Alettha ( 12 )

¥¥¥¥¥¥¥¥

**Konten sensitif , ada adegan kekerasan , jadi mohon untuk tidak ditiru ya gaes** ...

**£££££**

"Aaakh .."Suara teriakan Riska yang terdengar untuk kesekian kalinya di ruangan itu , membuat Arkan dan Revan bergidik ngeri , apalagi saat melihat hasil dari karya seorang Altezza , membuat mereka merasa mual saat melihat tubuh Riska yang seolah dijadikan kanvas hidup oleh Altezza.

Bahkan Altezza seolah tak perduli jika Riska itu adalah seorang perempuan , yang ada di benaknya hanya ada kesenangannya bermain dengan mangsanya.

Bahkan Altezza hanya tertawa saat melihat tubuh Riska yang penuh dengan noda merah yang menodai seluruh seragam yang sudah tak berbentuk lagi yang Riska gunakan , tak ada rasa empati atau simpati yang ada di diri Altezza.

Dia seolah buta jika Riska itu adalah seorang perempuan , sebab yang ada dipikirannya sekrang hanya sedikit membalas orang yang sudah berani mengusiknya.

Karena itu tak ada orang yang berani menganggu Altezza disaat dia sedang asik dengan mainannya , bahkan jika itu adalah dua sahabatnya sekalipun.

Sehingga hal itu membuat Riska hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya sekarang , sebab dia tahu jika kondisinya sedang tidak bisa di bilang baik baik saja , karena itulah dia pasrah menerima nasibnya setelah ini.

Sebab Riska tak yakin jika dia masih bisa bertahan disaat Altezza sudah merobek mulut Riska hampir sampai ke rahangnya , lalu setiap tubuh Riska di penuhi dengan lukisan abstrak yang di buat oleh Altezza , hingga membuat Riska sekarang dalam posisi setengah telanjang.

"Bukankah ini terlihat indah , tapi sayang tubuh lo sudah kotor"ucap Altezza terkekeh sambil melihat hasil karyanya di tubuh Riska.

Sedangkan Riska hanya bisa diam , sebab dia merasa sudah sangat lemas karena terlalu banyak mengeluarkan cairan merah dari tubuhnya.

"Sepertinya sudah tidak ada tempat buat gue untuk melukis , jika seperti ini maka gue akan kasih sebuah stempel"ucap Altezza yang kemudian membuang benda tajam yang sejak tadi dia pegang , lalu setelahnya dia berjalan ke sudut ruangan , dimana terdapat sebuah bejana yang penuh dengan bara api.

Dan Altezza terlihat menyeringai melihat sebuah tongkat besi yang diletakkan di bara api tersebut , kemudian dia mengambil tongkat besi yang berbentuk seperti bunga tersebut yang terlihat merah menyala akibat besi yang sudah lama di panaskan di bejana tersebut.

Lalu dengan santainya Altezza berjalan menghampiri Riska yang terlihat mengelengkan kepalanya lemah saat tahu apa yang akan di lakukan oleh Altezza.

"Kenapa , lo enggak ingin dapat tato cantik dari gue?"ucap Altezza yang berjalan semakin mendekati Riska.

"Tenang aja gue sudah ahli kok .. buat tato di tubuh orang"ucap Altezza lagi sambil menyeringai kearah Riska yang sekarang terlihat mengeluarkan air mata.

Karena Riska sudah tak bisa lagi untuk berteriak karena mulutnya yang sakit akibat di robek oleh Altezza , jadi yang bisa dia lakukan hanya menangis saat tahu apa yang akan di lakukan Altezza , hingga ..

**Ces**

Besi panas tadi kini sudah tertempel di perut Riska , sedangkan Riska hanya bisa berteriak tertahan sambil menangis saat dengan tanpa rasa iba , Altezza menempelkan besi panas tadi di perut Riska.

Dan setelahnya Altezza tertawa senang saat melihat stempel yang dia buat terukir di tubuh Riska , lalu dia membuang asal besi tersebut dan bersiul dengan senang saat melihat mahakarya yang dia buat hari ini.

"Z .. Za lo enggak mau kembali kerumah sakit?"ucap gugup Arkan yang mengingatkan Altezza jika ada Alettha di rumahsakit.

"A .. benar juga , kenapa lo baru ngomong sekarang?"sambil melihat kearah Arkan , yang membuat Arkan menahan nafas saat melihat pakaian Altezza yang penuh dengan noda merah.

