malaikat tak bersayap

"Kamu kira ibu ini pembantu kamu, enak-enak aja kamu ini. Pulang sekolah nggak bersihin rumah, enak kamu ya! malas-malasan gini, mau sakit-sakitan kamu. Kalau mau sakit, mati aja sekalian," gerak sang ibu yang sangat tersulut emosi menunjuk-nunjuk Alfin dengan sebuah gagang sapu ditangannya.

"Ampun bu maafkan Alfin bu," rintih Alfin seraya merapatkan kedua tangannya memohon belas kasihan kepada sang ibu.

Terlihat dirinya, berusaha keras menahan tangis agar tidak memperpanjang masalah dengan sang ibu. Dengan meringkuk kesakitan seraya menggosok-gosok kedua tulang keringnya, yang semakin hitam legam akibat penganiayaan itu. Alfin tetap saja tidak berani sedikitpun melawan sang ibu.

"Ibu tidak mau tau, pokoknya! sekarang kamu harus membersihkan semua pecahan kaca dan piring kotor yang ada. Ingat kamu ya! jangan sampai ada satupun yang tertinggal lagi, ingat itu baik-baik!" gertak wanita paruh baya itu dengan angkuhnya melangkah meninggalkan Alfin yang sedang meringis kesakitan.

"Aku harus bangun sekarang juga, aku harus mengikuti segala perintah ibu." ucap Alfin, dengan nafas yang terengah-engah Berusaha keras bangun dari ranjangnya, terlihat dirinya bangun dengan memapahkan tangan ke arah dinding kamar. sebagai tumpuannya berdiri demi bisa membantunya melangkah pelan sampai ke dapur. Kakinya yang terlihat hitam legam, diiringi dengan getaran hebat kedua kakinya saat berusaha keras melangkah.

Tap!....Tap!....Tap!....

Bunyi langkah kaki Alfin, yang berusaha dengan tegarnya menaati segala perintah ibunya. meskipun dirinya, se-sekali terdengar jatuh bangun dari depan pintu kamarnya.

Kak Doni, yang pada saat itu sedang sibuk mengulang-ulang materi pembelajaran. Hatinya kian semakin gaduh, setelah mendengarkan suara kebisingan yang jelas terdengar dari ruangan belakang. Terlihat sesekali kepalanya, menoleh ke arah belakang untuk memastikan kondisi saudaranya Alfin yang baru saja di pukuli oleh sang ibu.

"Agus," panggil kakak.

"Ya kak?" Balas Agus yang berhenti menulis tugasnya.

"kakak ke belakang bentar ya, kakak mau minum Gus. udah haus bgt nih," ucap Doni kepada Agus.

"Haah, lama ngak kak? kakak ke belakang bukan mau bantuin anak itu kan? Kakak Taukan gimana ganasnya ibu kalo marah kalau tau kakak nggak belajar. Takutnya nanti kakak bisa dimarahi ibu Lo kak! Apa kakak lupa sama, yang dibilangin ibu kemaren?" ujar Agus berusaha memperingati kakaknya supaya tidak terlibat masalah dengan saudaranya itu.

"Iya dek ngak papa kok, ini kakak juga kebetulan banget kebelet juga mau ke WC,"

"Hehe!" tawa Doni, yang terlihat sangat garing seraya memegangi kepalanya dengan satu tangan.

"itu kamu selesaikan rumus yang sudah kakak ajarkan tadi," balas Doni yang berusaha mengelabui adiknya Agus, demi bisa memastikan bagaimana kondisi saudaranya Alfin.

"Hmm.... I-ya deh kak, tapi jangan lama-lama ya kak! adek kesulitan banget nih dengan rumus yang satu ini,"balas Agus yang memaklumi kelakuan aneh kakaknya.

