tantangan keluarga

"I-ya bu!... tadi emang Alfin sendiri yang sudah bersihin Piring kotor itu bu, aah.. sekaligus dengan semua pecahan piring," balas Alfin dengan terbata-bata seraya menundukkan pandangannya.

Agus yang merasa aneh melihat respon kakaknya Doni yang terlalu berlebihan, merasa ada keanehan dengan sikap mereka berdua, tatapannya tak henti-hentinya melirik sinis mereka berdua seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu.

Prak!...

Bunyi rak lemari piring yang dibuka ibunya.

"Hmm.. ternyata benar sudah bersih ya, gitu dong kalau jadi anak tu yang patuh sama perkataan orang tua. Kalau kamu patuh gini kan ibu nggak harus sering marah-marah lagi. Kamu dengar ngak," balas sang ibu yang tidak menyadari bahwa dirinya, masih saja seperti mengomel tak jelas dengan masih menggunakan nada suara tinggi.

"Iya Bu i-ya, kalau gitu Alfin ke kamar dulu ya," ucap Alfin yang terlihat berusaha keras melangkah demi berupaya meninggalkan tempat itu.

"Tunggu!.. Ibu tadi beliin kamu obat salep, nih tapi ingat ya. Ibu membelikan obat ini bukan karena Ibu peduli sama kamu, tapi Ibu nggak mau ada orang-orang melihat kamu terluka. kalau ada yang tau nanti Ibu juga yang susah jadinya," balas ibu sembari menyodorkan obat itu ke genggamannya Alfin.

"Terima..,"

"Sudah jangan banyak omong Kamu, sudah dikasih hati malah minta jantung, dasar anak tak tau diri," gertak ibunya seraya melangkah meninggalkan Alfin yang tertunduk pilu dengan sikap arogan ibunya.

"Sini Fin biar kakak bantuin, Kamu jalan ke kamar, sekalian nanti obatnya kakak saja yang oleskan," ucap Kak Doni menawarkan bantuan kepada Alfin dengan senyuman yang terukir indah dari raut wajahnya.

"hmm...Iya deh Kak,"

Kak Doni berusaha keras menyangga, tubuh Alfin dengan bahunya. Terlihat dirinya mengambil langkah pelan demi bisa mengantarkan saudaranya Alfin dengan baik tanpa merasakan sakit.

Alfin yang pada saat itu terlihat menyangga ke tubuh kakaknya Doni, dengan menyekap dengan baik pergelangan leher Kakak, dengan bahunya. Se-sekali Alfin mengintip wajah kakaknya, yang terlihat sangat menghawatirkan dirinya. Alfin merasa sangat bersyukur karena masih ada kakaknya, yang selalu saja peduli kepadanya dikala dirinya dalam masalah. Bagi Alfin kakaknya Doni bagaikan malaikat yang sengaja dikirimkan tuhan, untuk membantunya di saat-saat genting. Meskipun kakaknya tidak selalu bisa berbuat banyak, karena tekanan dari keluarga mereka. Alfin tetap saja sangat bersyukur dengan kepedulian saudaranya itu, terlihat Alfin tersenyum bahagia, karena tidak ada lagi anggota keluarganya di rumah ini yang menghawatirkan nya selain kakaknya Doni.

Agus yang melihat mereka berdua semakin akrab merasa sangat kesal dengan kak Doni yang sangat peduli kepada Alfin ketimbang dengan dirinya. Yang membuat sorot mata adiknya Agus kian semakin sinis menatap kearah Alfin dari kejauhan.

"Awas saja kamu nanti ya," ucap Agus Geram meninggalkan mereka berdua seraya menghentakkan satu kakinya dengan permukaan lantai.

Pelan-pelan tapi pasti, akhirnya mereka telah sampai di depan pintu kamarnya Alfin. Sembari Kak Doni membantu saudaranya untuk duduk diatas kasur.

"Kamu istirahat ya. Oh i-ya, Kakak bisa sekalian bantuin oleskan obat salep ini ya," balas kak Doni menawarkan bantuan kepada Alfin.

"Tidak usah deh kakak, terimakasih banyak sudah mau bantuin Fin, jalan sampai sini. Fin bisa oleskan sendiri obat ini kak, Kakak sekarang bisa fokus lagi belajarnya.

"Tapi Fin?"

"Oh i-ya kak? kalau kakak lama-lama disini! nanti dek Agus bisa ngambek Lo kak," Balas Alfin yang sangat berterimakasih pada kakaknya, seraya menolak halus tawaran itu.

"hmm Oke deh Gus kalau gitu kakak pamit dulu ya,"

"Iya kak terimakasih banyak kak,"

...****************...

