Alettha ( 19 )

¥¥¥¥¥¥¥¥¥

**Di rumah sakit**.

Saat ini Alettha terlihat sedang menunggu Altezza yang sejak tadi belum siuman , kedua sahabat Altezza katanya sedang ke luar karena ingin membeli makanan , jadinya Alettha hanya sendirian berada di ruangan itu.

Namun sejak tadi sepertinya Alettha sedang melamun , bahkan saat Altezza sudah sadar dan duduk sambil memperhatikan dirinya yang duduk di sofa , Alettha tidak menyadarinya hingga sesaat kemudian ..

"Alettha"panggil Altezza sambil menatap Alettha intens.

"Ya .."jawab Alettha yang sedikit tersentak saat mendengar Altezza memanggilnya.

Melihat Alettha yang sedikit terkejut membuat Altezza menghela nafas lalu dia turun dari ranjang dan berjalan kearah Alettha.

"Apa yang lo lakuin , bukankah lo sedang sakit?"gugup Alettha saat melihat Altezza berjalan mendekatinya yang sudah beranjak dari duduknya.

"Sejak kapan kamu di sini?"ucap Altezza sambil ingin meraih tangan Alettha , namun dengan refleks Alettha menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya , hingga membuat Altezza menaikan satu alisnya bingung dengan sikap Alettha sekarang.

"Baru saja , tadi Arkan yang jemput dan bilang kalau lo lagi sakit"ucap Alettha tanpa mau menatap mata elang Altezza yang membuatnya sedikit takut.

"Kau sedang menghindariku , apa Arkan mengatakan sesuatu?"ucap Altezza yang tahu jika Alettha terlihat sedang menghindarinya.

"Tidak , dia enggak ngomong apa apa"ucap Alettha yang memberanikan diri untuk menatap Altezza.

Namun yang di lihat oleh Alettha sekarang adalah tatapan penuh rasa cemas dan khawatir di balik mata elang yang Altezza miliki.

Bahkan Alettha merasa jika mata elang itu selalu menatapnya teduh dan penuh kasih sayang terhadap dirinya.

"Aku antar kamu pulang , tidak baik bagimu berada di rumah sakit"ucap Altezza yang kembalikan ingin meraih tangan Alettha , namun niatnya dia urungkan saat tahu jika Alettha mungkin akan menolaknya lagi.

Dan Alettha bisa melihat raut wajah sedih Altezza saat ingin mengenggam tangannya , hal itu entah mengapa membuat Alettha merasa bersalah karena mengabaikannya tadi.

"Biar gue pulang sendiri saja , mendingan lo istirahat"ucap Alettha yang kemudian ingin keluar dari ruang rawat Altezza.

Namun baru beberapa langkah Alettha berjalan , dia merasakan Altezza tiba tiba memeluknya dari belakang , hingga membuat Alettha lagi lagi terkejut dengan perlakuan Altezza yang tiba tiba pada Alettha.

"Al .."

"Aku akan diam dan mengabaikan sikapmu yang mengabaikan ku , tapi bisakah kau tetap berada di sisiku"bisik Altezza di telinga Alettha sambil meletakkan dagunya di pundak Alettha.

Dan kedua tangannya terlihat masih memeluk Alettha tanpa ada niat untuk melepaskan pelukan itu pada diri Alettha.

"Jika gue enggak mau?"ucap Alettha yang diam tanpa membalas pelukan Altezza.

"Jika begitu , aku lebih baik mati sebab hidup tanpa dirimu tidak akan berarti buatku"

"Meski gue menyimpan rahasia yang gue yakin hal itu akan membuat lo benci sama gue"

"Gue enggak perduli , selagi lo masih mau di sisi gue , gue akan abaikan semua itu"

"Lalu bagaimana jika gue bukan cewek yang lo cintai sejak dulu?"ucap Alettha yang merasa harus mengatakan pada Altezza mengenai siapa dirinya.

"Maksud kamu?"bingung Altezza sambil melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Alettha agar menghadapnya.

