Keesokan paginya merupakan hari Minggu. Hari itu merupakan hari yang paling penting bagi keluarga mereka. Yang mana mereka satu keluarga berencana pergi liburan bersama-sama merayakan prestasi yang luar biasa yang ditorehkan oleh Doni dan Agus karena telah mendapatkan peringkat tertinggi dengan rata-rata terbaik di sekolah.
"Bu, Kak Doni dimana ya Bu?" Tanya Agus dengan suara lantang kepada ibunya sembari merapikan pakaiannya di dalam koper.
"Kakakmu belum bangun ya? coba kamu bangunkan dia di dalam kamarnya. Mungkin saja kakakmu itu kecapean belajar tadi malam," balas Ibu yang sedang sibuk merias wajahnya di dalam kamar.
Tok!, tok!..tok!..
"Kakak! Bangun kak, bukannya kita mau liburan hari ini ya," tanya Agus dengan suara pelan sembari memanggil-manggil kakaknya Doni.
Menyadari kakaknya tidak bangun Agus bertanya lagi kepada ibunya dengan suara yang sangat lantang.
"Kakak masih belum bangun Bu! Gimana kita mau berangkatnya nih, apalagi barang-barang bawaan masih banyak lagi yang belum disiapkan?"
Ibunya yang sedang sibuk merias wajahnya merasa kesal mendengar celotehan putra bungsunya itu yang pagi-pagi terdengar sangat berisik.
"Ayah bangun yah," panggil ibu kepada suaminya yang masih tertidur pulas diatas ranjang.
"Iya Bentar lagi kenapa sih! hari ini kan masih pagi," balas ayah yang merasa terganggu dengan suara berisik istrinya.
"Pagi gimana yah? Sekarang kan sudah jam 9 Tuh anak bungsu mu udah teriak-teriak dari tadi, sakit telinga Ibu yah jadinya" balas ibu yang semakin kesal dengan sikap suaminya yang masih saja terlihat tidak mendengarkan keluhannya.
"Suruh lah Alfin saja yang bangunin mereka, biasanya kan dia yang selalu bangun pagi," balas ayah yang masih saja melanjutkan tidurnya.
"Heeeh, ayah ini gimana sih! masih tidur aja! Ibu nggak mau melihat anak mu itu lagi yah! kemaren saja Ibu sempat memukulinya berkali-kali sampai lebam. nanti kalau mantan mertua mu itu tau gimana?" Balas ibu yang membuat suaminya semakin merasa kesal.
"Argh...iya deh pagi-pagi udah berisik amat," bentak ayah kepada istrinya sembari keluar dari kamar menggunakan piyama biru menuju ke depan pintu kamar Doni. yang terlihat terlihat Disana ada Agus sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar kakaknya doni sambil memanggil-manggil nama kakaknya.
"Gus sini kamu," panggil ayah.
"I-ya yah ada apa?" balas Agus.
"Kamu ini gimana sih, kamu pagi-pagi gini sudah sangat berisik sekali," tegur ayah kepada putra bungsunya.
"Gimana ngak berisik yah, ini kak Doni nggak bangun-bangun. Apalagi barang-barang belum disiapkan, gimana dong kita mau pergi liburannya nanti yah?" balas Agus dengan wajahnya yang tampak sangat kesal sembari melihat kedua tangannya.
"Loh kakakmu kan bukan cuma kak Doni saja Minta tolonglah sama kakakmu Alfin mungkin aja kak Doni tadi malam kecapean belajar, jadinya mungkin nanti bangunannya agak kesiangan," balas ayah kepada putra bungsunya.
"Hmm... tadi Agus sempat ke kamar kak Alfin yah, cuma pas sampai Disana kak Alfin juga masih tertidur pulas, Agus jadi jijik liatnya tidur yah, Ayah saja yang manggil dia deh," ucap Agus dengan angkuhnya untuk tidak berurusan dengan saudaranya Alfin.
"Eeeh ngak boleh gitu kamu Gus! kamu itu laki-laki, mulutmu itu ngak pantas ngomong seperti itu. Malah ucapan mu ini terdengar seperti keluar dari mulut perempuan saja jadinya," balas ayah yang tersulit emosi mendengar perkataan Agus yang cenderung terdengar sangat kasar kepada saudaranya Alfin.
Mendengar teguran ayahnya, Agus berlari meninggalkan ayahnya dengan raut wajah wajah yang sangat kesal karena dirinya tidak pernah sekalipun dimarahi ibu seperti itu.
