Doni dan Alfin yang panik setengah mati dengan perubahan sikap Abang Rian yang tiba-tiba menjadi orang aneh, mereka tetap berupaya untuk tenang sembari memikirkan cara kabur dari tempat itu.
Pada saat pria itu menghidangkan bubur diatas meja makan Doni terus menatap bubur yang dihidangkan oleh Abang Rian, yang seketika itu juga timbul ide supaya mereka berdua bisa kabur dari tempat itu. Dengan sengaja Doni langsung mengambil kedua mangkok yang berisi bubur panas tersebut untuk dilemparkan sekuat tenaga kearah wajah pria itu.
Splash! Prak!....
Bunyi percikkan bubur yang sangat panas, di lemparkan Doni ke arah wajah pria itu yang bersamaan dengan pecahan mangkok tepat menghantam keningnya, membuatnya jatuh terkapar di atas lantai.
"Ssth argh.... sakit sekali bajingan apa maksudnya semua ini!" Geram pria itu merasa sangat kesakitan, saking panasnya bubur tersebut, hingga membuatnya jatuh terkapar di atas lantai. Wajahnya merah melepuh disertai darah yang mulai bercucuran dari bibirnya, mengalir tak beraturan membasahi lantai.
"Ayo kita kabur Fin!" teriak Doni kepada saudaranya Alfin untuk segera kabur dari rumah itu.
"Haah? I-ya kak!"
Mereka berdua berlari sekuat tenaga ke depan pintu rumah, yang merupakan satu-satunya akses keluar masuk tempat itu. Akan tetapi! saat mereka hendak kabur dari sana, Doni menyadari pintu tersebut telah terlebih dahulu di kunci, karena sebelumnya bang Rian telah menyadari Doni yang sepertinya mengetahui rencananya.
"Terkunci Fin!" Teriak Doni yang sangat panik dengan situasi itu.
"Kuncinya kak? mungkin saja kuncinya ada pada padanya, pokoknya kita harus sambil kunci itu, supaya bisa keluar dari teman ini," balas Alfin berlari sekuat tenaga ke ruangan tengah itu lagi, memastikan dimana pria itu menaruh kunci rumahnya.
Ketika Alfin sampai Disana, Abang Rian sudah tidak lagi terlihat. Selain genangan darah yang menetes tak beraturan ke arah sebuah kamar tertutupi tirai.
"Bang Rian sudah tidak ada lagi di sini kak, kemana dia?" Teriak Alfin kepada kakaknya.
Saat Doni mengejar saudaranya Alfin tak berselang lama dari belakang, tiba-tiba di dalam kamar keluar sebilah parang panjang muncul di balik tirai, mengarah tepat di leher saudaranya Alfin. Seketika itu juga Doni langsung menyadari bahwa perang tersebut akan tepat menebas leher adiknya. Dengan sigap Doni, langsung menerjang punggung Alfin dari belakang dengan tendangan yang sangat kuat supaya saudaranya terhindar dari tebasan.
Prak!.....
Bunyi tendangan keras yang membuat Alfin seketika jatuh terhempas ke ke arah depan, yang membuatnya pingsan sejenak akibat kuatnya tendangan dari kakaknya.
"Argh... Kenapa ngak kena ya?" ucap bang Rian keluar dari balik tirai dengan senyuman psikopatnya, matanya tampak membulat seperti iblis yang bermain dengan anak domba tanpa belas kasihan sedikitpun.
Doni yang pada saat itu menyaksikan sebilah parang panjang, yang hampir menebas leher saudaranya Alfin. Membuatnya sangat histeris dengan kenyataan pahit itu. Tubuhnya gemetar hebat, saat membayangkan bagaimana nasib saudaranya Alfin apabila ia terlambat sedetik saja menerjang saudaranya Alfin.
"Bang! kenapa Abang jadi seperti ini? apa tujuan Abang sebenarnya, sampai-sampai Abang hampir melukai saudara ku," gertak Doni kepada pria itu terlihat kedua kaki dan tangannya gemetaran saking takutnya.
