Aku dan Tasya berjalan menelusuri koridor sekolah hendak menuju ke kelas, sesampainya di kelas kami berpapasan dengan Alya.
"hai, pagi Al"ucap Tasya sembari melambaikan tangannya, tetapi Alya hanya melihat sekilas lalu segera menuju ke bangkunya
"kamu marahan yah sama Alya"tanyaku pada tasya
"entah mungkin dia lagi dapet makanya nggak mood, udah yuk duduk"ucap Tasya sembari menggenggam tanganku dan berjalan menuju bangku kami
"OHH iya Nala gue bawah nih buku catatan pelajaran kemarin, Lo pasti belum salin kan soalnya gue nggak lihat lo baca pesan gue" ucap Tasya sembari membuka resleting Tasnya
"iya, makasih yah"ucapku sembari mengambil buku catatan yang di berikan oleh Tasya
"ohhh Lo udah bisa bicara yaa, padahal gue kira Lo bakalan bisu selamanya" ucap Alya sembari menatap sinis ke arah ku
"aku hanya ingin lebih terbuka, nggak ada salahnya kan, aku juga ingin lebih berbaur agar aku nggak kesepian"ucapku membalas tatapan Alya
"salah, Lo harus nya ngaca siapa Lo, Lo itu nggak pantas punya teman, seharusnya Lo itu sadar diri nggak ada yang mau deketin Lo karena Lo itu pembawa sial bagi keluarga Lo dan orang disekitar Lo" ucap Alya dengan nada marah hendak pergi dari kelas
Tasya yang mendengar ucapan Alya barusan pun reflek berdiri dan memukul meja, menatap sinis ke arah Alya
"Alya udah, Lo itu nggak boleh bicara kaya gitu Nala juga manusia dia juga perempuan, seharusnya sesama perempuan kita harus support bukannya malah menjatuhkan kaya gini" ucap Tasya dengan nada marah
"Lo berubah sya, Lo bukan lagi Tasya yang gue kenal, Lo lebih belain anak haram itu daripada sahabat Lo sendiri" ucap Alya sembari menunjuk ke arahku
Aku melihat wajah tasya begitu sangat marah, bahkan kini Tasya mengepal kan kedua tanganya sangat kuat hingga kukunya terlihat putih, aku tak pernah melihat Tasya semarah ini. Tapi mengapa dia begitu marah Alya mengatakan hal itu untuku bukan untuknya tetapi mengapa dia yang begitu terlihat sangat marah, bukankah yang dikatakan Alya benar aku hanyalah anak haram yang tak di inginkan oleh orangtuaku
"Alya" teriak Tasya lantang, yang berhasil membuat seisi kelas melihat kearah kami
Aku berdiri mencoba menenangkan tasya, tak lama lagi pelajaran akan dimulai aku tak ingin ada perkelahian hanya karena Tasya membela ku
"Tasya udah, aku nggak apa-apa kok, lagian apa yang Alya bilang ada benarnya" ucap ku sembari menuntun Tasya untuk duduk kembali.
Tasya kembali duduk dengan perasaan yang masih begitu marah, Alya? Alya sudah pergi meninggalkan kelas saat Tasya meneriakinya, aku mencoba menenangkan tasya dengan cara mengelus punggung belakang Tasya seperti yang kak Arya lakukan padaku pada hari itu.
Perlahan amarah Tasya mulai padam wajahnya sudah tak memerah lagi bahkan sekarang kepalan tangannya sudah dia lepas, aku melihat ke arah telapak tangan Tasya ada beberapa luka disana yang aku yakini itu terjadi karena dia terlalu menekan kukunya.
Apa yang dilakukan Tasya barusan berhasil membuat ku merasa tenang, karena perkataan Alya barusan benar-benar menyakiti ku walaupun itu fakta, tetapi itu benar-benar menyakiti ku dan selama ini tak pernah ada yang membela ku, apa yang dilakukan tasya benar-benar membuatku semakin percaya bahwa kita tak bisa hidup sendirian kita membutuhkan teman dan kini aku percaya bahwa Tasya akan menjadi teman baikku.
Perlahan aku sudah mulai keluar dari lingkaran hitam yang telah mengurung ku selama ini, memiliki teman jatuh cinta benar-benar bisa membuat kehidupan seseorang menjadi lebih berwarna, dan kini aku sudah tahu apa tujuan hidupku.
Menjaga dan menolong orang-orang yang berharga bagi hidupku, aku tak akan membiarkan kebahagiaan ini hilang lagi dari diriku, lembaran baru akan segera dibuka. SYAHNALA ANINDYA telah lahir kembali menjadi gadis yang memiliki seseorang teman yang akan dia lindungi
Tringg tringgg tringgg
lamunan ku buyar seketika saat bel jam pertama berbunyi.
