Bab 4

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, menandakan akhir dari hari yang panjang. Reka dan Felly berkemas dengan cepat, lalu keluar dari dalam kelas bersama-sama. Di lorong sekolah yang mulai dipenuhi oleh para siswa yang juga bersiap pulang, mereka berdua berjalan beriringan.

Reka dan Felly menuju ke arah lift yang terletak di ujung koridor. Mereka berjalan sambil berbicara ringan, mencoba melupakan kejadian aneh yang terjadi di ruang UKS tadi.

Setelah menunggu sejenak, pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya. Suara pintu lift yang menutup terdengar lembut, membawa mereka turun dari kelas mereka yang berada di lantai empat. Di dalam lift, suasana terasa sedikit lebih santai, meskipun ada perasaan canggung yang masih menyelinap di antara mereka.

"Jadi, kamu yakin sudah tidak apa-apa?" tanya Felly sekali lagi, suaranya lembut namun penuh perhatian.

Reka tersenyum tipis, menatap ke arah Felly dengan mata yang sedikit lebih tenang. "Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."

Felly mengangguk, meskipun kekhawatiran belum sepenuhnya hilang dari matanya. Lift akhirnya berhenti di lantai dasar, dan pintu terbuka dengan lembut. Mereka keluar dari lift, melangkah keluar dari gedung sekolah menuju halaman yang ramai dengan siswa-siswa lain yang pulang.

Saat mereka tiba di gerbang sekolah, Reka dan Felly berhenti sejenak. "Sampai jumpa besok, ya," kata Felly sambil tersenyum, meskipun masih ada sedikit kekhawatiran di matanya.

"Sampai jumpa," jawab Reka dengan lembut, membalas senyum Felly. Mereka berdua kemudian berpisah, berjalan ke arah yang berbeda.

Di tepi jalan, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap menunggu kedatangan Reka. Seorang sopir berpakaian rapi keluar dari mobil dan menghampirinya. "Selamat sore, Nona Reka," sapanya dengan sopan, membuka pintu mobil untuknya.

Reka berhenti sejenak, merasa sedikit canggung dengan sapaan formal itu. Dia mengangguk pelan dan memasuki mobil, duduk di kursi belakang yang nyaman. Sang sopir menutup pintu dengan hati-hati dan segera bergegas kembali ke kursi pengemudi.

Mobil mewah itu meluncur dengan mulus menjauh dari gerbang sekolah, meninggalkan hiruk-pikuk siswa yang masih bersiap-siap pulang. Reka menatap ke luar jendela, pikirannya kembali pada kejadian-kejadian aneh yang dialaminya hari ini.

Saat jam belajar di sekolah tadi, Naya yang jiwanya masuk kedalam tubuh Reka, duduk dengan penuh konsentrasi di meja belajarnya, mencoba memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru. Namun, tiba-tiba, seperti kilatan yang menyambar, memori kehidupan tentang Reka yang asli memenuhi pikirannya.

Suasana kelas seketika terasa seperti hilang, digantikan oleh gambar-gambar yang mengalir dengan cepat di benaknya.

Naya melihat dirinya, bukan sebagai Naya, melainkan sebagai Reka. Naya Merasakan setiap emosi, setiap pengalaman, dan setiap momen yang pernah dialami Reka. Dia merasakan kegembiraan, kesedihan, kecemasan, dan harapan yang menghantarkannya dalam perjalanan hidupnya.

Dengan hati yang berat, Naya akhirnya menerima kenyataan pahit bahwa dia telah terperangkap dalam dunia sebuah novel, dan perannya hanyalah sebagai tokoh figuran yang berakhir tragis.

Mobil meluncur perlahan melewati gerbang besi yang megah, membuka jalan menuju halaman rumah yang sangat mewah. Cahaya senja memperlihatkan keindahan arsitektur bangunan yang megah, dengan taman yang terawat rapi menghiasi sekelilingnya. Pohon-pohon tinggi menjulang di sepanjang jalan masuk, menambah kesan elegan pada lingkungan tersebut.

