Lila

Raka menghidupkan mobilnya, kemudian melakukannya dengan kecepatan sedang. Tidak lamban ataupun tidak ugal-ugalan seperti cara mengemudi Vyora.

Di sepanjang jalan, tidak ada satu dari mereka yang membuka suara. Bahkan Vyora sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada luar jendela. Ia tetap memperhatikan jalanan dengan rasa yang berbeda. Kursi mobil yang didudukinya berbeda, orang yang mengantarnya berbeda, bahkan kini statusnya pun berbeda.

Ketika ia menyadari telah sampai di lingkungan sekolah, Vyora meminta Raka untuk memberhentikan nya. "Stop stop"

Raka menurut, mobilnya pun ia berhentikan. Padahal gerbangnya ada di depan, jaraknya sekitar 50 meter dari sana.

"Kenapa? Gerbang nya ada di depan."

"Udah, sampe sini aja. aku bisa jalan." Bukannya membuka kunci pintu Raka malah melajukan mobilnya.

"Heh! Heh!" Ucap Vyora sambil menepuk-nepuk tangan Raka. "Berhenti, turunin!"

Kali ini Raka tidak menuruti nya, ia sengaja agar Vyora terbiasa. Terbiasa diantar oleh Raka.

Setelah sampai di depan gerbang besar yang bertuliskan sunshine high school, barulah ia berhenti dan membuka kuncinya.

"Turun." Titahnya. Vyora tidak ingin turun karena banyak orang yang memperhatikan. Tidak diperhatikan bagaimana, mobil Raka saja paling berbeda dan paling mencolok. Bagaimana ia bisa turun dari mobil sedangkan yang mengantarnya laki-laki. Vyora bisa jadi bahan gosip di sekolah.

"Kenapa tidak turun? Bukannya tadi kamu menyuruh saya untuk berhenti? Sekarang saya sudah berhenti." Vyora mengumpat dalam hati nya. Laki-laki yang di sebelahnya itu tidak ada otak atau bagaimana? Jelas-jelas mereka jadi pusat perhatian, dan dia menyuruhnya untuk turun?. Dasar laki-laki berwajah watados (wajah tanpa dosa).

"Atau kamu mau saya untuk bukakan pintu?" Vyora menggeleng cepat.

"Engga engga. Aku bisa buka pintu sendiri."

"Kalau begitu turun, saya harus ke kantor" kalo saja Raka tidak memberhentikannya di depan gerbang, Vyora sudah turun sedari tadi.

Majuin dikit kek mobilnya biar ga pas banget di depan gerbang, kelihatan banget pengen jadi pusat perhatian.

Vyora membuka pintu mobil, seraya menunduk malu. "Vyora" panggil Raka.

"Apa?" Raka menengok dan sedikit kaget karena Raka menyodorkan black card miliknya.

"Kamu belum sarapan, beli makanan sana." Raka pikir Vyora tidak dikasih uang jajan? Sampe ngasih black card segala.

"Aku ada uang kok buat beli makan"

"Iya saya tau, kartu saya tidak ada yang make. Saya ga tau kartu ini harus saya apakan" Vyora menatap aneh pada laki-laki yang ada di hadapannya setelah mendengar alasan nya yang aneh.

Vyora tidak mengambilnya dan malah menutup pintu dengan cukup keras membuat Raka sedikit tersentak kaget.

Biasanya tidak ada wanita yang menolak jika diberi uang, itulah kalimat yang pernah Raka dengar dari seorang partner kerja nya. Namun ternyata orang itu salah, atau Vyora yang bermasalah?.

Raka tidak peduli jika Vyora bermasalah, asalkan itu Vyora, Raka akan tetap mencintai nya. Tunggu, Raka tidak mau membuat dirinya mencintai seseorang. Dan sepertinya Raka lah yang bermasalah.

Vyora tergesa-gesa saat gerbang akan ditutup oleh satpam, salahnya juga kenapa ia tidak turun dari mobil sedari tadi.

"Bentar pak jangan dulu ditutup" teriak nya. Satpam pun berhenti saat ingin menutup gerbang dan menyisakan celah kecil yang masih bisa dilewati oleh badan Vyora.

"Kenapa baru dateng jam segini neng? Biasanya juga paling awal," tukas satpam itu.

Sejujurnya selama Vyora sekolah di sini ia tidak mengenal para penghuni sekolah, termasuk satpam. Karena satpam di sekolah ini selalu ganti, seingat Vyora satpam Minggu lalu bukan yang ini.

"Begini pak Asep, bapak liat kan tadi aku diantar mobil mewah, itu tandanya aku udah jadi orang penting pak." Vyora mengetahui nama satpam itu setelah membaca nametag yang terpasang di seragam satpam.

