Suasana makan malam di rumah itu terasa tegang. Cahaya lampu kristal yang menggantung di atas meja makan memancarkan kilauan lembut, namun tidak mampu meredakan atmosfer kaku yang menyelimuti ruangan. Aroma makanan lezat memenuhi udara, namun nafsu makan seolah hilang di antara keheningan yang mencengkeram.
Reka duduk di sebelah Arsan dengan raut wajah muram. Pandangannya tertunduk, menghindari tatapan siapa pun, terutama Arsan. Matanya yang biasanya ceria kini dipenuhi bayangan kekesalan yang belum sepenuhnya mereda.
Di sisi lain, Arsan mencoba mencuri pandang ke arah Reka, senyum kecil terbit di bibirnya, seakan mengabaikan insiden yang terjadi sebelumnya. Dia berusaha bersikap biasa saja, meskipun tahu bahwa suasana di antara mereka masih jauh dari kata nyaman.
Mommy dan Daddy duduk dengan raut wajah bingung, menatap ke arah Reka dan Arsan. Mereka merasakan ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak tahu pasti apa yang telah terjadi di antara kedua anak mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" pikir Daddy dalam hati, merasa cemas namun enggan langsung bertanya.
"Reka, sayang, ada apa? Kamu kelihatan sangat murung," kata Mommy akhirnya mencoba memecah keheningan dengan nada lembut.
Reka menoleh melihat Arsan dengan tatapan tajam yang menyiratkan sebuah jawaban tanpa kata-kata. Matanya memancarkan kemarahan yang terpendam.
"Arsan? Memangnya apa yang Arsan lakukan, apa dia menjahili kamu lagi?" tanya mommy.
Arsan tersenyum kikuk, berusaha tampak tidak bersalah. "Aku? Ah, tidak, Ma. Kami hanya bercanda, kan, Reka?" katanya dengan senyum yang menyebalkan.
"Kak Arsan menggangguku," adu Reka dengan suara penuh kekesalan. "Dia bilang aku kerasukan jin tomang, dia juga menyebutku cebol."
Semua orang di meja makan terdiam sejenak, mencerna kata-kata Reka. Tatapan mereka beralih ke Arsan yang duduk dengan ekspresi santai. Arsan mengangkat bahu santai.
"Kamukan memang cebol, badanmu pendek. Coba lihat aku dan Arsad, tinggi kami 182 cm, Mommy 178 cm, Daddy 187 cm, sedangkan tinggimu cuma 156 cm. Salahkah jika kakakmu yang tampan ini menyebutmu cebol?" jawab Arsan dengan nada yang acuh tak acuh.
Reka, yang kesal dengan perkataan Arsan, tiba-tiba menendang kaki Arsan yang berada di bawah meja dengan keras, membuat Arsan terkejut dan meringis kesakitan.
Namun, Reka masih belum puas. Dengan cepat menjambak dan menarik rambutnya dengan kasar. Arsan meringis kesakitan, mencoba melepaskan diri, tapi Reka tidak mengendurkan cengkramannya.
"Awww... Akhh, sakit, Reka. Maaf, aku hanya bercanda," desis Arsan, berusaha meredakan kemarahan adiknya.
"Aww... Awaa, aku janji tidak akan mengejekmu cebol lagi, meskipun kamu memang cebol," kata Arsan sambil mencoba memohon maaf.
"Sialan! Dasar kakak yang menyebalkan!" desis Reka dengan suara tajam, sambil memperkuat jambakannya pada rambut Arsan.
Mommy dan Daddy yang melihat kejadian itu segera berusaha menenangkan situasi. "Reka, lepaskan rambut Arsan!" perintah Daddy dengan lembut.
"Sayang, lepaskan. Kasian kakakmu, lihatlah muka jeleknya yang meringis itu," ucap Mommy mencoba menenangkan Reka.
Reka tidak mendengarkan, dia terus menarik-narik rambut Arsan dengan marah, hingga sebuah map biru tiba-tiba berada di depan mata Reka. Membuatnya terkejut dan refleks melepaskan jambakannya dengan cepat.
"Awss..." ringkas Arsan sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Kamu pantas mendapatkannya," kata seorang pria tampan dengan pakaian rapi, lengkap dengan kemeja. Wajahnya terlihat sangat tampan, membuat Reka sedikit terpesona.
"Kak Lionel sudah pulang," kata Arsan dengan sedikit ketus.
"Kak Lionel sudah pulang," ucap Lionel, meniru suara Arsan dengan nada yang sama.
"Ck, menyebalkan. Aku jadi tidak bisa menganggu Micro sister ku yang tersayang," gerutu Arsan dengan ekspresi kesal.
"Hentikan, jangan ganggu Reka lagi," kata Lionel dengan suara tegas namun tenang. "Jika kamu masih mengganggunya, siap-siap saja mendapatkan hukuman."
Tatapan Lionel yang tajam membuat Arsan menelan ludah, merasa terpojok. Dia tahu Lionel bukanlah orang yang main-main dengan kata-katanya. "Oke, oke, aku berhenti. Maaf, Reka," ucap Arsan dengan nada yang lebih tulus kali ini.
Reka hanya mengangguk singkat, masih duduk dengan sikap waspada.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih sakit? Kata Felly kepalamu terkana lemparan bola basket," tanya Lionel dengan nada perhatian.
