Bab 15

Di kantin, Reka duduk dengan gelisah. Tangannya sibuk mengigit kuku jarinya, dan kaki kanannya bergetar tanpa henti di bawah meja. Matanya menatap kosong ke arah nampan makanannya yang belum tersentuh, pikirannya melayang-layang di tengah kekacauan emosional yang baru saja terjadi.

Di seberang meja, Felly menatap Reka dengan tatapan jengah. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya, tetapi melihat kegelisahan Reka membuatnya merasa prihatin.

"Reka, ada apa sih? Kamu kelihatan sangat gelisah," kata Felly, suaranya penuh kekhawatiran.

Reka tidak langsung menjawab, masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Peristiwa di kelas dengan Gazef terus berulang di benaknya, memicu campuran perasaan marah dan putus asa. Akhirnya, dia menghela napas berat dan menatap Felly dengan mata yang tampak bingung dan lelah.

"Aku... aku tidak tahu, Fel. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah, seperti semua ini tidak seharusnya terjadi," ucap Reka dengan suara rendah, nyaris berbisik.

Felly mengernyit, mencoba memahami situasi yang dihadapi Reka. "Apa ini masih tentang Gazef? Dia memang brengsek, tapi kamu tidak perlu memikirkannya terlalu dalam."

Reka menggelengkan kepalanya, berusaha meredakan gejolak di dalam dirinya.

"Bukan cuma itu, Fel. Rasanya seperti aku terjebak dalam sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang aku tidak bisa kendalikan."

"Hah? Maksudnya apa?" tanya Felly dengan alis terangkat.

Reka menggigit bibirnya, mencari cara untuk menjelaskan situasinya dengan kata-kata yang bisa dimengerti oleh Felly. "Bagaimana cara aku menjelaskannya agar kamu mengerti..." katanya, suaranya terdengar putus asa.

"Memangnya masalah apa yang sedang terjadi?" desak Felly, matanya penuh perhatian.

"Begini, kamu tahu cerita transmigrasi seperti time travel?" Reka memulai, mencoba mencari kata-kata yang tepat.

"Ya, aku tahu. Kenapa?" Felly mengangguk, penasaran ke mana arah pembicaraan ini.

"Apa yang akan kamu lakukan jika jiwamu dimasukkan ke dalam sebuah novel cerita romansa? Peranmu adalah figuran yang diharuskan mati demi kebahagiaan tokoh utamanya," kata Reka dengan serius.

"Sudah pasti aku akan mengubah takdirku," jawab Felly tanpa ragu.

"Bagaimana jika tidak bisa?" tanya Reka, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran.

"Kenapa tidak bisa? Bukankah semua novel transmigrasi biasanya seperti itu?" Felly bertanya, mencoba memahami situasi yang dijelaskan Reka.

"Iya, seharusnya seperti itu. Tapi bagaimana jika penulis novel itu bisa berkomunikasi denganmu dan dia meminta kamu untuk tetap mengikuti alur cerita yang dia buat?" Reka menjelaskan, matanya penuh dengan ketegangan.

"Maksudnya aku harus pasrah menerima takdir jika aku harus mati? Oh tidak bisa begitu dong, aku tidak akan menuruti keinginan penulisnya," kata Felly dengan tegas, menunjukkan sikap pantang menyerahnya.

"Tapi bagaimana jika setiap kali kamu mengubah cerita, kamu akan kembali ke titik awal? Apa yang akan kamu lakukan?" Reka menatap Felly, mencari jawaban yang mungkin bisa memberinya harapan.

Felly terdiam sejenak, merenungkan kemungkinan yang mengerikan itu. "Aku... aku tidak tahu," akhirnya dia berkata pelan. "Tapi aku akan tetap mencoba melawan. Hidupku adalah milikku, bukan milik penulis itu."

"Kamu benar, hidupku adalah milikku. Aku akan mengubah jalan hidupku bagaimanapun caranya," kata Reka dengan tekad yang kuat.

Felly menatapnya dengan penuh perhatian. "Sebenarnya masalahmu apa sih, Rek?"

"Apa kamu percaya jika dunia ini adalah duni..." Reka menghentikan kalimatnya di tengah jalan, terdiam mematung melihat tubuh Felly yang tiba-tiba membeku, begitu juga dengan semua orang yang berada di kantin. Seolah waktu berhenti, semua orang tetap di posisi mereka tanpa bergerak.

"Astaga, sekarang apa lagi ini?" Reka bergumam, merasa semakin terjebak dalam situasi yang aneh dan tidak masuk akal.

Tiba-tiba, semuanya kembali bergerak. Felly melanjutkan percakapannya seolah tidak ada yang terjadi.

 "Kenapa, Reka?" tanya Felly.

 "Kamu... Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu tidak merasakan ada yang aneh dengan tubuhmu?" ucap Reka menatap Felly dengan tatapan cemas.

