Bab 12

Reka turun ke lantai bawah dengan langkah ringan, aroma masakan yang lezat sudah tercium dari arah ruang makan. Perutnya yang lapar semakin menguatkan keinginannya untuk segera duduk dan menikmati makan malam bersama keluarga.

Saat Reka masuk ke ruang makan, dia melihat Mommy, Arsad, dan Arsan sudah duduk di meja makan. Suasana hangat dan akrab segera menyelimuti ruangan itu. Senyum lembut Mommy menyambut kedatangannya, sementara kedua kakak kembarnya terlihat asyik berbincang.

"Selamat malam, Mom," sapa Reka sambil menghampiri Mommy dan mencium pipinya dengan penuh kasih.

"Selamat malam, sayang," balas Mommy dengan senyuman hangat, membalas ciuman Reka.

Reka lalu menoleh ke arah kedua kakaknya. "Malam, kak Arsad, kak Arsan," sapanya dengan ramah.

"malam, adik kecilku," balas Arsad sambil tersenyum.

"Selamat malam, Kunti Bogel," canda Arsan sambil terkekeh.

Reka mendelik, matanya menyipit dengan tatapan tajam. "Kak Arsan!" protesnya, nadanya terdengar kesal namun masih ada nada canda.

Arsan tertawa kecil melihat reaksi Reka.

"Ya, ya, maaf, Reka. Aku cuma bercanda," ujarnya sambil mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.

Reka duduk di samping Arsan dengan perasaan kesal yang masih menggelayuti hatinya. Candaan Arsan yang memanggilnya "Kunti Bogel" tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, membuat suasana hati Reka sedikit suram. Dia melipat tangannya di depan dada, mencoba mengabaikan Arsan yang masih tersenyum geli di sebelahnya.

Tak berselang lama, suara pintu depan yang terbuka menandakan kedatangan Daddy, Lionel, dan Gred. Langkah kaki mereka terdengar jelas di sepanjang lorong, semakin mendekati ruang makan.

Saat Daddy, Lionel, dan Gred memasuki ruangan, Reka menoleh dan wajahnya sedikit cerah melihat mereka.

Daddy memasuki ruangan terlebih dahulu, diikuti oleh Lionel dan Gred. Senyum lembut menghiasi wajah Daddy saat melihat putri kecilnya. "Reka," panggilnya dengan suara hangat.

"Selamat malam, sayang," ucap Daddy, suaranya penuh kehangatan.

"Selamat malam, Dad," jawab Reka, perasaan kesalnya perlahan-lahan mulai mencair.

Lionel dan Gred juga mendekat, memberikan senyuman hangat. "Hei, adik kecil," sapa Gred sambil mengacak-acak rambut Reka dengan penuh kasih sayang.

"Bagaimana kabarmu, Reka?" tanya Lionel, mata yang bersinar dengan kehangatan menatap adiknya.

"Baik, Kak," jawab Reka dengan senyum yang akhirnya benar-benar tulus.

Daddy duduk di ujung meja, mengambil peran sebagai kepala keluarga yang penuh wibawa namun hangat. "Baiklah, mari kita mulai makan malam," ujarnya dengan senyum lembut. Semua orang mengambil posisi masing-masing, siap untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan dengan penuh cinta.

Mommy, yang duduk di sebelah Daddy, mengawali dengan menghidangkan sup untuk semua orang. "Nikmati supnya, ini resep baru yang kucoba hari ini," kata Mommy dengan senyum bangga.

Reka mengambil sendoknya dan mencicipi sup. "Ini enak sekali, Mom," pujinya tulus, membuat Mommy tersenyum senang.

Percakapan ringan mulai mengalir di antara anggota keluarga. Lionel dan Gred berbicara tentang kegiatan mereka di kantor, sementara Arsad dan Arsan saling bercanda dan sesekali menggoda Reka. Meskipun terkadang candaannya usil, Reka tahu bahwa itu semua berasal dari kasih sayang.

"Dad, bagaimana dengan proyek baru di perusahaan?" tanya Gred sambil menyuapkan potongan daging panggang ke mulutnya.

"Berjalan dengan baik," jawab Daddy sambil mengangguk. "Ada beberapa tantangan, tapi kita sudah mengatasinya. Bagaimana dengan pekerjaanmu, Gred?"

Gred menceritakan pekerjaan yang sedikit sulit saat, sementara yang lain mendengarkan dengan antusias. Tawa sesekali pecah ketika ada cerita lucu atau komentar kocak dari Arsan.

Reka menikmati makanannya sambil sesekali ikut dalam percakapan. Dia merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang hanya bisa didapatkan dari kebersamaan keluarga. Setiap suapan makanan terasa lebih nikmat, setiap tawa terasa lebih tulus, dan setiap momen terasa sangat berharga.

Setelah hidangan utama selesai, Mommy membawa keluar hidangan penutup yang sudah disiapkannya dengan penuh kasih. "Ini, kue kesukaan kalian," kata Mommy sambil meletakkan piring-piring di depan mereka.

Semua orang menyantap hidangan penutup dengan senyum lebar di wajah mereka. Reka merasakan manisnya kue yang lembut di lidahnya, menambah sempurna malam yang sudah begitu indah.

Saat makan malam hampir selesai, Daddy meletakkan garpu dan pisau di piringnya, lalu membersihkan mulutnya dengan serbet. Dengan nada serius namun penuh kasih, ia menarik perhatian seluruh keluarga yang masih menikmati hidangan penutup.

