata Arsan sambil tertawa.

"Kali ini aku akan membunuhmu, sialan!" bentak Reka dengan nada marah yang menusuk. Matanya menyala-nyala dengan amarah yang membara.

Arsad, yang menyaksikan pertengkaran kedua adiknya, hanya bisa menghela napas lelah.

Terpopuler

Comments

Seven8

Seven8

kamu tdk akan senang jika tau jiwa aslinya sdh meninggal

2024-11-12

1

✓🥀 forever

✓🥀 forever

suka/Heart/

smngt Thor

2024-06-18

5

_cloetffny

_cloetffny

nahh ini sifat alami semua ladies si wkwk

2024-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!