Timezone

Ethan membawa Vyora ke Timezone bersama motor CBR 250R kesayangannya. Motor itu sebagai hadiah Ethan saat masuk SMA dari sang ibu, dan itu akan menjadi hadiah terakhir untuknya karena ibunya sudah tiada. Jadilah Ethan sangat menyayangi motornya itu.

Saat ini Vyora dan Ethan sangat bersenang-senang di sana, terutama Vyora yang tiap kali bersemangat memainkan permainan. Sudah ada beberapa permainan yang mereka mainkan seperti pump it up, bumper cars, social bowling, typhoon, air fx dan street basketball yang pastinya Ethan mendapatkan poin terbanyak dari pemain yang lainnya. Ya iya lah, dia aja ketua club basket, keterlaluan kalau poinnya dikit.

Ethan menukarkan tiket yang dihasilkan mereka saat bermain, lalu ia dapat menukarkannya dengan gantungan kunci. Ethan melihat gantungan kunci yang sangat lucu, berwana pink. Warna kesukaan Vyora.

"Mba, saya bisa nukerin sama yang itu ga?" Ethan menunjuk pada gantungan kunci yang tergantung di etalase besar yang terpampang.

"Maaf, Kalau untuk yang itu belum bisa mas. Tiketnya ga cukup" walaupun sudah menang banyak, tiketnya masih belum cukup ternyata.

Ethan hanya dihadapkan dengan pilihan gantungan kunci yang biasa, tidak ada spesial spesialnya. Ethan saja tidak tertarik untuk memilihnya.

"Begini aja mba, bagaimana kalau gantungan itu saya beli?."

Dengan hanya kalimat seperti itu, Ethan dengan mudah mendapatkannya. Walau sempat ada keragu-raguan di wajah kasir tadi, Ethan langsung memberikan alasannya bahwa ia akan memberikan gantungan itu pada pacarnya sehingga hati mba kasir luluh kemudian memberikannya. Mba kasir juga berharap semoga suatu saat nanti ada seorang laki-laki yang memperlakukannya seperti itu.

Ethan menghampiri Vyora yang tengah duduk sambil memakan eskrim, wajah Ethan terlihat sangat senang membuat Vyora keheranan. Apa yang membuatnya senang seperti itu?

"Kenapa? Kayak lagi seneng banget."

"Iya dong seneng, kan sama kamu."

"Bisa aja." Vyora tersipu malu, walau hubungan mereka sudah berjalan 2 tahun. Tetapi entah mengapa kerap kali Ethan memuji Vyora, Vyora selalu salting, alias salah tingkah.

"Kamu dapet apa hasil nukerin tiket tadi?" Vyora tidak berniat untuk mengalihkan pembicaraan, ia memang ingin tahu apa yang mereka dapatkan. Dan Vyora tahu hasilnya pasti akan mengecewakan.

Ethan menunjukkan Tote bag kecil yang ia sembunyikan, isinya tentu gantungan kunci tadi.

"Tebak ini isinya apa?"

"Emm.." Vyora memutar bola matanya ke atas seolah sedang berfikir keras.

"Paling juga gantungan kunci."

Ethan memasang wajah kecewa, tebakannya sangat mudah ditebak. "Ga asik banget langsung ketebak"

Vyora tertawa melihatnya. Gemas. "Lagian apa yang mau diharapkan sama hadiah tuker tiket ini?" Ucapnya dengan gelak tawa.

"Seenggaknya kamu pura-pura ga tau biar aku seneng" Ethan memberikan tote bag itu pada Vyora, Vyora pun langsung meng-unboxin.

Betapa terkejutnya Vyora saat melihat gantungan itu bukanlah gantungan biasa seperti yang ada dipikirannya. Gantungan ini sungguh luar biasa.

"Ih kenapa bisa lucu banget?!" Vyora tidak percaya bahwa mereka mendapatkan gantungan kunci se lucu ini, pasalnya ia selalu mendapatkan yang biasa-biasa saja.

"Bisa dong, aku 'kan hebat" ucap Ethan dengan rasa percaya diri.

Vyora menatap lelaki yang sudah menjadi pacarnya selama 2 tahun ini. Perawakan Ethan itu tinggi, putih, matanya yang sipit ia dapatkan dari sang ayah. Ketika senyum, senyumannya akan menjadi yang termanis, gula pun sampai kalah. Huhh jadi makin cinta.

"Aku sengaja milih yang itu karena aku tau kalau kamu suka warna pink"

"Makasih banget loh, aku ga nyangka bisa dapetin gantungan kunci se lucu ini di sini."

"Sama-sama cantik." Ethan mengusap gemas pucuk kepala Vyora. Vyora pun meresponnya dengan baik, ia tersenyum manis sampai-sampai matanya tertutup.

"Minjem kunci motor kamu dong."

Ethan memberikan kunci motornya dengan raut wajah keheranan, untuk apa Vyora meminjam kunci motornya. "Buat apa?"

"Buat masangin gantungan ini." Percuma saja Ethan memberikan gantungan itu tapi dipasangkan di kunci motornya.

"Loh, aku ngasih ini buat kamu."

"Iya aku tau. Aku pasangin gantungan kunci ini biar kamu inget terus sama aku."

...****************...

"Pasangkan boneka ini kamera di dalamnya." Titah Raka pada Devon.

Bisa dibilang Devon ini adalah tangan kanan Raka. Jika di kantor ada Malvin, maka di hidupnya adalah Devon. Sudah banyak yang Devon lakukan untuk membantu tuannya, bahkan Devon sendiri sudah bersumpah akan mengorbankan dirinya untuk menjaga dan melindunginya.