Kakaknya Doni beranjak, dari ruangan tamu tempat mereka belajar melangkah pelan mengendap-endap, ke ruangan belakang untuk memastikan kondisi saudaranya Alfin. Pada saat hendak sampai ke pintu dapur, terdengar suara Alfin yang bersalawat tenggelam dalam tangisnya, sembari mencuci seonggok piring-piring kotor. Terlihat Alfin ber-pakaian sederhana, dengan celana hitam pendek yang tidak menutupi lututnya. dirinya terlihat tegar, menaati segala perintah ibunya, meskipun se-sekali terlihat saudaranya itu membilas air mata dengan sikunya.

Kak Doni yang pada saat itu memandangi Alfin dari kejauhan, terdiam sejenak. Karena merasa sangat miris setelah menyadari kondisi Alfin yang sangat memperlihatkan. Terlihat jelas dari bagian belakang tubuhnya, tampak kaki bagian betisnya, hitam legam akibat terlalu sering mendapatkan pukulan keras dari sang ibu. hatinya terasa hancur tak kuasa melihat kondisi saudaranya seperti itu. Terlihat Doni sesekali menyentuh keningnya, sendiri untuk memikirkan bagaimana cara menghadapi Alfin dengan kondisinya saat ini yang sangat memperihatinkan.

"Hmm.... Alfin," panggil kak Doni.

Alfin menyadari suara yang memanggilnya itu berasal dari kakaknya Doni. sontak membuatnya merasa sangat terkejut dengan sigap berusaha membilas air matanya, yang sudah membasahi pipi. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Eh kakak," Balas Alfin dengan tersenyum panik, karena sangat terkejut dengan kehadiran kakaknya yang tiba-tiba menghampirinya.

Terlihat kak Doni terdiam sejenak memandangi wajah Alfin yang dipenuhi oleh kecemasan........!

"Wah aaah.. kaa-mu rajin banget kerjanya Fin, ibu pasti bangga deh melihat kamu rajin begini," ucap kak Doni dengan senyuman teduh dari raut wajahnya.

"Hehe... eeeh. I-ya kak, Fin harus berbakti pada ibu dan ayah. Makanya Fin harus rajin bekerja," Balas Alfin yang membuat suasana seketika semakin menjadi canggung.

Terlihat mereka berdua terdiam sejenak memandangi satu sama lain karena merasa kebingungan memberikan respon seperti apa lagi?

"Eee!....kamu baik-baik saja kan Fin? soalnya matamu merah banget lo, nanti kakak beliin obat ya," balas kak Doni yang sangat menghawatirkan kondisi saudaranya Alfin.

"Anu... Itu.. kak!... sebelumnya Fin nyuci piring aah, terus Alfin tadi sempat juga memotong bawang kak. jadinya.... Eee... mata Fin sampai merah gini kak," balas Alfin yang berusaha berkilah demi mengelabui kakaknya, supaya tidak melibatkan sang kakak dalam masalah dengan dirinya.

"Oh, gitu ya. Tadi sempat memotong bawang ya, hmm..... tapi kok sekarang Fin cuci piring? tadi katanya motong bawang. Bawangnya gunanya buat apa ya Fin?," tanya kak Doni dengan senyumannya lagi yang terlihat dari sorot matanya semakin lembut memandang teduh wajah saudaranya Alfin.

"Eee?.... Itu kak! Fin tadi...."

"Iya-iya kakak paham kok Fin, sini kakak bantuin membasuh piring kotornya itu kamu siram aja sisanya ya," balas Doni yang mengetahui semua maksud dari saudaranya Alfin. Di dalam hatinya sangat takjub sekaligus tak tega dengan kondisi Alfin yang masih saja membohongi dirinya, demi tidak melibatkan kakaknya dalam masalah besar.

"Duh jangan deh kak Alfin bisa sendiri kak, lagian kakak sedang belajar juga kan? nanti kakak dimarahin ibu Lo!" balas Alfin supaya memperingati kakaknya agar tidak terlihat masalah dengannya.