"Di dunia ini ada beberapa kasus yang tidak bisa di jelaskan dengan cara medis , salah satunya adalah apa yang gue alami sekarang , dan seharusnya lo sadar cewek yang lo sukai dulu dan sekarang benar benar berbeda Al .."

Altezza terdiam dan sedikit berpikir dengan maksud dari apa yang di katakan oleh Alettha , namun sepertinya pikirannya ingin bertindak egois hingga berpikir tidak ingin kehilangan wanita di hadapannya itu.

"Gue enggak perduli .."

"Al ... coba sekarang lo berpikir dengan jernih , tanyain ke hati kecil lo , apa yang benar benar ingin lo lakuin , jangan mengambil keputusan secara tiba tiba hanya karena tidak ingin kehilangan , lo harus bisa bedain perasaan lo sendiri , dan jangan pernah biarkan siapapun mengendalikan pikiran lo , hanya lo yang berhak atas pikiran lo , bukan orang lain"ucap Alettha yang memotong perkataan Altezza yang belum selesai tadi.

"Gue akan pulang bareng Arkan , dan lo tetap di sini untuk istirahat , saat lo sudah membuat keputusan lo bisa hubungin gue"ucap Alettha lagi yang kemudian berjalan pergi dari ruang rawat Altezza.

Dan meninggalkan Altezza yang masih termenung di tempatnya.

**€€€€€€€€**

**Di kediaman Gutama**.

Sang kepala keluarga , Angga Garindra Gutama terlihat sedang duduk di ruang keluarga sambil memeriksa pekerjaan yang belum sempat dia selesaikan tadi.

Tak lama kemudian , seorang pemuda terlihat sedang memasuki kediaman Gutama dan berhenti saat melihat sang Ayah masih duduk di ruang keluarga.

"Ayah belum tidur?"sapa pemuda itu yang berhenti tak jauh dari sang Ayah yang duduk di sofa.

"Darimana saja kamu jam segini baru pulang Rafka? apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?"ucap sang Ayah tanpa menoleh kearah sang putra yang berdiri di sampingnya.

"Aku tadi mengantar Alettha pulang , terus ke toko buku karena ada buku yang harus di beli , dan aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Alissya"terang Rafka.

"Baguslah kalau begitu , lebih baik sekarang kamu mencari cara agar si tua Sebastian itu percaya padamu dan melanjutkan pertunanganmu dengan Alettha"

"Kenapa Ayah sangat ingin aku yang bertunanggan dengan Alettha , sedangkan kita tahu Altezza lah yang ingin di jodohkan kakek Sebastian pada Alettha"

"Orang gila itu tidak akan cocok dengan Alettha , yang ada sebelum Ayah mendapatkan apa yang Ayah mau Alettha sudah tewas saat tahu segalanya soal Altezza , dan Ayah tidak ingin rugi"sambil menatap sang putra yang merasa terkejut dengan cara pikir sang Ayah.

"Kenapa Ayah bisa berpikir seperti itu , itu artinya Ayah akan bersikap biasa saja saat nanti Alettha yang tiba tiba sakit saat bersamaku?"

"Kau pikir Ayah perduli dengan kesehatannya , Ayah sama sekali tidak perduli dengan dirinya"ucap Angga sambil tersenyum remeh.

"Sebenarnya apa yang Ayah inginkan?"penasaran Rafka dengan rencana dari Angga sebenarnya.

"Itu bukan urusanmu , lakukan saja tugasmu"sambil beranjak dari duduknya lalu kemudian pergi meninggalkan Rafka yang masih berpikir dengan apa yang sedang di rencanakan oleh sang Ayah.

Hingga kemudian dia juga beranjak dari ruang keluarga untuk menuju kamarnya , dan berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang di rencanakan oleh sang Ayah.

**£££££££**

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

huh ayah biadap..

2024-12-05

2

Utayiresna🌷

Utayiresna🌷

anjay kata katanya mengingatkanku pada seseorang

2024-07-06

1

👑Кιкαη Αqυєєη👑

👑Кιкαη Αqυєєη👑

berarti Rafka itu cuma bonekanya bapaknya 🤔

2024-06-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!