Bab 17 Di Buang

Pagi ini Kemala bangun tanpa Mak di sisi nya. Entah kemana pergi nya Mak Kemala di pagi hari seperti ini. Mungkin kah Mak nya tersinggung karena kemarin Kemala tidak sengaja mengeraskan suara nya.

"Pagi Mala, gimana keadaan kamu hari ini?"

Seperti biasa, Wak Nur akan datang menjenguk Kemala dengan membawa beberapa makanan. Kali ini beliau datang sendiri tanpa di temani oleh Bang Heru.

"Mala baik Wak, ini sudah bisa duduk lama dan kepala Mala sudah nggak nyeri lagi. Aska gimana Wak? Apa rewel nggak di ajak bertemu dengan Mala?"

"Paling rewel nya cuma sebentar. Si Asih pintar merayu Aska. Kata Asih, kamu sedang mencari rezeki jadi Aska harus sabar menunggu."

Kemala hanya tersenyum saat mendengar cerita tentang anak nya. Setiap hari Asih akan mengirimkan foto atau video ke Aska ke ponsel Kemala.

Kemala sangat tahu kalau Aska pasti sudah sangat merindukannya, selama ini mereka tidak pernah berpisah selama ini.

"Oh ya Wak, gimana menurut Wawak kalau Kemala balik lagi menjadi istri nya Bang Burhan?"

"Apa?

Wak Nur langsung meraba kening Kemala dan terus membolak-balikkan telapak tangannya.

" Wawak ngapain?"

" Wawak cuma mau mastiin kalau kau nggak kenapa-napa."

"Mala sudah baik-baik saja Wak. Mala nggak apa-apa."

"Jadi, apa maksud kau nanya kayak gitu Mala! Apa kau masih kurang puas di pukul? Atau kau juga mau sekalian anak kau si Aska itu juga ikut di perlakukan seperti itu."

"Wak." Suara Kemala tercekat.

Kemala sangat sulit untuk bicara. Lalu air mata langsung lolos begitu saja dari kedua mata indah nya.

"Ada apa Mala? Cerita sama Wawak."

"Mak tidak setuju kalau Kemala bercerai. Mak mau Kemala setuju berbaikan dengan Bang Burhan kalau Bang Burhan mau berubah dan minta maaf."

Wak Nur hanya mengurut dada nya. Tidak menyangka orang tua Kemala akan berpikir seperti itu. Padahal Kemala sudah sangat menderita selama ini.

" Orang seperti Burhan sampai kapan pun tidak akan pernah berubah Mala!"

Tiba-tiba pintu kamar Kemala terbuka, tampak Mak baru saja pulang entah dari mana.

" Mak dari mana pagi-pagi begini sudah pergi? Mak sudah makan?"

Kemala mulai berasa-basi dengan Mak nya. Kemala takut Mak nya tersinggung dengan nya kemarin.

"Mak dari rumah mertua mu."

Degh...

"Mau ngapain Mak kerumah mereka? Apa Mak lupa apa yang dikatakan mertua ku saat itu? Mereka akan mengambil Aska dari Mala Mak!"

"Mereka janji tidak akan menyakiti mu lagi Kemala. Burhan juga akan merubah sifat pelit nya. Kalau kau tidak bercerai dengan Burhan, Aska tetap akan tinggal bersama kalian."

"Tidak mungkin Mak. Tidak mungkin Bang Burhan dan mertua ku itu bisa langsung setuju begitu saja. Pasti ada yang Mak janjikan kepada mereka bukan? Aku sangat tahu bagaimana perangai Ibu dan Anak itu."

"Sudah lah Mala. Turuti saja apa kata Mak. Tidak baik kita bercerai nak. Apalagi nanti, apa yang akan kau katakan pada Aska anak mu. Kasihan dia masih kecil malah melihat orang tua nya bercerai. Bagaimana Aska masih membutuhkan kasih sayang Ayah nya."