"Hahaha.. saudara kamu? kamu sangat menyayangi dia ya," ucap pria itu mengarahkan ujung parang tersebut ke wajah Alfin yang terkapar setengah sadar di lantai.
"Argh... Jangan sentuh adikku bangsat," teriak Doni sekuat tenaga hendak menerjang pria itu untuk menghalau pisau tersebut dari wajah saudaranya Alfin.
Bang Rian yang melihat Doni berlari sekuat tenaga kerahnya, menyadari bahwa bocah tersebut hendak menerjang dengan menyundul kan kepalanya. Seketika itu juga Rian, langsung menepis sundulan tersebut dengan tendangan kuat menyamping. Hingga membuat doni terhempas kuat akibat tendangan pria itu yang tepat mengenai lehernya, membuatnya sangat susah bernafas.
Dhuak!...
Bunyi tendangan keras yang membuat Doni terhempas keras kearah dinding rumah itu, seketika langsung membuatnya pingsan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hahaha,, berani kamu ya? ku tebas juga kepala kau ini," ucap bang Rian mengalihkan ujung parang panjangnya kearah Doni sembari melangkah pelan untuk mendekati mangsanya, wajahnya terlihat senang kegirangan melotot sampai-sampai gigi taringnya tampak keluar.
Alfin yang sebelumnya terhempas kuat di lantai, tampak mulai sadarkan diri dengan wajah yang lebam menyentuh lantai, matanya terus tertuju ke arah kakaknya Doni yang sepertinya akan dilukai oleh pria gila itu.
"Argh... aku mohon! Jangan!.. Jangan pernah kau lukai kakak ku bang" teriak Alfin berusaha bangun dari jatuhnya.
"Hahaha? Kamu udah sadar ya Fin, lihat wajah bodoh kakak mu ini lihat dengan jelas bagaimana aku akan menggoroknya," ucap bang Rian sembari menjambak rambut Doni yang belum sadarkan diri, terlihat bibir kakaknya pecah disertai benjolan di keningnya nafasnya tersengal-sengal bagaikan bersama malaikat maut yang hendak di cabut nyawanya.
"Sudah bang! Sudah. Aku mohon bang, dia satu-satunya kakak ku bang," teriak Alfin menangis sejadi-jadinya, ia berusaha bangun dari jatuhnya, berupaya merangkak sedikit demi sedikit mendekati kakaknya Doni yang sepertinya akan di sakiti.
Doni yang pada saat itu rambutnya di Jambak sampai-sampai kepalanya terangkat keatas, mulai sadarkan diri, seketika itu juga dirinya berusaha memperingati saudaranya Alfin untuk menjauh darinya.
"Fin lari Fin! lari sejauh mungkin," rintih Doni memperingati saudaranya Alfin untuk menjauh darinya. Air matanya tampak membasahi luka di pipinya, tatapannya kosong terlihat menggigil saking takutnya dengan pria itu.
"Tidak kak, tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan kan mu, aku mohon bang jangan pernah kau lukai kakak ku lagi bang," sujud Alfin memohon belas kasihan kepada pria itu.
"Hahaha.. luar biasa, kalian selalu saja berusaha melindungi satu sama lain, lihat dirimu saat ini. kau tak berdaya, sekarang dirimu yang lemah ini tidak akan pernah bisa melindungi kakak mu lagi," tawa jahat bang Rian menikmati penderitaan mereka berdua.
"Bukannya Abang juga memiliki saudara, yang pernah Abang ceritakan waktu itu! dimana dimana letak hati nuranimu bang? mengapa sebegitu teganya, Abang hendak merenggut orang yang paling berharga dalam hidupku ," gertak Alfin dengan nada suara tinggi.
"Haaah? Saudara ya? Oh i-ya apa itu saudara? Kapan aku pernah memiliki saudara hah? Hahaha.. saudara ku sudah mati, di bunuh oleh ayah ku. Semenjak perceraian mereka, tidak ada lagi yang namanya ikatan persaudaraan di dunia ini selain tangisan dan penderitaan," tawa Rian disertai dengan tetesan air matanya menangisi kepergian kakaknya.