Ketika mobil melaju lebih jauh, bangunan utama rumah terungkap dengan gemerlap lampu-lampu yang menerangi setiap sudutnya. Kolam renang berkilauan di tengah taman, menambah sentuhan kemewahan pada suasana yang sudah mewah itu. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah air mancur indah yang menari-nari dengan gemulainya, menciptakan suasana yang begitu menawan.

Reka melangkah masuk ke dalam mansion mewahnya, dinding-dinding berlapis marmer dan lampu gantung kristal menyambutnya dengan kemewahan yang memukau. Namun, kemewahan itu bukanlah hal pertama yang menyambutnya.

"Putriku yang malang, kenapa kamu bisa sampai pingsan, sayang?" kata Mommy dengan nada dramatis, air mata mengalir di pipinya

Reka merasakan campuran antara kehangatan dan rasa geli mendengar drama yang begitu intens. Meski begitu, dia tersenyum dan membalas pelukan itu, menikmati momen kasih sayang yang penuh kehangatan.

"Aku baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir," balas Reka, suaranya lembut menenangkan. Meskipun merasa geli dengan reaksi berlebihan dari mommy, dia merasakan cinta tulus di balik tangisan dramatis itu.

Dengan perlahan, Mommy melepaskan pelukannya, namun matanya masih penuh kekhawatiran dan kasih.

Setelah melepaskan pelukan hangatnya, Mommy tiba-tiba mencubit kedua pipi Reka dengan lembut, seakan ingin memastikan bahwa putrinya benar-benar ada di sana dan baik-baik saja.

"Oh, sayangku, jika ada yang mengganggumu, katakan saja. Mommy siap untuk menyapu bersih mereka semua," kata Mommy dengan nada penuh semangat dan protektif.

Reka tidak bisa menahan tawa kecil yang keluar dari bibirnya, merasakan geli dan kehangatan yang mengalir dari perhatian mommy.

"Mom, aku baik-baik saja, sungguh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," balas Reka, matanya berbinar penuh kasih sayang.

Mommy mengendurkan cubitannya, tetapi tatapan penuh kasihnya tetap tidak berubah.

Daddy yang berdiri di samping Mommy melangkah mendekati Reka dengan langkah mantap. Wajahnya yang hangat memancarkan kekhawatiran yang mendalam saat dia menghampiri putrinya. Tangannya yang besar dan kokoh meraih bahu Reka dengan lembut, seolah ingin memberikan dukungan yang tak terbatas.

"Benarkah tidak ada yang mengganggumu, sayang?" tanya Daddy dengan suara yang lembut namun penuh perhatian, matanya memandang langsung ke mata Reka, mencari kepastian.

Reka tersenyum pada ayahnya dengan penuh kehangatan. "Tidak, Daddy. Aku baik-baik saja," jawabnya dengan tulus, merasakan kehangatan dari sentuhan daddy.

"Oh, benarkah? Tapi kenapa Felly mengatakan hal yang berbeda? Katanya kepalamu terkena lemparan bola basket dari Gazef," ujar Daddy dengan nada khawatir.

"A-anu... itu...," Reka tergagap dalam mencari kata-kata.

"Lagi-lagi Gazef, anak itu selalu saja membuatmu menderita. Jika kamu mau, Daddy bisa membatalkan pertunangan kalian," kata Daddy dengan suara yang penuh keputusan.

"Benarkah! Kalau begitu, tolong batalkan pertunangan rela dengannya, Dad," pinta Reka dengan gembira.

Daddy memicingkan matanya, menatap Reka dengan tatapan curiga saat dia menyampaikan apa yang dikatakan oleh Felly. "Felly juga mengatakan hal lain, katanya kamu terlihat aneh. Kamu tidak mencari-cari keberadaan Gazef saat kamu sadar dari pingsan. Kamu juga berterima kasih dengan baik," ujarnya, suaranya penuh dengan penyelidikan.