"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, terutama kepada Reka," kata Daddy, menatap putri kecilnya dengan penuh perhatian.

Reka yang sedang menikmati sepotong kue, berhenti sejenak dan menatap Daddy dengan rasa penasaran. "Apa itu, Dad?"

Daddy menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Daddy sudah memutuskan hubungan pertunanganmu dengan Gazef."

Sejenak, keheningan melingkupi ruangan. Namun, tidak lama kemudian, wajah Reka berubah cerah dan senyum lebar menghiasi bibirnya. Dengan spontan, dia bersorak kegirangan, melompat-lompat kecil di kursinya.

"Benarkah, Dad? Oh, terima kasih! Terima kasih banyak!" teriak Reka, suaranya penuh kegembiraan.

Mommy, Arsad, Arsan, Lionel, dan Gred tertawa melihat reaksi bahagia Reka. Mereka tahu betapa terluka dan beratnya perasaan Reka tentang pertunangannya dengan Gazef, dan melihat kebahagiaannya sekarang membuat mereka lega.

"Aku tahu ini akan membuatmu senang, Reka," kata Daddy dengan senyum hangat, merasa lega melihat kegembiraan putrinya.

Reka tidak bisa berhenti tersenyum. "Aku benar-benar senang, Dad. Ini yang terbaik! Terima kasih banyak!" katanya lagi, matanya bersinar-sinar penuh kebahagiaan.

"Sudah sepantasnya, sayang," tambah Mommy dengan lembut. "Kebahagiaanmu yang terpenting bagi kami."

Reka merasa seolah-olah beban besar telah diangkat dari pundaknya. Ia kembali duduk, kali ini dengan hati yang jauh lebih ringan dan penuh kegembiraan. Malam itu menjadi malam yang sangat spesial baginya, penuh dengan kebahagiaan dan cinta dari keluarganya.

Setelah makan malam selesai dan suasana kehangatan masih menyelimuti ruang makan, Reka berdiri dari kursinya dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya.

"Mom, Dad, Kak Lionel, Kak Gred, Arsad, Arsan, aku mau pamit ke kamar dulu. Aku ingin beristirahat," kata Reka dengan senyum lembut, matanya berkeliling menatap anggota keluarganya.

Mommy tersenyum dan mengangguk. "Selamat malam, sayang. Tidurlah yang nyenyak," ujarnya penuh kasih.

Daddy mengangguk setuju. "Selamat malam, Reka. Mimpi indah," tambahnya dengan senyum bangga.

"Selamat malam, adik kecil," kata Arsad sambil melambaikan tangan.

"Selamat malam, Reka," sahut Arsan, kali ini tanpa canda, hanya dengan senyum hangat.

"Jangan lupa istirahat yang cukup," kata Lionel, penuh perhatian.

"Selamat malam, Reka. Semoga tidurmu nyenyak," ujar Gred sambil tersenyum.

Reka mengangguk dan membalas senyuman mereka. "Selamat malam semuanya," katanya, sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan.

Ia menaiki tangga dengan langkah ringan, perasaan bahagia dan lega mengalir dalam dirinya. Pertunangan yang membebani pikirannya selama ini akhirnya diputuskan, dan dia bisa merasakan kebebasan yang sudah lama dirindukan. Sesampainya di kamarnya, Reka membuka pintu dan masuk, menutupnya perlahan di belakangnya.

Ia menghela napas panjang, merasa tenang dan damai. Reka kemudian berjalan menuju tempat tidurnya, mengganti pakaiannya dengan piyama yang nyaman, dan menghempaskan dirinya ke atas kasur. Ia memejamkan mata, menikmati kehangatan selimut yang membungkus tubuhnya.

Dalam kamar yang sunyi, Reka berguling-guling di atas kasurnya, ekspresinya penuh kegirangan. Dengan gerakan yang spontan, ia menendang selimutnya dengan riang, menimbulkan bunyi lembut yang menyatu dengan keceriaannya.

"Akhirnya aku tidak jadi mati! Haha, presetan dengan alur cerita, aku tidak perduli," ucap Reka, suaranya penuh kelegaan dan kebahagiaan. Dia melihat ke langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung.

"Sekarang aku bisa hidup dengan aman dan nyaman tanpa beban. Berbahagialah Gazef dan Rosa karena penghalang hubungan kalian sudah tidak ada," lanjut Reka dengan nada penuh kemenangan. Dia merasa seolah-olah beban besar telah diangkat dari pundaknya, dan sekarang ia bisa melangkah maju dengan lebih ringan dan lebih bebas.

Reka merasakan kebahagiaan yang mengalir dalam dirinya, meresapi setiap sudut hatinya dengan rasa lega dan damai. Dia tidak lagi terbebani oleh pertunangan yang tidak diinginkannya, dan sekarang dia bisa menjalani hidupnya sesuai dengan keinginannya sendiri.

⚠️Tolong berikan Like dan Komentar sebagi bentuk dukungan ya!! Agar author semangat untuk menulis, tidak susah kok tinggal tekan 👍🏻 dan 💬 nextss saja sudah cukup. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENINGGALKAN KOMENTAR DAN LIKE⚠️

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

nanti bneran kuntil bogel Bru Tau rasa

2024-08-09

0

renaa.

renaa.

di chapter sebelumnya si arsan manggilnya cebol, trs micro sister, lah skrg malah kunti bogel 🙂

2024-06-22

0

Grey

Grey

kenapa harus Kunti bogel😂🤣

2024-06-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!