"Soalnya Abang takjub dengan ikatan persaudaraan kalian berdua, mengingatkan Abang pada salah satu orang yang paling Abang sayangi juga," ucap pemuda itu yang terlihat terlihat sedih mengingat kenangan indahnya bersama orang yang sangat penting baginya.
"Hmm, maafkan saya bang, sampai membuat Abang mengingat masa lalu Abang. Ucap Doni sembari menundukkan wajahnya.
"Maka dari itu, Abang ikhlas buat bantuin kalian berdua, jadi kalian tidak usah kawatir pada saat sampai Disana nanti," ucap pemuda itu.
"Kamu dengar ngak Fin," tanya Doni kepada saudaranya Alfin yang masih saja tertidur pulas menyandarkan kepala di bahu Doni.
"Hmm iya kak," Balas Alfin yang masih setengah sadar dari tidurnya.
"Ehh Fin, bangun Fin, kamu ngak tau sekarang sudah jam berapa?" tanya Doni yang berusaha membangunkan Alfin dari tidurnya.
"Hmm, kan masih malam kak," Balas Alfin yang masih melanjutkan tidurnya.
"Astaga Fin, kamu ini gimana sih? sekarang udah jam 8 pagi Fin kamu sadar ngak sih," balas Doni yang mulai kesal dengan sikap Alfin.
"Astaghfirullah, yang benar kak?" Tanya Alfin sembari mengusap-usap kedua daun matanya merasa sangat terkejut karena ia bangun kesiangan.
"Astaga kak, Alfin sampai lupa sholat subuh kak sshtt... aduh," balas Alfin yang masih terkejut bersamaan dengan rasa sakit yang masih berdenyut di kepalanya.
"Sudah-sudah Ngak papa kok Fin, wajarlah soalnya kita masih dalam perjalanan Dan juga kamu masih sakit. Untung aja ada Abang ini yang bantuin Kamu," balas Doni.
"Haah, yang benar kak? apakah benar Abang ini yang bantuin Alfin? Emang Abang ini bantuin gimana kak?" Tanya Alfin kepada kakaknya Doni.
"Ya karena Abang ini?"
"Sudah tidak perlu di jelaskan don," Balas pemuda itu tersenyum lepas.
"Hmm, kalo boleh tau, nama Abang siapa ya bang?" Tanya Doni kepada pemuda itu.
"Nama Abang Rian Abang sebenarnya berasal dari kota Medan, cuma karena beberapa alasan Abang harus bekerja begini," ucap pemuda itu sembari menyetir mobilnya.
"Wah keren deh bang," Balas Doni sembari mengarahkan kedua jempolnya sebagai tanda sangat mengagumi ketekunan Abang ini Bekerja keras.
"Hahaha...astaga kalian ini, kadang bisa-bisanya bikin lucu juga ya," Balas pemuda itu yang tertawa lepas, akibat kekonyolan kedua saudara ini
Pada saat itu juga mobil truk yang Meraka naiki terus melaju menuju kota Medan kota yang dikenal dengan sebutan kota tua.
...****************...
Tok!.. Tok!.. Tok!..
Bunyi ketukan pintu rumah.
Sang ayah yang keheranan dengan bunyi ketukan pintu tersebut, mulai merasa sangat kesal, karena menurutnya orang yang mengetok pintu rumahnya itu, tak lain merupakan pak Anton, pria yang banyak tanya waktu itu. Dengan raut wajah yang tampak kesal setelah di timpa berbagai macam masalah, sang ayah akhirnya membuka pintu rumahnya itu dengan tatapan mata yang sengaja dilototi untuk menggertak orang asing yang banyak tanya itu.
"Berisik kamu tau ngak!," gertak sang ayah seraya membuka pintu rumahnya yang seketika itu juga ia sangat dikagetkan dengan kedatangan Oma matan ibu mertua dari almarhumah istrinya.
"Eeeh!... Tenyata Oma ya, apa kabar Oma!" tanya ayah yang hendak mencium tangan mantan mertuanya itu, apalagi dirinya
sangat terkejut setelah mengetahui yang mengetok pintu rumahnya adalah mantan mertua dari almarhum istrinya, bukan pak Anton. Sontak membuat sang ayah sangat panik setengah mati akibat gertakannya itu.
"Dasar, Baru hidup mewah gini saja kamu udah berani bentak-bentak saya ya, sudah jangan di sentuh tangan saya! saya tidak Sudi tangan saya di sentuh oleh orang seperti kamu," gertak Oma memandangi mantan menantunya itu.