"Maka dari itu kakak kesini Fin, buat bantuin Kamu,"

"Tapi kak?...,"

"Udah... Sini piringnya Fin," balas kakaknya dengan suara pelan se-sekali mengamati ruangan tengah agar tidak di ketahui oleh sang ibu.

"Tapi kak?" balas Alfin yang merasa semakin ngak enakan dengan kakaknya.

"Tadi ibu pergi belanja ke pasar, jadinya kakak mau bantuin Kamu biar cepat selesainya dan juga kakak juga mau bantuin buang pecahan piring itu. kalau ibu Nanti pulangnya cepat, kamu juga bisa dimarahi lagi Fin!" ucap Kak Doni memperingati saudaranya dengan mulai membantu pekerjaan rumah dengan sangat tergesa-gesa.

"Tapi kak, kalau kakak?....,"

"Sudah cepat Fin kasih semua piring kotornya, Nanti ibu keburu pulang!" balas kakaknya yang sangat menghawatirkan kondisi saudaranya Alfin.

Karena tidak ada pilihan lain Alfin terpaksa mengikuti perintah sang kakak. Mereka berdua terlihat bekerja sama dengan sangat kompak membantu satu sama lain, membersihkan semua piring yang ada. Bahkan kak Doni juga telah membersihkan semua pecahan piring yang berserakan. Hingga Terdengar suara Agus yang sangat lantang memanggil-manggil nama kakaknya Doni dari ruangan tengah.

"Kak kakak kemana sih? masih lama banget pub nya ya, bantuin adek dong kak, rumus ini susah banget kak," panggil Agus yang terus-terusan memanggil nama kakaknya Doni dengan suara yang terdengar semakin keras.

"I-ya, iya Gus kakak udah mau selesai nih bentar lagi kakak ke sana ya," balas Doni dengan suara yang lantang juga.

"Fin kakak belajar dulu ya, oh i-ya nanti malam kakak ajarin kamu belajar deh, sekitar jam 9 malam kakak pergi dulu ya," ucap kak Doni yang terlihat terburu-buru pergi ke ruangan tamu.

"Tunggu kak?" balas Alfin seraya menahan tangan kakaknya. "Kakak mau ajarin Fin belajar? ngak usah deh kakak! apalagi malam-malam. kakak harus istirahat juga balas Alfin yang berusaha menolak keras tawaran kakaknya,"

"Sudah jangan banyak omong Fin, pokoknya malam nanti kalau kakak ketuk pintu kamarmu tiga kali kamu buka ya, itu pasti kakak,"

"Tapi kakak?...,"

"Sudah kakak pergi dulu...,"

Langkah Doni terhenti, mengetahui ibunya yang terlihat sedang membawa banyak barang-barang belanjaan sehabis sepulang dari supermarket.....!

"Loh Doni, kok kamu ada disini Don? ngapain kamu, nggak belajar ya?" tanya ibu dengan suara yang sangat lantang menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Anuu!.. bu!... itu!.."Aaah,,, Doni tadi sehabis keluar dari WC, jadinya langsung nanyain tuh obat mules pada Alfin tadi Bu! makanya Doni ada di sini," dusta Doni yang berusaha mengelabui sang ibu supaya mengurangi kecurigaan terhadap mereka berdua.

Mendengar suara lantang ibunya, sehabis pulang dari supermarket. Agus langsung melangkah cepat nimbrung pembicaraan mereka.

"Iya bu," balas Agus yang berusaha meyakinkan ibunya. "tadi Agus dan kakak emang sedang belajar bu, karena kebelet sesuatu kakak jadinya ke belakang dulu hmm.. katanya sakit perut mungkin aja tadi abis pub hahaha," tawa Agus seperti mengolok-olok kakaknya.

"Betul itu Doni?" tanya ibu.

"I-ya Bu!"

"Kalau gitu, Nanti Ibu beliin obat diare ya sayang, oh i-ya ibu tadi dari supermarket. ibu sempat beliin kalian perlengkapan belajar mahal nih, liat nih ada banyak malah. ada bonus jam tangannya juga," ucap ibu dengan senyuman bahagia terukir indah dari raut wajahnya.

