mereka manusia baik

Alfin melangkah pelan di pinggir jalan dengan mengenakan kaus dan celana panjang nya, ia terlihat seperti seorang orang yang kebingungan, melihat kiri dan kanan seraya mengelus-elus perutnya yang sudah sangat perih saking laparnya, pada saat berjalan tak tentu arah sorot mata Alfin hanya tertuju pada sebuah toko kelontong yang tampak beberapa puluh meter di depan matanya.

"Hmm... Gimana ya? uangku sekarang cuma ada lima ribu rupiah saja, apalagi sekarang nasi bungkus itu lima belas ribuan. Gimana ini?" gumam Alfin seraya menggocek sakunya kiri dan kanan.

Alfin yang menyadari uangnya memang tidak mencukupi, akhirnya tetap memutuskan untuk mendekati toko tersebut. yang mana disana terlihat banyak pelanggan yang sedang menikmati makanan nya, mereka semua makan dengan begitu lahap, yang seketika membuat Alfin tak kuasa lagi menahan rasa perih di perutnya. Sesekali Alfin terlihat menelan ludah saking nikmatnya melihat orang-orang yang menikmati makanan mereka.

"Loh nak Alfin ya, tumben sekali keluar dari rumah, ada apa ya nak?" tanya mbok Asih.

"Hmm.. Begini mbok sebenarnya Alfin mau membeli sedikit nasi bungkus ini mbok, cuma masalahnya uang Alfin hanya ada lima ribuan saja mbok. jadi apakah boleh, Alfin cuma beli nasinya saja mbok?" tanya Alfin seraya menundukkan kepalanya. Karena merasa sangat malu, hanya sanggup membeli bongkahan nasi saja.

"Loh mbok ngak salah dengar nih? masa anak keluarga kaya Rahim Azkara yang terkenal itu, dengan kompleks perumahannya yang sangat luas, dan anak-anaknya yang terkenal cerdas,tampan rupawan, tajir melintir malah, kok bisa-bisanya ngemis minta gini sih, yang benar aja kamu?," tanya wanita tua itu kepada Alfin dengan nada tinggi.

"Aaa... anu..Bukan begitu maksud Alfin mbok! Alfin sebenarnya!, Alfin cuma...Aaa... Mau nanya-nanya saja sih!"

"Hehehe!...."

Tawa Alfin karena merasa panik, tanpa sepatah kata apa pun ia berusaha menghindari tempat itu, karena dirinya sangat kawatir apabila rumor buruk tentang dirinya akan tersebar luas di tengah masyarakat yang nantinya akan mempengaruhi nama baik keluarga mereka.

...****************...

Hari yang sebelumnya cerah kini tampak mulai gelap. Menandai waktu siang hendak beranjak petang, terlihat dari Awan yang menggumpal bergabung menjadi satu. Serta di iringi dengan hembusan angin yang bertiup kencang, menjatuhkan butiran demi butiran air hujan yang terlihat semakin deras bercucuran membasahi setiap tempat.

Alfin yang pada saat itu hanya bisa tertunduk lesu. Hendak beranjak pulang kerumahnya akan tetapi seketika itu juga langkahnya terhenti, karena sempat memandangi langit yang sebelumnya cerah kini tampak mendung, menjatuhkan butiran demi butiran hujan yang begitu deras. Hingga menuntutnya berteduh pada suatu tempat, yang tanpa ia sadari tempat itu yang akan merubah hidupnya nanti. yaitu sebuah bengkel usang yang tersimpan banyak cerita Disana.

"Duh gimana nih, hujannya sangat lebat sekali, mana perutku udah keroncongan banget nih," Keluh Alfin sembari memeluk tubuhnya karena merasa sangat kedinginan sekaligus merasa sangat kelaparan.

Dirinya terlihat berusaha menahan hawa dingin yang terasa kian menusuk kulit dengan berbaring menyamping diatas kursi panjang Bengkel tersebut, seraya meringkuk kedinginan memeluk kedua lututnya tanpa ia sadari dirinya malah tertidur pulas pada saat itu juga.