Pak Asep mengangguk-angguk percaya. Bagaimana tidak percaya, di sekolah saja Vyora sudah pernah menyandang predikat sebagai ketua organisasi siswa intra sekolah selama dua tahun berturut-turut. Karena sekarang ia sudah naik kelas menjadi kelas 12, Vyora lengser menjadi ketua dan hanya menjadi siswa biasa.

Meskipun begitu, ketenaran Vyora tidak lengser. Ia tetap terkenal dengan kecerdasannya, kepintarannya, bakatnya, dan prestasinya yang menumpuk. Jadi pantas saja jika Vyora menjadi orang sibuk sampai-sampai diantar dengan mobil mewah.

"Ra!" Sapa Lila yang baru saja turun dari lantai atas.

Lila, pemilik nama lengkap Laila Leonora Ankara. Siswi yang sama pintarnya dengan Vyora namun masih unggul Vyora. Jika Vyora nomor satu, maka Lila lah yang menjadi nomor dua. Mereka sudah berteman sejak mereka duduk di bangku Sekolah menengah pertama. Wajah Lila itu cantik, saking cantiknya dia pernah ditawari model oleh brand fashion terkenal di kota, namun dia menolaknya karena dia tidak mempunyai waktu untuk berfoto, waktunya ia habiskan untuk belajar padahal ia sangat ingin menjadi model dan terkenal.

"Ih kamu ngagetin aja."

"Tadi dianterin siapa? Baru liat."

Baru liat? Lila melihat wajah Raka?.

"Kamu liat wajah nya?"

"Engga sih, tapi kayaknya bukan Abang kamu atau ayah kamu yang biasa nganterin. Emangnya siapa?"

"Supir pribadi." Vyora berjalan lebih cepat melewati Lila yang berada di sampingnya, membuat gadis itu tertinggal.

"Ra! Tunggu!"

...****************...

Jam pelajaran pertama dimulai, pagi ini jam pelajaran pertama diisi dengan pak Hadi, selaku guru biologi yang terkenal dengan ketegasan nya. Jika saja ada siswa yang tidak memperhatikan bahkan mengantuk, ia tidak segan-segan untuk mengeluarkannya dari kelas.

Dan saat ini Vyora sedang tidak memperhatikannya, ia tenggelam dalam lamunan, pikirannya masih sibuk dengan memikirkan kejadian tadi malam. Sesekali Vyora melihat cincin tunangan itu, pilihan calon ibu mertuanya tidak buruk. Vyora merasa cincin sangat cocok untuk nya, namun tidak dengan Raka. Jika bukan keinginan kedua orangtuanya, Vyora mana mau dijodohkan dengan Raka.

"Vyora!" Panggilan dari pak Hadi membangunkan Vyora dari lamunannya. Dan Vyora menjadi pusat perhatian di kelas tentunya.

"I-iya pak"

"Sedari tadi saya lihat kamu tidak memperhatikan saya, ada apa? Apa karena proses pembelajaran saya membosankan?"

"Engga pak, pelajaran bapak engga membosankan."

"Lalu kenapa kamu tidak memperhatikan saya?"

Vyora tidak menjawab, dan jika tida ada jawaban yang diberikan sebagai alasan, maka pertanda dirinya akan dihukum.

"Jika tidak ada alasan, kamu berdiri di luar." Sontak teman sekelas nya terkejut, selama sekolah di sunshine baru pertama kali mereka mendengar Vyora dihukum, suatu keajaiban dunia.

Vyora berdiri dengan lesu, kemudian ia berjalan keluar. Dan berdiri sesuai yang diperintahkan pak Hadi.

Semenjak bertemu dengan Raka, hidup Vyora menjadi sangat berubah drastis. Seperti malapetaka yang diberikan tuhan untuknya.

Setelah jam pelajaran pertama selesai, barulah disitu Vyora bisa kembali bernafas lega.

Pak Hadi baru saja keluar dari kelas. "Jangan sampai kamu mengulangi nya lagi." Ucapnya.

"Iya pak"

"Iya apa? Iya kamu akan mengulanginya lagi?!"

Kenapa pak Hadi ini sama menyebalkan nya dengan Raka?!.

"Iya saya tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Vyora sambil menahan kesalnya.

Pak Hadi pun pergi dari hadapan Vyora, kemudian Vyora mencakar cakar angin di tempat bekas berdiri pak Hadi.

"Kenapa kamu?" Pak Hadi tiba-tiba berbalik badan.

"Peregangan pak, pegel abis berdiri lama," ucap Vyora.

Pak Hadi pun kembali berjalan.

BERSAMBUNG

* visual Laila Leonora Ankara

Terpopuler

Comments

Rey

Rey

Udah jatuh cinta aja Raka ke Vyora

2024-03-21

0

Rey

Rey

Bukan main uang jajannya Vyora. langsung kartu black card

2024-03-21

0

Rey

Rey

Giliran Vyora yang gak mau turun 😆

2024-03-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!