Terlahir sebagai salah satu anak dari keluarga yang berkecukupan. Keluarga mereka terkenal di kampungnya, dengan sebutan keluarga kaya azkara. Yang memiliki anak-anak yang tampan, cerdas, dan rupawan. Julukan itu tidak serta-merta membuat Alfin berbahagia, berbeda dengan dirinya, Alfin seringkali di beda-beda kan oleh ayah dan ibunya. Ia seringkali dibanding-bandingkan dengan pencapaian kedua saudaranya Doni dan Agus, bahkan Alfin setiap tahunnya selalu saja menjadi bahan olok-olok kan orang-orang disekitarnya, dikarenakan dirinya tidak sepintar kakak dan adiknya yang selalu saja mendominasi gelar juara setiap akhir tahun.
Karena hal itu Alfin selalu saja, jadi kambing hitam atas segala amarah ibu dan ayah. Bahkan di kesehariannya, Alfin sering di paksa harus bekerja membantu semua pekerjaan rumah sepulang dari sekolah. Apabila ada sedikit saja Alfin melakukan kesalahan, sebuah sapu di sudut ruangan tamu itu selalu saja membayang-bayangi kakinya yang masih memiliki bekas lebam, yang belum sepenuhnya hilang diantara pergelangan kaki Remaja itu.
Di dalam kesehariannya Alfin sangatlah menderita. Bahkan beberapa hari yang lalu teman-temannya di sekolahnya selalu saja mengolok-oloknya dengan panggilan pincang. tanpa mereka sadari bagaimana menderitanya remaja itu yang sering di dizalimi oleh kedua orang tuanya.
Meskipun dengan semua kesengsaraan itu, Alfin tidak pernah sekali pun berani memberontak, maupun menentang segala kehendak kedua orang tuanya. Maupun orang-orang di sekitarnya, ia selalu saja memendam rasa sakit itu didalam hati seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Jikalau semesta memberikannya kesempatan untuk mengulangi waktu, maka pastilah dirinya lebih memilih terlahir kembali sebagai anak dari keluarga biasa-biasa saja. yang sepenuhnya mendapatkan kasih sayang, dari pada hidup bersama keluarga mentereng, berkecukupan, bagaikan terperangkap dalam penjara selamanya.
...****************...
Pada hari itu tanggal 14 bulan Juni, yang merupakan hari terpenting bagi keluarga mereka. Karena keluarga mereka akan menghadiri penobatan gelar juara sekolah yang sebelumnya, sudah disadari oleh orang tua mereka bahwa kedua putranya itu pasti akan mendapatkan gelar penghargaan sebagai juara terbaik tahun ini. Mengingat seperti tahun-tahun sebelumnya, kak Doni dan Agus selalu saja mendominasi peringkat teratas dengan rata-rata nilai terbaik di sekolahnya.
......................
"Selamat kepada Doni Pratama dan Agus Tri Satria, karena telah memperoleh nilai terbaik lagi di kota Padang ini. Sebagai penghargaan, pihak SMP Suka Karya akan memberikan hadiah, Mohon untuk kepala sekolah waktu dan tempat kami persilahkan," Ucap seorang pembawa acara SMP itu.
Tak berselang lama, terdengar sorakan dan tepuk tangan yang sangat meriah mengiringi langkah kaki kedua Remaja itu. sembari melambai-lambaikan tangan, mereka terlihat menaiki panggung penghargaan itu, untuk menghadap menemui kepala sekolah. Mereka berdua tampak sangat bahagia terukir jelas dari raut wajahnya yang sangat bersemangat.
"Selamat ya, nak. Dengan kecerdasan ini, kalian pasti akan memiliki masa depan yang sangat cerah." ucap kepala sekolah itu. Seraya menyerahkan masing-masing piala dan amplop yang berisi uang tunai sebanyak 2 juta dengan senyuman indah dari raut wajahnya.