Dengan raut wajah yang tampak berkeringat, sang ayah ragu-ragu menayangkan prihal tujuan kedatangan mantan mertuanya itu. "Eee,,, anu, ada tujuan apa ya Sampai Oma datang jauh-jauh berkunjung ke rumah kami!," tanya ayah panik setengah mati dengan kedatangan mantan mertuanya.
"Haah? pake nanya lagi. Saya kan sudah kasih tau kamu sebelumnya, bahwa saya akan datang kerumah ini," gertak Oma dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal dengan pertanyaan itu.
"Anu, Maaf, maaf azkara Oma, balas ayah yang semakin panik dengan sikap dingin mantan mertuanya.
"Maaf, maaf, saya tidak butuh maaf dari kamu! saya datang ke rumah ini, untuk menuntut segala harta warisan putri saya yang tidak pantas di berikan pada manusia biadab seperti kamu," gertak Oma dengan sorot matanya yang tampak melotot sembari nunjuk-nunjuk kearah wajah mantan menantunya itu.
"Ada berbisik apa ini yah, dari tadi sukanya pake nada tinggi mulu, bising banget tau yah," tanya sang istri keluar dari rumahnya untuk memastikan kebisingan apa itu?
"Jangan ikut campur kamu perempuan busuk! kamu itu tau tidak! kamu itu biang dari masalah, kehancuran keluarga putri saya yang sudah mempercayai kamu sepenuhnya sebagai asistennya dulu, sekaligus sebagai seorang sahabat. Akan tapi, dulu kamu malah merebut kebahagiaan putri saya, dengan menikahi seorang suami yang telah memiliki istri," gertak Oma yang semakin menjadi-jadi, memaki-maki mantan asisten kepercayaan sekaligus sahabat dekat almarhum putrinya.
"Sudah Oma, sudah tenang dulu,", Balas sang ayah yang berusaha menenangkan mantan mertuanya itu.
Kamu sama juga bodohnya, kamu kira saya tidak tahu apa! kamu itu sudah puluhan tahun menikahi perempuan busuk ini, sampai-sampai anak kesayangan Oma meninggal dunia karena sakit hati, semua ini karena kamu azkara. gertak Oma yang semakin tersulut emosi memandangi mereka berdua.
Sang ibu yang beru saja dimaki-maki oleh ibu besar pemilik perusahaan tempat ia bekerja dulu, kini mulai merasa sangat sakit hati setelah dimaki-maki secara habis-habisan oleh wanita tua itu. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang tampak sangat kesal sampai-sampai sang ibu mengerutkan keningnya.
"Sudah Oma! dari pada Oma marah-marah Mulu di depan rumah gini, mending Oma masuk ya, nanti azkara suguhkan kopi yang enak deh untuk Oma," ucap azkara yang berusaha menenangkan mantan mertuanya itu. Terlihat juga dirinya sangat takut dengan kemarahan Oma sampai-sampai di keningnya di basahi dengan banyaknya keringat dingin.
"Saya tidak butuh dengan tawaran mu itu! tujuan saya datang ke sini untuk menarik kembali semua harta warisan pemberian almarhum putri saya, kepada lelaki biadab seperti kamu dan juga saya akan terus menuntut hak asuh cucu saya Alfin yang tinggal di rumah ini," ucap Oma yang berusaha menutut keluarga itu.
"Tapi kan Oma Eeeh!.. kita kan sudah tahu bagaimana isi surat wasiat yang di tuliskan itu, Oma tidak bisa menutut begitu saja dong kepada azkara," ucap sang ayah yang berusaha meyakinkan mantan mertuanya.
"Oma tidak mau tahu, Oma bakalan terus menuntut kalian berdua ke pengadilan sampai Oma yang memenangkannya, sekarang dimana cucu ku Alfin. Oma mau lihat kondisinya sekarang?" tanya Oma kepada sang ayah seketika itu juga membuatnya semakin panik setelah kedua putranya kabur dari rumah.
"Argh...Gimana nih. Alfin dan Doni sudah kabur dari rumah, dan sekarang Oma malah nanya-nanya tentang Alfin lagi. Mampus dah gua sekarang, mending aku berbohong saja dari pada membuat Oma semakin marah nanti," gumam azkara di dalam hatinya panik saat memikirkan bagaimana cara mengelabuhi mantan mertuanya itu.