Alfin yang mengetahui dirinya, pasti tidak di belikan perlengkapan belajar seperti saudaranya. Hanya terdiam senyap melihat kebahagiaan mereka berdua, meskipun di dalam hatinya merasa sangat iri dengan mereka berdua. Alfin tetap saja tersenyum memandangi kebahagiaan ibu dan kedua saudaranya, karena menurutnya, sudah bisa melihat wajah senyum ibu saja sudah cukup baginya.

"Wah terimakasih banyak bu," balas Agus dan Doni melihat sangat bahagia dengan perlengkapan belajar yang baru dibelikan ibunya.

"Oh iya, untuk Alfin mana ya bu?" tanya Doni kepada ibunya.

"Anak ini ya," balas ibu yang seketika wajahnya kembali terlihat sangat kesal menatap Alfin.

"Eee..! nggak papa kok kak! Alfin ngak usah di beli-in, sayang banget kalau dibelikan 3 buah. nanti uang belanja ibu pasti banyak yang habis," balas Alfin tersenyum kepada kakaknya.

"Siapa yang mau membelikan perlengkapan belajar buat kamu, enak aja kamu ya. Kamu kira Ibu sengaja membelikan kotak belajar ini untuk anak yang suka malas-malasan seperti kamu. punya kamu itu perlengkapan sisa, dari mereka. Biar otak cerdas mereka bisa tertular sama otak bodoh mu itu," balas ibu dengan nada tinggi melototi Alfin dengan lirikan sinis.

Alfin yang mengetahui respon ibunya akan seperti ini. Dirinya hanya bisa menunduk pilu atas segala perkataan kasar yang dilontarkan oleh ibunya.

"Sudah bu, sudah kasian Alfin. Doni tadi sempat liat Alfin abis mencuci semua piring kotor diatas meja dan semua pecahan piring yang berserakan tuh lihat Bu , kebetulan tadi Doni lewat. Terlihat banyak banget Bu jadi ibu, Alfin udah berusaha mengerjakan perintah itu tadi. Jadi.. Hmm.. Ibu jangan terlalu keras sama Alfin ya bu , kasian dek Alfin," balas Doni yang berusaha menenangkan ibunya sekaligus ingin memberitahukan bahwa semua piring yang kotor tadi sudah dibersihkan semua oleh alfin.

"Betul itu Fin?" tanya ibu kepadanya seraya ibu melangkah pelan mendekati tumpukan Pring yang sebelumnya berserakan serta hendak mendekati rak lemari piring untuk memastikan pengakuan itu apakah benar-benar dikerjakan,

"Lantai sudah bersih kalau piring kotornya?"

"hmm...anu!... Itu!" Alfin dengan perasaan takut, sekaligus tidak berani berbohong. Karena menurutnya yang membersihkan itu semua bukan dirinya sendiri melainkan dengan bantuan kak Doni. terlihat kak Doni mengedipkan matanya, sebagai isyarat untuk aba-aba bahwa yang membersihkan semua pecahan kaca dan piring kotor itu harus dirinya sendiri, demi bisa mengelabui ibu dari kemarahannya.

Terpopuler

Comments

Sweetdark

Sweetdark

makanya perlu belajar 'tentang parenting' sebelum punya anak, tugas orng tua kan mengajarkan, bukan menyuruh 😌 apalagi menuntut

2024-12-25

0

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Lah si emak sibuk mengutuk. Gmn hidup anak jd berkah klo disumpahi melulu.

2024-06-05

1

Kaede Fuyou

Kaede Fuyou

Pulang kerja langsung baca cerita, seru banget!