Reka merasakan detak jantungnya berdegup kencang saat dia merasakan tekanan dari tatapan curiga Daddy. "Ah, sial, jangan sampai aku ketahuan jika aku bukan Reka yang asli," batinnya sambil berusaha menjaga penampilannya.

"Anu... Itu... Itu... Itu karena Reka sudah lelah berhadapan dengannya. Gazef selalu saja mengabaikan keberadaan Reka," jawab Reka dengan cepat, memberikan alasan agar tidak dicurigai.

Daddy mengangguk, seolah menerima penjelasan Reka. Namun, matanya masih menyimpan keraguan.

"Sudah, sudah, jangan dibahas lagi. Reka sayang, sebaiknya kamu pergi ke kamar dan beristirahat," kata Mommy dengan suara lembut namun tegas.

"Ya, Mom," jawab Reka dengan patuh.

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Reka berjalan menuju lift yang berada di ujung koridor. Dengan langkah ringan, dia menekan tombol untuk memanggil lift. Saat pintu lift terbuka, dia masuk ke dalamnya dan menekan tombol untuk menuju lantai empat, tempat kamarnya berada.

Daddy dan Mommy berdiri di koridor, memperhatikan Reka yang berjalan menuju lift dengan langkah ringan. Tatapan mereka penuh dengan kekhawatiran yang tidak terucapkan.

"Apa kita perlu membawa Reka ke dokter?" tanya Daddy, suaranya penuh dengan kecemasan.

"Untuk apa? Reka kan baik-baik saja," jawab Mommy dengan nada yang tenang.

Daddy menghela napas, memperhatikan sikap Reka yang terlihat berbeda. "Baik dari mananya? Kamu kan melihat sendiri sikap Reka yang aneh. Biasanya Reka selalu menolak pelukan dan jarang tersenyum manis seperti tadi. Dia selalu terlihat suram," katanya dengan nada khawatir.

"Hush, jangan mengejek putriku dengan sebutan 'suram'. Yang suram itu kamu. Aku tidak peduli dengan perubahan sikap putri kecilku karena aku menyukai sifatnya yang sekarang, yang terlihat ceria," seru Mommy dengan suara yang tegas namun penuh kehangatan.

"Aku juga senang melihat senyuman putri kita yang indah," sambung Daddy dengan senyuman.

"Lah, tadi katanya Reka terlihat suram," celetuk Mommy.

"Aku tarik perkataanku kembali, puas kan," kata Daddy sambil tertawa kecil.

Daddy dan Mommy berjalan bersama di sepanjang koridor menuju lift, langkah mereka seirama seperti sebuah tarian yang sudah terbiasa. Meskipun mereka telah menikah bertahun-tahun, keharmonisan dan keakraban mereka masih terpancar jelas dari setiap gerakan dan ekspresi wajah mereka.

Daddy tertawa riang ketika Mommy merengek tentang hal-hal sepele, sementara Daddy membalas dengan lelucon yang menggelitik. Suara tawa mereka bergema di lorong yang tenang, menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan dan keceriaan.

Sesekali, mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta dan pengertian, seolah ingin mengatakan bahwa tak ada yang bisa memisahkan mereka. Meskipun telah melewati berbagai lika-liku kehidupan, mereka tetap bersatu dalam ikatan cinta dan kesetiaan yang kokoh.

Ketika lift akhirnya tiba, mereka memasukinya dengan tawa masih terpancar di wajah mereka.

Terpopuler

Comments

Ayu Dani

Ayu Dani

kirain bakal jadi kuat atau gmna gtu
eee ternyata malah jadi anak manja

2024-07-23

0

_cloetffny

_cloetffny

keknya disini bayangan gue tentang mafia hancur total deh, seenggaknya berubahnya ga se drastis ini, emang ada mafia yg gugup gitu? sedangkan di saat jemput kematiannya aja sifatnya ga amburadul gini,
seharusnya disini sifatnya bisa diubah jadi tenang aja daripada kek gini

2024-05-30

9

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!