menerima

Pagi ini, Raka memilih untuk bersantai sebentar di balkon kamarnya. Ia sudah lama tidak menghirup udara segar di sana, ia lupa kapan terakhir kali ia bisa bersantai seperti ini.

"Ternyata sudah banyak yang berubah, sudah berapa tahun saya meninggalkan kota ini?"

Raka menghidupkan ponselnya, ia berniat untuk memotret halaman rumahnya yang dipenuhi oleh tanaman sehat, namun Raka malah mendapatkan banyak notifikasi pesan dan berpuluh-puluh panggilan dari mamahnya yang tidak dijawab olehnya. Tidak lama kemudian mamahnya menelponnya lagi, Raka pun langsung mengangkatnya.

"Iya ma, kenapa?"

"Raka?! Kamu ini! Kenapa ga ngejawab telpon mamah?"

"Raka baru megang handphone mah."

"Halah, alasan. Kamu kan selalu sibuk, masa baru pegang hp"

"Hari ini Raka li-, ah sudahlah mah, ada apa? Kenapa mamah telpon Raka, kita itu ada di atap yang sama" Raka heran karena mamahnya menelponnya berkali-kali, padahal mereka sedang berada di atap yang sama. Kenapa mamahnya tidak langsung memanggilnya saja ke kamarnya.

"Mamah lagi ga ada di rumah, makanya nelpon kamu."

"Lalu mamah ada di mana? Kenapa mamah nelpon Raka?"

"Mamah lagi di rumah kakek kamu" kini suara Silvia berubah menjadi pilu.

Hanya dengan mendengar satu kata Kakek membuat Raka menjadi khawatir, "Kakek? Sedang apa mamah di rumah kakek? Ada apa dengan kakek?"

"Raka kamu langsung ke sini saja, keadaannya darurat Raka"

"Baiklah, Raka akan segera langsung ke sana." Tanpa berfikir panjang Raka langsung mengambil kunci mobilnya, ia sangat khawatir dengan kondisi kakek.

Sementara itu letta, pradita, dan kakek sedang mendiskusikan rencana mereka.

"Dokter yang kamu suruh gimana?" Tanya Pradita pada istrinya.

"Sebentar lagi dia akan sampai, raka juga sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini."

"Bagus kalau begitu, kakek. Kakek tahu kan harus berbuat apa?"

Kakek hanya mengacungkan jari jempolnya.

"Kita harus siap-siap."

Beberapa saat kemudian Raka pun hadir, ia menerobos masuk lewat pintu utama rumah. "KAKEK!" teriaknya.

Mendengar teriakan Raka, Silvia langsung menghampirinya. "Kakek kamu ada di kamarnya Raka"

"Raka lupa kamar kakek di mana" Raka mendapat cubitan kecil dari mamahnya.

"Aww mah! Sakit"

"Makanya sering-sering pulang, biar ga lupa rumah, ini juga termasuk rumah kamu. Kalau kakek tahu kmu lupa kamarnya kakek bisa marah, jangan bilang kalau kamu lupa wajah kakek"

"Mamah ini ngomong apa? Raka bukan cucu durhaka seperti itu sampai-sampai lupa wajah kakeknya sendiri."

Silvia membawa Raka pada kamar kakek yang terletak di belakang rumah, dekat dengan taman, dan kolam ikan, tempat favoritnya kakek di rumah. Sebenarnya itu adalah tempat favorit nenek sewaktu beliau masih hidup, karena terus ingin mengenang istrinya, jadilah kakek yang merawatnya.

Raka masuk ke dalam kamar kakek, di pojok kamar, Raka melihat seseorang yang tak asing bagi dirinya, ia memakai jas putih layaknya seorang dokter medis. Mata mereka saling bertemu, namun orang itu mengalihkan pandangannya seolah tidak melihat Raka. Raka tersenyum miring, kemudian mendekat pada kakek yang sedang terbaring lemas di kasur.

"Kakek, kakek kenapa?"

Mendengar dirinya dipanggil, kakek membuka matanya.

"Raka?"

"Iya kek, ini Raka."

Antonio prashakara, kakek Raka sekaligus penerus generasi ke 2 perusahaan, generasi ke 3 Pradita, dan untuk generasi ke 4 ini diteruskan oleh Raka. Raka sudah banyak belajar tentang perusahan dari kakek, maka dari itu Raka sangat menyayanginya.

Kakek mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian dibantu oleh Raka.

"Kakek sudah sangat tua sampai-sampai tidak mengenali wajah cucu kesayangan kakek"

"Tidak kakek, kakek masih muda. Badan kakek saja lebih kekar daripada Raka."

Kakek tertawa "kamu ini bisa saja mengejek kakek" Geano terbatuk untuk menyadarkan kakek bahwa dirinya sedang berakting sakit.

