perihal meja

"Apa kamu bilang?!" Vyora tidak terima dirinya disebut tidak tahu sopan karena menduduki meja yang telah dipesan pacarnya.

Kevan menghela nafas ringan, ia tidak habis pikir dengan mereka, hanya karena meja? Mereka berdebat?!. Entah apa jadinya jika mereka tinggal dalam satu rumah, dalam satu hari pun sepertinya rumah yang mereka tempati akan menjadi pesawat pecah.

"Hanya karena meja? Kalian berdebat? Masih ada meja kosong loh padahal."

"Ga mau, masalahnya meja ini udah dipesen sama pacar aku!" Tukas Vyora.

"Saya yang mesan" Rashaka bersikukuh.

Kevan mengusap wajahnya frustasi, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah.

"Begini aja, kita tanya pelayan siapa yang udah mesen meja ini" usul kevan.

"Okey, biar aku yang manggil pelayan nya" Vyora memanggil pelayan yang melayani reservasi.

"Mba, orang yang udah mesen meja ini siapa?" Tanya Vyora.

"Meja ini telah dipesan oleh tuan Rashaka Abumi Shankara,"

Rashaka tersenyum dengan penuh kemenangan.

"Maaf sepertinya terjadi kesalahpahaman penerima tamu, di sini hanya tertulis nama belakangnya saja, Geovan."

Kevan mengangguk, ia mengerti kenapa perdebatan ini terjadi. Kesalahpahaman penerimaan tamu, karena nama belakangnya dan nama belakang Vyora hampir sama.

"Baiklah kalau begitu, anda bisa pergi" ucap Raka pada pelayan.

Sementara tubuh Vyora diam membeku, ia menahan rasa malu yang sudah tidak tertolong.

Tidak lama kemudian, ponsel Vyora berdering. Ternyata yang menelponnya adalah pacarnya, Vyora sedikit menjauh dari kevan dan Raka, lalu mengangkat telponnya.

"Ra, maafin aku ya. Hari ini aku ga bisa dateng, ada sesuatu yang mendadak"

"Kamu ga pesenin aku meja?"

"Apa?"

"Aku tanya kamu ga mesenin aku meja?, Kalau ga bisa dateng kenapa ga bilang dari awal?!"

"Maaf, Ra. Aku sibuk, udah dulu ya" Pacar Vyora menutup telponnya.

Vyora kesal, sangat kesal. Ia melirik tajam ke arah Raka dan kevan. Karena malu, Vyora memutuskan untuk pergi dari kafe.

"Maafin adek gue ya, ka. Dia emang agak keras kepala orangnya" kevan mewakilkan permintaan maaf sebagai Abangnya.

"Tadi itu adek kamu?"

"Iya, Vyora. Masa kamu ga ingat"

Ahh ternyata dia.

...****************...

Kini Vyora sedang berada di halte bus, ia tenggelam dalam renungannya. Ia benar-benar malu, andai saja waktu bisa diulang kembali.

Dretttt drettt

Deringan ponsel Vyora menyadarkannya dari lamunan, ia mengangkat panggilan tersebut yang merupakan panggilan dari kevan.

"Apa?" Ketusnya.

"Vya, kamu dimana? Balik lagi sini, ke kafe!"

"Abang gila?! Nyuruh aku buat balik lagi ke sana, engga mau lah, malu. Mau disimpen di mana muka aku"

"Kamu belum minta maaf, Vyora. Kamu ga merasa bersalah?"

"Tinggal Abang wakilin aja permintaan maaf aku, apa susahnya sih?!"

"Ga bakal dimaafin kalo bukan orangnya langsung yang minta maaf"

Vyora mengerutkan dahinya.

"Ya udah, kasih telpon ini ke orangnya!"

"Raka maunya kamu minta maaf langsung, dia juga ga Nerima permintaan maaf lewat telpon."

"Raka?!" Vyora merasa tidak asing dengan nama itu.

"Iya, Raka temen Abang. Yang pernah Abang ceritain ke kamu"

Vyora mendecak kesal "Iya, iya. Aku ke sana" ia benar-benar kesal dan sebal pada Rashaka. Kenapa ada orang yang menyebalkan seperti itu di dunia ini?.

...****************...

Kevan sedari tadi memikirkan scenario yang ia buat untuk Vyora dan Rashaka, jalan cerita seperti apa yang akan terjadi selanjutnya?. Ia membayangkan beberapa adegan sinetron dramatis yang ia tonton 3 hari yang lalu, tokoh utama perempuan yang tiba-tiba datang lalu menumpahkan air pada tokoh utama laki-laki karena marah. Sepertinya akan seru jika itu terjadi pada mereka, namun adiknya tidak mungkin sekejam itu.

