¥¥¥¥¥¥¥¥¥
Sejak keluar dari mension Sebastian , sekarang Alettha terlihat berada di sebuah taman yang jaraknya tidak jauh dari kediaman Sebastian.
Dan Alettha tidak hanya di temani oleh Mery saja saat pergi , melainkan ada satu orang bodyguard yang mengikuti mereka.
"Terlihat menyenangkan saat menghabiskan waktu bersama dengan keluarga seperti mereka"ucap Alettha sambil melihat kearah sepasang suami istri yang terlihat bercanda dengan anak anaknya sambil menikmati makanan yang mereka bawa.
"Tetapi nona juga bisa melakukannya dengan bibi ataupun dengan tuan untuk bisa menghabiskan waktu seperti mereka , jadi jangan berpikir jika nona itu sendirian"ucap Mery sambil tersenyum hangat kearah Alettha.
"Terimakasih bi , karena bibi selalu ada bersama dengan Alettha"ucap Alettha yang balas tersenyum melihat kearah Mery.
"Tidak perlu berterimakasih nona , karena bibi sangat senang saat bisa bersama dengan nona"
"Jangan begitu bi , nanti keluarga bibi bisa iri jika selalu bersama Alettha"ucap Alettha sambil terkekeh.
"Bibi tidak memiliki keluarga nona , hanya nona yang bibi anggap sebagai keluarga bibi sekarang , itupun kalau nona tidak keberatan"ucap Mery tersenyum , namun yang di lihat Alettha malah senyum penuh luka akan hal yang Alettha tidak tahu apa itu.
"Tentu saja , karena Alettha enggak pernah keberatan , bukankah selama ini bibi yang selalu bersama dengan Alettha"
"Itu karena semua itu sudah menjadi tugas bibi"
"Lettha tahu"
"O .. ada permen gulali , Lettha mau beli"ucap Alettha lagi yang tersenyum senang saat melihat salah satu makanan favoritnya itu.
"Nona mau , biar bibi yang belikan"ucap Mery yang baru tahu jika Alettha menyukai makanan manis itu.
"Endak usah biar Lettha saja"
"Nona tunggu di sini saja bersama dengan Dika , biar bibi yang beli"ucap Mery yang langsung beranjak pergi ketempat penjual permen gulali yang diinginkan oleh Alettha.
Sebenarnya Mery bisa saja membiarkan Alettha membeli sendiri apa yang dia inginkan , hanya saja dia tidak ingin hal itu nantinya membuat Alettha kelelahan karena Alettha masih dalam proses penyembuhan.
Yang meski pada kenyataannya adalah , kondisi Alettha sudah jauh lebih baik dari sebelumnya , dia bahkan sudah mulai berolahraga ringan agar efeks lemas akibat obat pelumpuh saraf itu menghilang dari tubuhnya.
"Sebenarnya bibi Mery kehilangan keluarganya belum lama ini"ucap Dika tiba tiba yang melihat Mery sudah tak terlihat lagi.
"Maksud kak Dika?"ucap sopa Alettha karena dia tahu jika Dika berumur kurang lebih Riko dan jauh diatas umurnya sebagai Vanesha sekarang.
Karena itulah Alettha harus membiasakan diri untuk berkata sopan pada mereka
"Wajar saja jika nona tidak tahu , karena kesehatan nona jauh lebih penting bagi kami"
"Aku sudah tidak apa apa kak , jadi bisa katakan padaku sebenarnya ada apa?"penasarannya Alettha sambil melihat kearah Dika yang berdiri di sampingnya.
"Sebenarnya .."ucap ragu Dika karena tak ingin jika penyakit jantung yang di derita Vanesha kambuh dengan tiba tiba.
"Katakan saja kak , aku sudah tidak apa apa"ucap Alettha menyakinkan Dika jika dia baik baik saja , karena dia yang sekarang bukanlah Vanesha , melainkan Alettha yang membuat perhitungan pada orang yang sudah menyakiti Vanesha.
Hingga Vanesha memilih menyerah dengan penyakitnya ketimbang harus berusaha untuk sembuh dari penyakit itu sendiri.
