"Masya Allah nak, kamu memang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tua kamu ya," ucap pria tua itu dengan senyuman diwajahnya merasa sangat takjub dengan ketabahan hati remaja ini.
"Ya begitulah pak, namanya juga orang tua pak
pasti mengharapkan anak-anaknya pintar belajar, demi mendapatkan juara. Cuma saya sampai saat ini masih saja belum bisa memenuhi harapan mereka." ucap Alfin seraya menundukkan kepalanya.
"Belajar tidak harus disekolah nak Alfin dimana pun kamu juga bisa belajar," ucap pak Anton.
"Tapi pak saya dari dulu memang tidak bisa apa-apa pak," Keluh Alfin.
"Hmm.. Jadi seperti itu ya kalau nak Alfin niatnya benar-benar untuk belajar, mulai besok nak Alfin boleh bekerja paruh waktu di sini, dengan syarat kamu disini benar-benar untuk belajar skill baru," ucap pak Anton memberikan tawaran kepada Alfin.
"Yang bener pak, saya boleh belajar disini?," tanya Alfin dengan sangat bersemangat.
"Ya benar, karena bapak juga belum ada karyawan baru makanya kamu boleh bekerja paruh waktu disini sekaligus untuk belajar tentang mesin,"
"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak. saya akan berusaha belajar dengan giat disini pak," ucap Alfin dengan sangat bersemangat.
...****************...
Hari itu sebelumnya diguyur hujan deras sedikit demi sedikit mulai mereda terlihat dari waktu yang sudah menunjukkan pukul 4 sore terdengar dari suara adzan yang mulai berkumandang dipenjuru tempat.
"Sepertinya sudah waktu ashar, saya mau solat dulu ke masjid, nak Alfin kamu juga bisa ikut pergi bersama bapak," tanya pak Anton kepada Alfin.
"Eeeh! terimakasih pak, Saya sholatnya di rumah saja, soalnya orang tua saya akan pulang nanti. Kunci rumah saya yang pegang pak jadinya..., " Balas Alfin dengan ragu-ragu menolak tawaran itu.
"Gitu ya nak Alfin, kalau begitu jangan sampai lupa sholat ya karena dengan bimbingan yang maha kuasa kamu pasti bisa mewujudkan segala impian yang kamu inginkan dan melalui sholat juga maka setiap usaha yang kamu lakukan akan mendapatkan kemudahan ," ucap pak Anton seraya mengingatkan Alfin akan pentingnya ibadah.
"Terimakasih banyak untuk tawarannya pak, dan terimakasih banyak untuk bapak dan keluarga bapak karena sudah berbaik hati membantu saya,"
"Ya tuh nak Alfin, mungkin saja ini udah rencana tuhan," ucap istri pak Anton dengan senyuman teduh diwajahnya.
"Kalau begitu Saya pamit dulu pak, buk. Dan kakak yang tadi juga terimakasih banyak," ucap Alfin yang bersalaman dengan mereka berdua seraya pulang kerumahnya.
Rin yang pada saat itu mendengarkan perbincangan mereka, terlihat menyangga punggungnya di dinding kamar. Sembari memeluk sebuah Alquran demi menghilangkan kegaduhan di dalam hatinya. Ia sedikit menguping setiap pembicara pria itu dengan orang tuanya. Karena untuk pertama kalinya ada remaja seumurannya di rumah ini, yang mana sebelumnya Abi tidak pernah sekalipun mengizinkan lawan jenis untuk mampir ke rumahnya.
"Siapa sih pemuda itu?," gumam Rin di dalam hatinya yang gaduh.
Alfin yang pada saat itu hendak pulang kerumahnya, merasa sangat terkejut karena dari kejauhan orang tuanya tampak sudah pulang dari liburannya.
"Astaghfirullah, ternyata ibu dan ayah pulangnya cepat gimana nih, mana kunci rumah sama aku lagi!" gumam Alfin lirih.
Alfin berlari sekuat tenaga pulang ke rumahnya. Terlihat dari kejauhan orang tuanya bertengkar satu sama lain di depan pintu gerbang yang membuat hatinya semakin gaduh membayangkan masalah apa yang akan ia dapatkan.
"Tuh, anak kesayangan kamu sudah pulang yah," ucap ibu dengan raut wajahnya yang tampak sangat kesal.
"Maafkan Fin ibu, ayah," ucap Alfin yang terlihat tersengal-segal setelah berlari sekuat tenaga.
"Datang juga kamu! ya, kamu ini ngak pernah denger omongan orang tua. sekarang cepat buka pintunya," gertak ayah seraya melihat kiri dan kanan.