Malam pun sedikit demi sedikit mulai menjelang, Bersaman dengan biasan cahaya mentari sore yang mulai meredup-redup hingga menampakkan indahnya biasan cakrawala malam. Yang membentang luas ke segala sisi, bagaikan terurai bersamaan dengan kemerah-merahan awan yang terpancar jelas menerangi ufuk barat.

Terlihat kelurga mereka sedang berbincang satu sama lain, sembari menyantap menu makan malam diatas meja. Semua menu yang dihidangkan terlihat sangat lezat, saking lahapnya mereka makan, suara kebisingan sendok mereka terdengar jelas ber desas-desus sampai keruangan belakang.

"Ini sambalnya Ayah," ucap sang Ibu kepada suaminya, sembari menuangkan air minum ke gelas Suami dan anak-anaknya, tampak di meja makan itu hanya ada mereka berempat yang sangat lahap makan bersama. Kecuali Alfin yang memang tidak di perbolehkan duduk Disana bersama mereka, dengan alasan teguran pada putra keduanya itu dikarenakan dirinya tidak mendapatkan nilai yang baik di sekolah.

Kak Doni yang biasanya tidak terlalu mengindahkan hal tersebut, lama-kelamaan mulai merasa sangat kesal! sekaligus keheranan, dengan perlakuan keluarganya yang seolah-olah seperti sangat membenci saudaranya Alfin. Apalagi lagi setiap waktu makan, selalu saja saudaranya itu disuruh makan paling akhir guna menghabiskan sisa-sisa makanan mereka diatas meja. Timbul banyak pertanyaan dibenak Doni untuk ditanyakan kembali kepada keluarganya?

"hmm.. ibu..Doni mau bertanya Bu?"

"Ya Doni mau tanya apa sayang?" Balas ibu yang sedang lahap menyantap makanannya.

"Tapi ibu jangan marah ya!" Balas Doni yang semakin ketakutan membayangkan seperti apa respon ibunya nanti, setelah ia melontarkan pertanyaan itu.

"Kenapa ibu harus marah? kalau anak kesayangan ibu butuh sesuatu, tanya saja nak, ibu tidak akan marah kok nanti kalau perlu ibu bisa penuhi semua keinginan Doni" balas ibu yang berusaha meyakinkan putra sulungnya itu.

"Ibu, hmm.. kenapa cuma kita saja yang selalu makan bersama-sama di rumah ini bu? setiap malam kita selalu saja makan bersama-sama. Sedangkan masih ada tuh, satu anggota keluarga kita lagi yang setiap hari selalu saja makan paling akhir. Dia kan, anggota keluarga kita juga Bu?" tanya Doni dengan ragu-ragu Kepada ibunya.

Ibunya yang sebelumnya terlihat sangat bahagia, melihat keluarganya makan dengan lahap. Seketika terdiam sejenak, setelah mendengarkan pertanyaan itu! tampak wajahnya merah padam terlihat jelas dari raut wajah ibunya setelah mendengarkan pertanyaan yang tidak mengenakkan itu.

"Doni! udah berapa kali ibu bilangin! jangan pernah bawa-bawa masalah anak itu kesini lagi, apalagi kita sedang makan. Kamu tau juga kan kalau dia itu anak paling bodoh dirumah ini. Anak yang bodoh adalah anak pembawa sial, camkan itu baik-baik," Balas ibu yang menegur Doni dengan nada suara tinggi.

Seketika Doni terdiam dengan perkataan kasar dari ibunya, wajahnya terlihat sangat kesal karena tidak terima atas perlakuan yang tidak mengenakkan itu. Dikarenakan ibunya yang cenderung selalu pilih kasih kepada saudaranya Alfin, yang tidak pernah mendapatkan perhatian penuh dari keluarga mereka menyebabkan Doni semakin geram.

"Kakak sih, pake nanya-nanya yang gak penting gitu! jadinya ibu jadi marah-marah gini kan," balas Agus menegur kakaknya.

"Tapi Bu?.."

"Ngak ada tapi-tapi nya!..." balas sang ibu yang terlihat sudah marah besar dengan pertanyaan itu.

Keharmonisan keluarga mereka yang sebelumnya, terlihat sangat bahagia satu sama lain. Seketika menjadi dingin setelah mendengarkan kemarahan ibu yang sudah sangat tersulut emosi. Seketika membuat ayahnya yang sedang makan tiba-tiba kehilangan selera makannya. Sontak ayah, tanpa sepatah kata apa pun langsung berdiri seraya mengayunkan piringnya dengan sangat keras kearah Diding rumah.

Swoosh...Craang...

Suara piring pecah yang seketika, membuat semua anggota keluarga terdiam panik mematung. Mereka semua tak berani mengeluarkan sepatah kata apa pun, setelah menyadari ayahnya yang sudah sangat tersulut emosi sembari meninggalkan mereka semua menuju kedalam kamarnya.