Hujan yang pada saat itu terlihat sangat deras mulai mengguyur semua tempat dengan deraiaan yang sangat memekakkan telinga,

Hujan yang begitu lebat seketika membuat pemilik bengkel tepat Alfin berteduh tiba-tiba membuka pintu bengkelnya yang mana ia terlihat menyelimuti tubuhnya dengan kain sarung, sembari menyeruput segelas kopi hitam tampak memandang kearah luar rumahnya. Sembari melihat kiri dan kanan. tiba-tiba ia di kaget kan dengan seorang remaja yang tampak meringkuk kedinginan tertidur di kursi panjang sudut bengkelnya. remaja terlihat menggigil kedinginan seraya memeluk kedua lututnya se-sekali terdengar melantur tak jelas mengigau beberapa kata.

"Nak bangun nak?" panggil pemilik bengkel itu sembari membangunkannya.

Remaja itu tetap saja tertidur, hingga Pemilik bengkel itu sangat di kaget kan dengan suara remaja itu yang terdengar mengigau beberapa kata. Seraya giginya gemeletuk kedinginan, yang seketika beberapa kata yang keluar dari mulutnya, itu sempat menarik perhatiannya.

"Ayah... ibu.. maafkan Alfin.. karena tidak bisa memenuhi harapan kalian, untuk mendapatkan juara tahun ini. Alfin berjanji akan berusaha lebih giat lagi," ucap remaja itu melantur seraya menggigil kedinginan.

"Astaghfirullah nak, bangun nak! Kamu kenapa bisa seperti ini!" panggil pemilik bengkel tersebut yang berusaha membangunkan Alfin dari tidurnya.

Menyadari hal itu seketika Alfin terbangun dari tidurnya sembari melihat kiri dan kanan dengan wajah yang terlihat sangat panik.

"Eeeh maaf pak, maafkan saya,"

Seketika itu juga Alfin terlihat hendak berusaha menerobos derasnya hujan, meskipun tubuhnya menggigil kedinginan karena tak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Seketika itu juga dirinya hampir pingsan di hadapan pemilik bengkel tersebut. Dengan sigap pria tua itu menggenggam tangan Alfin yang seketika itu juga membuatnya terhenti dari langkahnya, tampak jelas dari raut wajahnya yang mulai lesu akibat rasa dingin yang sangat menusuk kulit.

"Pak maafkan saya pak, saya tidak sengaja mampir disini," ucap Alfin yang sudah sangat gemetaran terlihat dari pakaiannya yang sudah membasahi sekujur tubuh.

"Sudahlah nak sudah! tenang dulu, saya ini bukan orang jahat. Saya sengaja bangunin kamu buat nolongin kamu," ucap pemilik bengkel tersebut dengan senyuman yang lembut, terukir indah dari raut wajahnya.

"Tapi pak!"

"Sudah-sudah, kamu keringkan dulu tubuhmu di dalam," ucap pria itu seraya membantu Alfin melangkah pelan memasuki rumahnya yang terlihat sederhana.

"Umi!," Panggil pria itu kepada istrinya.

"Ya Abi," balas istrinya keluar dari kamarnya.

"Astaghfirullah! ini siapa bi kok basah kuyup begini," tanya istrinya yang terlihat sangat kawatir melihat kondisi seorang remaja ini yang terlihat sangat pucat menggigil kedinginan.

"Rin tolong bantu umi ambilkan air panasnya nak, sekalian isikan airnya didalam baskom itu!" ucap wanita itu menyuruh putrinya, seraya dirinya dengan sigap mengambil selimut di dalam kamarnya.

Rin yang pada saat itu, Baru selesai mengaji seketika merasa sangat terkejut, tampak ia mulai kebingungan dengan situasi yang tiba-tiba ini?

"Udah jangan panik Rin istighfar nak," ucap umi dan Abi mengenakan putrinya.

