situasi baru

"Eh dasar, kirain dia datang kesini karena ngefans sama gua. Eeh ternyata cuma nanyain tentang Alfin saja," gumam Agus kesal dengan raut wajah judesnya.

Rin yang melihat Agus sepertinya risih dengan pertanyaannya mulai ragu melanjutkan pembicaraan mereka. "Anu!.. kalo ada kabar mengenai mereka, lain kali aku kesini lagi ya." balas Rin yang hendak beranjak dari sana.

"Tunggu." ucap Agus yang seketika menghentikan Rin dari langkahnya.

"Ya apa?"

"Sebenarnya mereka berdua tadi malam sudah kabur dari rumah, entah apa yang ada di fikirnya sekarang." balas Agus yang hendak masuk ke dalam kelasnya lagi.

"Tunggu Gus? kamu tau tidak, kenapa mereka bisa begitu?" Tanya Rin sekali lagi.

"Ya mungkin karena itu pilihan mereka, aku juga tidak tau pasti dan berbuat banyak." ucap Agus melangkah meninggalkan Rin dengan raut wajah biasa saja seolah-olah tidak menghawatirkan kedua saudaranya.

"Dasar-dasar, sebenarnya yang aku khawatirkan itu kak Doni bukan Alfin. Kenapa nih cewek malah nanyain tentang Alfin, dasar perempuan murahan," gumam Agus dengan wajah judesnya.

"Haah! ternyata benar apa yang umi dan Abi katakan malam ini," gumam Rin di dalam hatinya yang sangat ingin mengetahui alasan utama dibalik kaburnya Alfin dan kakaknya.

Hari terus berlalu dengan kesibukan aktivitas masing-masing dari mereka, hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore, Rin yang baru pulang dari sekolahnya sengaja mengambil langkah cepat untuk memastikan kepada kedua orang tuanya mengenai kebenaran pembicaraan kedua orang tuanya waktu itu, yang sepertinya dirahasiakan terhadap Rin.

"Assalamu'alaikum Bi." ucap Rin yang terlihat dengan nafas yang tersengal-sengal berdiri di depan teras bengkel ayahnya.

"Waalaikumsalam, loh kenapa kamu pulang terburu-buru gitu Rin?" tanya Abi kepada Rin sembari menyalami putrinya.

"Abi, Bukannya Abi yang malam itu yang mengantarkan seragam sekolah Alfin yang sempat ketinggalan di rumah kita kan?" tanya Rin kepada ayahnya.

"Ya emang sih, waktu itu Abi yang sengaja mengantarkan seragam sekolah Alfin yang ketinggalan waktu itu ," balas Abi dengan raut wajahnya yang terlihat sedih sembari menundukkan kepalanya.

"Astaghfirullah bi, Malam itu juga Alfin barusan kabur dari rumahnya bi! soalnya Rin baru saja mendapatkan kabar dari adiknya Alfin yang mengatakan bahwa Alfin dengan kakaknya malam itu telah kabur dari rumah dan sekarang entah perginya kemana," ucap Rin yang seketika membuat wajah Abi menjadi semakin panik. Mengingat sebelumnya kondisi Alfin waktu itu yang terlihat sangat memperihatinkan.

"Astaghfirullah sampai segitunya orang tua Alfin meng aniaya mereka berdua sampai-sampai mereka memilih kabur dari rumah, ini semua tidak bisa terus di biarkan," gumam Abi sejenak memikirkan kondisi mereka berdua.

"Abi, Abi?"tanya Rin kepada ayahnya yang terlihat merenung sejenak memikirkan mereka berdua.

"Astaghfirullah iya Rin, pokoknya kita solat dulu ya. Kita do'akan yang terbaik untuk mereka berdua setelah itu Abi juga mau mendiskusikan masalah ini dengan Umi," balas ani yang terlihat sangat serius untuk mengatasi masalah ini.

...****************...

"Pokoknya kalian semua harus menemukan dimana kedua putra saya, jika perlu dengan cara apapun mereka berdua harus pulang untuk beberapa hari ini," ucap azkara dengan nada tinggi, memerintahkan kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan kedua anaknya itu sembari memperlihatkan kedua foto mereka berdua diatas meja.

"Baik boss," balas anak buahnya dengan tubuh kekar berwajah sangkar dan berpenampilan seperti sekumpulan agen mata-mata, dimana sorot mata mereka semua terus tertuju pada kedua foto target yang akan mereka cari.

"Dengan begini segala masalah akan terselesaikan, awas saja saat mereka berdua pulang nanti akan aku berikan pelajaran. Terutama buat Alfin dia pasti biang keroknya dari semua masalah ini," gumam ayahnya dengan wajah yang terlihat sangat kesal atas sikap kedua anaknya yang sudah berani melawan kepada dirinya.

"Cepat atau lambat mereka berdua pasti akan di temukan, ngak sia-sia rencana ibu yah." ucap istrinya yang terlihat melipat satu kaki duduk di sofa sembari merias wajahnya.

