Pagi ini Kemala bangun tanpa Mak di sisi nya. Entah kemana pergi nya Mak Kemala di pagi hari seperti ini. Mungkin kah Mak nya tersinggung karena kemarin Kemala tidak sengaja mengeraskan suara nya.
"Pagi Mala, gimana keadaan kamu hari ini?"
Seperti biasa, Wak Nur akan datang menjenguk Kemala dengan membawa beberapa makanan. Kali ini beliau datang sendiri tanpa di temani oleh Bang Heru.
"Mala baik Wak, ini sudah bisa duduk lama dan kepala Mala sudah nggak nyeri lagi. Aska gimana Wak? Apa rewel nggak di ajak bertemu dengan Mala?"
"Paling rewel nya cuma sebentar. Si Asih pintar merayu Aska. Kata Asih, kamu sedang mencari rezeki jadi Aska harus sabar menunggu."
Kemala hanya tersenyum saat mendengar cerita tentang anak nya. Setiap hari Asih akan mengirimkan foto atau video ke Aska ke ponsel Kemala.
Kemala sangat tahu kalau Aska pasti sudah sangat merindukannya, selama ini mereka tidak pernah berpisah selama ini.
"Oh ya Wak, gimana menurut Wawak kalau Kemala balik lagi menjadi istri nya Bang Burhan?"
"Apa?
Wak Nur langsung meraba kening Kemala dan terus membolak-balikkan telapak tangannya.
" Wawak ngapain?"
" Wawak cuma mau mastiin kalau kau nggak kenapa-napa."
"Mala sudah baik-baik saja Wak. Mala nggak apa-apa."
"Jadi, apa maksud kau nanya kayak gitu Mala! Apa kau masih kurang puas di pukul? Atau kau juga mau sekalian anak kau si Aska itu juga ikut di perlakukan seperti itu."
"Wak." Suara Kemala tercekat.
Kemala sangat sulit untuk bicara. Lalu air mata langsung lolos begitu saja dari kedua mata indah nya.
"Ada apa Mala? Cerita sama Wawak."
"Mak tidak setuju kalau Kemala bercerai. Mak mau Kemala setuju berbaikan dengan Bang Burhan kalau Bang Burhan mau berubah dan minta maaf."
Wak Nur hanya mengurut dada nya. Tidak menyangka orang tua Kemala akan berpikir seperti itu. Padahal Kemala sudah sangat menderita selama ini.
" Orang seperti Burhan sampai kapan pun tidak akan pernah berubah Mala!"
Tiba-tiba pintu kamar Kemala terbuka, tampak Mak baru saja pulang entah dari mana.
" Mak dari mana pagi-pagi begini sudah pergi? Mak sudah makan?"
Kemala mulai berasa-basi dengan Mak nya. Kemala takut Mak nya tersinggung dengan nya kemarin.
"Mak dari rumah mertua mu."
Degh...
"Mau ngapain Mak kerumah mereka? Apa Mak lupa apa yang dikatakan mertua ku saat itu? Mereka akan mengambil Aska dari Mala Mak!"
"Mereka janji tidak akan menyakiti mu lagi Kemala. Burhan juga akan merubah sifat pelit nya. Kalau kau tidak bercerai dengan Burhan, Aska tetap akan tinggal bersama kalian."
"Tidak mungkin Mak. Tidak mungkin Bang Burhan dan mertua ku itu bisa langsung setuju begitu saja. Pasti ada yang Mak janjikan kepada mereka bukan? Aku sangat tahu bagaimana perangai Ibu dan Anak itu."
"Sudah lah Mala. Turuti saja apa kata Mak. Tidak baik kita bercerai nak. Apalagi nanti, apa yang akan kau katakan pada Aska anak mu. Kasihan dia masih kecil malah melihat orang tua nya bercerai. Bagaimana Aska masih membutuhkan kasih sayang Ayah nya."
"Mak, Aska bahkan sudah sering melihat ku di siksa oleh mereka. Apa Mak tahu apa keinginan Aska? Ia ingin hidup berdua saja dengan Mala tanpa Ayah dan Nenek nya. Ia bahkan menyebut Nenek nya dengan sebutan Nenek sihir. Bang Burhan bahkan tidak pernah menggendong Aska selama ia hidup. Kasih sayang? Aska bahkan lupa kalau ia masih memiliki seorang Ayah."
