Alettha ( 17 )

¥¥¥¥¥¥¥

"Psikopat?"ucap Alettha yang masih tidak percaya jika seorang Altezza memiliki gangguan jiwa seperti itu.

"*Masa iya itu cowok seorang psikopat sih .. , padahal dia kelihatan tenang dan sikapnya juga biasa saja , lalu kenapa bisa Al* .." batin Alettha yang tiba tiba teringat mengenai berita viral tadi pagi.

"Riska .."gumam Alettha sambil melihat kearah Arkan dan Revan yang juga sedang memperhatikannya.

"Itu .. memang ulah Ezza"jawab Arkan ragu ragu , sebab dia tidak ingin jika sampai jantung Alettha bermasalah lagi , bila hal itu sampai terjadi maka Altezza pasti akan marah dan berujung dia yang akan kehilangan nyawanya.

"Kenapa kalian tidak mencegahnya? biar bagaimanapun Riska itu cewek"ucap Alettha tak habis pikir dengan perbuatan Altezza.

"Kita berdua tidak mungkin bisa mencegah Ezza saat bermain , bukan karena kita takut , hanya saja saat di cegah maka Ezza akan melakukan hal yang lebih gila lagi , dan sebenarnya kemarin kita sempat akan membawa Riska ke dokter yang biasanya mengurusi korban Ezza , hanya saja di tengah jalan Riska sudah tidak bernafas lagi"jelas Arkan panjang lebar.

Mendengar hal itu membuat Alettha membuang nafas lalu kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa.

"*Kenapa jadi kayak gini sih .. , masa iya sekarang gue berurusan dengan orang gila*?" batin Alettha.

"Nona , apa anda baik baik saja?"ucap dokter Nisa yang sedikit khawatir dengan kondisi jantung Alettha.

"Aku baik baik saja dokter"sambil menegangkan kembali tubuhnya dan melihat kearah dokter Nisa.

"Sudah ku bilang nona Alettha akan baik baik saja , jantungnya bekerja dengan sangat baik dengan tubuhnya sekarang , lagipula nona Alettha bukan lagi nona Alettha yang dulu"sahut dokter Gery tersenyum kearah Alettha.

Namun sepertinya Alettha menangkap perkataan dokter Gery yang berbeda dengan yang di maksud barusan , hingga membuat Alettha berpikir jika dokter Gery sepertinya mengetahui sesuatu tentang diri Alettha yang sekarang.

"*Kenapa sekarang gue berpikir jika dokter Gery tahu sesuatu ya .. , apa jangan jangan cuma perasaan gue aja*?" batin Alettha yang menyadari perbedaan sikap dokter Gery.

"Melegakan jika nona Alettha sudah baik baik saja"ucap dokter Nisa bernafas lega.

"Lalu kenapa kalian menyuruhku kesini?"ucap Alettha yang sebenarnya penasaran kenapa dia di suruh kerumah sakit.

"Sebenarnya selama ini tuan muda Altezza sudah bisa mengontrol emosinya , dan dia tidak lagi memiliki keinginan untuk menyakiti orang lain , tetapi hal itu akan berbeda jika menyangkut dirimu nona"ucap dokter Nisa yang menjelaskan mengenai penyakit Altezza.

"Maksud anda mengenai diriku bagaimana dokter?"yang masih bingung dengan apa yang di katakan oleh dokter Nisa.

"Tuan muda akan kehilangan kontrol dirinya jika ada yang menyakiti anda , dan sebenarnya anda itu adalah alasan tuan muda untuk bisa sembuh , karena itulah selama beberapa tahun ini dia melakukan perawatan di luar negeri , dan sebenarnya kondisinya sudah mulai stabil , hanya saja saya tidak mengira jika dia akan seperti ini lagi"

"Itu artinya dia pernah seperti ini sebelumnya?"

"Dulu sewaktu sang paman pernah dengan seenaknya menyuruh Ezza mundur dengan perjodohan kalian , dan malah menyuruh Rafka yang bertunanggan denganmu , Ezza sempat mengamuk hingga membuat kita kewalahan untuk membuat dia tenang"sahut Arkan yang teringat mengenai kejadian yang membuat setengah dari bodyguard yang berjaga di kediaman Altezza terluka parah sebab Altezza yang mengamuk.