Dengan nafasnya yang tersengal-sengal Alfin dengan gemetaran menggocek sakunya untuk mengambil kunci gerbang rumahnya. Akan tetapi kunci tersebut tidak ada di sakunya Wajahnya tampak sangat panik hingga keringat terlihat bercucuran di keningnya berusaha keras mengingat-ingat kembali dimana ia menaruhnya?
"Oh itu ya itu di!...hmm.. oh itu? di samping pagar," ucap Alfin yang teringat kembali dimana ia menaruhnya.
Dengan sigap ia mengambil kunci tersebut seraya membuka pintu gerbang dan rumahnya terlihat Disana wajah keluarganya tampak sangat kesal satu sama lain kecuali Kak Doni yang terlihat sangat pucat membuatnya sangat keheranan dengan kondisi kakaknya.
"Fin sini kamu!," gertak ayah di garasi mobil.
Dengan ragu-ragu Alfin melangkah pelan mendekati ayahnya dengan berkata, "iya kenapa ayah." Balas Alfin.
Plak!... Plak!...
Bunyi tamparan keras lagi yang dilayangkan bertubi-tubi oleh ayahnya diarea wajah Alfin seketika membuatnya jatuh terhempas.
"Agh.... Sakit yah, Alfin ngak ada bikin salah yah," rintihan Alfin seraya menahan perihnya rasa sakit di pipinya.
"Kamu itu biang masalahnya! jangan berani-beraninya melawan," gertak ayah kepada Alfin sebagai pelampiasan amarahnya karena istrinya selalu saja memarahinya di dalam mobil. Menyalahkan dirinya, atas putra sulungnya Doni yang terkena demam tinggi.
"Ya Allah kenapa hal seperti ini selalu hamba dapatkan dari kedua orang tuanya hamba, apa sebenarnya salah hamba ini ya Allah," rintihan Alfin bergumam di dalam hati yang diiringi dengan deraiaan air matan yang tampak bercucuran membasahi wajahnya.
...****************...
Hari yang sore itu beranjak malam terdengar dari gemercik air hujan yang mulai membasahi seluruh tempat. Yang diiringi dengan dentuman petir yang menggelar sejadi-jadinya memancarkan cahaya putih tak beraturan terukir indah di langit-langit malam.
Alfin yang baru menyelesaikan solat isya dengan lampu kamarnya yang tampak padam. Hanya bisa mengandalkan cahaya senter usang yang ada di kamarnya. Di dalam kepalanya kembali memikirkan kondisi kakaknya yang sepertinya dalam keadaan sakit. Terlihat jelas dari raut wajah Alfin sangat menghawatirkan kondisi kakaknya yang tampak di malam sebelumnya juga terlihat sangat sangat pucat.
"Apa aku harus mengecek kondisi kakak di dalam kamarnya ya?" gumam Alfin di dalam hatinya yang diiringi dengan bunyi dentuman petir yang terdengar menggelegar menjadi-jadi.
Dengan kesungguhan hati, Alfin tampak sangat yakin untuk memastikan kondisi kakak di dalam kamarnya. Ketika hendak keluar dari pintu kamarnya tampak sangat kakak beriringan datang membawa buku pembelajaran berdiri di depan pintu kamar Alfin. yang bersamaan, hendak membuka pintu tersebut. sontak membuat Alfin sangat terkejut saat melihat raut wajah pucat kakaknya yang seketika membuatnya langsung jatuh kebelakang.
Gedebuk!.....
Jatuh Alfin dengan sangat keras sontak membuat sang kakak menjadi sangat terkejut
"Eh.. kenapa kamu Fin?" Tanya Doni kepada Alfin yang seketika membuat semua bukunya berserakan.
"Aduh sth... hahaha. Ngak papa sih kak, kirain tadi hantu yang nongol! Eeh ternyata kakak hantunya," tawa Alfin yang merasa lucu dengan situasi tersebut sembari menertawakan kakaknya.
"Dasar kamu ini Fin, suka jahil juga ya," balas Doni seraya mengumpulkan kembali bukunya yang berserakan.
Dengan spontan Alfin langsung mengecek kening kakaknya dengan tangannya, "Alhamdulillah ternyata panas kakak udah mendingan,"
"Ya Alhamdulillah, ini semua karena doa kamu juga Fin," balas Doni dengan senyuman diwajahnya, sembari melihat kiri dan kanan yang tampak sangat gelap gulita.
"Kenapa kak?" Tanya Alfin.
"Kamar kamu gelap Fin, Bola lampunya rusak ya?" Tanya Doni.