Sang ayah yang mengetahui rencana istrinya ini pasti akan berhasil, akan tetapi dirinya merasa rencana itu bukan keputusan yang tepat, karena sangat menggocek sakunya disaat keuangan keluarga mereka mulai bermasalah.

"I-ya Bu," Balas ayah dengan raut wajah yang terlihat sangat marah sampai-sampai giginya terlihat mengeram dengan situasi itu.

...****************...

Pada pukul 12 malam mereka bertiga telah sampai di sebuah rumah yang berlokasi di pinggir jalan raya. Karena mereka sudah seharian penuh telah mengantarkan beberapa muatan barang ke pabrik di kota Medan.

"Sudah kalian bisa turun disini," ucap bang Rian kepada mereka berdua.

Alfin dan Doni yang terlihat tertidur pulas di kursi penumpang tidak menyadari mereka berdua telah sampai di kota Medan, kota yang mereka tuju

"Doni bangun don, Fin bangun Fin ," ucap Abang Rian yang berusaha membangunkan mereka berdua yang terlihat sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.

Alfin dan Doni yang sebelumnya tertidur sangat pulas terbangun ketika nama mereka di panggil berulang ulang oleh bang Rian.

"Hmm I-ya bang ada apa ya?" Tanya Doni sembari mengusap-usap kedua daun matanya.

"Kita sudah sampai di kota Medan don," ucap bang Rian yang seketika membuat Doni sangat terkejut bangun dari tidurnya.

"Wah iya ternyata kita sudah sampai. Hmm.. Hari sudah gelap ya, Kami turun disini ya bang," ucap Doni sembari membangunkan saudaranya Alfin yang masih tertidur pulas di sebelahnya.

Terlihat Alfin dan Doni turun dari mobil tersebut sembari melihat kiri dan kanan merasa sangat asing dengan kota tersebut yang hanya terlihat jalanan yang sepi dan semua toko-toko yang sudah sudah tutup. "Wah terimakasih banyak atas tumpangnya bang berapa ya total ongkos perjalanan kami bang," ucap Doni sembari membuka dompetnya untuk mengambil uang.

"Heeh, Astaga kalian ini ngak ingat pesan abang waktu itu ya. Sebelumnya Abang sudah mengatakan bahwa Abang ikhlas mengantarkan kalian berdua ke sini. Jadinya kalian tidak usah kawatir mikirin ongkos perjalanan," ucap bang Rian menegur mereka mereka berdua.

"Tapi bang? Abang sudah banyak membantu kami, mohon di terima saja bang uang ini bang," ucap Doni saat memperlihatkan uang dengan nominal tiga ratus ribu kepada bang Rian.

Abang Rian yang mengetahui mereka membawa beberapa uang dengan pecahan ratusan ribu di dalam dompetnya Doni, merasa sangat kawatir dengan kepolosan mereka berdua yang terlihat terang-terangan membuka dompetnya di pinggir jalan. "Eeeh kalian berdua sini dulu" ucap bang Rian dengan raut wajah seriusnya memandangi mereka berdua.

"Eeeh! Ya Bang!" balas Alfin dan Doni yang terlihat sangat ketakutan dengan tatapan tajam mata itu.

"Hahaha astaga kalian ini," balas bang Rian yang tertawa lepas melihat ekspresi lucu mereka berdua.

"Astaga Abang ini kadang-kadang sukanya menjahili kami berdua ya," ucap Doni yang terlihat sangat kesal dengan sikap bang Rian.

Dengan tersenyum bang Rian memberikan saran kepada mereka berdua. "Ini kota Medan, jadi kalian harus sangat berhati-hati untuk memegang dompet ini, jangan terlalu di perlihatkan di depan umum, ingat itu baik-baik! takutnya kalian bakalan di copet kalau sampai ada orang jahat, kita kan ngak tau nantinya gimana,"ucap bang Rian mengingatkan mereka berdua untuk selalu berhati-hati.

"Hah yang benar bang?" Tanya Alfin yang terlihat merasa sangat ketakutan apalagi mereka baru pertama kali datang ke kota ini.

"Pokoknya Abang kasih tau lagi ya, kota Medan ini pada jam-jam tertentu akan sangat berbahaya untuk bocah-bocah seperti kalian, jadi kalian harus sangat berhenti-henti saat sampai di kota ini, soalnya disini bukan kota Padang. Kalian tidak bisa selalu seenaknya terang-terangan di depan umum seperti itu, apalagi jam segini," ucap bang Rian kembali mengingatkan mereka berdua.

"terimakasih banyak untuk sarannya bang. Oh i-ya Gimana nih bang! Untuk sekarang kami pasti kesusahan mendapatkan kontrakan atau kosan pada jam segini bang!" tanya Doni yang merasa sangat menghawatirkan kondisi mereka berdua apalagi saudaranya Alfin yang belum sepenuhnya sehat karena tubuhnya masih saja terasa panas.

Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!