"Mak, Aska bahkan sudah sering melihat ku di siksa oleh mereka. Apa Mak tahu apa keinginan Aska? Ia ingin hidup berdua saja dengan Mala tanpa Ayah dan Nenek nya. Ia bahkan menyebut Nenek nya dengan sebutan Nenek sihir. Bang Burhan bahkan tidak pernah menggendong Aska selama ia hidup. Kasih sayang? Aska bahkan lupa kalau ia masih memiliki seorang Ayah."

"Ya ampun Mala. Seharusnya kau sebagai seorang Ibu tidak boleh membiarkan anak mu berkata seperti itu. Bagaimana selama ini kau mengajarkan cucu ku itu. Mengapa Aska kau buat sampai membenci Ayah nya sendiri."

"Mala tidak mengajarkan Aska Mak. Aska begitu karena sudah lelah setiap hari melihat aku di siksa oleh Ibu dan Anak itu. Bahkan Aska selama ini tidak pernah mendapat kan kasih sayang dari Ayah nya."

"Sudahlah Mala. Semua itu hanya masa lalu. Burhan berjanji akan berubah. Lebih baik kau lupakan segalanya dan nanti kalian mulai rumah tangga kalian dari awal lagi."

" Bagaimana jika Bang Burhan tidak berubah, dan jika malah setelah ini Mala m*ti di tangannya, apa yang akan Mak lakukan? Bahkan mereka tidak pernah baik memperlakukan Aska."

"Tidak baik berburuk sangka seperti itu Mala! Apalagi memikirkan hal yang belum terjadi. Kau harus memberi kesempatan kepada suami mu. Itu lah surga mu. Jadi lah istri yang penurut nanti agar kau di sayang suami dan mertua mu."

Lidah Kemala terasa kelu. Ia sudah tidak sanggup lagi meyakinkan Mak nya ini. Mala sudah sangat lelah berdebat. Di lihat nya Wak Nur hanya diam tanpa berani berkomentar.

Padahal saat ini Kemala berharap Wak Nur akan membela nya. Kemala sudah sangat pusing dengan semua keadaan yang memuakkan ini.

Kemala tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini dengan Mak nya. Ia hanya diam dan langsung mengambil telepon genggam yang sudah beberapa hari ini ia abaikan.

"Sampai segitunya mengemis agar aku mau memaafkan anak nya yang suka selingkuh itu."

Mala melihat status dan foto yang di unggah oleh Burhan di akun sosial media nya. Jantung Kemala berpacu. Disana tampak Mak sedang berlutut di depan mertua nya. Walaupun wajah Mak sudah di samarkan, tetapi Kemala tahu kalau itu adalah Mak nya.

Bahkan baju yang di pakai Mak sama dengan yang sekarang. Kemala langsung naik pitam. Ia sangat marah kali ini. Jika ia di fitnah dan di hancurkan sedemikian rupa, ia akan diam. Namun, harga diri orang tua nya telah di injak-injak.

Burhan memang tidak akan berubah. Sampai kapanpun laki-laki itu akan memiliki perangai buruk. Mala tidak ingin hidup nya hancur kembali jika mereka melanjutkan pernikahan itu.

"Mala akan tetap menceraikan Bang Burhan. Dengan atau tanpa persetujuan Mak dan Bapak." Ucap Mala lantang.

Wajah Wak Nur yang tadi nya biasa, langsung tersenyum tanda setuju.

"Apa kau bilang Mala? Jadi kau tidak mau mendengar kan nasehat Mak?"

"Sudah cukup Mak, Mala sudah tidak sanggup lagi hidup dengan laki-laki yang kej*m seperti Bang Burhan."

"Kau memang tidak menghargai Mak Kemala. Padahal Mak sudah banyak berkorban dengan mendatangi rumah Mertua mu itu."

"Berkorban dengan cara apa Mak? Berlutut? Apa Mak tidak punya harga diri? Mak, kita nggak salah. Yang salah itu mereka. Kenapa Mak yang harus merendahkan diri Mak."

Air mata Kemala yang sejak dari tadi di tahan kini tumpah sudah. Tak sanggup rasanya jika harus berdebat lagi dengan Mak nya. Namun, ia harus tega.

"Dari mana kamu tahu?"

"Tidak perlu Mak tahu. Yang penting Mala sudah tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini. Mala menyerah Mak. Mala sudah nggak sanggup lagi hidup bersama Bang Burhan."

Mala langsung memukul dada sambil menangis. Tidak sanggup lagi rasanya jika harus menjalani ini semua. Harusnya orang tua ada untuk membela anak nya. Namun ini malah menambah luka.

" Kalau begitu, silahkan urus sendiri urusan mu dengan mereka. Mak tidak akan ikut campur lagi. Dan satu lagi, kau tidak di terima di rumah kami. Mak tidak ingin keluarga kita malu karena kau sudah melanggar kebiasaan keluarga kita selama ini."

Mala tidak menyangka Mak akan berkata seperti itu. Orang tua nya sendiri bahkan meninggalkan nya.

" Mak, apa perlu Mak memperlakukan Kemala seperti ini? "

Wak Nur yang dari tadi diam akhirnya angkat suara.

" Jangan ikut campur, kau hanya orang lain yang kebetulan sedang menolong anakku."

"Justru karena aku orang lain Mak. Harus nya Mak sebagai orang tua harus membela anak sendiri. Andai kan Mala itu anak ku, mungkin si Burhan sudah ku buat jadi bubur."

"Terserah kalian saja. Aku pamit. Dan kau Mala, tak usah kau pulang lagi ke desa kita. Mak anggap kau sudah m*ti. Mak tidak ingin malu karena tinggal dengan janda seperti mu."

Dhuarrrr.....

Air mata yang dari tadi lolos kini berhenti seketika. Jantung Kemala berpacu tidak menentu. Mak nya sendiri kini telah membuang nya. Mak yang harus nya berdiri paling depan membela nya kini pergi dan menganggap dia sudah m*ti.

Luruh sudah tubuh itu ke atas kasur empuk rumah sakit. Ya, bagi Kemala kasur di rumah sakit lebih empuk daripada kasur nya di rumah.

"Mala, kau masih punya Wawak nak. Ayo bangkit Mala. Jangan begini, nanti mereka akan senang jika melihat mu terpuruk seperti ini."

"Wak, apa balas dendam itu boleh?"

"Nggak boleh Kemala. Kau tidak boleh balas dendam. Tapi kalau kau mau menegakkan keadilan untuk dirimu, Wawak akan setuju dan mendukung."

"Hati Mala sangat sakit Wak. Kenapa Mak tega membuang Mala. Apa keputusan Mala salah jika Mala ingin berpisah dan melaporkan Bang Burhan?"

Wak Nur tidak menjawab apapun, ia biarkan Kemala berkeluh kesah dengannya. Ia belai hijab Kemala yang sedikit mengeluarkan anak rambut dari kening nya.

" Menangis lah Kemala, jangan di tahan nak. Nanti akan jadi penyakit."

" Air mata ini sudah habis wak. Sumur nya sudah kering. Tidak ada lagi air di dalam nya untuk Mala keluarkan."

Wak Nur sangat tahu sekali apa maksud Kemala. Hati nya telanjur sakit. Sudah hancur dan lebur diterpa badai kehidupan.

Di luar sana, seorang Laki-laki dari tadi terus mendengarkan pembicaraan dua orang wanita di dalam. Ia tidak berani melangkahkan kaki nya masuk. Ia takut mengganggu kenyamanan mereka yang ada di dalam.

Ternyata keputusan nya telah tepat. Ia dapat mendengar segala masalah Kemala. Penderitaan yang tiada habis nya di rasakan oleh wanita yang selalu memiliki ruang di hatinya. Tangannya terkepal erat. Emosi nya sudah tak bisa ia bendung.

"Tunggu pembalasan ku Burhan!"

