Bab 2

Di lapangan basket yang ramai, suasana hiruk pikuk terasa begitu menyelimuti. Murid-murid berkumpul, mata mereka tertuju pada seorang cewek cantik berambut pirang dengan bola mata coklat yang sedang tertunduk, air mata mengalir di pipinya. Di depannya, seorang cowok tampak berdiri dengan ekspresi datar. Sorakan penonton terdengar gemuruh, menciptakan atmosfer tegang di udara.

Tangan cewek itu gemetar saat meraih tangan cowok di depannya,namun, reaksinya bertemu dengan keheningan dingin dari cowok itu yang menatapnya tanpa ekspresi apapun.

"Aku... Aku... Aku..." desis cewek itu dengan suara gemetar, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.

Cewek itu mendongak, mengangkat kepalanya perlahan-lahan, matanya yang dihiasi air mata bertemu dengan tatapan dingin cowok di depannya. Namun tatapan matanya terlihat penuh kebingungan, seakan mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terucap.

"Aku dimana? Dimana ini?" desis cewek itu dengan suara lemah, kebingungannya semakin terpancar jelas dari ekspresi wajahnya yang penuh dengan pertanyaan.

Cowok itu tersenyum mengejek, melihat tingkah cewek yang terlihat kebingungan. Senyumnya tidak membawa kehangatan, melainkan sindiran yang terasa menusuk.

"Apa sekarang kamu sedang berakting kebingungan," kata cowok itu dengan nada yang mengejek, suaranya menusuk di antara kerumunan yang memenuhi lapangan.

Cewek itu menatap tajam cowok di depannya, api kemarahan membara di balik bola matanya yang berkaca-kaca.

"Apa maksud perkataanmu, akting? Apa aku terlihat sedang berakting di depanmu?" desisnya, suaranya penuh dengan ketidaksenangan.

"Hahahaha, apa ini cara terbaru yang kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian dariku?" kata cowok itu sambil tertawa dengan nada sinis.

Cewek itu terlihat kesal dengan tawa sinis si cowok, Matanya menyipit, mencoba menahan emosi yang membara di dalam dirinya. Bibirnya bergetar, tetapi dia memaksakan diri untuk tetap tenang.

"Hah! Perhatian? Kamu pikir aku membutuhkan perhatian dari cowok brengsek seperti mu," kata cewek itu dengan nada tajam.

"Sekarang kamu mengganti cara untuk menggoda aku ya," kata cowok itu dengan nada sinis, senyum mengejek terukir di wajahnya.

"Menggoda? Ouchh, perkataanmu benar-benar membuatku marah. Apa kamu pikir kamu sangat tampan hingga aku menggoda untuk menarik perhatianmu? Maaf saja ya, kamu bukan tipeku, wajah pas-pasan saja belagunya minta ampun," kata cewek itu dengan nada tajam.

"Wajah pas-pasan katamu! Wahhhh, kamu benar-benar bekerja keras untuk menarik perhatianku hingga kamu berani menghina ku. Wajahku ini sangat amat tampan, tidak seperti kamu. Wajahmu memang cantik, tapi sikapmu seperti pelacur rendahan," kata cowok dengan nada penuh pengejekan dan keangkuhan.

Cewek itu mengepalkan tangannya dengan kuat karena emosi yang meluap, keinginannya untuk menahan diri semakin memudar. Tanpa aba-aba, cewek itu melontarkan tinjunya dengan kekuatan penuh langsung ke wajah cowok, hantaman yang begitu kuat sehingga membuat cowok itu terjatuh dengan keras. Suara benturan tinju dan tubuh yang terjatuh menggetarkan kerumunan yang memadati lapangan, darah mulai mengalir dari hidungnya yang terpukul.

Cowok itu terkejut saat ia melap hidungnya yang mulai mengeluarkan darah. Wajahnya memancarkan kebingungan dan kejutan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Apa... Apa-apaan ini, Reka? Kamu melukai ku!" ujarnya dengan suara yang terengah-engah.

Reka tidak mendengarkan perkataan dari cowok itu, matanya terfokus pada kepalan tangannya yang gemetar. Dalam kebingungannya, dia memperhatikan dengan keheranan, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Apa-apaan ini, kenapa dia masih sadar? Seharusnya dia sudah pingsan. Kenapa tinjuku tiba-tiba lemah seperti ini," batin Reka.

Teman cowok itu menghampiri dengan langkah cepat, tangannya mengulurkan bantuannya untuk membantu cowok itu berdiri.

"Gazef, lo nggak apa-apa kan?" kata salah satu temannya dengan suara cemas.

Gazef berdiri dengan mantap, memandang Reka dengan tatapan yang sangat tajam, seolah mencoba menembus kedalaman hatinya. "Bukankah kamu sudah kelewatan, cepat minta maaf sekarang," desak Gazef dengan suara yang tenang namun penuh amarah.