"Ya ampun Mala. Seharusnya kau sebagai seorang Ibu tidak boleh membiarkan anak mu berkata seperti itu. Bagaimana selama ini kau mengajarkan cucu ku itu. Mengapa Aska kau buat sampai membenci Ayah nya sendiri."
"Mala tidak mengajarkan Aska Mak. Aska begitu karena sudah lelah setiap hari melihat aku di siksa oleh Ibu dan Anak itu. Bahkan Aska selama ini tidak pernah mendapat kan kasih sayang dari Ayah nya."
"Sudahlah Mala. Semua itu hanya masa lalu. Burhan berjanji akan berubah. Lebih baik kau lupakan segalanya dan nanti kalian mulai rumah tangga kalian dari awal lagi."
" Bagaimana jika Bang Burhan tidak berubah, dan jika malah setelah ini Mala m*ti di tangannya, apa yang akan Mak lakukan? Bahkan mereka tidak pernah baik memperlakukan Aska."
"Tidak baik berburuk sangka seperti itu Mala! Apalagi memikirkan hal yang belum terjadi. Kau harus memberi kesempatan kepada suami mu. Itu lah surga mu. Jadi lah istri yang penurut nanti agar kau di sayang suami dan mertua mu."
Lidah Kemala terasa kelu. Ia sudah tidak sanggup lagi meyakinkan Mak nya ini. Mala sudah sangat lelah berdebat. Di lihat nya Wak Nur hanya diam tanpa berani berkomentar.
Padahal saat ini Kemala berharap Wak Nur akan membela nya. Kemala sudah sangat pusing dengan semua keadaan yang memuakkan ini.
Kemala tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini dengan Mak nya. Ia hanya diam dan langsung mengambil telepon genggam yang sudah beberapa hari ini ia abaikan.
"Sampai segitunya mengemis agar aku mau memaafkan anak nya yang suka selingkuh itu."
Mala melihat status dan foto yang di unggah oleh Burhan di akun sosial media nya. Jantung Kemala berpacu. Disana tampak Mak sedang berlutut di depan mertua nya. Walaupun wajah Mak sudah di samarkan, tetapi Kemala tahu kalau itu adalah Mak nya.
Bahkan baju yang di pakai Mak sama dengan yang sekarang. Kemala langsung naik pitam. Ia sangat marah kali ini. Jika ia di fitnah dan di hancurkan sedemikian rupa, ia akan diam. Namun, harga diri orang tua nya telah di injak-injak.
Burhan memang tidak akan berubah. Sampai kapanpun laki-laki itu akan memiliki perangai buruk. Mala tidak ingin hidup nya hancur kembali jika mereka melanjutkan pernikahan itu.
"Mala akan tetap menceraikan Bang Burhan. Dengan atau tanpa persetujuan Mak dan Bapak." Ucap Mala lantang.
Wajah Wak Nur yang tadi nya biasa, langsung tersenyum tanda setuju.
"Apa kau bilang Mala? Jadi kau tidak mau mendengar kan nasehat Mak?"
"Sudah cukup Mak, Mala sudah tidak sanggup lagi hidup dengan laki-laki yang kej*m seperti Bang Burhan."
"Kau memang tidak menghargai Mak Kemala. Padahal Mak sudah banyak berkorban dengan mendatangi rumah Mertua mu itu."
"Berkorban dengan cara apa Mak? Berlutut? Apa Mak tidak punya harga diri? Mak, kita nggak salah. Yang salah itu mereka. Kenapa Mak yang harus merendahkan diri Mak."
Air mata Kemala yang sejak dari tadi di tahan kini tumpah sudah. Tak sanggup rasanya jika harus berdebat lagi dengan Mak nya. Namun, ia harus tega.
"Dari mana kamu tahu?"
"Tidak perlu Mak tahu. Yang penting Mala sudah tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini. Mala menyerah Mak. Mala sudah nggak sanggup lagi hidup bersama Bang Burhan."