Terpopuler

Comments

Dhia Syarafana

Dhia Syarafana

orang tua goblok, oon ank sengsara malah di bikin makin sengsara. sengsara aku sengsara oh karena burhan.. sengsara aaa... sengsara... aa sengsara a.. a.
a

a

2024-11-08

0

evvylamora

evvylamora

dah lah, tinggalin aja tuh emak sm bapakmu, mau2nya disuruh sujud ga punya harga diri banget, emosi banget sih, bisa2nya pny emak go*bl*ok

2024-11-04

0

evvylamora

evvylamora

gw demen sampe kampung emaknya ditalak, jd janda

2024-11-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Gara-gara Ayam
2 Bab 2 Uang Jajan ku dua ribu
3 Bab 3 Jamur Sawit
4 Bab 4. Anak Yatim
5 Bab 5 Istriku Pelit
6 Bab 6 Usaha Sampingan
7 Bab 7 Selalu Salah
8 Bab 8 Mencoba Hal Baru
9 Bab 9 Rezeki Aska
10 Bab 10 Fitnah
11 Bab 11 Instalasi Gawat Darurat
12 Bab 12 Menjadi Tersangka
13 Bab 13 Isi Pikiran Burhan
14 Bab 14 Kecurigaan Burhan
15 Bab 15 Tidak Rela
16 Bab 16 Bangkit Atau Jatuh
17 Bab 17 Di Buang
18 Bab 18 Bang Heru
19 Bab 19 Cerai
20 Bab 20 Apa Mau mu!
21 Bab 21 Viral
22 Bab 22 Pratiwi
23 Bab 23 Lagi dan lagi
24 Bab 24 Aku Bukan Pelakor
25 Bab 25 Apa lagi ini?
26 Bab 26 Cerai atau Tidak?
27 Bab 27 Kebenaran di Masa lalu
28 Bab 28 Hidup baru
29 Bab 29 Itu Tiwi?
30 Bab 30 Di Permalukan
31 Bab 31 Sejarah Kampung Kemala
32 Bab 32 Selamat Tinggal
33 Bab 33 Cinta
34 Bab 34 Akhirnya Malu
35 Bab 35 Pesta Pernikahan
36 Bab 36 Nina dan Burhan
37 Bab 37 Tiwi berulah
38 Bab 38 Enak kan, Tiwi!
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Gara-gara Ayam
2
Bab 2 Uang Jajan ku dua ribu
3
Bab 3 Jamur Sawit
4
Bab 4. Anak Yatim
5
Bab 5 Istriku Pelit
6
Bab 6 Usaha Sampingan
7
Bab 7 Selalu Salah
8
Bab 8 Mencoba Hal Baru
9
Bab 9 Rezeki Aska
10
Bab 10 Fitnah
11
Bab 11 Instalasi Gawat Darurat
12
Bab 12 Menjadi Tersangka
13
Bab 13 Isi Pikiran Burhan
14
Bab 14 Kecurigaan Burhan
15
Bab 15 Tidak Rela
16
Bab 16 Bangkit Atau Jatuh
17
Bab 17 Di Buang
18
Bab 18 Bang Heru
19
Bab 19 Cerai
20
Bab 20 Apa Mau mu!
21
Bab 21 Viral
22
Bab 22 Pratiwi
23
Bab 23 Lagi dan lagi
24
Bab 24 Aku Bukan Pelakor
25
Bab 25 Apa lagi ini?
26
Bab 26 Cerai atau Tidak?
27
Bab 27 Kebenaran di Masa lalu
28
Bab 28 Hidup baru
29
Bab 29 Itu Tiwi?
30
Bab 30 Di Permalukan
31
Bab 31 Sejarah Kampung Kemala
32
Bab 32 Selamat Tinggal
33
Bab 33 Cinta
34
Bab 34 Akhirnya Malu
35
Bab 35 Pesta Pernikahan
36
Bab 36 Nina dan Burhan
37
Bab 37 Tiwi berulah
38
Bab 38 Enak kan, Tiwi!
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!