Bab 11

Setelah hari yang panjang di sekolah, Reka berjalan kembali ke mansion dengan langkah-langkah ringan. Matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya lembut ke seluruh halaman depan mansion yang megah. Ketika Reka membuka pintu utama, aroma harum masakan rumah menyambutnya, membuat hatinya terasa hangat.

Di ruang tamu, dia melihat Mommy duduk dengan anggun di sofa, sedang membaca buku favoritnya. Tanpa ragu, Reka menghampiri Mommy, senyum lebar terukir di wajahnya.

"Mommy!" seru Reka dengan penuh semangat.

Mommy menoleh, senyumnya merekah saat melihat putri kesayangannya. "Hai, sayang! Bagaimana sekolahmu hari ini?"

Tanpa berkata-kata, Reka langsung memeluk tubuh Mommy erat-erat, merasakan kehangatan dan rasa aman.

"Capek, tapi melihat mommy membuat semuanya lebih baik," jawab Reka dengan senyum manis, matanya berbinar penuh kebahagiaan.

Setelah beberapa saat menikmati kebersamaan dengan mommy, Reka akhirnya bangkit dari duduknya. Dengan senyum lembut, dia berpamitan. "Mommy, aku mau ke kamar dulu ya," ucapnya.

Mommy mengangguk, membalas senyum putrinya. "Baik, sayang. Istirahatlah, kamu pasti lelah."

Reka melangkah keluar dari ruang tamu, menuju koridor yang luas dan elegan. Langkahnya teratur melewati lantai marmer yang dingin, setiap sudut mansion itu terasa begitu akrab baginya. Dia berjalan menuju lift yang terletak di ujung koridor.

Ketika pintu lift terbuka dengan bunyi lembut, Reka melangkah masuk dan menekan tombol menuju lantai kamarnya. Pintu lift terbuka, dan Reka melangkah keluar menuju kamarnya yang nyaman.

Setelah melewati lorong-lorong yang berhias mewah, Reka akhirnya sampai di kamarnya yang nyaman. Dia menutup pintu dengan lembut dan melangkah masuk, udara yang sejuk dan tenang menyambutnya. Di pojok kamar, lemari besar penuh dengan pakaian-pakaian indah menunggu untuk dipilih.

Reka berganti pakaian dengan perlahan, melepas seragam sekolah yang sudah dipakainya sepanjang hari. Dia memilih gaun biru muda dengan detail renda putih untuk dipakai malam ini, menciptakan kesan yang manis dan anggun.

Setelah selesai berganti, Reka berdiri di depan cermin di sudut kamarnya. Dia memperhatikan penampilannya dengan penuh perhatian, menyesuaikan setiap lipatan pakaian dengan teliti. Senyum tipis melintas di bibirnya saat dia memperhatikan refleksi dirinya.

"Reka asli benar-benar sangat cantik," gumamnya pelan. Wajahnya bersih dengan hidung mancung alami yang sempurna. Bentuk double eyelid yang indah menambah pesona matanya yang berwarna coklat. Kulitnya yang putih bersih bercahaya di bawah cahaya lampu kamar, dan rambut pirang panjangnya berkilau dengan indahnya.

"Minusnya cuma satu," pikirnya sambil menatap bayangan dirinya yang pendek di cermin. "Reka asli pendek."

Reka mengedikan bahu acuh di depan cermin, melihat bayangan dirinya dengan ekspresi datar. Setelah sejenak memperhatikan dirinya sendiri, dia berbalik dan melangkah menuju meja belajarnya.

Setelah duduk di kursi, dia merenggangkan otot-otot tangannya dengan gerakan yang santai.

"Sekarang aku adalah anak SMA," gumam Reka pada dirinya sendiri, menyadari tanggung jawab baru yang menunggunya. "Sebagai anak SMA yang rajin dan cerdas, aku harus mengerjakan tugas sekolah walaupun malas."

Reka membuka buku tugas dan mulai mengerjakannya dengan tekun. Setiap soal diselesaikannya dengan cermat, meskipun kadang-kadang rasa malas terus menghampirinya.

"Entah kenapa aku jadi sedikit merindukan kehidupan ku yang dulu," gumam Reka, membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu.

Reka meletakkan pulpen yang dia genggam, menopang dagunya dengan malas. "Jiwa Reka yang asli kemana ya?" ucapnya pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri.

********

 Di dalam sebuah gedung perusahaan yang megah dan berkelas, ruangan kerja yang elegan menjadi saksi dari pertemuan yang penuh ketegangan. Daddy dan Lionel duduk di sofa yang nyaman, dengan tatapan dingin yang menatap ayah Gazef yang duduk di hadapan mereka.

Suasana ruangan terasa tegang, sesekali terdengar suara langkah-langkah kaki pekerja yang lewat di luar ruangan. Namun, dalam keheningan itu, ketegangan terasa begitu kental di udara, memenuhi ruangan dengan energi yang tegang dan menekan.

Daddy dan Lionel, dengan ekspresi serius yang tak terbantahkan, menatap ayah Gazef dengan tatapan yang memancarkan ketidakpuasan dan kekecewaan.

Di ruangan yang penuh dengan ketegangan, Daddy menatap ayah Gazef dengan tatapan tajam. "Aku akan langsung ke intinya. Aku akan membatalkan pertunangan Reka dengan putramu, Gazef," katanya dengan suara tegas.

"Apa! Kenapa? Bukankah Reka sangat mencintai Gazef?" tanya ayah Gazef, suaranya penuh kebingungan dan keterkejutan.

"Itu dulu," jawab Lionel dengan dingin, melanjutkan penjelasan. "Sekarang adik saya tidak mencintainya lagi. Putramu sudah berani berselingkuh dengan seorang siswi beasiswa. Selera putramu sungguh rendahan."

