Bab 7

Keesokan paginya, suasana sarapan dipenuhi dengan ketegangan yang nyata. Meja makan yang biasanya diisi dengan canda tawa kini terasa hening. Daddy, Mommy, Lionel, Arsad, dan bahkan Arsan yang biasanya suka mengganggu Reka, semuanya fokus pada sarapannya masing-masing.

Reka duduk di ujung meja, merasa sangat canggung. Matanya sesekali melirik ke arah keluarganya yang terlihat serius. Setiap suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar begitu jelas dalam keheningan itu.

Mommy mencoba memecah suasana dengan sebuah senyuman kecil, tetapi kegelisahan masih terasa di udara. Daddy meminum kopinya dengan tatapan yang penuh pikiran, sementara Lionel dan Arsad saling bertukar pandang, seolah mencoba menyusun rencana di dalam kepala mereka.

Arsan, yang biasanya tak pernah bisa diam, kali ini menunduk, bermain dengan makanannya tanpa sepatah kata pun. Reka tahu bahwa semuanya masih terbayang-bayang oleh pengakuan yang dia sampaikan semalam.

Sarapan terasa lebih panjang dari biasanya, Reka berharap suasana akan kembali seperti semula.

Setelah selesai dengan sarapannya, Daddy meletakkan sendok dan garpunya, lalu berdiri. "Daddy sudah selesai, Daddy akan langsung pergi ke kantor," katanya sambil memberikan ciuman di kening Mommy.

"Emm, hati-hati," kata Mommy dengan suara lembut, matanya penuh dengan perhatian.

"Ya, Daddy pergi dulu," jawab Daddy, sebelum pergi Daddy menghampiri Reka. Dia menunduk dan mencium pipi Reka, lalu mengusap lembut kepalanya. "Kamu tidak usah memikirkan masalah tadi malam, Daddy akan segera menyelesaikan," kata Daddy dengan suara penuh kasih sayang.

Setelah itu, dia berjalan pergi meninggalkan rumah.

"Aku juga sudah selesai, aku akan langsung pergi ke entertainment," kata Lionel, berdiri dari duduknya dan menghampiri Reka. Dia mengusap lembut kepala Reka, memberikan senyuman yang menenangkan.

"Kakak akan memberikan pelajaran yang bagus untuk tunanganmu yang bodoh itu," kata Lionel dengan senyum manis di bibirnya.

Setelah Lionel berdiri dari duduknya, giliran Arsad yang mengikuti langkahnya. "Aku juga sudah selesai, aku akan langsung pergi ke rumah sakit," ucap Arsad dengan suara tegas.

Arsad menoleh menatap Reka. "Serahkan semuanya pada kakak. Kamu pergi sekolah seperti biasanya," ucap Arsad dengan nada lembut.

Setelah Arsad pergi, kini giliran Arsan untuk berdiri dari duduknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arsan menoleh dan menatap Reka dengan sorot mata yang penuh perhatian.

Tanpa kata-kata, Arsan menghampiri Reka, mengusap lembut kepalanya dengan penuh kasih, seolah-olah ingin memberikan sedikit kekuatan dan dukungan padanya.

Setelah selesai, Arsan pergi dengan langkah yang mantap, meninggalkan Reka dan mommy.

"Umm, Mommy, Reka pergi sekolah dulu," kata Reka dengan suara lembut, berdiri dari kursinya.

"Ya, sayang. Hati-hati di jalan. Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi kami," kata Mommy dengan nada penuh perhatian dan sedikit kekhawatiran.

"Ya, Mom," jawab Reka.

Reka menghampiri Mommy, memberikan ciuman lembut di pipinya. "Aku akan baik-baik saja, Mom," tambahnya dengan senyuman yang menenangkan.

Mommy membalas ciuman Reka dengan senyuman lembut. "Baik, sayang. Semoga harimu menyenangkan," ucapnya.

Reka mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan keluar rumah. Mobil yang biasa mengantarnya sudah menunggu di depan, mesinnya berderu pelan. Reka membuka pintu mobil dan masuk, melirik sekali lagi ke Mansionnya sebelum pintu tertutup.

