Reka terdiam membeku, matanya terbelalak kaget, bibirnya terkatup rapat. Ketidakpercayaan dan kejutan tergambar jelas di wajahnya, seolah dunia di sekitarnya tiba-tiba berhenti berputar. Teman Reka, yang baru saja berbicara dengan penuh semangat, kini terlihat bingung melihat Reka yang terdiam membeku di tempatnya. Kebingungan dan kecemasan mulai mengisi ekspresi wajah temannya, tidak mengerti apa yang terjadi pada Reka dan mengapa reaksi yang tak terduga ini muncul.
"Reka... Reka... Hei, kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir... Kenapa kamu terdiam?" kata teman reka, suaranya gemetar
Teman Reka memegang pundaknya lalu menggoyangkan tubuhnya dengan lembut, mencoba membangunkan Reka dari keterdiamannya. "Hei, kamu kenapa diam? Apa kepalamu sakit karena benturan bola basket tadi?" kata teman Reka dengan nada cemas, matanya menatap dalam-dalam ke mata Reka yang kosong.
Reka mengerjapkan matanya, tatapannya perlahan kembali fokus saat menatap temannya. "Aku Reka!..." kata Reka dengan suara yang masih diliputi kebingungan.
"Iya, kamu Reka, aku Felly," balas Felly dengan lembut, mencoba menenangkan temannya yang tampak tersesat dalam pikirannya sendiri.
"Reka, kamu kenapa sih?" tanya Felly, suaranya penuh kekhawatiran. Dia menatap Reka dengan cemas.
"Arghh," Reka tiba-tiba berteriak dengan kencang, suaranya menggema di taman yang tenang, membuat burung-burung terbang ketakutan dari dahan pohon terdekat. Felly terkejut, mundur selangkah dengan mata terbelalak, hatinya berdegup kencang.
"Aaaa... Kenapa, kamu kenapa tiba-tiba berteriak?" tanya Felly dengan suara yang bergetar, cemas melihat sahabatnya yang tampak sangat terguncang.
Reka menatap tepat di mata Felly, tatapan matanya penuh dengan kebingungan dan kepanikan yang mendalam. Sebelum Felly sempat bereaksi lebih lanjut, tubuh Reka tiba-tiba melemas dan jatuh ke tanah, pingsan.
"Reka!" teriak Felly dengan suara penuh kepanikan, berlutut di samping sahabatnya. Tangannya dengan cepat meraih tubuh Reka, mencoba membangunkannya kembali.
........................................
Perlahan-lahan, Reka membuka matanya, memandang sekeliling dengan pandangan yang masih kabur. Perasaan pusing dan kebingungan menyelimuti pikirannya, namun seiring waktu, kesadaran mulai kembali menyapanya. Reka tersadar dari pingsannya dan dengan cepat menyadari bahwa dia berada di UKS.
Tiba-tiba, Reka merasakan pelukan erat yang mengelilingi tubuhnya. Ketika ia memalingkan pandangannya, ia melihat Felly, sahabatnya, yang memeluknya dengan erat. Wajah Felly dipenuhi dengan air mata dan tangisannya tersedu-sedu.
"Aku sangat panik saat kamu tiba-tiba pingsan di taman," kata Felly dengan suara yang gemetar, matanya masih berbinar-binar karena air mata yang baru saja dihapus. "Aku mencoba membangunkanmu tapi kamu tidak mau terbangun, untungnya ada Kael. Aku meminta bantuan Kael untuk membawamu ke UKS."
Reka mendengarkan dengan seksama, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya.
Reka aka Naya terdiam di atas tempat tidur UKS, matanya memandang ke langit-langit dengan ekspresi campuran antara keterkejutan dan kebingungan. Dia merasakan kebingungannya merayap di dalam dirinya saat menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam dunia sebuah novel yang sangat populer, "You're My World, My Love".
Pikirannya melayang-layang, mencoba memahami bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya, tetapi semuanya terasa seperti mimpi yang kabur.
"You're My World, My Love" adalah novel romansa remaja yang sangat populer di kalangan pembaca muda. Cerita ini mengisahkan tentang percintaan yang penuh drama dan emosi antara dua remaja, memperlihatkan perjalanan mereka dalam menemukan cinta sejati di tengah berbagai rintangan dan hambatan yang mereka hadapi.