Mendengar suaminya membentak-bentak putra bungsunya ibu keluar dari kamarnya sembari mendekati ayah untuk menegur perkataan suaminya yang terdengar sangat kasar kepada putra bungsunya.
"Loh ayah ini gimana sih, katanya mau bangunin Alfin sekarang malah men bentak-bentak Agus saja. ayah ngak boleh gitu dong" tegur sang istri kepada suaminya dengan suara lantang.
Mendengar celotehan istrinya semakin jadi-jadi terlihat ayah sengaja menutupi kedua daun telinganya, wajahnya terlihat sangat kesal sembari meninggalkan istrinya untuk menuju ke dapur untuk mengambil segelas air tak berselang lama.
Splash....!
Bunyi percikkan air yang disiram tepat diwajahnya Alfin dengan sebuah gelas.
"Bangun-bangun kamu! enak aja kamu tidur jam segini, dasar anak malas mending nggak di kasih makan! baru tau rasa kamu," ucap ayah membentak sangat keras, membuat Alfin sangat terkejut seketika itu juga ia langsung terbangun dari tidurnya.
"Maaf ayah, Alfin ngak sengaja bangun kesiangan jadinya,"
"Sudah jangan banyak omong kamu Fin! dasar anak nggak tau diri kamu. bisa-bisanya kamu bangun jam segini, udah jam berapa sekarang liat," bentuk ayah dengan sangat keras membuat Alfin semakin merasa ketakutan.
"Maaf yah," rintih Alfin lirih.
Alfin terlihat menundukkan kepalanya, seraya memegang tangannya yang terlihat sangat gemetaran. Matanya tampak seperti memiliki jejak warna hitam, di sekeliling daun kelopak matanya karena malam itu mereka belajar sampai larut malam bersama Doni sang kakak.
"Maaf, maaf enak saja kamu minta maaf, liat di luar sana! ayah bertengkar sama Agus dan ibu karena kamu penyebabnya, puas kamu kan," ucap ayah membentak-bentak Alfin sembari menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Ampun yah Fin ngak bakalan gini lagi," rintih Alfin memohon belas kasihan kepada ayahnya.
Ayahnya sengaja melototi Alfin dengan tatapan yang tajam membuat Alfin sangat takut kepada ayahnya. Terlihat ayahnya sangaja mengunci pintu kamar. Sembari menanyakan nilai rapornya waktu itu di sekolah.
"Keluarga kita, Minggu ini akan pergi liburan bersama demi merayakan hasil kerja keras saudaramu Doni dan Agus. karena mereka mendapatkan rata-rata nilai terbaik di kota Padang ini. Jadi kamu dapat nilai berapa, ngak seperti semester kemaren kan?" gertak ayah seraya bertanya kepada Alfin.
Dengan ragu-ragu Alfin berusaha menjelaskan kepada ayahnya. " aaah.. Anu.. Maaf Ayah sebenarnya Alfin!"
"Agh... Jangan banyak omong kamu Fin mana raport kamu itu,"
Terlihat Alfin mengambil rapor semesternya yang ia sembunyikan di bawah bantalnya. Dengan tangannya yang semakin gemetaran, ragu-ragu Alfin menyerahkan nilai raport tersebut kepada sang ayah.
Melihat putranya ragu-ragu menyerahkan hasil belajarnya itu, dengan sigap ayah langsung mengambil paksa rapor tersebut sekaligus langsung memeriksanya.....
"Apa ini?"
Plak!.....
Bunyi pukulan keras yang dilayangkan oleh ayah dengan menggulung raport tersebut untuk dihantamkan tepat diatas kepala Alfin.
"argh... Ampun yah maafkan Alfin," Rintih Alfin yang semakin menjadi jadi-jadi terlihat air matanya mengalir membasahi pipi seraya dirinya melindungi kepalanya.
"Liat ini..!"
Prak!...
"Nilai apa ini! nilai kamu merah semua, mau jadi apa kamu dengan nilai kek gini semua. Dasar anak kurang ajar Kamu Argh....,"
Pukulan itu berakhir dengan satu buah tamparan keras yang dilayangkan oleh sang ayah yang seketika itu juga langsung membuat Alfin jatuh tersungkur diatas lantai.
Plak!....