Mala langsung memukul dada sambil menangis. Tidak sanggup lagi rasanya jika harus menjalani ini semua. Harusnya orang tua ada untuk membela anak nya. Namun ini malah menambah luka.
" Kalau begitu, silahkan urus sendiri urusan mu dengan mereka. Mak tidak akan ikut campur lagi. Dan satu lagi, kau tidak di terima di rumah kami. Mak tidak ingin keluarga kita malu karena kau sudah melanggar kebiasaan keluarga kita selama ini."
Mala tidak menyangka Mak akan berkata seperti itu. Orang tua nya sendiri bahkan meninggalkan nya.
" Mak, apa perlu Mak memperlakukan Kemala seperti ini? "
Wak Nur yang dari tadi diam akhirnya angkat suara.
" Jangan ikut campur, kau hanya orang lain yang kebetulan sedang menolong anakku."
"Justru karena aku orang lain Mak. Harus nya Mak sebagai orang tua harus membela anak sendiri. Andai kan Mala itu anak ku, mungkin si Burhan sudah ku buat jadi bubur."
"Terserah kalian saja. Aku pamit. Dan kau Mala, tak usah kau pulang lagi ke desa kita. Mak anggap kau sudah m*ti. Mak tidak ingin malu karena tinggal dengan janda seperti mu."
Dhuarrrr.....
Air mata yang dari tadi lolos kini berhenti seketika. Jantung Kemala berpacu tidak menentu. Mak nya sendiri kini telah membuang nya. Mak yang harus nya berdiri paling depan membela nya kini pergi dan menganggap dia sudah m*ti.
Luruh sudah tubuh itu ke atas kasur empuk rumah sakit. Ya, bagi Kemala kasur di rumah sakit lebih empuk daripada kasur nya di rumah.
"Mala, kau masih punya Wawak nak. Ayo bangkit Mala. Jangan begini, nanti mereka akan senang jika melihat mu terpuruk seperti ini."
"Wak, apa balas dendam itu boleh?"
"Nggak boleh Kemala. Kau tidak boleh balas dendam. Tapi kalau kau mau menegakkan keadilan untuk dirimu, Wawak akan setuju dan mendukung."
"Hati Mala sangat sakit Wak. Kenapa Mak tega membuang Mala. Apa keputusan Mala salah jika Mala ingin berpisah dan melaporkan Bang Burhan?"
Wak Nur tidak menjawab apapun, ia biarkan Kemala berkeluh kesah dengannya. Ia belai hijab Kemala yang sedikit mengeluarkan anak rambut dari kening nya.
" Menangis lah Kemala, jangan di tahan nak. Nanti akan jadi penyakit."
" Air mata ini sudah habis wak. Sumur nya sudah kering. Tidak ada lagi air di dalam nya untuk Mala keluarkan."
Wak Nur sangat tahu sekali apa maksud Kemala. Hati nya telanjur sakit. Sudah hancur dan lebur diterpa badai kehidupan.
Di luar sana, seorang Laki-laki dari tadi terus mendengarkan pembicaraan dua orang wanita di dalam. Ia tidak berani melangkahkan kaki nya masuk. Ia takut mengganggu kenyamanan mereka yang ada di dalam.
Ternyata keputusan nya telah tepat. Ia dapat mendengar segala masalah Kemala. Penderitaan yang tiada habis nya di rasakan oleh wanita yang selalu memiliki ruang di hatinya. Tangannya terkepal erat. Emosi nya sudah tak bisa ia bendung.
"Tunggu pembalasan ku Burhan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Dhia Syarafana
orang tua goblok, oon ank sengsara malah di bikin makin sengsara. sengsara aku sengsara oh karena burhan.. sengsara aaa... sengsara... aa sengsara a.. a.
a
a
2024-11-08
0
evvylamora
dah lah, tinggalin aja tuh emak sm bapakmu, mau2nya disuruh sujud ga punya harga diri banget, emosi banget sih, bisa2nya pny emak go*bl*ok
2024-11-04
0
evvylamora
gw demen sampe kampung emaknya ditalak, jd janda
2024-11-04
0