Pembaca disuguhkan dengan alur cerita yang mengharukan dan penuh dengan twists, membuat mereka terusik emosinya dari awal hingga akhir. Namun, di balik kepopulerannya, akhir cerita novel ini membuat banyak pembaca, termasuk Reka aka Naya, merasa kesal. Mereka menganggap bahwa penulisnya tidak adil terhadap karakter yang telah dibuatnya, terutama terhadap karakter Reka.
Reka aka Naya merasa bahwa penulis tidak memberikan akhir cerita yang pantas bagi karakter Reka, dan merasa bahwa perlakuan terhadapnya tidak adil. Meskipun cerita ini sangat menarik dan menghibur, namun akhir ceritanya menimbulkan perasaan kecewa bagi banyak pembaca, termasuk Reka aka Naya.
Meskipun begitu, popularitas novel ini tetap tidak terbantahkan, dan menjadi pembicaraan hangat di kalangan pembaca remaja. Di tengah kekesalan atas akhir cerita, masih banyak hal yang bisa dipetik dan dipelajari dari kisah cinta yang rumit dan mengharukan.
Dengan penuh frustrasi, Reka menjambak rambutnya sendiri dengan gerakan kasar, ekspresinya dipenuhi dengan kemarahan yang meluap-luap. "Sialaaan!" teriaknya, suaranya bergema di ruang UKS, membuat Felly terkejut dan terkejut.
"Reka, kamu kenapa lagi?" tanya Felly dengan cemas, tatapannya penuh dengan kekhawatiran. Namun, sebelum Reka bisa menjawab, dia sudah berlari keluar dari ruangan UKS dengan langkah cepat.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan memanggil dokter," kata Felly dengan suara gemetar, berusaha menenangkan dirinya sendiri sekaligus mencari bantuan untuk Reka. Dia bergegas menuju pintu keluar, mencari petugas medis yang mungkin bisa membantu menenangkan temannya yang sedang dalam keadaan terdistress tersebut.
"Aku ter isekai.... Hahahahah," kata Reka dengan tawa yang terdengar frustasi.
"Aku menjadi Figuran yang akan mati di tengah cerita," gumam Reka dengan nada yang penuh keputusasaan.
Pintu ruang UKS terbuka dengan gemerincing pelan saat Felly kembali, diikuti oleh seorang dokter dan Kael yang terlihat khawatir. Wajah Felly mencerminkan kegelisahan yang mendalam, matanya langsung menuju Reka yang duduk di tempat tidur dengan ekspresi yang muram.
Dokter, seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang terikat rapi, melangkah dengan tenang ke arah Reka, memeriksa dengan cermat. Di sampingnya, Kael menatap Reka dengan penuh kekhawatiran.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Felly kepada dokter dengan suara yang gemetar, mencoba menahan kecemasan yang melanda dirinya.
"Kita akan melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisinya. Tapi yang paling penting sekarang adalah menenangkan Reka dan membuatnya merasa aman," kata Dokter memandang Felly dengan penuh perhatian, lalu menjawab dengan suara yang tenang.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Lupakan saja apa yang tadi kamu lihat, Felly," ujarnya dengan senyuman tipis yang mencoba menutupi rasa canggungnya. "Tadi itu aku hanya sedikit frustasi saja,
tapi sekarang aku baik-baik saja."
"Kamu yakin," tanya Felly dengan suara yang penuh perhatian, matanya memandang Reka dengan intensitas.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Reka dengan senyum tipis. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku."
Felly terdiam, matanya terbelalak kaget ketika mendengar kata-kata Reka. Dia merasakan kebingungan yang mendalam merayap di dalam dirinya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Dokter, cepat periksa teman saya sekali lagi!" teriak Felly dengan suara gemetar, kepanikan terpancar jelas dari setiap kata yang diucapkannya.
"Sejak kapan kamu bisa mengucapkan terima kasih dengan benar," lanjut Felly dengan suara yang panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
_cloetffny
kenapa lu putus asa?
hidup jdi mafia sebelumnya gimana?
mustahil sifat lu gini pas jadi mafia, yang ada baru megang pistol musuh lu udh nembak duluan
2024-05-30
5
_cloetffny
kalo gini kesannya kek remaja labil
2024-05-30
0
_cloetffny
kalo mafia ga gini kali
2024-05-30
0