Dinotice Taylor Swift

Raka mengantarkan Vyora kembali ke rumahnya, di tengah perjalanan Vyora tertidur karena kelelahan. Saat sudah sampai di rumahnya, Raka tidak tega untuk membangunkan Vyora karena sudah sangat terlelap dalam tidurnya.

Tak ada cara lain, Raka harus menggendongnya. Tidak mungkin Raka membiarkannya tertidur di mobil sampai pagi.

Raka pun mengangkat Vyora secara perlahan, membawanya masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang lembut agar tidur Vyora tidak terusik.

Begitu masuk ke dalam rumah, Raka menemukan kevan di ruang tamu seolah sedang menunggu kedatangan mereka. Raka melangkah melewati kevan seperti angin lalu, tidak menyapa atau sekedar tersenyum. Calon adik ipar kurang ajar.

Raka meletakkan tubuh Vyora di kasur, kemudian menyelimutinya dengan selimut. Raka menyunggingkan senyuman saat matanya melihat Vyora tertidur dengan nyaman. Melihatnya tenang seperti itu membuat wajah Vyora menjadi semakin cantik. Raka jadi ingin terus memandanginya dan ingin tidur di sebelah Vyora. Sabar Raka, belum sah.

Pandangan Raka kini beralih menelusuri kamar Vyora yang di dominasi warna pink, Raka juga melihat boneka yang ia beri tersimpan di samping Vyora.

Raka kembali menatap Vyora, kini ia mensejajarkan dirinya dengan Vyora yang terbaring di kasur. Ia menatap dalam perempuan yang akan menjadi pendampingnya itu, sesekali Raka membenarkan rambut yang menghalangi wajah Vyora. Kemudian Raka mencium lembut secara singkat keningnya, "tidur nyenyak, Vyora."

Di luar kamar, sudah ada kevan yang sedang menunggu, siap menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang jawabannya sangat ingin diketahui Kevan.

"Kamu membawa Vyora kemana?"

"Vyora sedang tidur, jangan di sini."

Raka dan kevan berpindah tempat menunju halaman rumah. Agar obrolan mereka tidak mengganggu siapapun di dalam rumah.

"Apa?" Ketus Raka.

Mengapa jadi Raka yang bertanya? Harusnya kevan yang bertanya pada Raka karena telah membawa adiknya secara tiba-tiba di malam hari seperti penculik. Untungnya dipulangkan kembali.

"Alasan apa kamu tiba-tiba datang dan membawa Vyora di malam hari?"

"Saya hanya mengajaknya makan malam. Kamu tidak kamu, saya tidak melakukan apa-apa"

Abang mana yang tidak khawatir ketika adik perempuannya yang masih pubertas tiba-tiba dijodohkan lalu di malam harinya dibawa pergi.

Dan apa katanya tadi? Tidak melakukan apa-apa? Lalu membawa pergi Vyora dan menciumnya itu apa? Agak lain Raka ini.

"Aku ga ngerti kenapa kamu tiba-tiba kayak gini Ka. It's okey kalau kamu suka sama Vyora, tapi jangan sampai kamu berbuat kasar padanya."

Kevan tau saat Raka menarik tangan Vyora dengan kasar, ia memperhatikan raut wajah Vyora yang kesakitan waktu itu. Mungkin orang tuanya juga mengetahuinya, namun memilih diam dan membiarkan Vyora dibawa pergi.

Raka masuk ke dalam mobilnya dan pergi tanpa pamit dan tanpa membalas ucapan kevan. Raka tidak membalas karena ia tidak yakin bahwa dirinya menyukai seseorang.

...****************...

Sayup-sayup mata Vyora perlahan terbuka kala mentari pagi menyapa di sela-sela gorden kamarnya. Tak lama kemudian jam weker berbunyi, menyadarkannya.

Vyora duduk setengah sadar, sebagian dirinya masih berada di dalam mimpi. Tadinya Vyora berniat untuk melanjutkan mimpinya, namun setelah melihat jam yang telah menunjukan pukul 07.06 mau tidak mau tubuhnya harus bangkit untuk mandi.

Sunshine high school memiliki jadwal masuk yang berbeda setiap harinya. Dan itupun sudah ditentukan. Hari ini sekolah masuk jam 08.00 jadi Vyora bisa sedikit lebih santai.

Vyora melangkahkan kakinya dengan rasa malas bersentuhan dengan air. Setelah berdiri di hadapan wastafel mau tidak mau Vyora tetap harus menyentuh air. Vyora kemudian menyikat giginya. Vyora bercermin memperlihatkan wajah bantalnya. Jelek. Pikirnya.