Berselang Beberapa saat remaja pria itu terlihat mulai merasa tenang, tampak sorot matanya yang sayu memandang kiri dan kanan memastikan siapa saja orang baik yang telah membantunya. Di depan matanya tampak 2 orang perempuan berpakaian sopan muslimah yang tersenyum lembut dan di belakangnya tampak seorang pria tua ber kopiah hitam di sertai janggut di dagunya terlihat senyum kepada Alfin.

"Nama kamu siapa nak?" tanya pemilik bengkel tersebut seraya memijit-mijit pundak Alfin.

"Nama saya Alfin Raymond pak, saya bisa di panggil Alfin," ucap Alfin dengan ragu-ragu.

"Oh Alfin ya, nak Alfin sekarang tinggalnya dimana ya?" tanya pria itu lagi dengan lemah lembut.

"Saya tinggal beberapa meter dari tempat ini pak, di sebuah komplek perumahan Azkara di penghujung jalan"

balas Alfin dengan jujur meskipun di dalam hatinya sangat takut dengan keluarga ini, yang menurutnya, pasti menyebarkan rumor buruk tentang dirinya. Karena keluarga mereka sebelumnya selalu saja jadi bahan pembicaraan orang-orang di RT ini.

"Owalah gitu ya nak, bapak sebenarnya baru pertama kali pindah di sini, jadi bapak belum terlalu kenal dengan warga di sini. Oh i-ya Ini kenalin Nama bapak Anton dan mereka itu anak dan istri bapak. Namanya Ririn dan Fatimah mereka juga yang bantuin Kamu tadi," ucap pria itu dengan senyuman yang sangat teduh diwajahnya.

Alfin yang pada saat itu melihat istri dan anak pemilik bengkel tersebut seketika terkesima dengan kecantikannya. Yang terlihat sangat rupawan alim dan cantik, membuat dirinya seketika terdiam sejenak seperti mengagumi indahnya bunga melati yang baru saja mekar dihadapannya, bibir perempuan yang ada di hadapannya itu bagaikan buah delima indah, merah menyala tersungging indah dari kedua sisi. Pandanganya teduh bagikan putri malu berkarisma, disertai dengan sorot mata indah bercahaya bagaikan mutiara di dalam genangan air, elok nan mempesona menaklukkan hati siapa saja yang melihatnya.

"Eeeh Maaf pak, ibuk, bapak...eeeh.. Astaga Moh maaf sebelumnya! saya harus pulang dulu! terimakasih atas bantuannya," ucap Alfin yang terlihat terkesima dengan kecantikan anak gadis pemilik bengkel tersebut sampai-sampai dibuatnya hampir hilang akal.

Akan tetapi karena dirinya belum sepenuhnya mempercayai keluarga ini, Alfin merasa sangat bimbang untuk berlama-lama di sana. terlihat dirinya terus memandang ke arah luar jendela demi meyakinkan hatinya untuk kabur dari hadapan mereka. Meskipun dirinya sangat berhutang Budi atas kebaikan keluarga ini,

Di saat Alfin hendak mengambil ancang-ancang untuk kabur dari sana seketika terdengar!.

Krut...krut...kruuut.

Bunyi suara perut Alfin yang seketika memecah keheningan karena dirinya sangat kelaparan. Terlihat ia membuang pandangannya kearah lain, karena merasa sangat malu dengan keluarga ini. Terlihat dari pipinya yang tampak memerah, yang seketika itu juga keluarga pak Anton tampak tersenyum memandangi remaja itu baik itu umi dan Abi kecuali Rin, yang sepertinya tak sanggup lagi menahan gelak tawa saat melihat raut wajah malu pria ini dihadapannya.

"Hmm maaf pak, maafkan saya," ucap Alfin tertunduk malu.

"Ngak apa kok Fin, tandanya kamu sudah mau mendingan," ucap pria itu sembari mengusap-usap punggung Alfin yang seketika membuatnya teringat dengan sang kakak Doni yang selalu saja menyemangatinya dikala dirinya terkena masalah.