"*Gila .. separah itu , tapi bukankah orang yang dia suka itu Vanesha , lalu saat dia tahu jika gue bukan Vanesha apa dia akan ngebunuh gue*?" batin Alettha merinding saat hal itu benar terjadi nantinya.

"Memangnya apa yang dia lakukan sekarang?"penasaran Alettha.

"Menghajar beberapa bodyguard sampai masuk UGD"

"Dan beberapa diantaranya masih kritis"sahut dokter Gery menambahkan perkataan Revan yang sempat mengobati mereka tadi.

"Lalu apa yang ingin kalian inginkan dariku?"ucap Alettha yang sepertinya sudah sedikit paham dengan pembicaraan mereka.

"Saya mohon untuk selalu di sisi tuan muda , meski itu terlihat sulit , namun saya yakin jika tuan muda tidak akan pernah melukai anda"ucap dokter Nisa sambil menatap Alettha.

"Kenapa anda yakin jika dia tidak akan melukai saya?"

"Karena dia sangat mencintai anda"

"Meski begitu dia masih bisa melukai saya"ucap Alettha yang kemudian beranjak dari duduknya lalu berlalu meninggalkan ruang rawat Altezza , karena untuk sekarang dia ingin sendiri sambil memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil nantinya.

**££££££**

**Di taman rumah sakit**.

Alettha terlihat duduk sambil melihat beberapa pasien yang terlihat sedang menghabiskan waktunya dengan anggota keluarga mereka.

"Vanes , apa lo juga tahu soal Al? kenapa Al tidak ada di ingatan lo? gue jadi bingung harus ngelakuin apa?"gumam Alettha sambil mendesah lelah.

"Lakukan saja apa yang menurut nona benar"sahut seseorang yang berdiri di samping Alettha.

"Dokter Gery?"

"Boleh saya duduk nona?"ucap dokter Gery meminta ijin.

"Tentu"

"Terimakasih"sambil duduk di samping Alettha.

"Sepertinya anda tahu banyak hal soal Al?"ucap Alettha tanpa melihat kearah dokter Gery.

"Ya , itu karena Ayahnya tuan muda Altezza adalah sahabat saya , meski sebelumnya saya juga tidak tahu jika tuan muda Altezza adalah putra dari sahabat saya"

"Lalu bagaimana anda bisa mengetahui jika Al adalah putra sahabat anda?"

"Saat pertama kalinya tuan muda Al pergi kerumah sakit untuk chekup , saya secara kebetulan bertemu dengan mereka , dan dari situ saya tahu jika tuan muda adalah putranya"

"Bukankah Al sakit setelah kehilangan kedua orangtuanya? lalu .."bingung Alettha dengan penjelasan dokter Gery.

"Sebenarnya tuan muda sudah mengalami gejala itu sebelum kejadian tewasnya kedua orangtua tuan muda , dan hal itu semakin parah saat melihat dengan langsung apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya"jelas Gery yang merasa sedih saat tahu sang sahabat pergi dengan kondisi yang memprihatinkan.

"Jadi begitu"

"Lalu apa ada hal yang anda tahu mengenai saya dokter?"ucap Alettha lagi mengalihkan topik pembicaraan sambil melihat kearah dokter Gery.

"Maksud anda nona?"bingung dokter Gery dengan perkataan Alettha tadi.

"Bukankah anda sudah lama menjadi dokter pribadi saya , dan sepertinya anda menyadari perubahan di diri saya"

"Sebenarnya ini hanya pemikiran saya saja , tetapi saat melihat anda sekarang saya seperti melihat dua pribadi yang berbeda , entah apa penyebabnya , tetapi saat ingat mengenai operasi anda waktu itu , saya jadi yakin jika anda adalah orang lain , bukan lagi nona Vanesha yang saya kenal"jelas dokter Gery saat menyadari perubahan sikap Alettha.

"Memangnya apa yang terjadi di saat operasi itu?"penasaran Alettha dengan apa yang terjadi dengan Vanesha sebelum dia dioperasi.

"Anda sudah di nyatakan henti jantung sebelum saya berhasil melakukan transplantasi jantung"

**Deg**

"*Jadi Vanesha benar benar , lalu kenapa gue* ..."

.........

**£££££££**

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

makin seru

2024-12-05

1

Raisyah Al Lila

Raisyah Al Lila

sukses terus ceritanya

2024-07-09

1

Utayiresna🌷

Utayiresna🌷

gak papa kalau aku sih mah/Grin/

2024-07-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!