Seorang pria baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah megah milik keluarga Pradita. langkah kakinya cepat agar tidak terlambat mendatangi rapat keluarga. Setelah di depan pintu, ia mengetuknya dan tak lama kemudian ada seorang pelayan yang menyambutnya dan mengantarkannya ke ruang keluarga yang sudah berkumpul, hanya dia seorang yang datang terlambat.
"Maaf aku terlambat" ujarnya.
"Kamu ini dari mana saja, kenapa bisa terlambat?" Sanggah laki-laki paruh baya yang umurnya hampir setengah abad. Dia adalah Geano, ayah pria tersebut.
"Maaf, ayah. Tadi kevan kejebak macet" jawabnya.
"Ya sudah kalo gitu, sini duduk dulu." Ucap Retta, ibundanya. Sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.
Kevan pun langsung duduk di sebelah Retta. Di ruang keluarga ini, ada dua keluarga yang berkumpul, Keluarga pradita dan keluarga Geano. Semuanya hadir kecuali yang bersangkutan.
Kevan melihat ke arah sekelilingnya, ia merasa ada yang kurang. Orang tuanya mengajaknya untuk bergabung dalam pertemuan ini karena akan membicarakannya, namun orang yang akan dibicarakan tidak diikut sertakan dalam pertemuan ini. Kevan merasa aneh.
"Rashaka nya mana tante? Bukannya dia udah pulang dari Amerika ya?" Tanya kevan.
"Kenapa kamu menanyakan Shaka?" Silvia menjawabnya dengan balik bertanya.
"Bukannya kita di sini mau membicarakan soal Rashaka?" Ujar kevan yang masih belum mengerti dengan kondisi saat ini.
"Kita akan menjodohkannya secara diam-diam, jadi untuk apa dia ada di sini?"
Kevan hanya mengangguk, ia tidak percaya dirinya akan terlibat dalam perjodohan teman karibnya. Kevan berharap semoga saja perempuan yang akan dijodohkan dengan Rashaka bisa bertahan dengan sifatnya yang berubah-ubah.
"Sekarang kita sudah terkumpul semua, rela meninggalkan kesibukan masing-masing. Adanya kita di sini tidak lain dan tidak bukan untuk membicarakan masa depan anak-anak kita" ucap Pradita, selaku ayah Rashaka dan suami Silvia memulai percakapan.
"Meski kita masih merahasiakannya dari dua calon mempelai, namun saya rasa kita harus dengan cepat menyatukan keluarga kita" sambutnya.
Kevan terdiam. "Tunggu! Apa? Keluarga kita? Di sini hanya ada dua keluarga. Itu artinya keluarga Rashaka dan keluargaku, Rashaka akan dijodohkan dengan siapa? Tidak mungkin kalau dengan aku, itu artinya apa mungkin dengan Vyora? Tapi dia masih terlalu kecil untuk dijodohkan. Apalagi dengan seorang Rashaka Abumi Shankara." batinnya.
"Tunggu! Keluarga kita? Rashaka akan dijodohkan dengan siapa? Vyora?" Tanya kevan ingin tahu.
Pradita dan Silvia menatap heran pada kevan, mereka menyangka jika kevan sudah mengetahuinya. "Kamu belum mengetahuinya, kevan?" Tanya silvia.
"Ah gini, ibu lupa untuk ngasih tahu kamu kevan. Sebelumnya ibu ingin memberi tahu soal perjodohan ini, namun akhir-akhir ini kamu jarang ada di rumah. Jadi ibu lupa untuk memberi tahu kamu" ucap Retta menjelaskan nya.
Kevan hanya mengernyitkan keningnya, ia masih mencerna ucapan-ucapan yang baru saja ia dengar. Perjodohan ini sudah direncanakan dari lama dan ia baru mengetahuinya sekarang, dan itupun akan segera dilaksanakan.
"Sekarang kamu sudah mengetahuinya kevan, kami mengundang kamu kesini karena kami berharap kamu bisa membantu untuk mempertemukan mereka dan membuatnya menjadi dekat" ucap Geano.
Kevan masih tidak percaya, ayah yang selalu dibangga-banggakan oleh Vyora berbuat seperti ini padanya.
"Kevan, kamu tahu betul keadaan Raka sekarang. Ia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya, dan saya rasa seseorang itu adalah Vyora" kini Pradita yang membuka suara.
Kevan hanya diam mendengarkan, tidak menggubris perkataan mereka.
"Meski begitu, bukan hanya itu alasannya. Saya dan Geano sudah merencanakan hal ini sejak lama" sambung Pradita.