"Umi siapkan makanan yang banyak jamu tamu kita ini dengan baik," ucap pria itu memuliakan tamunya.

"Eeh.. gak usah pak, saya tidak mau ngerepotin keluarga pak!" ucap Alfin yang berusaha keras menolak tawaran itu.

"Sudah nak, kamu tentang dulu saja," ucap pria itu seraya berusaha menenangkan Alfin yang terlihat sangat panik terlihat jelas dari sorot matanya.

"Oh i-ya Rin masuk saja kedalam kamar, kasihan Alfin malu kalau di lihat begini," ucap Abi, Seraya menegur putrinya untuk menjaga pandangannya terhadap lawan jenis.

"Ya Abi, Rin masuk dulu," ucap Rin yang terlihat sedikit merasa lucu dengan tingkah aneh pria itu.

Alfin yang tidak ada pilihan lain, selain terpaksa hendak menyantap hidangan yang ada di hadapannya dengan sigap.

"Eeeh Tunggu!," ucap pria itu yang membuat Alfin seketika terhenti sejenak untuk tidak memasukan makanan di mulutnya.

"Astaghfirullah Fin inga nakt! sebelum makan, sebagai seorang muslim kamu harus tau apa terlebih dahulu," ucap pak Anton.

"Astaga maafkan saya pak," ucap Alfin yang terlihat selalu meminta maaf.

Pak Anton, terus memandangi Alfin yang Sepertinya terlihat memiliki masalah dengan anggota keluarganya. Karena sebelum membangunkan remaja ini dirinya sempat mendengarkan anak ini melantur beberapa kata yang berhubungan dengan keluarganya.

"Nggak papa kok nak, lanjutkan saja," ucap pria itu dengan senyuman diwajahnya.

"Setelah Alfin menyantap hidangan tersebut terlihat Alfin hendak mencuci piring kotor yang telah ia gunakan,"

"Saya cuci piringnya ya pak," ucap Alfin yang tidak memiliki apapun untuk membalas kebaikan keluarga itu selain hanya bisa membantunya mencuci piring.

"Sudah duduk saja nak Alfin, itu nanti istri bapak yang bersihkan. Sekarang saya pribadi ingin bertanya kepada kamu! Kamu harus menjawab dengan jujur ya, kamu sebenarnya ada masalah apa ya nak Alfin?" tanya pria itu.

"Eeh!.. saya baik-baik saja pak! saya cuma terjebak hujan saja tadi jadi...," ucap Alfin yang tidak berani sepenuhnya menjelaskan bagaimana perlakuan buruk keluarganya sampai-sampai membuatnya tersiksa seperti ini.

"Nak, kamu tidak boleh berbohong sama siapapun yang telah membantu kamu," ucap pria itu sembari mengingatkan Alfin.

Karena tidak ada pilihan lain Alfin terpaksa berkata jujur seraya meneteskan air matanya. Ia menceritakan bagaimana latar belakang keluarganya dan bagaimana ia sampai-sampai berada di sini. Setelah mengetahui semua permasalahan remaja ini seketika pak Anton terdiam sejenak memandangi istrinya karena merasa sangat miris atas perlakuan kasar keluarga remaja ini.

"Sepertinya nak Alfin harus mendapatkan pertolongan dari para warga, karena apa yang telah dilakukan oleh orang tuamu itu merupakan suatu kezaliman yang tercela dan ada jalur hukumnya. Ucap pak Anton dengan tegas.

Mohon pak jangan pidanakan orang tua saya pak, mereka hanya khilaf mengambil keputusan ini," ucap Alfin yang berusaha melindungi keluarganya, meskipun dirinya selalu saja mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya.

Terpopuler

Comments

Was pray

Was pray

alfin anaknya baik, rendah hati walau hidup di keluarga yg tidak bermoral, tapi sayangnya otaknya terlalu bebal

2024-08-30

0

lihat semua
Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!