Kakek langsung menjadi melemah dan terbatuk "kebanyakan manusia hanya mengetahui usia umurnya, tapi tidak ada satupun manusia yang mengetahui sisa umur nya."

"Kenapa kakek tiba-tiba berbicara seperti itu?." Tanya kevan.

"Kakek hanya ingin memberi tahu mu bahwa meninggal bisa kapan saja, terlebih lagi kakek sudah berumur seperti ini. Bisa saja umur kakek lebih lama dari umur kamu"

"Maksud kakek, Raka bisa saja meninggal lebih dulu? Begitu?"

"Bisa saja begitu, jadi kamu manfaatkan lah umurmu dengan baik."

"Raka sudah memanfaatkannya dengan baik kek."

"Memanfaatkan apanya? Hidupmu hanya kau pakai untuk bekerja, tidak menghasilkan apapun"

"Kata siapa? Raka sudah menghasilkan banyak uang"

"Untuk apa punya banyak uang, memangnya uang itu bisa membeli kebahagiaan? Kebahagiaan tidak diperoleh dengan uang, Raka. Bisa saja dengan seorang anak kecil yang memanggil mu ayah"

Raka tertawa kecil menanggapi ucapan kakeknya, "kenapa kamu tertawa?"

"Kakek kebahagiaan itu bermacam-macam, tidak hanya dengan itu saja."

"Kamu benar, namun kebahagiaan paling indah adalah ketika kamu memiliki seseorang untuk mencintai dan dicintai."

"Hidup ini hanya sebentar, Raka." Kekek mengusap wajah Raka. Kakek terbatuk-batuk tanpa henti, ini di luar rencana mereka.

"Uhukkk uhukkk"

letta dan Pradita panik, mereka mendekat pada kakek "Kek, Kakek?" Pradipta mengecek kondisi kakeknya.

"Ambil obat!." Titah Silvia pada Raka.

Kakek meminum obatnya, Silvia dan Pradita tidak menyangka ini akan terjadi, kakek terlalu menghayati perannya.

Kakek memegang tangan Raka, "menikah lah, Raka. Di umur kakek yang sudah tua seperti ini kakek hanya ingin sehat, dan melihat kamu menikah, bonusnya bisa mengais cucu dari cucuku"

"Kakek, menikah bukanlah hal yang mudah."

"Apapun itu, jika kamu melakukannya dengan hati pasti akan mudah"

Raka mengusap tangan kakek yang sudah keriput.

"Kamu itu rewel banget, tinggal turutin kemauan kakek, toh ini juga demi kebaikan kamu" sahut Silvia.

"Kemauan kakek atau kemauan kalian?" Raka mengangkat satu alisnya.

"Kemauan kita semua" sahut Silvia.

Kevan menarik nafas dalam-dalam, "baiklah kalau begitu, Raka akan menikah."

Terlihat Pradita dan Silvia adalah orang paling bahagia di sana, "benar kah Raka?! Kamu tidak sedang mengibuli kami kan?!" Silvia masih tidak percaya dengan anaknya.

"Mah, untuk apa Raka berbohong"

"Siapa tahu nanti kamu malah kabur" Niat Raka sih memang begitu.

"Hanya untuk kali ini mah, lain kali jangan melibatkan kakek untuk membujuk Raka, kalau mau berakting kalian harusnya mempersiapkannya dengan matang, ngapain si kevan ada di sini, dia itu dokter psikolog. Emangnya kakek sakit mental."

Kevan hanya tersenyum kikuk saat dirinya disebut, ia juga tidak tahu untuk apa dirinya ada di sini. Pagi -pagi sekali kevan dihubungi oleh Silvia, ia diminta untuk datang ke rumah kediaman kakek Raka. Ia tidak diberi tahu untuk apa, kevan hanya diminta untuk datang dan memakai seragam dokter. Kevan hanya mematuhinya.

"Mamah taunya kevan itu dokter, ga tau dokter apa. Jadinya mamah paksa kevan buat ke sini biar kamu percaya"

Raka tertawa, segitu inginnya mereka agar Raka bisa luluh, "seperti jika kevan dokter hewan, mamah juga tetap akan memaksanya datang"

Rencana mereka akhirnya berhasil. Raka asal menerimanya karena kasihan pada kakek, Urusan menggagalkannya itu belakangan.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Rey

Rey

Orang tua Raka gak kalah Kocak dengan orang tua Kevin.
belum apa-apa drama mereka terbongkar 😆

2024-03-14

0

Rey

Rey

Uang, tahta dan harta itu adalah hasil nyata kek😆

2024-03-14

0

Rey

Rey

kedua orang tua Raka & Vyora sama" jago Drama 😆.

2024-03-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!