"Kamu benar Geano, saya sudah tidak sabar untuk mengubah hubungan persahabatan kita menjadi keluarga" sahut Geano.
"Saya harap yang lainnya bisa menyetujui rencana ini" ucap Pradita.
"Tentu kami setuju, iya kan Retta?!" Tanya Silvia pada Retta disertai dengan anggukan. Kemudian Retta tersenyum menandakan bahwa dirinya juga menyetujui rencana perjodohan anaknya.
Sekilas kevan menatap sang ibu yang berada di sampingnya. wajahnya menggambarkan rasa kekecewaannya.
"Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar mereka menyetujui perjodohan ini" sahut letta.
"Rashaka itu urusanku, walaupun sedikit susah, Saya memiliki cara agar dia mau menyetujuinya" ucap Pradita.
Silvia terlihat keheranan, bagaimana bisa suaminya mempunyai rencana tetapi tidak memberitahunya. Apalagi ini menyangkut dengan Raka anak satu-satunya.
"Kamu punya rencana dan itupun tidak memberitahuku?"
"Ini aku sedang memberitahumu" timpal Pradita.
Silvia menunjukkan wajah sebalnya. "Kalau begitu apa rencananya?"
"Kita ajak kakek untuk bekerjasama" ucap Pradita sambil mengangkat angkat kan kedua alisnya.
Pradita tahu betul jika kakeknya yang meminta Raka untuk menikah, Raka tidak akan bisa untuk menolaknya.
Silvia sangat sumringah setelah mendengar ide rencana dari suaminya. "Suami ku ini sangat cerdas, kamu memakai kelemahan Raka untuk menaklukkannya." Ucapnya.
Pradita tertawa ."kakek juga pasti bersenang hati untuk membantu kita, dan dia juga pasti akan senang jika cucunya itu menikah"
Geano bertepuk tangan setelah mendengar rencana Pradita. "Hebat sekali, saya jadi terinspirasi dari anda, Pak pradi. Anda memang selalu menginspirasi saya" ucap Geano seolah-olah mendapatkan hidayah.
"Kenapa? Kamu juga ingin mengikuti ku?"
"Tentu."
"Kalau begitu, saya ingin tahu apa kelemahan calon menantu ku."
"Tentu diriku sendiri, dia sangat menyayangi saya sebagai ayahnya. Saya akan menggunakan sedikit kemampuan akting ku, bagaimana?"
Pradita pun bertepuk tangan sebagai apresiasinya terhadap rencana Geano "anda hebat sekali Geano, kita sama-sama akan berakting. Jika kita berhasil, kita lanjutkan saja bakat akting kita menjadi seorang aktor." Ucap Pradita dengan tawanya, kemudian disusul oleh tawa Silvia dan letta.
Kevan sudah naik pitam, bagaimana mereka bisa tertawa disaat merencanakan hal konyol seperti itu? Ia sudah tidak tahan lagi, kevan pun berdiri membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Mau ke mana kamu kevan?" Tanya Geano.
"Kevan mau ke toilet, yah."
"Toiletnya ada di bawah tangga, kevan" ucap silvia memberi tahu letak kamar mandi.
"Ya sudah kalau begitu, jangan lama-lama. Ada yang perlu kami bahas"
"Iya ayah. Kevan akan kembali" kevan pun kemudian pergi, ia tidak benar-benar pergi ke kamar mandi. Ia hanya ingin menjauh, tidak nyaman baginya disaat mereka membahas perjodohan itu.
"Retta, apakah kevan baik-baik saja?" Tanya Silvia.
"Ia hanya terkejut dengan perjodohan adeknya, salahku tidak memberitahunya lebih awal"
Beberapa saat kemudian, kevan kembali. Ia sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya.
Namun ternyata, perbincangan mereka telah selesai. Kevan kebingungan, bukankah tadi ayahnya bilang untuk cepat-cepat kembali karena ada yang harus dibicarakan dengannya?, dan sekarang mereka sudah menyudahinya.
"Untuk hari ini mungkin hanya itu saja yang kita bicarakan, untuk kedepannya saya harap rencana rencana kita berhasil dan pembahasan kita bisa mencapai tingkat serius" ucap Pradita.
"Saya juga berharap seperti itu" ujar Geano.
"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu" sahut Retta.
"Baiklah, hati-hati di jalan" ucap silvia sambil memeluk Retta.
BERSAMBUNG
* visual Kevan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nining Maryani
yaiya sama vyora, yakali sama mamahmu
2024-03-18
0
Nining Maryani
kalo sama kamu ya gay dong kevan...
2024-03-18
0
Alizeee
jadi penasaran, baca lagi ah/Grin/
2024-03-14
0