"Jangan bang! Alfin Mohon bang! jangan lukai kakak saya," sujud Alfin memohon belas kasihan supaya kakaknya tidak dilukai .
Pria itu yang sebelumnya tampak menangisi kepergian kakaknya kini mulai tertawa terbahak-bahak. Tampak matanya melotot saking senangnya menikmati penderitaan mereka berdua.
"Alfin, aku ingin sekali, melihat kepala kakakmu ini terpajang dengan baik di dalam kulkas itu," ucap bang Rian sembari membuka kulkas tersebut yang tampak berisi penuh dengan beberapa kepala dan organ tubuh manusia yang tersusun rapi di dalamnya.
"astaghfirullah hal adzim!" ucap Alfin yang sangat ayok berat dengan apa yang baru saja ia saksikan. Tubuhnya terdiam sejenak membeku, setelah menyaksikan sekumpulan tubuh anak-anak dan remaja seusianya terpajang rapi memenuhi setiap sudut pendingin itu.
Ternyata pria aneh bermuka dua ini tak lain adalah tukang jagal yang suka menculik anak kecil, untuk diambil organ tubuhnya. Hatinya sangat sakit membayangkan kakaknya Doni yang hendak di perlakukan seperti itu. Alfin yang sebelumnya terdiam dengan kenyataan pahit tersebut, berupaya sekuat tenaga melakukan perlawanan dengan mengambil sebuah gelas diatas meja makan untuk dihempaskan sekuat tenaga ke wajah pria itu lagi.
"Ya Allah, kuatkan lah tubuh hamba mu ini supaya bisa keluar dari cengkraman manusia berhati iblis ini ya Allah," gumam Alfin dengan sigap menggapai sebuah gelas untuk dilemparkan sekuat tenaga kearah wajah pria itu.
Argh!.....
Teriak Alfin bersamaan dengan lemparan gelas kearah wajah pria itu yang melesat sangat kuat akibat bantuan zikir Rin dan keluarganya. Yang sebelumnya setelah solat Dhuha, mereka satu keluarga mendoakan keselamatan untuk Alfin dan Doni.
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar,"
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar,"
swuuussh! Prak!..
Sebuah gelas tepat menghantam wajah pria itu hingga giginya patah saking kuatnya lemparan Alfin menyebabkan dirinya pingsan terkapar diatas lantai.
"Kak bangun kak!," tangis Alfin memanggil-manggil kakaknya yang terlihat setengah sadar. Air matanya terus menetes membasahi wajah kakaknya yang pingsan di dalam pelukannya.
Doni yang sebelumnya pingsan mulai sadarkan diri saat melihat Alfin menangisi dirinya tampak senyum bahagia terukir jelas dari raut wajahnya, setelah dirinya diselamatkan oleh saudaranya Alfin.
"Sudah jangan menangis lagi Fin," bujuk Doni seraya menghapus air mata adiknya.
"Tapi kak?"
"Sekarang kita sudah tidak apa-apa lagi Fin, pokoknya kita harus kabur dari rumah ini secepatnya. Disana, kakak sempat lihat bang Rian menyimpan kunci di dalam sakunya. Cepat ambil Fin, nanti keburu dia bangun!" ucap Doni memerintahkan saudaranya Alfin untuk bersegera mengambil kunci tersebut dari saku pria itu.
Mengetahui hal itu Alfin dengan sigap mengambil kunci tersebut, sembari menggendong kakaknya Doni. Kakinya terlihat gemetaran, melangkah sempoyongan untuk segera membuka pintu rumah itu sembari membantu kakaknya kabur, pada saat pintu rumah terbuka, Alfin sempat menoleh ke arah belakang untuk mengenang tubuh anak-anak dan remaja yang sebelumnya berakhir tragis ditangan pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments