pelajaran kehidupan

"Assalamu'alaikum pak," ucap Alfin kepada pak Anton yang sedang membongkar suku cadang mesin diesel.

"Waalaikumsalam, wah ternyata nak Alfin ya," balas pak Anton, mengelap tangannya sembari menyalami Alfin.

"Ya pak soalnya saya tadi lagi sekolah pak, jadinya sekarang saya masih pakai seragam sekolah pak. Apa ngak papa pak? Kalau saya ganti pakaiannya disini saja," tanya Alfin yang sangat bersemangat.

"Ya ngak papa nak Alfin. Kamu ganti pakaiannya di ruangan sana aja," ucap pak Anton seraya mengarahkan Alfin.

Bersaman dengan itu ketika Alfin mengganti pakaiannya, Rin baru saja pulang dari sekolah "Assalamu'alaikum Abi," ucap Rin yang baru pulang dari sekolahnya.

"Waalaikumsalam baru pulang ya nak, gimana sekolah barunya?" tanya Abi sembari menyalami putrinya Rin.

"Alhamdulillah bi, di sekolah baru ini, Rin banyak bertemu dengan teman-teman baru. Jadinya Rin tidak merasa kawatir lagi bi," ucap Rin dengan senyuman indah di balik cadarnya.

"Syukurlah kalau begitu, kamu istirahat saja dulu di dalam ya, umi sudah masak makanan yang enak lo," senyum Abi pada putranya.

"Ya Abi, Rin masuk ke rumah dulu ya bi," ucap Rin sembari melangkah, hendak memasuki rumahnya yang terhubung antara ruangan bengkel dengan teras rumah tempat ayahnya bekerja.

Bersamaan dengan itu, Alfin baru saja selesai mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah. Dirinya terlihat berpapasan dengan Rin yang masih memakai cadar. pada saat itu terlihat Rin sengaja menundukkan kepalanya demi menjaga pandangan terhadap Alfin. Yang seketika itu juga Alfin baru saja menyadari bahwa siswi pindahan yang duduk di sebelahnya itu adalah Rin anaknya pak Anton.

"Sudah pak, saya sudah siap untuk belajarnya pak," ucap Alfin Kepada pak Anton.

"Sini nak Alfin, sebelum kita mengenali mesin kita harus memahami apa-apa saja suku cadang yang ada di mesin ini? kamu harus mengingat! Dengan baik ya, apa-apa saja komponen yang bapak tunjukkan nanti," ucap pak Anton seraya mendongkrak naek mesin tersebut supaya terangkat.

"Baik pak," balas Alfin dengan ekspresi wajah yang tampak sangat bersemangat,"

Alfin terlihat sangat serius mengingat bagian-bagian mesin yang disebutkan oleh pak Anton. Dirinya bahkan menulis dengan detail setiap penjelasan di buku catatannya supaya tidak lupa semua yang diajarkan oleh pak Anton.

"Permisi bi, air tehnya diletakkan Dimana ya?" Tanya Rin kepada ayahnya.

"Letakkan diatas meja itu Rin," balas Abi yang berhenti membongkar mesin tersebut.

"Baik bi,"

Terlihat Rin, membawa nampan yang berisi 1 sebuah gelas berisi air teh, dirinya tampak terus menundukkan kepalanya demi menjaga pandangannya terhadap Alfin yang sedang sibuk memperhatikan komponen mesin yang baru saja dibongkar itu.

"Fin sini istirahat dulu, kita sudahi dulu belajarnya," panggil pak Anton mengajak Alfin untuk segera beristirahat.

Rin yang pada saat itu menyadari Alfin menoleh kearahnya, seketika itu juga merasa sangat canggung. Dirinya tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa, selain memutuskan pergi dari sana.

"Rin kedalam dulu ya bi," ucap Rin yang terlihat tergesa-gesa beranjak dari sana.

"Bentar dulu Rin!," tanya Abi yang seketika membuat Rin berhenti dari langkahnya.

"Ya kenapa bi?"

"Minuman untuk Alfin ngak sekalian di bikin ya, soalnya Abi lihat cuma ada satu gelas saja disini," tanya Abi kepada putrinya.

"Ngak usah lah bi, nanti Rin minta sama umi saja kalau dia mau," balas Rin dengan raut wajahnya yang tampak memerah memandangi Alfin dari kejauhan.

"Hmm, Tidak usah pak, terimakasih untuk tawarannya. Dan juga Rin aaa... saya mohon maaf kalau saya ngerepotin ya," ucap Alfin yang melanjutkan pekerjaannya mengamati mesin tersebut, meskipun di dalam hatinya sangat terpesona dengan kecantikan Rin yang telah membuka cadarnya saat di rumah.

Alfin yang tidak mau kehilangan fokusnya untuk belajar, berusaha terus mengecek komponen-komponen mesin yang baru di bongkar itu. Dengan rasa keingintahuan yang sangat besar tentang mesin yang baru pertama kali ia pelajari, membuatnya Alfin se-sekali ingin menyentuh beberapa bagian mesin tersebut. Hingga tanpa disadari, dongkrak yang telah terpasang kan dengan baik oleh pak Anton, tiba-tiba terlepas dari pasangannya hingga menyebabkan jari telunjuk bagian kanan Alfin terjepit hebat oleh mesin tersebut.