Kalau Vyora yang cantiknya itu bisa meluluhkan hati Raka, kevan, Ethan, Ragas dan laki-laki yang tak terhingga jumlahnya, baik itu dari sosmed maupun di kehidupannya, dan Vyora merasa wajahnya jelek. Kalau Vyora jelek lalu aku apa?. Rempahan rengginang?.

Disaat sedang mencuci wajahnya, sekilas samar-samar Vyora teringat mimpinya semalam. Vyora terdiam untuk mengingat dan berusaha memperjelas ingatan dalam mimpinya. Vyora mengingatnya. Keningnya dicium. Sabun wajah yang tiba-tiba masuk ke dalam mata Vyora membuatnya perih.

"Aduh, perih." Dengan cepat Vyora membilasnya.

Vyora tidak perlu lama untuk bersiap, Vyora hanya menggunakan bedak dan lipblam yang tipis. Tidak seperti kebanyakan anak sekolah yang lain, memakai make-up berlebihan.

Vyora pun turun menyusul keluarganya yang sudah ada di meja makan.

"Pagi ayah, mamah." Sapa Vyora dengan ceria.

"Pagi juga cantik," sapa letta dengan senyuman.

"Abang ga disapa nih?" Kevan sebal karena hanya dirinya saja yang tidak disapa.

"Ga mau, Abang jelek." Ucapnya kemudian duduk di sebelah kevan.

"Jelek-jelek gini juga pernah dinotice Taylor Swift" Sombongnya. Memang benar kevan pernah dinotice Taylor Swift saat menonton konsernya di London. Dan itu merupakan salah satu kebanggaan dan pencapaian yang terbesar dalam hidupnya. Dinotice Taylor Swift. Pasalnya kevan sudah mengidolakannya sejak jaman SMA.

"Iya, Abang dinotice mba Taylor karena Abang terlalu jelek." Vyora memang selalu tidak mau kalah, setiap ada orang yang beradu mulut dengannya, Vyora pasti akan terus melawannya sampai menang. Jadi jangan heran untuk kejadian yang di kafe.

"Udah jangan berantem, masih pagi," sahut Geano.

"Berarti nanti malem boleh berantem ya ayah," ucap Vyora. Vyora memang suka mencari ribut dengan abangnya itu, walaupun akhirnya Vyora akan menangis jika kevan melawannya. Kemudian Vyora mengadu pada orangtuanya. Dan jadilah kevan yang dimarahi.

"Dilawan nangess" balas kevan. Vyora terkekeh Karena memang itu kenyataannya, kemudian ia menyantap oatmeal yang telah dihidangkan oleh letta.

Vyora menghabiskan sarapannya, suasana hati Vyora pagi ini sangat cerah, secerah masa depannya. Wajahnya yang berseri-seri pun tidak dapat disembunyikan. Entah mengapa, Vyora juga heran.

"Lagi senang gitu ya kelihatannya," ucap letta yang sedari memperhatikan anak gadisnya itu.

"Iya dong senang, orang tadi malam abis jalan sama Raka" sahut Geano. Vyora yang sedang minum tersedak setelah mendengar ucapan ayahnya itu.

Vyora pikir yang semalam itu hanya mimpi. Lalu ciuman di keningnya? Tidak, yang itu pasti hanya mimpi. Tapi kenapa sangat terasa jelas? Tidak tidak tidak. Vyora yakin itu hanya mimpi. Vyora menangkis semua yang ada dipikirannya. Vyora tidak ingin membuang tenaganya untuk memikirkan hal seperti itu.

"Oh iya Vyora. Raka mengirimkan pesan pada mamah, katanya hari ini dia ga bisa ngantar kamu ke sekolah. Ada urusan mendadak di kantor katanya," ucap letta.

Malas banget denger namanya di pagi hari,

Siapa juga yang mau dianterin sama dia.

Moodnya langsung berubah kala mendengar nama Raka kembali disebut. Vyora memandang malas pada mamahnya. Letta hanya memasang raut wajah tersenyum.

"Vyora sarapannya udah selesai, Vyora mau berangkat sekolah dulu" Vyora berdiri dari tempat duduknya.

Kenapa kevan dan ayahnya tidak ikut berdiri?.

Vyora bergantian menatap kedua laki-laki itu. "Ini ga ada yang mau nganterin Vyora ke sekolah?"

"Ayah sibuk, mau ke kantor."

"Kalo abang?!"

"Ogah, ga mau. Tadi kamu bilang Abang jelek"

"Abanggg" rengek Vyora.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!