Felly mengerutkan kening. "Tidak ada? Memangnya ada apa dengan tubuhku?" tanyanya.

Reka menggelengkan kepalanya, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

 "Lupakan saja pertanyaanku tadi. Apa kamu ingat apa yang kita bicarakan?" tanya Reka.

 "Memangnya kita membicarakan apa?" kata Felly yang terlihat bingung.

Reka terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikirannya berputar-putar, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dia merasa semakin terisolasi, seolah hanya dia yang menyadari keanehan ini. Dengan perasaan yang campur aduk antara ketakutan dan kebingungan, Reka hanya bisa memandang Felly yang tampak normal, sementara dunia di sekelilingnya terasa semakin tidak nyata.

Setelah waktu istirahat habis, Reka dan Felly berjalan bersama menuju kelas mereka. Reka terdiam, pikirannya terus-menerus memikirkan kejadian aneh yang baru saja terjadi di kantin. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah membawa beban tambahan di pundaknya.

Tiba-tiba, Reka menghentikan langkahnya. Dia menghadap Felly dan memegang kedua pundak sahabatnya dengan erat. Tatapannya penuh keseriusan.

"Felly, kamu adalah NPC dalam cerita novel You're My World, My Love," kata Reka dengan suara tegas.

Seketika itu juga, tepat saat Reka menyebutkan judul novelnya, semua di sekeliling mereka kembali membeku. Murid-murid yang sedang berjalan, daun yang tertiup angin, bahkan burung yang terbang di langit, semuanya berhenti seperti patung. Hanya Reka yang masih bisa bergerak.

Reka tertawa kecil, suaranya bergema di lorong yang sunyi. "Hahaha, sesuai dengan dugaan ku," katanya dengan nada penuh kepastian.

Reka melepaskan genggamannya dari pundak Felly dan berjalan di antara murid-murid yang membeku, merasa aneh dan sedikit terasing. Reka tahu bahwa dia berada dalam dunia yang diciptakan oleh penguasa cerita itu, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia harus menemukan cara untuk mengubah takdirnya dan melawan alur cerita yang telah ditetapkan untuknya.

"Reka, kenapa kamu meninggalkan aku?" panggil Felly dari belakang.

Reka berhenti, berbalik, dan tersenyum pada sahabatnya. Dia melirik ke arah jam tangannya dan menyadari sesuatu yang aneh. "Waktu juga ikut berhenti," batin Reka, semakin yakin dengan ketidakwajaran situasinya.

"Kamu jalannya sangat lamban," kata Reka dengan nada bercanda.

Felly mengerutkan kening, merasa sedikit bingung, tetapi dia melangkah cepat untuk menghampiri Reka. Mereka kembali berjalan beriringan menuju kelas, suasana di sekitar mereka tampak kembali seperti biasa.

" Aneh, bukankah tadi kita berjalan bersama? Tapi kenapa kamu tiba-tiba sudah di depan?" tanya Felly dengan kebingungan di wajahnya.

"Kan sudah ku bilang, kamu jalannya lamban," kata Reka sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Reka dan Felly melangkah masuk ke dalam kelas, suara langkah kaki mereka teredam oleh gumaman murid-murid lain yang sudah duduk di tempat masing-masing. Mereka mengambil tempat duduk di barisan tengah, dan Reka meletakkan tasnya di atas meja, berusaha menenangkan pikirannya yang masih kacau.

Tak berselang lama, guru mereka masuk ke dalam kelas. Suasana ruangan berubah menjadi hening saat murid-murid duduk tegap dan memperhatikan. Sang guru, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang melorot di ujung hidungnya, membuka buku pelajaran dan mulai menjelaskan materi hari itu.

Pelajaran pun dimulai. Suara pena yang menulis dan lembaran buku yang dibalik memenuhi ruangan, menciptakan irama yang menenangkan. Reka berusaha fokus pada penjelasan guru, meskipun pikirannya masih sering melayang ke kejadian-kejadian aneh yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Felly duduk di sebelah Reka, sesekali melirik sahabatnya dengan tatapan penuh perhatian. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang mengganggu Reka, tetapi memutuskan untuk tidak menanyakannya sekarang. Mereka berdua terdiam dalam keasyikan masing-masing, mencoba menjalani hari sekolah mereka seperti biasa, meski bayang-bayang keanehan tetap menghantui benak Reka.

⚠️Tolong berikan Like dan Komentar sebagi bentuk dukungan ya!! Agar author semangat untuk menulis, tidak susah kok tinggal tekan 👍🏻 dan 💬 nextss saja sudah cukup. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENINGGALKAN KOMENTAR DAN LIKE⚠️

Terpopuler

Comments

Marvina

Marvina

Mirip alur cerita drakor Extraordinary you, pemeran pembantu berusaha mengubah alur cerita komik

2025-03-20

0

Nabila

Nabila

bingung

2024-09-08

1

𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶

𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶

haduhhh....bingung saya bacanya

2024-07-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!