firasat buruk

Bunyi kicauan burung terdengar dari sudut jendela rumah itu bersamaan dengan menteri pagi yang mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya membiasakan warna indah terang menyala diantara sela-sela kaca jendela, yang terurai bersamaan dengan debu kasur. yang berterbangan, menari-nari Bersama cahaya menteri pagi. Hiruk pikuk kota Medan terdengar dengan kesibukannya pagi itu, yang dipenuhi oleh lautan manusia yang terdengar di balik pintu lalu lalang dimana.

Doni yang tertidur pulas terbangun dikarenakan suara merdu Alfin yang sedang membaca ayat suci Al-Quran. Hatinya sangat tentram melihat ketaatan saudaranya Alfin yang sangat rajin beribadah. Hingga senyum bahagia terpancar dari wajahnya saat memandang teduh saudaranya Alfin. Alfin yang sedang melanjutkan membaca ayat suci Al-Quran seketika terhenti sejenak ketika tangan sang kakak tiba-tiba menyentuh keningnya.

"sadakallahul 'azim," ucap Alfin yang menyudahi membaca ayat suci Al-Quran.

"Kenapa kak?" Tanya Alfin kepada kakaknya Doni.

"Hmm tubuhmu ternyata masih panas ya Fin kakak kira sudah mau mendingan?" Tanya Doni.

"Ya lumayan sih kak, nanti juga mendingan lagi," Balas Alfin tersenyum lepas.

"Ya maka dari itu, kakak mau mengajak kamu ikut bersama bang Rian bertemu seorang tenaga kesehatan yang katanya bidan itu teman baik bang Rian," ucap Doni kepada saudaranya Alfin.

Melihat kakaknya Doni, yang menaruh penuh kepercayaannya terhadap Abang Ria membuat Alfin semakin keheranan dengan kakaknya yang sepertinya sangat mengagumi orang asing seperti itu. Apalagi semenjak mereka datang di rumah ini, perasaan Alfin selalu saja kurang nyaman dengan hawa aneh rumah ini. Apalagi malam itu dirinya juga sempat bermimpi bertemu seorang perempuan yang memperingatinya untuk melindungi kakaknya doni.

"Kakak yakin? Alfin merasa semenjak kita datang ke rumah ini perasaan Alfin selalu saja merasa aneh kak? makanya tadi pagi Alfin menyempatkan diri untuk membaca ayat suci Al-Quran," balas Alfin yang terlihat sangat menghawatirkan kakaknya.

"Astaga Alfin, kamu ini gimana sih? tentang saja semuanya akan selalu baik-baik saja kok. Kan bang Rian juga pernah bilang ," ucap Doni memegang pundak Alfin.

Alfin yang memahami maksud baik kakaknya untuk menyuruhnya tentang, membuatnya berusaha membuang jauh-jauh segala prasangka buruk di dalam hatinya itu, untuk selalu mempercayai setiap keputusan yang telah diambil kakaknya.

"Ya deh kak, kalau kakak bersikeras seperti itu apapun keputusan kakak Alfin akan terus mengikuti kakak," tersenyum Alfin kepada kakaknya.

"Gitu dong, kalau Alfin mau sembuh Alfin harus dengerin perkataan kakak ya," ucap kak Doni dengan senyuman diwajahnya sembari mengelus-elus rambut Alfin.

"Siap kak" Balas Alfin dengan senyuman.

Oh i-ya Fin Abang Rian ada dimana ya? Soalnya dari tadi ngak kelihatan?" tanya Doni kepada saudaranya Alfin.

"Ngak tau sih kak, mungkin saja ada di dalam kamarnya kali," balas Alfin.

"Hmm, Fin kamu kakak tinggal bentar ya. kakak mau mencari bang Rian dulu, mungkin saja Abang Rian lagi ketiduran di dalam kamarnya. Solanya tadi malam kami sudah sepakat berencana berangkat pagi-pagi." Ucap Doni meninggalkan Alfin sendiri di ruangan itu.