Ibu Retno masuk tanpa membawa buku pelajaran hal itu yang membuatku bertanya-tanya
"oke, baiklah anak-anak 3 hari lagi sekolah kita akan berulang tahun, dan guru-guru dan pihak OSIS telah menyusun suatu acara yang akan mengisi sekolah kita, acaranya dilakukan selama 3 hari dan pihak OSIS telah menyiapkan beberapa lomba yang akan di ikuti setiap kelas, salah' satunya basket, sepakbola, menari, dan masih banyak lagi kalian bisa lihat di Mading nanti, oh iya bagi yang ingin mengisi acara juga boleh misalnya kalian punya band atau kalian ingin bernyanyi bisa juga, langsung aja konfirmasi ke ruang osis, itu aja yang mau ibu sampai kan mungkin 3 hari kedepan pelajaran kita akan tertunda karena persiapan ulang tahun sekolah, itu aj yang mau ibu sampaikan OHH iya perwakilan setiap kelas silahkan konfirmasi sama wali kelas kalian yaaa" ucap Bu Retno menjelaskan
"gue nggak ada bakat, mungkin gue bakalan jadi penonton aja" ucap tasya murung
Tasya melihat ke arahku, aku pun membalas tatapan Tasya bertanya-tanya apa yang dia inginkan?
"Nala, bakat Lo apa"tanya Tasya penasaran, yang hanya bisa kubalas gelengan kepala
"nggak mungkin, nggak ada Lo itu juara kelas yah emang sih Lo itu agak misterius dan pendiam,tapi ini kesempatan Lo buat lebih terbuka, Lo harus nunjukin bakat Lo ke orang-orang biar orang-orang tahu kalo di sekolah ini ada gadis cantik bernama SYAHNALA" ucap Tasya
"bakat yaa, apa baca buku itu termaksud bakat" tanya ku pada Tasya yang dibalas dengan ekspresi wajah tasya yang sulit untuk di artikan
"ayolah Nala masa Lo nggak punya bakat sih"ucap Tasya dengan wajah cemberut
"aku bisa main piano, ta-tapi itu nggak terlalu lancar aku hanya memainkan piano sat aku lagi sendiri di rumah" ucap ku gugup
"piano yaaa, ehh tapi orang yang bisa main piano sudah pasti dia bisa nyanyi"ucap tasya sembari mendekatkan wajahnya padaku
"ehmm aku rasa suara tidak begitu bagus"ucapku ragu
"hah, gini aja kita keruang seni aja sekarang lagian kita kan nggak belajar, jadi kita bisa keruang seni buat main piano dan tes vokal Lo"ucap Tasya dengan senyuman bangga
"ta-tapi itu pasti itu bakalan banyak orang bukan"ucapku
"kita ajak kak Arya aja, kan kak Arya itu punya ruangan sendiri buat band dia gue juga yakin disitu pasti ada pianonya"ucap Tasya
"band? Kak Arya punya band" tanyaku penasaran
"iya Lo baru tahu yaa, kalo nggak salah nama bandnya itu bintang sekolah, norak sih tapi isinya cogan semua" ucap tasya
" emang siapa aja anggotanya"tanyaku penasaran
"ada kak Arya sebagai gitaris,kak Raka sebagai vokalis,dan kak Hilman drummer itu aja sih setahu aku"ucap tasya
"Hilman aku baru denger, dia teman sekelasnya kak Arya yaa?" tanyaku lagi
"iya tapi dia dapat siswa penukaran di luar negeri jadi yaa tinggal kak Arya Ama kak Raka aja, makanya band nya udah nggak berjalan, emang sih banyak yang bis amain gitar tapi kalo cari pengganti teman kita itu susah Lo" ucap Tasya menjelaskan
"itu berarti nggak ada pianonya kan di dalam ruangan itu, pasti hanya ada drum dan gitar" ucapku
"pepatah mengatakan malu bertanya sesat dijalan, ada baiknya kita tanya kak Arya dulu nggak sih" ucap Tasya
"tapi, aku masih malu buat ketemu kak Arya" ucapku sembari menundukkan kepalaku
"ternyata cewek cuek kalo lagi jatuh cinta jelek yaa" ucap tasya yang membuat ku memasang ekspresi cemberut
"loh kok cemberut, dari pada cemberut di situ mending kita ke kantin"ucap kak Arya yang entah datang dari mana
Aku reflek melihat kearah pintu dan benar saja disana sudah ada kak Arya dan kak Raka berdiri, dengan senyuman manis kak Arya yang berhasil membuat ku menjadi salah tingkah
"gini kak Nala mau dangdutan di acara HUT sekolah kita nanti"ucap tasya yang membuat ku reflek menutup mulutnya
"lo bisa nyanyi dangdut nal, hahaha orang sedingin Nala ternyata suka nyanyi dangdut" ucap kak Raka sembari tertawa yang membuatku semakin kesal
"kamu yakin mau nyanyi dangdut nal?"tanya kak Arya yang membuatku semakin malu.
Aku pun bergegas berdiri berjalan ke arah mereka lalu menginjak sepatu kak Raka dengan sangat kencang
"aduh sakit anjir" jerit kak Raka
"Nala tunggu"ucap kak Arya sembari berlari kecil mengejar ku
" aduh gue salah ngomong, sorry Nala hehe" ucap Tasya dengan cenggiran
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments