Reka dan Felly sedang mengantri makanan di kantin yang ramai. Suasana di sekitar mereka dipenuhi dengan suara obrolan dan tawa riang para siswa yang menunggu giliran untuk membeli makanan. Aroma masakan kantin yang menggugah selera mengisi udara, membuat perut mereka semakin lapar.
Sambil menunggu, Reka dan Felly berbincang-bincang, sesekali melirik menu makanan yang terpajang. Di belakang mereka, sekelompok cowok sedang bercanda dan saling dorong, menikmati momen istirahat mereka dengan tawa dan kegaduhan.
Tanpa diduga, salah satu dari cowok-cowok tersebut didorong terlalu keras oleh temannya. Dia kehilangan keseimbangan dan tidak sengaja menabrak tubuh Reka dari belakang. Dengan kaget dan tanpa sempat menahan diri, Reka terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras.
"Reka!" Felly berseru panik, segera berjongkok untuk membantu sahabatnya.
Cowok yang menabrak Reka terlihat terkejut dan merasa bersalah. "Maaf, maaf, aku tidak sengaja," katanya dengan nada penuh penyesalan, berusaha membantu Reka untuk bangkit.
Reka merasakan sedikit nyeri di lengannya akibat jatuh tersebut, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang. Dengan bantuan Felly dan cowok tersebut, dia akhirnya bisa berdiri lagi.
"Tidak apa-apa," ujar Reka, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa sakit. "Hati-hati lain kali."
"Kael, harusnya kamu hati-hati," kata Felly dengan nada kesal.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Kamu baik-baik saja kan, Reka?" Kael bertanya dengan nada penuh penyesalan, matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
Reka menoleh dan menatap Kael dengan senyum manis yang mampu meredakan ketegangan. "Ya, tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri saja," katanya sambil mengusap lengan yang sakit.
Melihat senyum Reka, Kael terdiam mematung. Tatapannya terpaku pada wajah Reka, seakan-akan waktu berhenti sejenak. Bahkan saat Reka memalingkan wajahnya untuk kembali berbincang dengan Felly, Kael masih berdiri kaku, matanya tetap tertuju pada Reka dengan ekspresi terpesona.
Teman-teman Kael yang berdiri di belakangnya melihat adegan itu dan mulai tertawa kecil, menyadari apa yang sedang terjadi. Salah satu dari mereka menepuk bahu Kael sambil berkata dengan nada bercanda, "Hei, Kael, jangan melamun! Antriannya bergerak, bro!"
Kael tersentak sadar dari lamunannya, wajahnya memerah malu. Dia tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya, merasa kikuk dengan situasi tersebut. "Iya, iya, maaf. Ayo, lanjut antri," katanya sambil melangkah maju, mencoba mengabaikan tawa teman-temannya yang masih menggema di belakangnya.
Setelah mendapatkan makanan mereka, Reka dan Felly mulai mencari tempat duduk di kantin yang sudah penuh sesak. Mereka berjalan perlahan, mencoba menemukan meja yang kosong atau setidaknya ada beberapa kursi yang masih tersedia. Namun, sayangnya, semua meja sudah penuh terisi oleh para murid yang tengah menikmati waktu istirahat mereka.
Felly mengedarkan pandangannya, berharap menemukan sudut yang belum terisi. Saat itu, dia melihat salah satu teman Kael, Gabriel, melambaikan tangan ke arah mereka dari sebuah meja yang cukup besar.
"Duduk di sini saja," kata Gabriel dengan senyum ramah, menunjukkan beberapa kursi kosong di meja mereka
Reka dan Felly saling berpandangan sejenak sebelum mengangguk setuju. Mereka lalu berjalan menuju meja Gabriel, merasa lega akhirnya menemukan tempat untuk duduk dan menikmati makanan mereka.
"Terima kasih, Gabriel," kata Felly sambil menarik kursi dan duduk, diikuti oleh Reka yang duduk di sampingnya.
"Tidak masalah," jawab Gabriel dengan santai. "Kalian beruntung masih ada kursi kosong di sini."
Suasana di meja mereka penuh dengan obrolan dan tawa saat mereka menikmati makan siang. Gabriel dengan antusias bercerita tentang rencana band sekolah mereka.
"Ku dengar kalian akan merilis lagu baru ya," kata Felly sambil menyendok makanannya.
"Ya, apa kamu mau meminta tanda tanganku?" balas Gabriel dengan menggoda, mengedipkan sebelah matanya.
"Hueekk, mana mau aku, aku hanya bertanya," jawab Felly sambil tertawa geli. "Lalu bagaimana dengan tim basket? Bukankah tim kalian terpilih untuk mewakili sekolah?"
"Semuanya aman," sahut Shaka sambil tersenyum. "Kami sudah menjadwalkan semua kegiatan kami agar tidak bertabrakan."
"Oh begitu ya... Reka, kamu ingat kan kamu sudah berjanji untuk menemaniku nonton konser mereka," kata Felly sambil menoleh ke arah Reka.
"Aku? Kapan? Aku tidak ingat," jawab Reka dengan bingung.
"REKAAAA... kamu sudah janji masa tidak ingat sih. Menyebalkan sekali, kenapa kamu selalu tidak ingat tentang janji yang kamu buat. Giliran janji dengan Gazef kamu selalu ingat," gerutu Felly, terlihat kesal.