Alfin yang mengetahui kakaknya sedang sibuk mencari keberadaan bang Rian, dirinya menyempatkan diri untuk melihat-lihat setiap sudut rumah yang sederhana itu. Yang di setiap sudut ruangan itu selalu saja dipenuhi dengan coretan krayon dimana-mana dan beberapa sudut ruangan yang sangat berbau amis.

"Kenapa hati ku ini selalu saja merasa aneh saat baru datang kerumah ini, apalagi saat melihat coretan-coretan di dinding kamar ruangan ini? firasat ku selalu berkata buruk?" gumam Alfin.

ketika dirinya hendak menyentuh kembali coretan itu seketika dirinya sangat di kagetan dengan suara Doni yang memanggil namanya.

"Fin!" Panggil kak Doni kepada Alfin yang seketika membuatnya sangat terkejut saat hendak menyentuh coretan tersebut.

"Astaghfirullah!" Ucap Alfin yang seketika membuatnya terjatuh karena merasa sangat terkejut.

Eeeh? Kenapa kamu Fin?" Tanya Doni kepada saudaranya Alfin sembari membantunya berdiri.

"Hehehe ngak papa sih kak, Alfin baik-baik saja," balas Alfin kepada kakaknya Doni yang di belakangnya terlihat Abang Rian berdiri diam memandang mereka berdua.

"Kamu tidak apa-apa kan Fin?" tanya Abang Rian seketika langsung menyentuh kening Alfin.

Alfin yang merasa aneh dengan firasatnya sendiri berusaha menenangkan dirinya dengan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa .

"Tidak apa-apa kok bang! Alfin baik-baik saja!" balas Alfin dengan senyuman diwajahnya.

"Kalau begitu kita siap-siap berangkat pagi ini saja dan juga oh i-ya? jangan lupa bawa barang-barang yang yang sekiranya di perlukan," ucap Abang Rian meninggalkan mereka berdua di dalam kamarnya.

Doni yang hendak bertanya kepada Abang Rian mengenai arah tujuan mereka nantinya seketika hendak meninggalkan Alfin yang sedang menyiapkan segala barang-barang keperluan mereka.

"Fin bentar ya, kakak bertanya kepada Abang Rian dulu mengenai arah tujuan kita nanti, kamu kemasi barang bawaan kita ya. Jangan lupa nungguin kakak nanti di ruang tamu," ucap Doni kepada saudaranya Alfin.

"Siap kak," Balas Alfin.

Terlihat Abang Rian seperti sedang menelfon seseorang di samping rumah itu, dari raut wajahnya yang terlihat sangat serius bang Rian mengeram hingga tampak gigi taringnya membuat Doni merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia saksikan.

"Pokoknya semuanya sudah aman sekarang_!"

"Hmm Anu bang?"

"Eh Doni ada apa ya!" Balas Abang Rian panik langsung mematikan HP nya di sertai dengan senyuman.

Doni yang mulai merasa aneh dengan perubahan sikap Abang Rian yang tiba-tiba menjadi orang baik, dirinya sangat dikagetkan dengan apa yang baru saja ia saksikan. Di tambah lagi Dirinya sempat mendengarkan perbincangan Abang Rian dengan seorang yang sangat misterius, membuatnya menaruh curiga terhadap apa tujuan sebenarnya dari kebaikannya itu.

"Heeh! Anu, itu kita lain kali saja, ketemu ibuk bidannya bang!" ucap Doni kepada Abang Rian.

Abang Rian yang menyadari sikap aneh Doni yang biasanya menaruh penuh kepercayaan terhadap dirinya, kini mulai menyadari bahwa Doni sepertinya telah mengetahui tujuan dari rencananya dengan menatap sinis mata remaja itu.

