Bab 8

Di dalam kelas, Reka dan Felly duduk berdampingan, siap untuk memulai pelajaran. Suara riuh rendah para murid yang berbicara dan tertawa pelan perlahan mereda ketika guru masuk ke dalam ruangan. Suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan teratur, meskipun masih ada bisik-bisik kecil di sudut-sudut ruangan.Reka membuka buku catatannya, berusaha fokus pada pelajaran yang akan dimulai. Dia mencatat dengan tekun, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian pagi tadi.

di sisi lain, Felly terlihat masih sedikit kesal. Dia melirik Reka sesekali, memastikan sahabatnya baik-baik saja. Saat guru mulai menjelaskan materi pelajaran, Felly mencoba mengikuti, meskipun pikirannya terus kembali ke perlakuan Gazef yang membuatnya marah.

"Reka, kamu benar nggak apa-apa kan?" bisik Felly pelan, sambil menulis di bukunya.

Reka menoleh dan tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Felly. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku," jawabnya dengan suara rendah.

Di depan kelas, guru fisika, Pak Johan, berdiri dengan penuh semangat, menerangkan konsep-konsep tentang gerak dan gaya. Suaranya yang tegas dan jelas mengisi ruangan, menarik perhatian para murid yang mencatat dengan tekun.

Pak Johan berhenti sejenak di depan papan tulis, lalu menghadap kelas dengan senyuman. "Baik, siapa yang bisa menjelaskan bagaimana cara menghitung percepatan benda jika diketahui perubahan kecepatannya dan waktu yang dibutuhkan?" tanyanya, sambil memandang para murid.

Namun, tidak ada yang mengangkat tangan. Para murid saling berpandangan, berharap ada yang berani maju ke depan. Suasana kelas menjadi sunyi, hanya terdengar suara detik jam dinding.

Pak Johan tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke Reka. "Reka, bisakah kamu maju ke depan dan menjawab soal ini di papan tulis?" tanyanya dengan suara tenang namun penuh harap.

Reka terkejut sejenak, merasakan tatapan seluruh kelas tertuju padanya. Namun, dia segera mengangguk dan bangkit dari kursinya. Dengan langkah pasti, dia berjalan menuju papan tulis.

Di depan papan tulis, Reka mengambil spidol dan melihat soal yang tertulis.

Perlahan, Reka mulai menulis rumus dan langkah-langkah penyelesaian soal di papan tulis.

"Percepatan adalah perubahan kecepatan dibagi dengan waktu," ucap Reka, suaranya mantap. Dia melanjutkan penjelasannya, menggambarkan bagaimana perubahan kecepatan benda dibagi dengan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan percepatan.

Pak Johan mengamati dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk sebagai tanda bahwa Reka berada di jalur yang benar. Setelah beberapa menit, Reka menyelesaikan soal tersebut dan meletakkan spidol kembali ke tempatnya.

"Bagus sekali, Reka," kata Pak Johan dengan senyuman puas. "Penjelasanmu sangat jelas dan tepat. Terima kasih sudah mau maju ke depan."

Reka kembali ke tempat duduknya, merasakan lega.

Felly menepuk bahunya dengan bangga. "Kamu hebat, Reka," bisik Felly dengan senyuman lebar.

"Tentu saja," sahut Reka dengan percaya diri.

Saat bel istirahat berbunyi, suasana kelas langsung berubah. Murid-murid segera menghentikan aktivitas mereka, memasukkan buku-buku ke dalam tas, dan bersiap-siap untuk istirahat. Suara riuh rendah memenuhi ruangan saat mereka berbicara satu sama lain dengan antusias, membicarakan rencana untuk istirahat.

Ketika guru memberikan izin untuk istirahat, para murid berhamburan keluar kelas dengan cepat. Mereka berlarian menuju kantin atau tempat-tempat favorit mereka untuk menghabiskan istirahat, sambil tertawa dan bercanda di sepanjang jalan.

Reka dan Felly bersama-sama bergabung dengan kerumunan murid yang bergerak menuju kantin. Mereka berjalan pelan, menikmati udara segar dan cahaya matahari yang menyinari koridor sekolah.

Saat Reka dan Felly berjalan menuju kantin, tangan Reka tiba-tiba dipegang oleh Gazef. Reka terkejut dan menoleh, menemukan wajah Gazef yang menatapnya dengan tajam.