Ketika mobil Reka tiba di halaman sekolah, pemandangan ramai menyambutnya. Banyak murid yang baru tiba, diantar oleh sopir mereka masing-masing. Suasana pagi yang cerah dipenuhi dengan percakapan, tawa, dan suara langkah kaki yang bergegas menuju pintu sekolah.

Di antara keramaian itu, Reka melihat Felly, sahabatnya, yang baru saja turun dari mobilnya. Mata Felly berbinar ketika melihat Reka. Tanpa ragu, dia segera menghampiri Reka dengan senyum lebar di wajahnya.

"Reka! Pagi!" seru Felly dengan suara ceria, melambai ke arah Reka.

Reka tersenyum, merasa lega melihat sahabatnya. "Pagi, Felly!" jawabnya, melangkah keluar dari mobil dan menutup pintunya.

Felly mendekat dengan cepat, ekspresi wajahnya penuh dengan kehangatan dan semangat. "Ada apa? Kamu kelihatan sedikit muram. Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan nada perhatian.

Reka menghela napas pelan, berusaha tersenyum. "Ya, ada sedikit masalah, tapi aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya, Felly."

Felly mengangguk, memahami bahwa mungkin bukan saatnya untuk mendalami masalah itu di tengah keramaian pagi. "Oke, kalau begitu. Kalau butuh cerita, aku ada di sini, ya," katanya sambil merangkul Reka, memberikan dukungan tanpa kata-kata.

Saat hendak masuk ke dalam gedung sekolah, Reka dan Felly melihat pemandangan yang membuat mereka berhenti sejenak. Gazef, dengan gaya penuh percaya diri, mengendarai Kawasaki Ninja H2 Carbon yang mengkilap, tiba di halaman sekolah. Namun, yang menarik perhatian mereka bukanlah motor mewah itu, melainkan gadis yang dibonceng oleh Gazef.

Reka dan Felly memperhatikan dengan saksama saat Gazef dengan penuh perhatian membantu gadis itu turun dari motor. Dengan gerakan yang lembut, dia membukakan helm yang dipakai gadis itu, senyum manis terukir di wajahnya. Gadis itu tersenyum kembali, terlihat nyaman dan akrab dengan Gazef.

Felly yang melihat pemandangan itu merasa sangat marah dan geram. "Dasar cowok brengsek," gumamnya dengan suara penuh emosi, matanya menatap tajam ke arah Gazef.

Sedangkan Reka hanya memperhatikan dengan tatapan datar. Dia tidak merasakan perasaan apapun saat melihat Gazef yang memberikan perhatian kepada gadis lain. Tidak ada rasa cemburu, sakit hati, atau marah yang muncul di hatinya. Sebagai jiwa yang bukan asli Reka, dia merasa terpisah dari semua ini. Hubungan tunangan itu hanyalah bagian dari cerita yang dia tempati, bukan kenyataan yang dia rasakan.

Felly menoleh ke Reka, wajahnya penuh kemarahan dan kekhawatiran. "Reka, kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut, tetapi masih marah.

Reka mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada Gazef dan gadis itu. "Aku baik-baik saja, Felly. Ayo masuk," jawabnya dengan suara tenang.

Felly menghela napas, berusaha meredakan amarahnya. "Oke, aku bener-bener nggak suka lihat dia seperti itu," katanya dengan geram.

Saat Reka dan Felly melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, suasana di dalam tampak seperti biasanya—riuh dengan suara murid-murid yang bercengkerama dan suara langkah kaki yang bergegas menuju kelas. Namun, bagi Reka, semua itu terasa seperti latar belakang yang samar, pikirannya masih tertuju pada apa yang baru saja dilihat di halaman sekolah.

Sementara itu, di sudut lain halaman sekolah, Arsan duduk di atas Energica Ego 45 Limited Edition miliknya. Mata tajamnya menatap dingin ke arah Gazef dan gadis yang diboncengnya. Pemandangan itu membuat darah Arsan mendidih, kemarahannya terlihat jelas dari cara dia meremas kuat stang motornya hingga kuku-kukunya memutih.

"Beraninya dia melakukan hal itu di saat adikku memperhatikannya," gumam Arsan dengan suara penuh kemarahan. "Dasar cowok sampah. Lihat saja, aku akan membuatmu merasakan akibatnya."

Terpopuler

Comments

Ni Ketut Patmiari

Ni Ketut Patmiari

masih nyimak

2024-09-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!