"Maaf, maaf, aku benar-benar lupa," kata Reka sambil tertawa kecil.
"Jangan bilang kamu akan pergi ke konser bersama dengan Gazef makanya kamu pura-pura lupa," cibir Felly.
"Kenapa aku harus pergi dengannya?" Reka menjawab dengan nada yang lebih serius.
"Kamukan selalu kemana-mana bersamanya, kamu seperti perangko yang tidak bisa lepas dari Gazef," kata Felly.
Reka menghela napas dan menatap Felly dengan serius. "Sekarang tidak lagi, sebentar lagi aku tidak akan memiliki hubungan apapun dengannya," katanya tegas.
"Hah?!" kata Felly, terkejut mendengar pernyataan Reka. Tatapan kaget dan bingung terlihat jelas di wajahnya.
Suasana di meja mereka tiba-tiba berubah, semua mata tertuju pada Reka. Keheningan yang canggung melingkupi mereka sejenak, hingga akhirnya Felly membuka mulut lagi, "Apa maksudmu, Reka?"
Reka menarik napas panjang, merasa berat untuk mengungkapkan perasaannya. "Aku sudah tidak ingin lagi bersama Gazef. Aku akan mengakhiri semuanya."
"Maksudnya kamu akan putus dengannya? Pertunangan kalian akan dibatalkan?" tanya Felly dengan nada terkejut.
"Iya," jawab Reka santai, sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Kael, yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Reka. Dia batuk keras, membuat suasana di meja makan menjadi panik.
Teman-teman Kael segera bereaksi, begitu juga dengan Reka dan Felly yang tampak cemas. Dengan cepat, Reka menyodorkan gelas minumnya kepada Kael, berharap itu bisa membantu.
"Minumlah," kata Reka cemas.
Kael dengan cepat meneguk air yang diberikan Reka, mencoba meredakan batuknya. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Reka dengan penuh kekhawatiran, matanya menatap Kael lekat-lekat.
Mendengar pertanyaan Reka, Kael kembali membeku, wajahnya memerah seperti kepiting rebus melihat Reka yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Tanpa sadar, air minum yang belum sepenuhnya diteguknya tiba-tiba tersembur dari mulutnya, membasahi wajah Reka yang duduk di seberangnya.
Sejenak, keheningan memenuhi meja mereka. Reka terdiam, terpaku dengan wajah basah kuyup, sementara Kael terlihat sangat terkejut dan malu. Tawa kecil mulai terdengar dari teman-teman mereka, mengisi udara dengan suasana yang lebih ringan.
"Reka... Aku..." Kael mencoba berbicara, suaranya masih terdengar serak setelah tersedak tadi.
"Emm, emm, tidak apa-apa," potong Reka dengan senyum lembut. "Aku tahu kamu mau minta maaf dan bilang kalau itu tidak sengaja. Tidak apa-apa, aku mengerti. Untungnya, air yang kamu semburkan ke wajahku tidak bau," tambahnya sambil tertawa kecil, mencoba meringankan suasana.
Kael menatap Reka dengan rasa lega yang bercampur malu. Dia tersenyum kikuk, mengangguk sebagai tanda terima kasih atas pengertian Reka.
"Serius, Kael, tidak perlu merasa bersalah," lanjut Reka, menyeka sisa air dari wajahnya dengan tisu. "Kejadian seperti ini bisa terjadi pada siapa saja."
Reka mengambil selembar tisu dan menyodorkannya kepada Kael. "Sebaiknya kamu lap mulutmu yang basah," katanya dengan senyum ramah.
Dengan tangan gemetar, Kael menerima tisu itu. Tatapannya terpaku pada selembar tisu di tangannya, masih merasa malu atas insiden yang baru saja terjadi.
"Aku pergi dulu ya, aku sudah selesai makan dan aku juga harus ke toilet untuk cuci muka," kata Reka, berdiri dari kursinya.
"Aku ikut," sahut Felly cepat, mengikuti langkah Reka.
Wajah Kael kembali memerah saat melihat tisu di tangannya. Kali ini bukan hanya wajahnya saja, tetapi lehernya juga ikut memerah. Teman-temannya tertawa melihat tingkah Kael.
"Kalau suka, bilang aja. Nanti diambil orang lagi," goda Ricchy, mengedipkan mata.
"A-apa maksudmu?" tanya Kael, berusaha terlihat tidak terpengaruh, meski hatinya berdebar.
"Halah, tidak usah berpura-pura lugu. Kami tahu kamu suka sama Reka," kata Gabriel, menambahkan dengan senyum nakal.
Merasa terpojok dan tidak ingin membahasnya lebih lanjut, Kael berdiri dari kursinya. "Aku pergi dulu," ucapnya singkat sebelum berjalan menjauh, meninggalkan teman-temannya.
"Lah, ngambek tuh bocah," kata Shaka sambil menggeleng. "Apa susahnya sih mengaku aja kalau suka? Ntar diambil orang lain lagi, galau, nggak bisa move on."
Tawa teman-temannya terdengar semakin keras, sementara Kael terus berjalan, mencoba mengabaikan godaan mereka. Di dalam hatinya, dia tahu mereka benar, tapi keberanian untuk mengakui perasaannya kepada Reka masih terasa jauh dari jangkauannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
_cloetffny
untung gaada
2024-05-30
0
_cloetffny
pasti nanti ada adegan keramat klo udh di kantin
2024-05-30
0