"Ya begitulah kak mungkin karena udah lama juga dipakai,"
"Hmm... Gimana kita belajarnya Fin kalau gelap begini ya?" tanya Doni.
"Ngak usah kak! Kasian kakak ngajarin Alfin belajar malam hari, dari kemaren saja kakak berusaha keras ngajarin Alfin sampai-sampai kakak jadi sakit-sakitan gini karena Alfin juga," Balas Alfin dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Loh mana ada karena kamu Fin, kakak ini ya kebetulan sedang sakit aja karena lagi kena flu," dusta Doni seraya menenangkan Alfin dengan senyuman tersungging indah diwajahnya.
"Tapi kak?"
"Sudah kita mulai belajar saja ya, nanti keburu tengah malam. Oh iya itu? di tumpukan barang-barang itu ada kontak kakak dulu tuh di dalamnya ada lilin coba arahkan senternya ke situ Fin," titahnya.
Terlihat Alfin mengarahkan cahaya senternya Disana sekaligus hendak mengecek isi dalam kotak tersebut. Ketika kotak itu di buka tampak beberapa lilin dan beberapa tumpukan album foto-foto lama saat mereka waktu kecil.
"Ini lilinnya ada kak, dan juga disini ada foto lama keluarga kita dulu kak," senyum Alfin kepada kakaknya.
"Yang bener Fin, sini kasih kakak lihat juga, wah iya banyak ya. Senyum Doni yang merasa sangat senang bernostalgia mengingat masa-masa mereka bersama waktu kecil.
"Loh ini foto siapa ya kak? Perempuan di samping ayah ini," tanya Alfin dengan sangat polosnya.
Kak Doni yang merasa ada keganjilan dengan salah satu foto tersebut dengan sigap ia langsung mengambilnya.
"Loh kenapa di ambil kak?" Tanya Alfin merasa keheranan dengan sikap aneh kakaknya yang tiba-tiba tampak seperti sedang panik.
"Ngak ada apa-apa Fin! kakak sengaja ambil foto ini biar kamu serius belajarnya," ucap Doni yang berusaha mengelabui Alfin meskipun didalam hatinya merasa sangat kawatir dengan kenyataan foto tersebut,"
Di dalam hati kecil Doni berkata, "Pokoknya Alfin nggak boleh tahu dengan kenyataan gambar ini." karena ini akan mempengaruhi keharmonisan keluarga kita.
Malam itu Doni terlihat mengajari Alfin dengan sangat sabar, pelan-pelan tapi pasti yang membuat Alfin merasa sangat terkejut dengan keefektifan metode pengajaran kakaknya.
"Wah seperti ini ya kak,"
"Ya kalau bikinnya sesuai dengan rumusnya Fin kamu pasti bisa kok, asalkan kamu bisa dasar-dasar perhitungan ini. Ingat Fin namanya kalibata ku kali, bagi, tambah, kurang hafal itu baik-baik ya Fin," ucap Doni tersenyum bahagia mengajari adiknya belajar.
"Siap Kak Alfin janji deh setiap mau tidur nanti bakalan hafalin kalibata ku ini kak," ucap Alfin dengan sangat bersemangat.
Terlihat mereka belajar dengan giat disamping cahaya remang-remang lilin yang menerangi wajah mereka berdua. Tampak kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah mereka berdua meskipun itu hanya mengandalkan cahaya remang-remang lilin sebagai penerangan. Momen inilah yang sangat berarti bagi Alfin karena saat inilah ia merasakan bagaimana indahnya kehangatan keluarga yang sebenarnya meskipun diluar cuaca tidak terlalu bersahabat tetap saja mereka berdua menjadi 2 insan yang sedang berbagi kehangatan keluarga.
"Gitu dong Fin, kalau kamu semangat kakak juga semakin semangat ngajarin kamu,"
huk... uhuk!..uhuk!
Batuk Doni yang berusaha menutupi mulutnya dengan saputangan.
"Loh kan kakak masih sakit! Jangan dipaksain ngajarin Alfin kak," ucap Alfin yang sangat menghawatirkan kondisi kakaknya.
"Eeeh Alfin ngak boleh gitu dong nanti kakak benar-benar sakit gimana?"
"Tapi kak!"
"Hahaha.. Kak cuma becanda saja kok, kamu bisa-bisanya kena prank kakak ya, hayoo panik ya hahaha.." balas Doni dengan tertawa kegirangan meskipun kenyataannya ia berusaha keras menyembunyikan penyakit yang ia derita, terlihat dari sapu tanganya yang sudah berlumuran oleh bercak darah. Reflek langsung di sembunyikan dengan sigap melalui genggaman tangan kiri di belakang punggungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments