bukan Raka

Vyora yang kepalang kesal karena sedari tadi pertanyaannya tidak dijawab, ia hanya bisa mengacak-ngacak rambutnya dengan kedua tangannya. Karena kalau mengacak-ngacak rambut Raka itu tidak akan mungkin.

"Kamu kenapa?" Raka bertanya karena merasa aneh melihat Vyora mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

"Aku, kenapa? Kamu yang kenapa?! dari tadi aku nanya tapi ga dijawab sama kamu. Bikin aku kesel aja."

"Maaf, aku engga bermaksud bikin kamu kesal. Maafin aku, Yora." Nada bicara Raka seketika berubah, terdengar lirih dan menyesal. Membuat Vyora kaget, namun yang lebih kagetnya lagi adalah kosakatanya juga mendadak berubah. Yang semulanya Raka memanggil dirinya dengan sebutan saya kini menjadi aku. Dari kapan? Ataukah Vyora yang baru menyadarinya?. Tidak, semua orang juga tahu bahwa Raka memakai bahasa yang formal.

Entah mengapa hati Vyora langsung tersentuh mendengarnya, apakah perkataannya menyakiti perasaan Raka sampai ia mengganti kosa katanya?. Sadar Vyora, dia juga telah menyakiti perasaan kamu.

"Iya aku maafin, tapi kamu juga harusnya ngejawab pertanyaan aku, jangan diem aja. Aku juga butuh penjelasan. kalau kamu ngasih tau dan ngejelasin sama aku, aku juga akan berusaha buat bisa ngerti" paparnya, ia merasa sedang menasehati anak kecil.

Namun Vyora juga belum sepenuhnya memaafkan dan menerima tindakan Raka kepadanya tadi, apalagi saat Raka tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, mengambil ponselnya dan menarik tangannya secara paksa. Itu sangat tidak sopan.

"Jangan kayak gitu lagi ya." Raka mengangguk lucu, seperti anak kecil.

"Sekarang kamu mau bawa aku pergi ke mana?"

"Kafe"

"Kafe?"

"Iya, tempat pertama kita bertemu" Raka berniat ingin mengubah kesan pertama saat kali pertama mereka bertemu di kafe, apalagi saat itu mereka berdebat hanya karena sebuah meja. Dan sekarang ia memesan semua meja yang ada di kafe untuk menghindari perdebatan itu.

Saat dalam perjalanan menuju rumah Vyora, Raka meminta Devon untuk menyewa kafe tersebut, guna untuk menghindari perdebatan. Dan memberinya kesan yang baik.

"Ngapain kamu ngajak aku ke sana?"

"Aku lapar, aku belum makan malam"

"Hubungannya sama aku apa? Lagian aku ga lagi pengen makan"

"Temenin aku makan, ga apa-apa kalau kamu ga makan, kamu cukup nemenin aku" Vyora terkesiap mendengar permintaan Raka. Ini bukan Raka yang dingin dan ketus. Benar-benar bukan Raka yang dikenalnya.

Meraka sudah sampai, dan kafe itu benar-benar kosong sampai Vyora mengira tempat itu sudah tutup.

"Tempat ini udah kosong, kayaknya udah tutup." Ucapnya sambil melihat keluar.

"Kamu ga liat tulisan open yang menggantung di pintu sana?" Vyora melihat ke arah pintu yang Raka maksud, dan benar saja kafe itu masih buka.

Tanpa aba-aba Raka langsung menggendong tubuh Vyora ala bridal style untuk masuk ke dalam kafe. Tubuh Vyora ringan sehingga membuat Raka tidak merasa berat, namun ia kewalahan karena Vyora memberontak dengan kakinya yang digerak gerakan

"Kamu kenapa sih?! Malu diliat orang!"

"Kamu sendiri yang tadi bilang kalau tempat ini kosong dan tidak ada orang."

Entahlah Vyora hanya asal bicara agar Raka menurunkannya. Saat memasuki kafe, Vyora melihat sekilas resepsionis yang waktu itu menempatkannya di meja yang salah sedang menatapnya sambil tersenyum canggung. Vyora menutup matanya malu. Saat itu mereka berdua berdebat hanya karena memperebutkan satu meja, sekarang kembali memesan semua meja dan Vyora berada dalam gendongan Raka. Malu, benar-benar malu.

"Pilih, kamu mau meja yang mana?"

"Yang mana aja, asal cepetan turunin aku!"

Mata Raka menulusuri semua meja yang ada di kafe ini, ia mencari posisi meja yang nyaman untuk Vyora. Padahal Vyora tidak berfikir sampai ke sana, yang ia pikirkan adalah cara agar Raka cepat menurunkannya.

Raka teringat, saat itu Vyora duduk di dekat jendela, mungkin itu tempat kesukaan Vyora. Raka memilih meja yang dekat dengan jendela, namun dengan sisi yang berbeda. Raka tidak mau saat melihat meja itu Vyora mengingat kejadian perdebatan dengannya. Pikiran Raka sudah kelewat jauh.

Raka menurunkan Vyora dan mempersilahkannya untuk duduk. Vyora pun menurutinya.

Belum sempat Vyora mengomel, pelayan kafe satu-persatu tiba menghampiri mereka dan menghidangkan beberapa makanan di atas meja. Tidak lupa Raka juga memesan kerang.

"Tunggu, kamu udah nyiapin ini semua?" Raka mengangguk.

"Untu apa?"

"Untuk memperbaiki."

"Maksudnya?" Raka berbicara sepatah sepatah kata, membuat Vyora bingung apa yang sedang dibicarakan oleh Raka.

"Pertemuan pertama kita tidak cukup baik, aku ingin memperbaikinya." Jelasnya. Vyora mengangguk, ternyata Raka mempunyai sisi lain.

"Tapi tetep aja cara kamu itu salah tau, aku ga suka."

"Aku juga tidak suka melihat kamu berbicara dengan orang lain lewat telpon." Astaga, Raka keceplosan. Saat ini Raka hanya mengeluarkan isi hatinya.

Tamat sudah kamu Raka.

"Pas tadi aku mau masuk ke kamar kamu, aku ngeliat kamu lagi asik telponan sama orang lain. Padahal kamu ga pernah berbicara padaku seperti itu. Bahkan kita engga pernah telponan. Jadinya aku kesal sendiri." Papar Raka membuat Vyora mengangguk ngerti.

"Tetep aja kamu salah."

"Tapi aku udah minta maaf." Raka menunjukkan wajahnya, bibirnya pun ia tekuk. Benar-benar seperti anak kecil.

Vyora tidak tahan melihatnya, ia seperti ingin melahap orang yang lebih tua delapan tahun darinya. Bagaimana bisa umur segitu bisa selucu ini.

"Iya aku maafin, ya udah kamu makan. Katanya kamu pengen makan."

Raka mengangguk pelan, kemudian ia menyantap hidangan yang ada di depannya.

Vyora menatap Raka yang sedang makan, ia seolah melihat orang yang berbeda. Benar-benar beda, cara makannya saja berbeda dengan saat pertemuan makan malam. Ini aneh, namun Vyora lebih nyaman jika Raka seperti ini. Tidak ketus, dingin, kasar dan sombong. Meski Raka tidak pernah bersikap kasar pada Vyora, namun Vyora menilai dari wajahnya.

"Kamu engga makan?" Raka menyadari tatapan Vyora yang tidak lepas darinya.

"Engga, kamu aja." sebenarnya Vyora tergoda dengan kerang kerang yang ada di sana, namun Vyora malu karena saat di mobil ia berkata sedang tidak ingin makan.

"Beneran? Kalau gitu kerangnya aku makan" Raka mengambil piring kerang itu, ia mencoba untuk menggoda Vyora agar ia mau memakannya. Raka tau bahwa Vyora terlihat ingin memakannya, namun Raka tidak mengerti kenapa Vyora tak kunjung memakannya.

"Jangan-jangan" tuh kan, benar dugaan Raka.

"Kerangnya mau aku makan." Raka tersenyum mendengarnya.

Raka mengembalikan piring berisi kerangnya pada Vyora. Lagian Raka alergi kerang.

Disela-sela makan, Raka kembali bertanya pada Vyora. Ia ingin tahu siapa orang yang berbicara dengan Vyora lewat telpon.

"Vyora, aku pengen nanya."

"Apa?"

"Kamu telponan dengan siapa?"

"Lila, temen aku." Emang kenapa sih?! Kepo banget jadi orang.

Raka mematung sesaat setelah Vyora memberitahunya dengan siapa ia berbincang lewat telpon, ternyata dengan teman perempuannya. Raka berbuat sejauh ini hanya karena ia kesal melihat Vyora berbicara dengan teman perempuannya. Garis bawahi, teman perempuannya. Jika Vyora mengetahuinya, Raka akan ditertawakan kencang dan mengejeknya. Lain kali Raka akan memasang penyadap suara agar kejadian ini tidak terulang lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!