Aw...ssht!..

Suara rintihan Alfin saat terjepit, seketika membuatnya meringis kesakitan.

"Astaghfirullah, Kamu ngak papa Fin," tanya pak Anton seraya berlari sekuat tenaga mendekati Alfin.

"Argh...Ngak papa kok pak, telunjuk saya cuma sedikit terjepit pak," ucap Alfin yang menggenggam telunjuknya dengan tangan kiri tampak mulai berdarah.

Rin yang pada saat itu hendak pergi dari sana, seketika sangat dikagetkan dengan terlukanya Alfin saat bekerja dengan ayahnya. Tampak satu persatu tetesan darah keluar dari jari jemari Alfin, hingga membuatnya tidak berani berkata sepatah apapun, selain hanya bisa diam mematung dengan situasi genting itu.

"Astaghfirullah Rin, tenang dulu nak! tolong Abi ambilkan kotak P3K yang ada di dalam laci sebelah sana," Titahnya Abi seraya mengarahkan putrinya.

"Baik bi" balas Rin dengan sigap mengambil kotak P3K tersebut di meja kerja ayahnya.

Alfin pada saat itu terlihat merintih kesakitan, tampak jelas dari keningnya yang mulai bercucuran oleh keringat dingin, yang mulai membasahi keningnya. Sembari menggenggam erat telunjuknya dengan tangan kiri.

"Ini bi," ucap Rin menyerahkan kontak P3K itu kepada ayahnya.

Dengan sigap pak Anton, langsung membilas teluk Alfin dengan antiseptik, kesemua Sisi yang terluka. Sembari menutupi bagian yang hitam akibat luka terjepit itu dengan perban.

Rin tak sanggup melihat Alfin meringis kesakitan dihadapannya. Hanya bisa memalingkan wajah sembari menutupi kedua matanya dengan kedua tangan.

"Astaghfirullah, kenapa hari pertama aku belajar disini, bisa-bisanya terluka seperti ya Allah," gumam Alfin lirih.

"Alhamdulillah, sudah selesai di obati nak Alfin," ucap pak Anton yang terlihat sangat lega.

"Terimakasih banyak atas bantuannya pak. Dan Rin, maaf ya sampai ngerepotin Begini,"ucap Alfin menundukkan kepalanya merasa sangat malu menjadi beban dihari pertama bekerja.

"Sudahlah nak Alfin, tidak papa kok. Namanya juga pertama kali belajar, ya apalagi belajarnya tentang mesin, wajarlah hal seperti ini kadang biasa saja terjadi," Balas pak Anton seraya mengusap-usapi punggung Alfin supaya menenangkan nya.

"Kalau begitu saya izin pamit dulu pak, sepertinya hari sudah semakin sore dan juga takutnya orang tua saya sudah menunggu di rumah," ucap Alfin dengan raut wajah murung menyalami pak Anton.

Dirinya hanya bisa tertunduk lesu apalagi saat berhadapan dengan Rin. Perasaan malu yang begitu besar membuatnya harus melangkah cepat meninggalkan mereka. Sampai-sampai tanpa Alfin sadari seragam sekolahnya tertinggal di rumah pak Anton.

...****************...

Saat sampai di depan pintu gerbang rumahnya, Alfin menatap dari kejauhan terlihat ibunya sesudah berdiri di depan pintu rumah dengan ganggang sapu ditangannya. Raut wajah ibunya terlihat sangat kesal tampak dari sorot matanya yang tajam yang seketika itu juga membuat Alfin dengan dengan perasaan takut terpaksa dengan ragu-ragu mendekati ibunya seraya menundukkan pandangannya.

"Assalamu'alaikum Bu," ucap Alfin yang hendak menyalami ibunya.

"Sudah, tangan saya jangan disentuh! melihat kamu saja ibu sudah jijik apalagi di sentuh!" gertak ibu dengan raut wajahnya yang terlihat sangat marah.

"Maaf Bu, Alfin pulangnya telat karena.,"

"Karena apa? karena kamu bisa malas-malasan, mengabaikan pekerjaan rumah ini kan. Kamu tau tidak, ibu ini seharian penuh harus mengerjakan semua pekerjaan rumah ini sendiri, dan kamu bisa-bisanya malas-malasan di luar sana. Enak kamu ya, karena ayahmu tidak ada dirumah sekarang, kamu kira ibu bisa maafin kamu," gertak ibunya dengan raut wajah yang semakin merah padam, karena tidak sanggup lagi membendung amarahnya yang meluap.

Alfin terlihat menutupi bekas luka ditangannya dengan menggenggam erat jemarinya dengan genggaman tangan kiri, menurutnya ini semua adalah karma, karena ia telah berbohong kepada kedua orang tuanya. Dengan perasaan yang campur aduk Alfin berencana berkata jujur kepada ibunya.