"Ayah sengaja bayarin kamu sekolah mahal-mahal harusnya kamu belajar lebih rajin lagi. contoh itu saudara-saudaramu? mereka berdua selalu saja mendapatkan gelar juara setiap tahunnya selalu bikin bangga ayah," Balas ayah yang sudah sangat tersulut emosi mengetahui nilai putranya.
"Maaf ayah Fin mohon ampun yah, Fin akan berusaha lebih giat lagi yah,"
Terlihat Alfin memegangi kaki ayahnya memohon belas kasihan kepada sang ayah yang sudah sangat kecewa dengan dirinya.
"Lepaskan! Kamu tau tidak, ayah sengaja-sering ngajarin kamu belajar diam-diam karena ayah pengen kamu juara, bikin ayah bangga membesarkan kamu," Ucap ayahnya yang terlihat sangat kecewa dengan rendahnya kemampuan anak kandungnya itu yang tidak mendapatkan peringkat kelas.
Terlihat ayahnya memegangi keningnya menyesali dirinya yang telah memiliki anak kandung yang sangat bodoh. Dirinya sangat kecewa karena harta warisan istri pertamanya yang berkaitan dengan semua aset dirumah ini. Semuanya tertulis tulis untuk putranya Alfin bukan atas namanya. Di dalam catatan warisan itu tertulis bahwa sebagian properti peninggalan istrinya dapat diwarisi oleh sang suami dengan syarat putranya Alfin harus pernah mendapatkan juara kelas atau sukses menjadi pengusaha. Akan tetapi karena putranya tidak mampu memenuhi harapannya dirinya sangat kecewa pada Alfin.
"Malu ayah memiliki putra seperti kamu Fin," ucap ayahnya dengan tatapan yang sangat jijik melihat anak kandungnya seraya meninggalkannya menangis tersedu-sedu.
Tak berselang lama keluarga mereka terlihat lalu lalang mempersiapkan segala perlengkapan mereka terlihat Ayah yang sedang memeriksa ban mobil, Ibu yang sibuk mempersiapkan bekal perjalanan dan Agus yang masih saja duduk menunggu kakak di depan pintu kamarnya.
Terlihat kakaknya Doni keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang terlihat sangat pucat. berusaha keras menahan sakitnya terlihat dari raut wajahnya yang sangat pucat akibat terkena demam.
"Akhirnya kakak keluar juga, dari tadi Agus sengaja nungguin kakak, buat minta tolong bantuin Agus untuk mengangkat barang-barang ini ke dalam mobil," ucap Agus kepada kakaknya.
"Loh kenapa harus nungguin kakak, bukannya Agus bisa minta tolong sama kak Alfin buat bantuin Kamu juga?" balas kak Doni kepada Agus.
"Heeeh...Dia lagi, Dia lagi, Kak Alfin barusan kena marah sama ayah karena telat bangun pagi, untung saja kakak tidak dimarahin sama ayah,"
"Lah beneran kamu Gus?" Tanya Doni kepada Agus yang sangat menghawatirkan kondisi saudaranya Alfin.
"Ya begitulah kak, kalau ngak mau dengarin perkataan ayah, ya wajarlah ayah marah gitu," balas Agus yang sepertinya tidak mempermasalahkan perlakuan kasar ayahnya.
"Kok bisa-bisanya ayah marah gitu ya, bukannya ayah selalu ngak pernah tertarik ikut campur saat Alfin di marahi ibu. Kok tiba-tiba sekarang ayah yang turun tangan memarahi Alfin?" Tanya Doni yang semakin keheranan dengan apa yang telah terjadi.
"Nggak tau sih kak,"
"Tapi Gus?"
Bhuk,,,uhuk,,uhuk
"Loh kakak kenapa? Kakak sakit ya," tanya Agus kepada kakaknya sembari mengecek kening kakak,"
"Loh tubuh kakak panas, Agus bilangin sama ibu ya kak?," ucap Agus yang hendak mengadukan kondisi kakak kepada sang ibu.
"Eeeh Gus,"ucap Doni seraya menahan tangan adiknya Agus.
"Kakak baik-baik saja Gus jangan dibilangin sama siapa-siapa ya, kasihan Alfin soalnya kakak udah janji ajak dia buat ikut liburan bersama kita,"
"Eeeh? kapan kakak mengajaknya ikut? bukanya Ibu sudah bilangin ya sama kita bawa untuk tidak memberitahukan agenda liburan ini kepada kak Alfin, nanti kalau ada apa-apa kakak juga kena teguran ibu lagi Lo," ucap Agus memperingati kakaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments