Di dalam mobil, Vyora terus-terusan mengoceh tanpa henti. Ia masih saja kesal dengan kejadian tadi di kafe, terlebih lagi disaat dirinya berdebat dengan laki-laki yang sangat menyebalkan.
"Kok bisa sih ada manusia yang nyebelin banget kayak orang itu?! Harusnya dia mengalah dong sama perempuan, keras kepala banget, ga punya hati. Aku sumpahin dia berjodoh sama perempuan yang bakalan nyusahin hidupnya."
"Syuttt syuttt, ga boleh sembarang nyumpahin orang. Gimana kalau sumpah kamu itu balik lagi ke kamu, atau kamu yang jadi jodohnya. Kamu mau?"
"Ih amit-amit!, lebih baik aku ga nikah daripada harus sama..." Vyora memikirkan siapa nama orang tadi.
"Siapa namanya?" Tanya Vyora ada kevan.
"Rashaka, tapi Abang manggilnya Raka"
"Bodo amat mau dipanggil apa, intinya aku ga mau banget nikah sama dia"
"Raka aslinya baik, cuman ketutup sama muka datarnya sama sifat dinginnya aja"
"Abang kok malah belain dia sih?!"
Raut wajah kevan menjadi gusar, entah bagaimana ia harus menjelaskannya bahwa orang yang Vyora sumpahi ialah orang yang akan dijodohkan dengannya. Dan sepertinya sumpahan Vyora itu akan menjadi kenyataan.
Kevan mengatur ketenangan nya, ia fokus mengendarai mobil. Ia hanya mendengar ocehan ocehan kalimat yang dikeluarkan mulut adiknya itu.
Dengan tiba-tiba ponsel Vyora berdering memberhentikan ocehan nya. Panggilan telpon dari ibu, Vyora langsung mengangkat nya.
"Iya bu, kenapa?"
"Vyora, ayah pingsan. Sekarang lagi di rumah sakit" Retta berbicara dengan nada gemetar.
"Bu, kirimin lokasi rumah sakitnya aku sama Abang mau langsung ke sana"
Di sebrang telpon Retta mematikan sambungan telepon, ia cekikikan karena Vyora mempercayainya.
"Gimana mah?" Tanya Geano yang kini tengah berbaring mengenakan pakaian pasien.
"Berhasil, Vyora sama kevan lagi di jalan"
Kevan tahu bahwa orang tuanya sedang melakukan sandiwara, tapi kenapa mereka melakukannya secepat ini?.
"Abang, rumah sakit nya di sini" Vyora menunjukan lokasi yang diberikan oleh mamahnya.
"Langsung ke rumah sakit ya bang" Sura Vyora kini gemetar, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada ayahnya.
"Iya Vyora. Kita langsung ke sana, kamu tenangin diri kamu"
Setelah sampai di rumah sakit, Vyora berlari menuju ruang inap ayahnya yang sebelumnya sudah dikirim oleh letta.
Kevan berjalan di belakang Vyora, ia hanya menatap kasihan pada adiknya karena sedang dibohongi.
Vyora berdiri di depan pintu ruang inap bernomor 56, ruang inap yang ditempati oleh ayahnya.
Kevan yang melihatnya heran, kenapa Vyora tidak masuk dan malah berdiam diri, "Kenapa ga masuk?."
"Vyora takut"
"Bener kok ini kamar ayah, nomor 56"
"Bukan takut salah ruangan, Abang. Vyora takut ayah kenapa-napa, aku ga bisa ngeliat ayah kesakitan."
Kevan menghampiri Vyora, "percaya sama Abang, ayah engga kenapa-napa." Pintu pun dibuka. Terlihat Geano sedang terbaring, mengunakan alat infus yang dipakai di tangannya.
Vyora menghampiri ayahnya dengan hati yang gundah, ia berusaha untuk tetap tegar.
"Ayah, ayah kenapa bisa jadi gini?" Vyora tak kuasa menahan air matanya yang sudah tidak lagi terbendung. Vyora menangis dengan terisak-isak.
Kevan mendekat pada mamahnya, "mah, kevan tau ini cuman sandiwara, tapi kenapa secepat ini?" Bisiknya.
"Ayah kamu yang mau, mamah cuman ngikut."
"Bu, kevan ga ngerti kenapa kalian ngelakuin ini."
"Kevan, ibu dan ayah melakukan ini semua untuk kebaikan kita"
"Kebaikan? Perbuatan kalian itu jahat" Kevan pergi meninggalkan mereka semua, ia tidak bisa melihat keluarganya yang saling membohongi satu sama lain, terlebih lagi ia tidak mengetahui alasan di balik semua ini. Apa katanya tadi? Kebaikan? Mungkin baik bagi kepentingan atau diri mereka sendiri, namun bagaimana dengan Vyora? Dia menjadi korban.
Kaki kevan melangkah menuju lantai gedung paling atas, disaat situasi seperti ini kevan selalu menenangkan diri dan pikirannya di tempat yang sepi. Dengan cara itulah hati dan pikirannya jernih. Namun kevan malah mendapatkan tambahan beban pikirannya setelah ia melihat perempuan yang sedang berdiri di tepi gedung, melihat ke arah langit sambil memejamkan matanya.
Pikiran kevan langsung kemana-mana, dengan cepat ia menghampiri perempuan tersebut
"Tidak ada manusia yang baik-baik saja di dunia ini, semua mempunyai ujiannya masing-masing. Jika semesta ini jahat padamu, maka dirimu lah satu-satunya yang akan menyayangimu, jadi aku mohon dengan sangat kepada mu untuk jangan menyakiti dirimu sendiri."
Perempuan itu menoleh dan tersenyum pada kevan. "Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku tidak sedang ingin mengakhiri hidup, aku hanya sedang menikmati malam, aku baru mengetahui bahwa menikmati malam adalah salah satu cara untuk menyakiti diri"
Sepertinya kevan sudah salah paham, pikirannya sedang kacau. Ditambah ia melihat perempuan yang berdiri di atas gedung, membuatnya berfikiran yang tidak-tidak.
"Maaf, aku sudah berfikiran negatif terhadap mu."
"Tidak apa, semua orang yang melihat pasti akan berfikiran hal yang sama sepertimu. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Perempuan itu tersenyum kemudian meninggalkan kevan seorang diri.
Kevan kembali ke kamar ayahnya dirawat, sandiwara itu masih tetap berlanjut. Bedanya, kini Geano sudah membuka matanya.
Kevan lebih memilih untuk duduk di sofa di banding ia harus berpura-pura menangis atau membantu menjalankan sandiwara mereka, ia bersikap seolah-olah tidak ada apa terhadap ayahnya, karena memang itu kenyataannya.
Kevan merasa sangat lelah,ia telah melewati banyak hal dalam 1 hari ini. Siang tadi, ia ikut dalam acara perundingan perjodohan adiknya dengan temannya, untung saja bukan dirinya yang dijodohkan. lalu sorenya, ia ikut dalam drama bertemunya 2 insan yang tidak saling mengenal satu sama lain yang akan dijodohkan, ditambah ada sedikit perdebatan. Lalu tadi saat di rooftop, ia mengira bahwa perempuan yang dilihatnya akan mengakhiri hidupnya, dan sekarang, ia ikut sedang menyaksikan drama yang dibuat oleh ke dua orang tuanya.
Sungguh 1 hari yang melelahkan, Sulit baginya jika Ia harus melewati hari-harinya dengan orang-orang yang tak sepaham dengannya.
"Ayah, ayah kenapa bisa jadi kayak gini?"
Geano terbatuk-batuk, ia melihat ke arah kevan.
Vyora mengerti, mungkin ayahnya ingin anak-anaknya berada di dekatnya, namun kenapa abangnya itu bisa bersikap tenang seperti itu disaat kondisi ayahnya yang sedang sakit seperti ini. "Abang, Abang kok bisa setenang itu? Ayah butuh anak-anaknya." Ucapan Vyora mendapat anggukan dari Geano.
Kevan pun berdiri dan menghampiri mereka, "maaf ayah, aku sedang merasa lelah"
"Ayah tau, kamu sudah berusaha selama ini. Kevan, jika suatu saat ayah tiada, tolong jaga adikmu ini. Dan carikan lah jodoh yang bisa membuatnya bahagia, ayah ingin anak gadis ayah bisa terus bahagia tanpa merasakan rasa sakit."
Setelah mendengar ucapan ayahnya, Vyora tak kuasa menahan tangisnya. "Ayah, ayah kok bilangnya gitu?" Ucapnya dengan air mata yang membanjiri kedua matanya.
"Kevan"
"Iya ayah"
"Berapa lama lagi sisa waktu ayah untuk hidup?" Geano mengisyaratkan pada istrinya untuk membujuk kevan agar membantu.
Retta pun mendekat pada kevan dari arah belakang, "kevan, mamah mohon sama kamu." Bisiknya.
Kevan menarik nafas ringan, "Tenang ayah, sisa waktu ayah masih sangat panjang, ayah tidak akan tiada dalam waktu dekat ini. Namun sepertinya kondisi ayah sedang serius, ayah sedang berada dalam kondisi selfsugtig"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rey
Siapa wanita yang di lihat Kevan, pas di roftop?
orang tuanya Vyora keren aktingnya 👏😆
2024-03-13
0
Rey
Ya kamu itu jodohnya😁.
kamu juga gak kalah nyebelin nya Vyora😆
2024-03-13
0
Alexander_666
Suka sama gaya penulisnya.
2024-03-04
1