Reka memalingkan wajahnya ke arah Lionel.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Tenang saja," jawab Reka dengan suara lembut, senyum manis terukir di bibirnya.
"Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita mulai makan malamnya," kata Daddy dengan nada hangat, menatap ke seluruh anggota keluarga yang sudah duduk di meja makan.
Kak Gred belum datang, Dad," kata Arsad dengan cepat menyela perkataan daddy.
"Gred sedang ada pekerjaan di luar kota. Besok dia baru pulang," jawab daddy.
"Selamat makan semuanya," kata Arsan dengan ceria, langsung meraih lauk yang tersaji di depannya.
membagikan makanan, memastikan semua orang mendapatkan bagian yang cukup. "Jangan lupa sayurnya, Arsan," kata Mommy sambil tersenyum lembut melihat Arsan yang sangat lahap memakan makanannya.
Suasana makan malam di ruang makan keluarga itu penuh dengan kehangatan dan canda tawa.
Arsan, dengan senyum nakal di wajahnya, sesekali menjulurkan lidah atau membuat wajah lucu ke arah Reka yang duduk di sampingnya. Tidak jarang, dia juga mencubit pelan lengan Reka atau mengganggunya dengan mengambil potongan makanan dari piringnya.
Setiap kali Reka menyadari aksi iseng Arsan, wajahnya berubah merah karena kesal.
Reka yang kesal tanpa ragu, mengayunkan tangan dan memukul kepala Arsan dengan keras.
"Berhenti mengganggu ku!" jerit Reka kesal.
"Aduh, Reka! Sakit, tahu!" keluh Arsan sambil mengusap kepalanya, meskipun senyum lebar masih terpancar di wajahnya.
Mommy tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Arsan, berhenti mengganggu adikmu. Biarkan dia makan dengan tenang."
"Ma, aku hanya bercanda," kata Arsan dengan nada memohon, meskipun jelas dia menikmati reaksinya yang didapat dari Reka.
Di ujung meja, Daddy memperhatikan anak-anaknya dengan senyum hangat. "Ayo, jangan bertengkar terus. Nikmati makanan kalian. Besok kita punya hari yang panjang," katanya dengan nada lembut namun tegas.
Arsad, yang duduk di seberang Arsan dan Reka, tertawa kecil melihat interaksi mereka. "Kalian berdua selalu saja ada tingkah absurdnya," katanya sambil menggelengkan kepala.
Selesai makan malam, keluarga berkumpul di ruang keluarga yang luas dan nyaman. Cahaya lampu yang hangat memberikan suasana yang tenang dan akrab, sementara aroma kayu dari perapian yang dinyalakan menambah kehangatan ruangan.
Daddy duduk di sofa besar, dengan Mommy di sampingnya, keduanya tampak rileks setelah makan malam yang memuaskan. Lionel duduk di kursi di dekat perapian, dengan senyum hangat di wajahnya.
Arsad mengambil tempat di sofa lainnya, meregangkan tubuhnya sambil menghela napas lega.
Arsan dan Reka duduk di karpet yang empuk, bermain dengan remote televisi sambil sesekali saling mengganggu dengan candaan ringan. Tiba-tiba, Daddy menatap Reka dengan serius, memecah suasana santai di ruangan itu.
"Reka, Daddy ingin bertanya, apa kamu benar-benar ingin membatalkan pertunanganmu dengan Gazef?" tanya Daddy dengan nada lembut.
Ruangan itu seketika sunyi. Lionel, Arsad, dan Arsan yang mendengar perkataan Daddy terkejut, mereka serentak menoleh melihat Reka, menunggu jawabannya dengan cemas.
"Ya, Daddy," jawab Reka.
"Reka sudah lelah berhubungan dengannya. Dia sering sekali ketahuan berselingkuh, dan selingkuhannya itu cewek miskin yang suka drama dengan air mata palsu," adu Reka dengan air mata palsu yang mengalir keluar dari pelupuk matanya.
Suasana yang semula ceria, tiba-tiba menjadi hening, Mereka semua terkejut mendengar pengakuan Reka. .
Daddy terlihat sangat marah, Daddy menegakkan tubuhnya dengan keras, tangan terkepal kuat, sedangkan Mommy menutupi mulutnya dengan tangan, ekspresinya terlihat sangat marah dan terkejut.
Lionel, Arsad, dan Arsan juga terperangah. Wajah mereka memancarkan kemarahan yang menyala-nyala.
"Reka sayang, kamu tenang saja. Kakak akan membalas penderitamu," kata Lionel dengan suara penuh kekhawatiran.
"Kakak akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh Gazef dan selingkuhannya," kata Arsad dengan nada dingin.
"Beritahu kakak mu yang tampan ini siapa gadis selingkuh pria brengsek itu. Berani sekali pria jelek seperti dia menyakiti hati mungil micro sister kesayangan ku. Kakak akan memotong senjata miliknya dan akan menghancurkan wajah selingkuhanya dengan air keras hingga kulitnya melepuh terbakar," Kata Arsan dengan senyuman dan tatapan yang membuat Reka merasa merinding melihatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Lippe
kata cebol dengan berat hati masih keterima. Tapi..... MICRO???
semungil itu😭😭😭😭
2024-06-11
3