Kemudian kevan memikirkan judul yang cocok untuk mereka, setelah memikirkannya ia rasa judul ini cocok untuk mereka, 'mempertemukan kembali dua orang yang tidak mengetahui bahwa mereka telah dijodohkan.' Memikirkannya membuat kevan tertawa pekik.

"Van, sepertinya kamu lebih cocok menjadi pasien dibandingkan menjadi dokter." Ujar Rashaka yang baru saja kembali dari kamar mandi melihat kevan yang sedari tadi senyum-senyum sendiri, seperti oran tidak waras.

Beberapa bulan yang lalu kevan telah melaksanakan wisudanya, ia telah menyelesaikan kuliahnya di London, ia mengambil jurusan psikolog, dan kini ia mendapatkan gelar B.S. in psychology (Bachelor of science in psychology)

Dengan predikat Summa Cum Claude di usianya yang 24 tahun. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan itu semua, bahkan disaat kuliahnya ia pernah konseling ke teman sekamarnya. Namun dengan begitu, ia bangga bisa mewujudkan cita-citanya. Dan cita-citanya yang sekarang adalah membangun sebuah rumah sakit, impian itu pun sebentar lagi akan terwujud. Karena tujuan kevan dan Rashaka bertemu saat ini adalah untuk membicarakan bangunan rumah sakit yang sudah 84%.

Kevan senang mendengarkan dan membantu orang lain, walaupun terkadang ia juga membutuhkan.

Dalam waktu yang tidak lama, seseorang yang ditunggu kevan datang. Terlihat senyuman kevan mengembang di wajahnya, Rashaka yang ingin tahu apa yang membuat kevan tersenyum itu menoleh ke arah yang dilihat kevan. Raka keheranan, kenapa gadis itu kembali menghadapnya.

"Kamu mau aku minta maaf kan? Maaf!" Vyora pun berbalik badan hendak pergi. Namun dicegah oleh kevan.

"Tunggu, Vyora!"

"Apa?!"

"Mau kemana lagi?"

"Pulang lah" Vyora memang berniat hanya untuk mengatakan maaf saja pada Raka, itupun karena disuruh Abangnya.

"Sini duduk dulu, kamu belum makan pas dari rumah. Kamu pasti laper, jangan bohong"

Memang benar apa kata kevan, di rumah ia belum makan apa-apa karena rencananya ia akan makan bersama pacarnya. Namun rencananya menjadi kacau, dan ia sangat merasa lapar.

Vyora mementingkan rasa laparnya ketimbang rasa malunya pada Raka, ia mengesampingkan rasa malunya untuk bisa mengisi perutnya. Vyora pun duduk di samping kevan.

Raka yang tidak mengerti dengan keadaan hanya diam dan menontonnya saja.

"Mau makan apa?" Tanya kevan.

"Seafood"

"Seafood? Saya tidak suka bau makanan laut" sahut Rashaka.

"Yang nyuruh kamu buat nyium baunya siapa?" Vyora bertanya dengan nada menjengkelkan.

"Kamu makan di depan saya, otomatis saya akan mencium baunya."

"Pindah meja aja kalo gitu, bukannya kamu suka reservasi meja, iyakan?" Vyora mengatakannya dengan nada meledek. Membuat Rashaka benar-benar ada di puncak amarahnya, mereka saling menatap tajam pada satu sama lain, di dalam tatapan mereka seperti ada kilat yang bergemuruh.

Suasananya sangat melebihi ekspektasi Kevan, di luar prediksi. Kevan sangat puas melihatnya, situasi seperti inilah yang ia harapkan. Penuh dengan konflik.

Kevan bertepuk tangan pelan, mengapresiasi keikutsertaannya dalam konflik ini. Raka dan Vyora menoleh ke arah kevan.

"udah yuk, bubar" ucap kevan.

"kita kan belum makan" tukas Vyora.

"Udah Abang pesenin take away, biar makan nya di rumah, daripada di sini tapi kalian malah ribut mulu"

"kamu benar sekali kevan, saya juga tidak ingin makan sambil melihatnya."

"memangnya siapa juga yang mau makan sama kamu?!"

"udah, udah. Raka, nanti kita bahas lagi soal pembangunan"

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Nining Maryani

Nining Maryani

tiap hari bergelut/Facepalm/

2024-03-18

0

Pie Yana

Pie Yana

cucok mereka pasti jodoh

2024-03-14

0

Rey

Rey

Jangan terlalu tidak menyukai Vyora, soalnya benci dan cinta hanya beda tipis 😁

2024-03-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!