"Apa! Itu tidak mungkin... Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," sergah ayah Gazef, nada suaranya mulai menunjukkan kegugupan.

"Tidak ada kesalahpahaman," kata Daddy sambil melemparkan beberapa lembar foto ke meja di depan ayah Gazef.

Ayah Gazef mengambil foto-foto itu dengan tangan gemetar, matanya membelalak saat melihat bukti tak terbantahkan—foto-foto yang menunjukkan Gazef bersama Rosa dalam momen-momen yang intim dan jelas. Wajahnya memucat, didera oleh kenyataan pahit yang baru saja diungkapkan.

Daddy menatap ayah Gazef dengan tajam. "Mulai detik ini, Gazef bukan lagi tunangan Reka. Aku juga akan menarik investasi yang aku berikan," ucapnya dengan suara dingin dan tegas.

Ayah Gazef hanya bisa terdiam, wajahnya memucat dan matanya terpaku pada foto-foto yang tersebar di meja. Dia tidak mampu berkata apa-apa, terguncang oleh kenyataan yang baru saja diungkapkan.

Tanpa memberikan kesempatan untuk perdebatan lebih lanjut, Daddy dan Lionel berdiri. Mereka melangkah keluar dengan langkah mantap, meninggalkan ayah Gazef yang masih terdiam dan terpaku di tempatnya.

Suara pintu yang tertutup lembut menandai akhir dari pertemuan yang penuh ketegangan itu. Ayah Gazef tetap duduk, dikelilingi oleh foto-foto yang menguak pengkhianatan putranya, mencerna kenyataan pahit yang baru saja menghancurkan semua harapan dan rencana yang telah ia bangun.

Sementara itu, di tempat lain, di sebuah jalan sepi yang jarang dilewati kendaraan, Gazef tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Tubuhnya penuh luka dan pakaiannya kotor, mencerminkan betapa parahnya kondisi yang dialaminya.

Seorang pengemudi yang kebetulan melintas segera menghentikan mobilnya saat melihat sosok Gazef yang terbaring di tanah. Dengan rasa cemas dan prihatin, dia keluar dari mobil dan mendekati Gazef, memastikan kondisi pemuda tersebut.

"Astaga, ini parah sekali. Sepertinya dia korban kecelakaan tunggal," gumamnya sambil mengeluarkan ponsel untuk menelepon ambulans.

Beberapa menit kemudian, ambulans datang dengan sirene yang meraung-raung, memecah keheningan malam. Para petugas medis bergerak cepat, memeriksa kondisi Gazef sebelum mengangkatnya ke atas tandu.

"Ke rumah sakit, segera!" perintah salah satu petugas medis dengan suara tegas.

Dalam waktu singkat, Gazef dibawa ke rumah sakit terdekat. Di dalam ambulans, petugas medis terus memantau tanda-tanda vitalnya, memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik sepanjang perjalanan.

Sesampainya di rumah sakit, Gazef segera dibawa ke ruang gawat darurat. Para dokter dan perawat bekerja dengan cepat dan efisien, berusaha menstabilkan kondisinya. Mereka masih mengira bahwa Gazef adalah korban kecelakaan tunggal.

Begitu juga dengan Rosa, yang merintih kesakitan di depan rumahnya. Suara rintihannya yang menyayat hati menarik perhatian warga sekitar dan kedua orang tuanya. Mereka segera berlari keluar rumah, terkejut melihat Rosa yang tergeletak di tanah dengan wajah yang sangat merah dan penuh luka.

"Rosa! Apa yang terjadi?" tanya ibunya panik, berusaha memahami apa yang terjadi pada putrinya.

Tanpa membuang waktu, ayah Rosa segera mengangkat tubuh lemah putrinya dan membawanya ke mobil yang dipinjam dari salah satu warga. Dengan cepat, mereka melaju ke rumah sakit terdekat, berharap waktu masih berpihak pada mereka.

Sesampainya di rumah sakit, Rosa segera dibawa ke ruang gawat darurat. Para dokter dan perawat bergerak cepat, memberikan perawatan intensif untuk mengurangi rasa sakit dan mengobati luka-lukanya. Kedua orang tua Rosa menunggu dengan cemas di luar ruang perawatan, hati mereka dipenuhi kekhawatiran.

Beberapa waktu kemudian, seorang dokter keluar dari ruang perawatan. Ekspresi wajahnya serius, menambah ketegangan di udara. "Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya ayah Rosa dengan suara bergetar.

Dokter menghela napas panjang sebelum menjawab. "Wajah Rosa mengalami kerusakan serius karena disiram dengan Alkohol dengan kadar yang tinggi. Kami sudah memberikan perawatan awal, tetapi kondisinya cukup parah. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan memulihkan kondisinya."

Kedua orang tua Rosa terdiam, terkejut dan sedih mendengar kabar buruk itu. Mereka saling berpegangan, berusaha memberikan kekuatan satu sama lain di tengah kenyataan pahit yang menimpa putri mereka. Sementara itu, di dalam ruang perawatan, Rosa berjuang melawan rasa sakit.

⚠️Tolong berikan Like dan Komentar sebagi bentuk dukungan ya!! Agar author semangat untuk menulis, tidak susah kok tinggal tekan 👍🏻 dan 💬 nextss saja sudah cukup. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENINGGALKAN KOMENTAR DAN LIKE⚠️

Terpopuler

Comments

Uun Kurniasih

Uun Kurniasih

terlalu sadis Thor...

2025-03-06

0

Me Ta

Me Ta

basmi pelakor😡😡😡

2024-09-10

0

Frando Wijaya

Frando Wijaya

pemeran utama wanita jd pembawa kesialan.... gara2 tanpa Tau menyinggung putri yg bkn Dia bs lwn

2024-08-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!