"Yah.. Ayah dengarin dulu maksud ibu bukan begitu yah?" balas ibu yang berusaha membujuk suaminya yang sudah kehilangan selera makan.

"Kak Doni ini gimana sih? kan udah tau ibu kita ini sangat cerewet. Malah kakak pancing- pancing juga, jadinya gini kan," tanya Agus yang semakin merasa kesal dengan sikap kakaknya.

"Bukan gitu maksud kakak Gus,"

"Udah kak, Agus nggak mau dengarin penjelasan kakak lagi Agus capek kak," Balas Agus meninggalkan kakaknya sendiri dimeja makan.

Doni yang pada saat itu tidak menyadari pertanyaannya itu, sampai membuat keharmonisan keluarganya merenggang. Hanya bisa tertunduk pilu, atas perlakuannya itu. Yang menurutnya apakah sudah benar yang ia lakukan itu atau salah Doni tidak mengetahui pasti apa yang telah ia lakukan. Terlihat tangannya se-sekali membilas air mata yang mulai membasahi pipinya.

Pada saat solat magrib, Alfin sempat mendengarkan suara kebisingan yang sepertinya berasal dari diruang makan. Meskipun begitu, ia tetap saja melanjutkan ibadahnya dengan khusyuk demi mendoakan kebaikan untuk keluarganya, Dengan harapan supaya mereka tidak terjadi apa-apa. Setelah mendoakan kebaikan untuk mereka semua Alfin langsung mengambil tongkat sebagai alat bantu berjalannya, sebagai tumpuannya untuk membantu berdiri, demi bisa memastikan asal bunyi suara itu?

Terlihat Alfin melangkah pelan sampai di depan pintu meja makan. Tak berselang lama dirinya mendengar suara tangisan, yang sepertinya berasal dari sana. Suara tangisan itu terdengar yang sebelumnya terdengar samar-samar lama kelamaan terdengar suara tangisan yang menangis tersedu-sedu. Sontak membuat Alfin sangat terkejut!

"Ini sepertinya suara Kak Doni," panik Alfin.

Setelah mengetahui asal suara itu berasal dari kakaknya Doni. Dengan sigap Alfin melihat kakaknya yang tampak menangis pilu menyandarkan kepalanya diatas meja makan.

Tok!.. Tok.. Tok...

Bunyi suara tongkat bantu berjalan Alfin yang bergegas mendekati sang kakak.

"Loh kakak kenapa?" balas Alfin yang sangat keheranan dengan kakaknya, dirinya juga dikagetkan dengan pecahan piring dan lauk pauk yang bertebaran dimana-mana. sontak membuat Alfin semakin melangkah cepat untuk mendekati sang kakak.

Doni yang mengetahui asal suara yang menghawatirkan nya, itu adalah Alfin dengan sigap membersihkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

"Eee... Dek Alfin ya.. Kakak nggak papa kok Fin, Kakak baik-baik saja," balas Doni yang terlihat berusaha membohongi saudaranya Alfin supaya tidak terlalu menghawatirkan dirinya.

"Loh kakak kok gitu sih? Bukannya kakak kan yang sering ngingetin Alfin, untuk selalu jujur kalau ditanya. Kakak ngak boleh gitu dong kak, kalau kakak anda masalah apa-apa Fin juga siap tuh dengarin semua keluh kesah kakak," balas Alfin yang mengingatkan kakaknya sembari mengusap-usap pelan punggungnya.

Seketika kak, Doni dengan tatapannya yang tajam. Memegangi kerah baju Alfin yang pada saat itu berusaha membujuknya! Seketika itu juga Alfin dikagetkan dengan tatapan serius kakaknya seperti sedang dirasuki sesuatu?

"Loh kakak ngak papa kan?" tanya Alfin yang sangat keheranan dengan perubahan sikap kakaknya.

"Fin dengarin kakak, Pokoknya begini Fin! kamu harus membuktikan kepada semua anggota keluarga kita, bahwa kamu juga sama dengan kami tanpa harus dibeda-bedakan," ucap Doni dengan semangat yang sangat bersemangat supaya bisa mendidik saudaranya Alfin untuk lebih berprestasi dibandingkan dirinya.

Terpopuler

Comments

NoComent🇮🇩🇮🇩

NoComent🇮🇩🇮🇩

/Facepalm/salah ternyata Kat Ibu.. ralat , komenku yg di atas. kalau nama boleh pake kapital

2024-06-07

0

NoComent🇮🇩🇮🇩

NoComent🇮🇩🇮🇩

setelah tanda koma harusnya huruf kecil tapi kalo pake titik pake kapital.

2024-06-07

0

lihat semua
Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!