"Maafkan jika saya lancang nona , sebenarnya keluarga bibi Mery tewas dalam kebakaran yang sepertinya di sengaja , hal itu disebabkan ada tertinggal bau bensin di lokasi kejadian , dan dari CCTV yang saya retas , hanya ada nyonya Carina yang datang dengan beberapa bodyguard sebelum kejadian"jelas Dika yang sedikit takut mengenai respon Alettha.
Sedangkan Alettha malah mengepalkan kedua tangannya saat mendengar apa yang di katakan oleh Dika barusan , karena dia tidak pernah berpikir jika Carina bisa melakukan hal sejauh itu.
"Lettha bisa minta rekaman CCTV yang sudah kakak retas , dan tolong kirimkan ke ..."
"*Sial .. gue lupa jika Vanesha tidak memiliki ponsel , dan kenapa gue baru nyadar sekarang*" batin kesal Alettha saat tak mendapatkan ponsel Vanesha dimanapun.
"Ha .. sepertinya aku harus membeli ponsel dan laptop kak"ucap Alettha sambil membuang nafas lelahnya hingga membuat Dika tersenyum.
"Nona ingin beli ponsel?"ucap bi Mery saat dia sudah berada di hadapan Alettha sambil membawa permen gulali yang diinginkan Alettha tadi.
"Iya bi , soalnya Lettha enggak ingat jika Lettha tidak punya ponsel"ucap Alettha sambil mengambil permen gulali yang ada di tangan Mery.
"Dulu memang nyonya melarang nona untuk memiliki ponsel , entah alasannya apa bibi juga tidak tahu"
"Lettha ngerti kok bi , sekarang ayo temani Lettha ke Mall"ucap Alettha sambil beranjak dari duduknya dan merangkul tangan Mery , lalu berjalan meninggalkan kawasan taman itu menuju tempat Dika memarkirkan mobilnya.
Dan saat sudah sampai di mobil yang di parkiran Dika tadi , Alettha yang ingin membuka pintu mobil merasa terkejut saat seseorang yang entah datang dari mana langsung menariknya hingga pintu mobil yang awalnya terbuka kini tertutup kembali dengan kencang.
**Sret**
**Brak**
"Tetap diam seperti ini"ucap seorang pemuda yang berdiri sangat dekat dengan Alettha , bahkan pemuda itu terlihat sedikit memiringkan kepalanya hingga membuat mereka seperti ingin berciuman.
Merasa jika ada yang ingin melecehkan Alettha , membuat Dika langsung menghampiri mereka dan bermaksud untuk memisahkan mereka.
Namun baru mau memisahkan mereka , dia melihat orang itu memberikan isyarat pada Dika agar Dika tetap diam , hingga tak lama beberapa orang bertubuh besar dan memakai setelan khas bodyguard terlihat sedang mengejar seseorang mengarah ketempat mereka.
Paham dengan situasi yang terjadi sekarang , membuat Dika membelakangi Alettha dan melihat kearah orang orang itu yang berlari melewati mereka.
Meski salah satu diantara mereka ada yang berhenti dan menatap curiga kearah orang yang ada di belakang Dika , namun saat melihat tatapan Dika , orang itu langsung pergi mengikuti rekannya yang sudah jauh di depan.
Merasa keadaan sudah mulai aman , pemuda yang berada di depan Alettha tadi terlihat tersenyum saat melihat wajah gugup Alettha dan dengan tiba tiba ...
**Cup**
Satu kecupan mendarat di pipi Alettha hingga hal itu membuat Alettha refleks menendang tulang kering pemuda itu.
**Bugh**
**Akhs**
"Brengsek , apa yang lo lakukan barusan ha ..!!"kesal Alettha tanpa perduli ringisan dari pemuda yang ada di hadapannya.
"Cantik , tapi galak"ucapnya sambil terkekeh.
"Sinting ..."yang kemudian memilih masuk kemobil , mengabaikan sosok pemuda yang masih tersenyum memperhatikan Alettha.
€€€€€€€
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
beybi T.Halim
secangkir kopi dipagi hari untuk cerita yg bagus ini., semangat 💪💪
2025-01-05
1
Shinta Dewiana
jodohnya kah
2024-12-05
1
Luchi Chipoedanz Sihite
lnjut
2024-12-03
1