"Kenapa kamu tidak mencari ku," kata Gazef, suaranya terdengar tajam dan sedikit menuntut.

"Hah! Kenapa aku harus mencari mu," jawab Reka dengan nada dingin.

"Saat datang sekolah, kamu selalu mencari aku," ujar Gazef, suaranya terdengar kesal.

Felly, yang masih kesal karena insiden pagi tadi, melihat Gazef dengan tatapan tajamdan, tanpa ragu Felly mendorong tubuh Gazef dengan kasar.

"Dasar cowok brengsek!" seru Felly dengan suara tinggi, menarik perhatian beberapa murid di sekitar mereka.

Gazef terhuyung sedikit oleh dorongan Felly, namun segera menegakkan tubuhnya, dia menatap Felly dengan sedikit keterkejutan, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Reka, yang masih terkejut dengan kejadian tiba-tiba, mengambil langkah mundur, mencoba membebaskan tangannya dari cengkeraman Gazef.

"Lepaskan aku, Gazef!" kata Reka.

"Diam, Reka!" bentak Gazef dengan suara keras, membuat Reka semakin geram.

Tidak tahan lagi dengan perlakuan Gazef, Reka merasa amarahnya mencapai puncaknya. Dengan gerakan cepat, dia mengangkat tangannya dan memukul Gazef dengan keras tepat di wajahnya. Benturan itu cukup kuat sehingga cengkeraman Gazef pada tangannya terlepas.

Gazef terdiam sejenak, terkejut dengan tindakan Reka. Dia memegang pipinya yang terasa sakit, matanya memandang Reka dengan campuran kejutan dan kebingungan.

Reka, yang masih dipenuhi emosi, menatap Gazef dengan tatapan tajam. "Jangan sekali-kali menyentuhku lagi," desisnya dengan suara gemetar, sebelum dia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Gazef yang terdiam di tempatnya.

Felly, yang melihat Gazef dipukul oleh Reka, terlihat senang dengan kejadian tersebut. Wajahnya berseri-seri, dan senyum kemenangan terukir di bibirnya saat dia menyaksikan Gazef merasakan konsekuensi dari perilakunya.

"Kamu pantas mendapat itu, Gazef!" seru Felly dengan nada mengejek.

Gazef, yang merasa malu dan marah oleh situasi tersebut, memilih untuk pergi dari tempat itu tanpa berkata sepatah kata pun.

Dengan langkah yang cepat dan penuh kemarahan, Gazef berjalan pergi.

"Sialan! Kenapa Reka tidak seperti biasanya?" gumam Gazef sambil mengumpat pelan. "Biasanya dia selalu mencariku, selalu menemuiku. Dia akan mengikuti kemanapun aku pergi, tapi hari ini... hari ini dia terlihat aneh."

Pikiran Gazef dipenuhi dengan pertanyaan dan keraguan. Dia merasa seakan-akan sesuatu yang berharga telah menghilang dari genggamannya. Kehadiran Reka yang biasanya membuatnya merasa dihargai keberadaannya, kini terasa menjauh, meninggalkan kekosongan yang terasa begitu nyata.

Dengan perasaan campur aduk yang masih menghantui pikirannya, Gazef menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir keraguan yang merayap di benaknya.

"Tidak, tidak, tidak usah dipikirkan," gumamnya dengan nada tegas. "Bagus kalau dia menjauh dari hidupku."

Dia merasa seolah-olah membebaskan dirinya dari belenggu yang mengikatnya pada hubungan yang rumit dan penuh drama dengan Reka. Meskipun di dalam hatinya ada rasa kehilangan, dia memilih untuk menolaknya, memilih untuk fokus pada masa depan yang lebih cerah.

"Tidak masalah," lanjut Gazef dengan suara yang sedikit tercekik oleh emosi. "Aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan Rosa," ujarnya, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dia berharap dengan memfokuskan perhatiannya pada orang lain, dia bisa melupakan kekosongan yang ditinggalkan oleh Reka.

Terpopuler

Comments

kr_ka

kr_ka

heh reka, lo gimana sihhhhhhh, kok tiba" jd lemah gini, greget gua sama lo rekaaaa/Angry/

2024-12-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!