"Kan .. lo enggak pernah suka di ganggu saat sedang bermain"

"Lo benar , kalau begitu bawa dia ke Kelin untuk mengobati lukanya , lalu setelahnya antar dia ke Madam Hana , mungkin Madam Hana perlu pekerja pembuangan"ucap Altezza yang di selinggi kekehan.

Lalu setelahnya dia berjalan keluar dari ruangan itu , namun langkahnya terhenti saat Revan mengatakan sesuatu pada Altezza.

"Bersihkan dulu diri lo , lo enggak mau kan Alettha sampai kena serangan jantung lagi gara gara lihat lo yang sekarang"ucap Revan yang mengingatkan Altezza jika pakaiannya kotor akibat terkena noda cairan merah saat dia asik melukis di tubuh Riska tadi.

"A .. benar juga , gue enggak mau kalau dia sampai sakit lagi"jawab Altezza sambil melihat dirinya sendiri yang kemudian kembali melanjutkan jalannya menuju ruangan miliknya yang ada di markas untuk membersihkan diri.

Sedangkan Arkan terlihat berlari keluar saat Altezza sudah tak terlihat lagi , lalu menuju toilet dan mengeluarkan semua isi perutnya karena mual yang dia tahan sejak tadi.

Lalu Revan hanya mengelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang tidak pernah bisa jika melihat darah , namun nyatanya Arkan selalu menemani Altezza di saat dia sedang bermain dengan targetnya.

Melihat Arkan yang masih di toilet membuat Revan jadi mengambil alih perintah dari Altezza tadi dan dengan di bantu oleh kedua bodyguard yang sekarang memegang tubuh Riska , lalu setelahnya mereka pergi dari ruangan itu untuk menuju tempat tujuan mereka.

€€€€€

**Di lain tempat**.

Seorang gadis cantik terlihat mengamuk sambil membanting apa saja yang ada di kamarnya , dia bahkan tidak begitu perduli jika semua barang barang itu di beli oleh uang hasil kerja keras sang Ibu hingga membuatnya jadi sakit sakitan karena terlalu lelah bekerja.

Namun sepertinya si gadis terlihat masa bodoh dan tidak perduli dengan semua itu.

"Sialan lo Alettha , awas aja lo .. gue akan balas lo dua kali lipat dari apa yang sudah lo lakuin ke gue"ucap gadis itu dengan kilat benci di matanya.

Lalu setelahnya dia terlihat berganti baju dengan pakaian yang terbuka dan memperlihatkan lekukkan tubuhnya , dan setelah selesai berias dia kemudian berjalan keluar , meninggalkan kamarnya yang sudah berantakan dengan banyaknya pecahan kaca ataupun benda beda yang sengaja dia buang.

"Mau kemana Alissya , tadi Bunda denger kamu banting banting barang"ucap seorang wanita paruh baya yang menghampiri Alissya saat Alissya ingin keluar rumah.

"Enggak usah sok perduli sama gue , urus aja urusan lo"ucap Alissya yang kemudian pergi begitu saja , meninggalkan sang Ibu yang menangis saat melihat putri semata wayangnya berubah sangat jauh.

"Kenapa kamu jadi seperti ini nak , Bunda harap kamu cepat sadar jika pergaulanmu sudah melewati batas"ratap sedih sang Ibu pada putrinya yang memiliki pergaulan kelewat batas.

Namun dia hanya bisa selalu berdoa semoga sang putri baik baik saja dan bisa kembali menjadi putri kecilnya seperti dulu.

€€€€€

Terpopuler

Comments

Bora Mahkota

Bora Mahkota

maaf ya sebelumnya, menurut ku pemeran cowoknya itu orang gila, dalang kejahatan siapa yang dihukum siapa, maaf sebelumnya novel ini ga berguna untuk dibaca, alangkah baiknya jauh kan pemeran cowoknya dari pemeran cewenya, bila perlu penjarakan pemeran cowoknya, jangan marah jika gua komen kayak gini, kalau ada yang marah, benerin dulu otakmu atau pola pikirmu,

2024-12-30

1

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

kenapa alisya masih bebas ya dan siapa itu bunsanya bukannya alisya itu anak angkat si arya kekasih rafka

2024-12-05

1

٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ​᭄

٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ​᭄

alisha gak tinggal sama carina dan ryan kah, kan udh jadi anak mereka

2024-12-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!