" Maaf Bu, Sebenarnya Alfin_"

"Sudah, jangan banyak omong kamu, cepat sini," gertak ibunya yang terlihat menyeret lengan Alfin dengan sangat kasar ke pekarangan taman belakang. Yang pada saat itu terlihat sebuah tong biru besar yang dipenuhi oleh air hujan telah menunggunya saat itu juga.

"Maafkan Alfin Bu," rintih Alfin, memohon ampun kepada ibunya karena merasa takut dengan hukuman apa yang akan ia dapatkah.

"Jongkok kamu Di sini!," gertak sang ibu mengancam Alfin dengan mengarahkan ganggang sapu itu tepat kearah kedua kaki Alfin.

"I-ya Bu, i-ya," panik Alfin yang terlihat sangat gemetaran menuruti perintah ibunya.

"Dasar anak binatang Kamu!"

Splash!..Splash!..Splash!

Bunyi percikkan air yang terus diguyurkan kearah kepala Alfin terus menerus hingga membasahi sekujur tubuhnya.

"Ampun bu," ucap Alfin yang terlihat meringkuk kedinginan memohon belas kasihan kepada ibunya.

"Haah! Minta ampun? Ngak kedengaran, Bilang sekalian lagi!," gertak ibunya yang terus-menerus mengguyur tubuh Alfin dengan siraman air sebelum ia merasa puas.

"Ya Bu, ampun... maafkan Alfin Bu, Alfin janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi bu," ucap Alfin memohon belas kasihan kepada ibunya, seraya menahan rasa sakit karena jarinya yang terluka sebelumnya kini mulai terasa sangat perih. Setelah terkena guyuran air yang disirami oleh sang ibu sejadi-jadinya membuat tubuh Alfin semakin gemetaran menggigil kedinginan.

"Kamu tau tidak, semenjak kamu ada di rumah ini, ibu selalu saja kerepotan ngurusin kamu. Kamu fikir kamu itu siapa haa...," gertak ibunya menjambak rambut Alfin seraya mengarahkan ganggang sapu tersebut tepat ke arah wajah Alfin yang semakin membuatnya pucat ketakutan.

"I-ya Bu, i-ya. Maafkan Alfin Bu,"

"Maaf, maaf, selalu minta maaf. Kamu ini biang keroknya di rumah ini, dasar binatang!"

Akh!... Akh!... Akh!

Bunyi pukulan yang bertubi-tubi yang dilayangkan terus-menerus ke arah punggung alfin Hingga meninggalkan bekas lebam keunguan di sekujur punggung mungil remaja itu.

"Argh.. Aduh... Ampun bu!"

Ibunya yang belum merasa puas menyiksa putranya itu belum juga berhenti, hingga Alfin pingsan baru ia berhenti menyiksa remaja itu. Saat menyadari Alfin yang hampir pingsan akibat pukulannya yang terlalu berlebihan.

Doni yang sebelumnya hanya bisa mengintip dari pintu belakang rumahnya, sudah tidak kuasa lagi menahan Isak tangisnya. Karena tak tega melihat perlakuan ibunya yang sudah sangat berlebihan mendzolimi saudaranya Alfin. Meskipun kak Doni sangat takut dengan amarah sang ibu, akan tetapi karena sudah tidak ada pilihan lain selain menghentikan perlakuan buruk ibunya Agus berlari sekuat tenaga menahan amukan sang ibu.

"Hentikan Bu! Sudah, sudah, Doni mohon Bu jangan di pukul lagi dik Alfin Bu," teriak Doni berlari sekuat tenaga mendekati Alfin. Seketika itu juga dirinya langsung memeluk saudaranya dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, supaya tidak lagi mendapatkan pukulan dari ibunya.

Ibunya yang menyadari Alfin sepertinya pingsan akibat pukulannya yang terlalu berlebihan, seketika merasa sangat kawatir bagaimana respon suaminya saat pulang kerja setelah mengetahui kondisi Alfin yang pingsan seperti ini. Apalagi mantan ibu mertuanya, beberapa hari lagi akan berkunjung di rumah ini.

"Sini, ibu bantuin juga untuk mengangkatnya," ucap ibunya seraya mengulurkan kedua tangannya untuk membantu mengangkat Alfin yang pingsan itu.

"Sudah Bu, jangan disentuh lagi Adik Alfin! biar aku saja yang mengurusinya, karena aku sebagai kakaknya di rumah ini, maka dari itu aku yang bertanggung jawab menjaganya bukan ibu," gertak Doni kepada ibunya yang sudah tidak sanggup lagi membendung emosi atas penganiayaan itu.

"Eh Doni, kamu ini udah berani melawan sama ibu ya!" Balas ibunya dengan sangat angkuh.

Doni yang sudah sangat tersulut emosi memeluk tubuh saudaranya Alfin, dengan menatap tajam wajah ibunya. Yang seketika membuat sang ibu merasa sangat bersalah atas segala perilakunya yang sudah sangat berlebihan.

"Udah urusin saja sendiri saudaranya mu itu, capek ibu ngurusin kalian," Balas sang ibu dengan angkuhnya meninggalkan mereka berdua.

"Alfin bangun Fin," tangis Doni seraya mengelus-elus rambut saudaranya Alfin supaya adiknya itu sadarkan diri.

Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!