"Ya sudahlah, kalau begitu kita sarapan dulu saja ya, ayok masuk," ucap Abang Rian sembari membuka pintu rumah tersebut untuk mempersilahkan Doni masuk.

Doni yang mulai berkeringat dingin dengan firasat buruk yang baru saja ia rasakan berusaha menenangkan dirinya supaya Abang Rian tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengetahui niat buruk rencananya itu.

"Astaga benar, apa yang dikatakan Alfin sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini? apalagi dengan sikap bang Rian yang sepertinya memiliki niat buruk terhadap kami berdua. Bagaimana kami harus melewati ujian ini ya tuhan," gumam Doni lirih di dalam hatinya.

"Hehehe mungkin karena ada kendala, jadinya kita tidak jadi keluar untuk menemui ibuk bidan hari ini. Jadi sekarang Abang mau masak dulu untuk kalian berdua. oh i-ya? kebetulan juga ibuk bidanya bakalan datang hari ini kerumah kita. Hmm.. Mungkin saja sampai pada saat kita selesai makan nanti. soalnya baru saja Abang telfon ibuk bundanya di luar katanya bentar lagi bakalan sampai. Jadi kita makan dulu ya," ucap bang Rian sembari tertawa kecil terlihat dari senyumannya yang mulai aneh.

Alfin dan Doni yang sudah merasakan keanehan dengan perubahan sikap Abang Rian mereka berdua terlihat sangat panik, terlihat dari keringat dingin yang mulai membasahi kening mereka berdua. Yang mana sorot mata mereka tak henti-hentinya menatap satu sama lain dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan. Untuk mengurangi kecurigaannya, Doni terlihat seolah-olah kembali cerita demi bisa mengelabui bang Rian yang pada saat itu hendak memasak makanan untuk mereka.

"Wah mantap itu bang, sini Doni bantu juga kita mau masak apa ya bang?" Tanya Doni yang hendak membuka satu buah kulkas yang ber jejeran di setiap sudut ruangan itu. Bang Rian yang menyadari Doni yang seharusnya tidak membuka kulkas tersebut seketika membuatnya sangat panik membentak keras Doni dengan suara tinggi.

"Heeey Jangan di buka yang itu!" Gertak bang Rian berlari sekuat tenaga kearah Doni untuk menghentikan tangannya yang hendak membuka kulkas tersebut.

"Haah kenapa bang?" Tanya Doni.

"Pokoknya jangan Don, jangan di buka kulkas itu! bukan yang itu kulkasnya! tapi yang sebelah sana?" ucap bang Rian yang tampak sangat panik terlihat dari berkeringat di pelipisnya.

"Argh.. kenapa ngak boleh sih bang kan kulkasnya banyak?" ucap Doni yang seketika hendak menarik kuat pintu kulkas tersebut.

Plaak!

Bunyi tangan Alfin yang di tempis sekuat-kuatnya oleh bang Rian seketika itu juga membuat Doni meringis kesakitan, terlihat dari tangannya yang merah hebat setelah mendapatkan pukulan keras itu.

"Astaga kak Doni," ucap Alfin yang berusaha melindungi saudaranya.

"Maksudnya apa ini bang?" tanya Alfin kepada Abang Rian.

"Hahaha.. pokoknya kalian jangan berani macam-macam seenaknya membuka kulkas orang lain tanpa izin!" gertak bang Rian yang terlihat tertawa lepas seperti orang sinting yang menyembunyikan sesuatu.

Dirinya tetap terus melanjutkan memasak menu makanan untuk mereka berdua, Alfin dan Doni yang pada saat itu telah menyadari Abang Rian merupakan orang jahat yang bermuka dua kini mereka berupaya untuk kabur dari rumah itu.

"Sini duduk dulu, buburnya enak Lo. Sayang banget kan kalo tidak dihabiskan dan juga kalau mau daging juga ada untuk kalian," ucap bang Rian sembari menghidangkan makanan tersebut dengan senyuman jahatnya yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!