"Sebelumnya, kami ucapkan terimakasih banyak kepada pihak sekolah. Yang sudah mendukung kami sampai ke tahap ini. Dan juga, terkhusus kepada ibu dan ayah, karena tanpa usaha mereka kami tidak akan pernah berdiri bersama ditengah panggung penghargaan yang megah ini,"
Para orang tua wali yang menghadiri pemberian penghargaan itu, memberikan tepuk tangan yang sangat meriah atas penghargaan yang mereka. Terlihat juga ibu dan ayah di tengah kerumunan itu, mereka sangat bangga dengan kesuksesan kedua putra mereka, yang telah menorehkan prestasi terbaik pada tahun ini. Serta para gadis berteriak kegirangan mengagumi kecerdasan dan ketampanan mereka berdua yang terlihat semakin mempesona.
Berbeda dengan alfin, yang pada saat itu sudah menyadari pasti para saudaranya yang akan mendapatkan gelar juara tahun ini. Dirinya hanya memandangi mereka berdua dari kejauhan, dikala saudaranya itu sangat dikagumi oleh orang-orang di sekitarnya.
"Coba saja aku juga pintar seperti mereka berdua. Pasti aku juga akan mendapatkan pujian dan sorak-sorakan dari orang-orang itu." umpat Alfin seraya menyandarkan kepalanya pada sebuah tiang di depan kelas.
Didalam hatinya merasa sangat gusar dengan pencapaian mereka berdua. bahkan se-sekali ia seringkali membandingkan kemampuan kedua saudaranya itu, dengan potensi yang ada di dalam dirinya yang sangatlah lemah. Jangankan mendapatkan juara kelas, Rangking 10 besar di kelas saja sangat sulit ia dapatkan.
"Haah," Keluh Alfin, yang merasa sangat iri atas pencapaian mereka berdua. "kakak dan adik selalu saja, mereka yang mendapatkan rata-rata nilai terbaik. ibu dan ayah pasti bangga dengan mereka berdua. kalau begini, pupus sudah harapanku untuk membuktikan kepada ibu dan ayah, bahwa aku juga bisa menjadi kebanggaan keluarga," umpat Alfin sekali lagi yang semakin terpuruk dalam kesedihan batin yang begitu mendalam.
Tubuhnya terlihat diam, mematung sejenak beriringan dengan keringat dingin mulai membasahi pipi. karena Alfin menyadari bahwa ia telah telah melupakan suatu kewajiban yang harusnya ia selesaikan sepulang sekolah nanti, Alfin yang sebelumnya sangat antusias dengan penyerahan raport tahun ini, dengan harapan yang sangat besar untuk mendapatkan nilai terbaik telah kandas setelah mendapati dirinya tidak kunjung mendapatkan peringkat kelas. Hingga menyebabkan dirinya lupa dengan pekerjaan rumah tadi pagi, yang belum sepenuhnya ia selesaikan. Ditambah lagi ia harus menelan kenyataan, bahwa ia mendapatkan nilai yang sangat rendah pada tahun ini. Menyebabkan Alfin semakin terpuruk dalam kesedihan.
"Sebenarnya apa sih yang telah ku lupakan?" tanya Alfin pada dirinya sendiri yang semakin risau! dengan kegaduhan didalam hatinya.
Dirinya, mulai terbayang-bayang masalah apa yang akan ia dapati sepulang sekolah nanti jikalau tugas, yang harusnya ia lakukan tidak segera di selesaikan. Apa lagi di saat orang tuanya pulang akan cepat pasti akan menjadi masalah besar bagi dirinya. Di tambah lagi, Alfin sangat cemas karena mendapatkan rangking 15 dari 25 siswa dikelasnya. yang semakin memperburuk keadaannya nanti sepulang dari sekolah.
Dengan segala pertimbangan Akhirnya Alfin lebih memilih untuk segera mendahului pulang meninggalkan kerumunan para siswa dan siswi yang terlihat kegirangan berfoto bersama masing-masing anggota keluarga mereka.
"Alfin kemana ya bu? kita tidak bisa berfoto bersama nih. karena ada satu anggota keluarga kita lagi yang belum hadir?" tanya kakaknya Doni melihat kiri dan kanan merasa keheranan dengan saudara Alfin yang tak kunjung datang menghadiri sesi foto bersama keluarga mereka.