Devon adalah salah satu korban perdagangan manusia yang diselamatkan oleh Antonio. Bukan hanya itu, Antonio juga membesarkan dan merawatnya. Dan dari situlah Devon bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada keluarga Antonio dengan menjadi tangan kanan Rashaka Abumi Shankara, cucu pertama Antonio. Sebagai balas budinya.

Umur Raka dan Devon tidak terpaut jauh, sehingga mereka dapat berteman dengan baik.

"Untuk siapa? Penjahat mana yang ingin kamu mata-matai?" Penjahat yang sudah mencuri hati Raka, Devon.

"Bukan urusan kamu, cepat."

Tidak seperti biasanya tuannya seperti itu, dan ada apa dengan boneka ini? Kali pertama ini Devon diminta untuk memasangkan kamera di boneka selucu ini, biasanya ia diminta untuk memasangkannya di barang-barang yang berbau tajam.

Devon tidak mau banyak berbicara karena ia tahu bahwa suasana hati Raka sedang buruk, jadinya ia langsung mengerjakan sesuai dengan perintahnya saja.

...****************...

Kini Vyora dan Ethan sedang makan di restoran yang tak jauh dari Timezone. Seusai bermain tenaga mereka terkuras dan butuh asupan, jadilah mereka makan bersama. Itung-itung mengganti kencan kemarin.

Vyora menceritakan film yang ia tonton, bercerita tentang sepasang gadis SMA yang sama-sama saling jatuh cinta.

"Film itu tuh seru banget. Yang tadinya perempuan itu jutek dan bodo amat, ternyata saling suka sama si cowoknya. Terus mereka pacaran. Pokoknya bikin baper."

"Sama kayak kamu dong"

"Sama apanya?"

"Dulu kamu juga jutek dan bodo amatan, tapi ternyata diam-diam suka balik sama aku." Pernyataan Ethan membuat Vyora malu. Memang benar, Vyora terlihat jutek, tidak, bukan jutek. Hanya pendiam. Itupun kepada orang yang belum ia kenal, terutama laki-laki. Berbeda kalau sudah kenal, apalagi sudah menjadi pacar.

"Engga kok, aku ga gitu." Ucap Vyora mengelak.

Ethan hanya terkekeh, "terus lanjutan filmnya gimana?"

"Ga tau, aku belum nonton lagi. Tapi aku berharap semoga happy ending"

"Aku juga sama Ra, berharap semoga happy ending."

"Iya soalnya filmnya itu bikin baper banget."

"Engga, aku berharap bukan ke film yang kamu tonton."

"Terus apa?"

"Hubungan kita" Ethan memegang tangan Vyora, "aku berharap semoga hubungan kita happy ending." Lanjutnya.

Vyora hanya menatap Ethan diam.

Raka melepas genggamannya, "Abisin makanan nya, abis ini kita pulang"

Dan benar saja setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Ethan juga mengantarkan Vyora ke rumahnya, tidak mungkin jika Ethan membiarkannya pulang sendirian.

Di sepanjang jalan, Vyora tidak berkata apa-apa. Bahkan saat Ethan bertanya, Vyora tidak menjawabnya. Ia memikirkan ucapan Ethan yang berharap hubungan mereka happy ending. Vyora tidak yakin akan hal itu karena dirinya saja sekarang sudah bertunangan dengan pria lain.

"Vyora, kamu ga bakal turun? Kita udah nyampe." Ethan yang merasa aneh karena Vyora tak kunjung turun dari motornya.

"Oh iya." Vyora pun turun dari motor. Vyora kesusahan saat akan membuka helmnya, tanpa diminta Ethan langsung membantu Vyora untuk membuka helmnya. Konsentrasi Vyora saat ini benar-benar sedang terganggu.

"Kamu kenapa? dari tadi kayak diem terus."

"Aku...." Vyora berfikir alasan apa yang akan ia berikan dan yang dapat diterima, tidak mungkin jika Vyora bilang bahwa ia sudah bertunangan dan hubungan mereka tidak akan happy ending.

"Aku sedih karena kamu harus pergi."

Ethan tersenyum simpul, "besok kita akan ketemu lagi di sekolah, Vyora"

"Tetep aja nunggu besok buat ketemu kamu itu serasa kayak lama banget."

Ethan turun dari motornya dan memeluk Vyora sekejap. Kalau seperti itu caranya, Vyora semakin tidak sabar untuk menunggu hari esok.

"Biar kamu lupa caranya menunggu." Iya lupa cara menunggu, tapi juga lupa cara untuk bersabar.

Vyora merasakan wajahnya memanas, ia berharap semoga wajahnya tidak memerah. Jika memerah benar-benar malu, ingin langsung lari saja masuk ke dalam rumah.

Sebelum pergi, Ethan melihat sekilas jari tangan Vyora yang terpasang cincin.

"Ra, cincin yang dipakai kamu itu cincin apa?" Sebenarnya Ethan sudah menyadarinya saat bermain di Timezone, namun Ethan baru ingin menanyakannya sekarang.

Wajah yang memanas kini berganti dengan hatinya yang juga memanas, bukan karena pertanyaannya, namun ia benci karena ia tersadar kembali pada kenyataannya.

"Dari ayah kamu?"

"Iya, dari ayah." Vyora berharap Ethan mempercayainya.

"Ohh, kalau gitu aku pergi dulu."

"Iya, hati-hati."

BERSAMBUNG

*visual Ethan Michael Anderson

Terpopuler

Comments

Rey

Rey

Wah Raka, kamu di akuin Ayah ma Vyora 😆
gimana mau happy ending, Ethan.
Vyora aja udah jadi tunangan laki-laki lain.

2024-03-24

0

Anonymous

Anonymous

Ceritanya unik memakai bahasa sehari-hari sehingga enak dibacanya.

2024-03-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!