2024-05-09

2

lihat semua
Episodes
1 rintihan sunyi memecah kalbu
2 mengandung anak bawang
3 malaikat tak bersayap
4 tantangan keluarga
5 belajar dari kenyataan
6 anak buangan
7 aku selalu disalahkan
8 mereka manusia baik
9 aku akan berusaha
10 perempuan misterius
11 pelajaran kehidupan
12 ketabahan hati
13 rencana kehidupan
14 pemuda misterius
15 situasi genting
16 situasi baru
17 serigala berbulu domba
18 firasat buruk
19 manusia berhati iblis
20 pertolongan yang mahakuasa
21 kebingungan
22 tidak ada pilihan lain
23 merubah orang-orang di sekitarnya
24 secarik kertas untuk langit
25 ruang rindu berbalut pilu
26 penghujung bibir jurang
27 dua hati di satu sisi
28 ketegangan 1
29 ketegangan 2
30 ketegangan 3
31 tenggelam dalam belaiannya
32 pasrah dengan maut
33 Arti penting dari kehidupan
34 bermain dengan garis takdir
35 suratan tangan
36 betapa sulitnya menerima kenyataan
37 ku tutipi pesan untuk mu
38 kebangkitan sang pecundang
39 kebangkitan si malang
40 menyadari pentingnya arti persaudaraan
41 dasar akan penderitaan yang sama
42 senyuman dibalik ribuan topeng
43 bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44 harus dewasa dengan keadaan
45 mengarungi luasnya dunia
46 pusaran garis takdir
47 diantara dua pilihan
48 jurang yang sangat dalam
49 awal dari balas dendam
50 benang waktu yang terhubung menjadi satu
51 teka teki menjawab semuanya
52 pertemuan yang sangat menyakitkan
53 waktu telah mengubah semuanya
54 bersandiwara dari awal rencana
55 hancur berantakan
56 diantara 2 persimpangan jalanan
57 konflik antara keluarga besar
58 bidak mana yang akan kalian jalankan
59 apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60 konflik diantara 2 keluarga besar
Episodes

Updated 60 Episodes

1
rintihan sunyi memecah kalbu
2
mengandung anak bawang
3
malaikat tak bersayap
4
tantangan keluarga
5
belajar dari kenyataan
6
anak buangan
7
aku selalu disalahkan
8
mereka manusia baik
9
aku akan berusaha
10
perempuan misterius
11
pelajaran kehidupan
12
ketabahan hati
13
rencana kehidupan
14
pemuda misterius
15
situasi genting
16
situasi baru
17
serigala berbulu domba
18
firasat buruk
19
manusia berhati iblis
20
pertolongan yang mahakuasa
21
kebingungan
22
tidak ada pilihan lain
23
merubah orang-orang di sekitarnya
24
secarik kertas untuk langit
25
ruang rindu berbalut pilu
26
penghujung bibir jurang
27
dua hati di satu sisi
28
ketegangan 1
29
ketegangan 2
30
ketegangan 3
31
tenggelam dalam belaiannya
32
pasrah dengan maut
33
Arti penting dari kehidupan
34
bermain dengan garis takdir
35
suratan tangan
36
betapa sulitnya menerima kenyataan
37
ku tutipi pesan untuk mu
38
kebangkitan sang pecundang
39
kebangkitan si malang
40
menyadari pentingnya arti persaudaraan
41
dasar akan penderitaan yang sama
42
senyuman dibalik ribuan topeng
43
bersumpah untuk menelan ribuan jarum
44
harus dewasa dengan keadaan
45
mengarungi luasnya dunia
46
pusaran garis takdir
47
diantara dua pilihan
48
jurang yang sangat dalam
49
awal dari balas dendam
50
benang waktu yang terhubung menjadi satu
51
teka teki menjawab semuanya
52
pertemuan yang sangat menyakitkan
53
waktu telah mengubah semuanya
54
bersandiwara dari awal rencana
55
hancur berantakan
56
diantara 2 persimpangan jalanan
57
konflik antara keluarga besar
58
bidak mana yang akan kalian jalankan
59
apa yang kita tanam itulah yang kita tuai
60
konflik diantara 2 keluarga besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!