"Heeh, sudah Doni! jangan memikirkan anak itu lagi! Paling-paling dia tidak mendapatkan rangking di kelasnya, jangan membuat suasana hati ibu menjadi buruk! kita tetap melanjutkan sesi berfotonya saja," ucap sang ibu yang tidak berharap banyak kepada putra keduanya.
...****************...
Sepulangnya di rumah, Doni dan Agus kebingungan memandangi lemari tiga pintu yang ada dirumahnya, ayahnya yang sibuk memastikan posisi tempat untuk meletakkan masing-masing piala penghargaan mereka, menyadari bahwa tidak ada tempat lagi untuk mengisi kekosongan di lemari rumah mereka.
"Waduh nak! ayah tidak tau lagi mau diletakkan kemana piala kalian ini, soalnya lemari kita ini sudah sangat penuh nak." ucap ayah yang terlihat bangga memandangi mereka berdua.
Ibu yang mengetahui hal itu, langsung menyarankan kepada suaminya."Nanti kita beli lemari yang lebih besar lagi yah. kasian putra kita barang-barang berharganya, nanti hilang berceceran kemana-mana,"
"Mmm iya sih bu, oh i-ya. Ayah lupa Alfin ada Dimana ya bu? dari tadi ayah tidak lihat bocah itu ada dimana?" tanya sang Ayah kepada istrinya.
Sontak wajah ibu! kembali merasa kesal. mengetahui putranya Alfin menghilang dari rumah. Dengan sigap dirinya melangkah cepat ke dapur untuk memastikan pekerjaan rumah yang seharusnya di kerjakan oleh Alfin. Akan tetapi pada saat sampai di dapur, hatinya mulai dipenuhi oleh marah! setelah mengetahui bahwa Alfin tidak membersihkan rumah dengan baik, yang pada saat itu terlihat banyak dipenuhi oleh seonggok piring kotor dan sebaginya lagi banyak pecah berserakan di mana-mana. Akibat seekor kucing yang berusaha memakan sisa-sisa makanan yang belum dibersihkan.
"Kemana anak bodoh itu?"Gertak Ibu, dengan nada tinggi.
Matanya mulai melotot bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya. Ia dengan sigap langsung melangkah cepat dari dapur menuju ke ruangan tamu, untuk mengambil sebuah sapu di sudut ruangan itu. Dirinya terlihat tanpa sepatah kata apa pun melangkah cepat menuju kamar belakang rumah. Sembari menenteng sebuah sapu dengan pegangan kayu.
Brak!....
Terdengar bunyi dobrakan pintu, yang diiringi dengan rintihan Alfin yang memohon ampun kepada ibunya untuk tidak di pukuli. Tak berselang lama!
"Akh... Akh... Akh, apapun Bu!"
Bunyi pukulan yang bertubi-tubi dilayangkan ibu kepada Alfin.
Suara kebisingan itu, terdengar sampai keruangan tamu. Terlihat Ayah yang mengetahui istrinya marah besar, ia tidak berani berbuat banyak atas perlakuan kasar istrinya! Seolah-olah dirinya tidak mendengarkan apa-apa. Kakaknya Doni yang mendengarkan rintihan adiknya Alfin, tak kuasa mendengarkan rintihan itu. Sampai-sampai tanpa sengaja ia melepaskan piala, dari genggamannya. Yang diikuti dengan dirinya jongkok seraya menutupi kedua daun telinga dengan kedua tangan. Saking tak teganya mendengarkan rintihan Alfin atas perlakuan kasar sang ibu.
Kecuali sang adik yang bernama Agus, yang pada saat itu tampak dari raut wajahnya merasa sangat puas setelah mendengarkan tangisan dari kakaknya Alfin, yang menurutnya seolah-olah seperti mendengarkan nada-nada yang indah dari setiap pukulan keras yang dilayangkan oleh sang ibu. dirinya merasa sangat senang dengan perlakuan kasar itu. Yang mana menurutnya setiap orang yang tidak memiliki prestasi di rumah ini tidak pantas hidup ditengah keluarga mereka, Maupun itu saudaranya sendiri. Tampak senyum jahat tersungging jelas dari bibirnya, yang berusaha ia sembunyikan dengan sengaja menggigit bibirnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Ryohei Sasagawa
Gak kuat nahan tawa
2024-05-09
1