Reka menatap malas Gazef, melihat Gazef yang bersikap narsis.

"Lalu perkataanmu tadi yang menyebutku sebagai pelacur rendahan, apakah tidak kelewatan? Sebelum menyalahkan orang lain, berpikirlah dahulu. Gunakan otakmu dengan baik. Apa kamu kira aku orang yang sabar dan mentoleransi sikapmu itu," kata Reka dengan suara yang tajam.

Reka berbalik, tanpa berkata sepatah kata pun, dia berjalan pergi meninggalkan Gazef bersama teman-temannya di belakang.

Gazef terdiam, matanya menatap kepergian Reka dengan mulut yang sedikit terbuka. Ekspresinya terlihat kebingungan dengan perubahan sikap Reka yang sangat tiba-tiba.

"Sepertinya Reka kemasukan arwah hantu gentayangan deh, sikapnya sangat amat aneh," kata teman Gazef dengan nada candaan, mencoba mengalihkan suasana tegang dengan humor.

"Kemasukan setan apanya, yang ada setannya kabur duluan melihat kelakuannya. Dia bersikap aneh seperti hanya untuk mendapatkan perhatian dari ku," ujar Gazef dengan nada sinis.

"Sttt... Tapikan sikap Reka kali ini benar-benar aneh. Bahkan jika perkataanmu benar, Reka hanya ingin mendapatkan perhatianmu, apakah dia akan senekat itu hingga meninjau wajahmu? Seperti yang semua orang tahu, Reka itu sangat amat menyukaimu. Melihat kamu terluka sedikit saja, dia langsung panik seakan-akan kamu akan mati," kata teman Gazef yang lain dengan suara yang tenang.

"Ahhh, sudahlah, kita pergi saja dari sini," kata Gazef sembari menepuk kedua bahu temannya.

Saat Gazef berjalan, para siswi menatapnya penuh kagum. Mata mereka bersinar terpesona, dan senyuman tipis terukir di wajah mereka saat melihat sosoknya melintas di antara mereka. Beberapa dari mereka bahkan berbisik-bisik antara satu sama lain, tersenyum dengan penuh kekaguman.

Wajah Gazef yang sangat tampan dengan garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan bentuk mata yang indah menarik pandangan setiap orang yang melintasinya. Bibirnya yang merah alami memberikan sentuhan keanggunan tambahan pada wajahnya yang gagah. Setiap gerakan mata dan senyumannya menggambarkan kepercayaan diri dan pesona yang tak terbantahkan. Tubuhnya yang tinggi dan gagah membuatnya menonjol di antara kerumunan, menambah aura kekar dan pesona yang melekat padanya. Membuatnya menjadi salah satu cowok tertampan disekolahnya.

Di tempat lain, Reka berjalan menyusuri taman sekolah dengan langkah yang pelan. Angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang pirang, menciptakan permainan indah dengan cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Namun, dalam keheningan taman, Reka tiba-tiba menghentikan langkahnya, ekspresinya terlihat serius.

"Dimana aku, kenapa aku ada di sini? Bukankah seharusnya aku sudah mati," desis Reka, yang tak lain adalah Naya, ekspresinya terlihat kebingungan atas situasi yang tak dapat dimengertinya.

Reka a. k. a Naya, memandang sekelilingnya dengan tatapan bingungan. Matanya melihat ke sekeliling tempat yang asing baginya, mencoba memahami di mana dia berada. Kemudian, dengan perasaan aneh yang melingkupi dirinya, Reka melihat kedua tangan dan kakinya dengan tatapan bingung, seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Reka a.k.a Naya meraba-raba wajahnya dengan perasaan yang panik. rambut pirangnya yang kini terasa begitu asing baginya.

"Apa-apaan ini, ini bukan wajahku," kata Reka alias Naya dengan suara gemetar, matanya memancarkan kebingungan dan kecemasan yang mendalam. "Kenapa rambut hitamku berubah menjadi pirang!" tambahnya, suaranya hampir terputus karena kecemasan yang melanda.

Seorang cewek tiba-tiba melambaikan tangan kepada Reka, lalu dengan cepat berlari menghampirinya. Wajahnya dipenuhi dengan senyuman ramah, dan matanya bersinar penuh antusiasme.

" Reka... Reka... Reka, kamu akan segera menjadi bintang," kata teman cewek Reka dengan suara yang penuh.

"Kamu jadi tranding topik karena berani meninju wajah Gazef, tunanganmu," kata teman Reka dengan suara ceria.

"Aku.... Reka?" Kata Reka a.k.a Naya dengan suara terbata-bata.

Terpopuler

Comments

CHANA

CHANA

bener kok.. kamu sangat benar...

2024-11-21

1

CHANA

CHANA

pede gilak😤

2024-11-21

1

lily

lily

mamvus luh

2024-09-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!