"Maaf sebelumnya Oma, Alfin sekarang lagi bersekolah, aaah jadinya Alfin sekarang lagi tidak ada di rumah," balas azkara panik. terlihat ia menundukkan kepalanya seolah-olah putranya Alfin sedang bersekolah. Padahal kenyataannya kedua putranya itu telah kabur dari rumah akibat perlakuan buruk istrinya.
"Sekolah ya? Pokoknya Oma akan terus menutut harta warisan peninggalan almarhum putri saya dan hak asuh cucu saya Alfin. karena Alfin tidak pantas hidup dengan ibu dari seorang pelakor yang telah merebut kebahagiaan almarhum putri saya," ucap Oma sembari meninggalkan mereka berdua menuju Ke mobil pribadinya.
"Bagaimana ibu bos?" tanya supir pribadi neneknya Alfin.
Masih belum saatnya, pokoknya saya pasti akan memenangkan semua aset dan hak asuh cucu saya Alfin," geram Oma yang terlihat meninggalkan rumah besar peninggalan almarhum putrinya.
"Gimana ini yah! waktu itu kan kamu sudah bilang semua aset di rumah ini telah kamu dapatkan, sekarang apa? ngak sepenuhnya kan? pokoknya kamu harus berusaha mendapatkan semua harta warisan mantan istri kamu itu," ucap sang ibu yang semakin kesal setelah mengetahui kenyataan bahwa semua aset yang mereka gunakan belum sepenuhnya ia kuasai.
"Berisik Bu, ayah jadi pusing mikirin ini semua. Ibu cuma bisa ngeyel aja terus. minta ini itu lah, ngak pernah ibu berusaha membantu ayah untuk mendapatkan semua aset ini, ibu tau tidak, ayah sering diam-diam ngajarin Alfin itu belajar Bu supaya dia mendapatkan juara, cuma Alfin itu terlalu bodoh untuk diharapkan sampai-sampai aku susah gini jadinya," ucap ayah yang merasa sangat kesal dengan tuntutan istrinya.
"Haah yang benar yah? Ayah sebelumnya pernah berusaha mengajarkan Alfin belajar diam-diam?," tanya sang istri.
"Ya jelas lah, kamu saja yang tidak pernah mau tau dan bantuin ayah sampai-sampai mereka kabur dari rumah ini," balas sang ayah yang kembali menyalahkan istrinya.
"Aaah pokoknya ibu ngak mau tau yah, pokoknya ayah harus bisa mendapatkan semua aset itu atas nama keluarga kita," umpat sang istri saat meninggalkan suaminya menuju ke dalam kamar.
...****************...
Pada saat jam istirahat Rin terlihat ragu-ragu berdiri di depan pintu kelas Agus, Karena dirinya baru saja mendapatkan informasi dari teman perempuannya, yang mengatakan bahwa Alfin memiliki 2 orang saudara lagi yang satu sekolah denganya.
"Gus ada cewek Spek muslimah tuh yang berdiri di depan kelas kita, katanya dia nyari in kamu Gus," ucap teman kelas Agus sembari tertawa lepas memuji kelebihan temanya. Setelah mendengar hal itu Agus yang pada saat itu sedang asik bermain game online bersama teman-temannya seketika berhenti dari permainannya.
"Wah busetdah yang benar aja nih, tumben banget ada ukhti cantik keknya malu-malu, sedang nungguin aku nih di depan pintu kelas, kalo gini mantap nih," gumam Agus di dalam hatinya.
Terlihat Agus dengan sangat percaya diri mendekati perempuan bergaya muslimah itu, yang hanya berdiri di depan pintu kelasnya sontak semua sorot mata teman-teman kelasnya Agus tertuju padanya.
"Ya ada apa?" tanya Agus yang terlihat menyandarkan sikunya di dinding kelas, sebagai tumpuan demi berpose seolah-olah perempuan itu sangat ngefans padanya.
"Itu aaa, kamu adiknya Alfin kan?" Tanya Rin kepada Agus.
"Ya emang sih," balas Agus yang sebenarnya ogah mendengarkan namanya di kaitkan dengan kakaknya Alfin.
"Saya teman kelasnya Alfin, akan tetapi kabarnya kedua kakak kamu Alfin dan Doni tidak sekolah hari ini ya. Sebenarnya ada apa ya sampai-sampai membuat Alfin tidak hadir ke sekolah," tanya Rin yang terlihat sangat menghawatirkan kondisi Alfin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments