Bab 10 Fitnah

Setelah dua hari istirahat total aku sudah sehat kembali. Selama dua hari Wak nur yang membantu ku mengurus Aska. Aku sangat beruntung memiliki tetangga seperti beliau.

"Mala, rumah haji Badrun sedang di sewakan. Kau pindah lah ke sana Mala. Daripada di sini nyawa mu setiap hari bisa terancam."

"Berapa uang sewa nya sebulan Wak? Kan rumah nya lumayan bagus. Mala takut tidak mampu untuk membayar sewa nya nanti."

" Tenang saja kau Mala, nanti kita tanya sama-sama. Mungkin kalau untuk kau akan ada pengurangan harga."

"Apa iya? Wawak ini ada-ada aja." Ucap ku sambil tertawa.

"Siapa sih yang tidak mengenal kau Mala. Satu RT sini juga udah tahu. Gimana si Burhan dan keluarga nya itu jahat sama kau. Setiap pagi kami sampai pusing saat tahu si Burhan marah-marah. Tiada hari tanpa berteriak."

Aku tertawa geli saat mendengar perkataan Wak nur. Tidak sanggup ku bayangkan gimana para tetangga begitu terganggu dengan suara bang Burhan. Walaupun rumah kami tidak berdekatan, suara Bang Burhan bisa sampai kemanapun.

"Boleh lah Wak nur, daripada uang Mala habis di ambil bang Burhan lagi lebih baik habis karena menyewa rumah. Kalau rezeki nanti bisa Mala usaha nyari lagi."

"Betul itu. Kau juga harus memikirkan si Aska anak mu. Jangan sampai masa depan nya hancur karena ayah nya sendiri."

Kali ini aku sudah bertekad akan pergi dari rumah ini. Sudah lelah rasanya di perbudak oleh mereka. Tubuh ringkih ku sudah sangat lemah jika harus menerima pukulan demi pukulan lagi.

Bermodal uang sisa dari celengan Aska, aku pun tinggal di rumah sewa milik haji Badrun. Beliau tidak memberatkan uang sewa itu kepadaku. Aku bisa membayar setengah nya saja.

"Apa kita akan tinggal di sini Bunda?"

"Iya sayang. Apa Aska mau tinggal di sini dengan Bunda?"

"Mau Bunda. Tapi, apa ayah juga akan tinggal dengan kita?"

"Aska mau nya gimana?"

"Aska cuma mau tinggal berdua dengan Bunda. Aska takut nanti Ayah mukulin Bunda lagi."

"Kita akan tinggal berdua saja sayang di rumah ini. Aska jangan takut karena sekarang kita aman di sini. Lihat saja tetangga kita di sini semuanya baik-baik."

Keesokan harinya aku mulai menjalankan usaha ku dengan membuat beberapa kerajinan tangan.

Ranting kayu di hutan bahkan sabun mandi juga ku jadikan modal ku untuk membuat kerajinan tangan berupa bunga dan tangkai nya.

Hasil keringat ku banyak di promosi kan oleh anak nya Wak nur yang memiliki telepon genggam. Jangan tanya mengapa aku tidak memiliki barang mahal itu. Aku tidak akan sanggup untuk membelinya sekarang.

"Bunda, teman Aska kata nya mau beli hiasan gantung yang Bunda buat. Itu loh bunda yang ada cangkang siput nya."

"Emang teman Aska yang mana?"

"Namanya Om Ramadhan, dia sekarang jadi Guru ngaji di mesjid kita."

Degh...

"Nama itu...." Lirihku sesaat.

"Bunda.. kok diam aja sih."

"Maaf sayang Bunda cuma heran aja, kok Aska bisa berteman dengan orang dewasa."

"Bukan cuma Aska saja kok Bunda, anak-anak yang lainnya juga. Kan Aska udah bilang tadi kalo Om Ramadhan itu Guru ngaji kami."

"Apakah aku terlalu terbawa oleh perasaan ku sendiri?" Gumam ku lagi.

"Kan, bunda melamun lagi."

"Eh, maaf sayang Bunda cuma lagi berpikir aja tadi sebentar. Emang mau gantungan yang seperti apa nak?"

"Itu tu bunda, gantungan kecil-kecil yang terbuat dari siput kecil. Kok bisa jadi se cantik ini sih Bunda siput nya?"

"Kan udah bunda hias supaya siput nya cantik dan bisa di jual."

"Nanti Aska mau juga dong Bunda di ajarin."

"Iya sayang, nanti bunda ajarin ya nak."

Semenjak bisnis baru ku laku keras, aku mulai mengumpulkan kulit-kulit keong dan siput pada tanaman warga. Aku beli dari mereka langsung supaya kami sama-sama mendapatkan keuntungan.

Bang Burhan semenjak hari itu memang tidak pernah pulang lagi kerumah, aku pun sudah tidak mau peduli karena aku terlalu sibuk dengan bisnis ku saat ini.

"Wah Mala, makin hari makin cantik saja kau ini." Ucap bik Tuti.

"Betul itu Tini, semenjak dia nggak tinggal dengan Burhan lagi tubuh nya sudah berisi lagi." Wak Nur pun menimpali ucapan Bik Tuti.

Memang semenjak aku pindah ke rumah ini tubuhku semakin terlihat berisi. Aku pun sudah jarang mencari berondolan karena kesibukan ku di bisnis yang baru ini.

Aku juga membeli beberapa cream wajah yang cocok untuk kulit wajah ku. Tidak lupa pewarna bibir yang natural. Hanya pakaian saja yang masih belum aku sesuaikan. Aku masih nyaman dengan baju lusuh ku.

"Mau nyari apa ni Bik Tuti?" Aku pun mengabaikan candaan mereka.

"Begini Mala, aku lagi pengen hiasan dinding yang model lain. Aku punya foto nya."

"Kenapa nggak beli di sana aja Tuti?"

"Mahal Wak nur, mungkin kalau Mala yang buat bisa sedikit lebih murah. Kan lumayan uang nya nggak terpakai banyak. Gimana Mala? Bisa kan kamu buat hiasan dinding yang seperti ini?"

"Mala coba dulu ya bik. Takut nya nanti nggak sesuai. Kan bibik tahu kalau Mala masih belum terlalu pintar."

"Kau tenang aja Mala, kalau berhasil kau buat nanti ku ajak teman-teman arisan ku yang lain untuk membeli kerajinan tangan kau."

"Iya bik, makasih ya sebelum nya udah percaya sama Mala."

"Iya sama-sama. Bibik pamit ya Mala."

Semakin hari semakin bertambah saja orang yang mempercayakan dekorasi rumah nya kepada Kemala. Bahkan sekarang Kemala sudah memiliki telepon genggam seperti orang-orang pada umumnya.

Walaupun bukan ponsel mahal, setidaknya untuk mempromosikan dagangan nya saja itu sudah cukup.

"Mala, kau kan sudah punya handphone, kau buat lah media sosial supaya kau di kenal orang banyak. Nanti barang dagangan kau itu di foto, trus di masukkan ke media sosial. jadi nanti kalau ada orang yang mau pesan, ya orang itu tinggal menghubungi."

"Mala nggak ngerti yang begituan."

"Sini biar si Asih nanti yang wawak suruh buat kan punya mu. Wawak juga nggak tahu Mala! si Asih yang pintar urusan beginian."

Beberapa hari sudah aku menggunakan media sosial untuk kepentingan usaha ku. Disana aku memakai nama Aska anakku. Iseng aku mencari nama bang Burhan, mana tahu ia memiliki hal sosial media juga.

"Burhan Susilo."

Mencari.......

Akun bang Burhan langsung terpampang di depan ku. Sungguh suamiku itu sangat tampan di foto nya.

Ku lihat di dinding sosial media nya yang kebanyakan status galau yang tidak masuk akal. Semakin ke bawah aku semakin di buat tidak percaya.

Begitu mudah nya bang Burhan menjelekkan namaku di sini. Bahkan manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa pun ikut menghujat ku.

"Istriku minggat karena uang yang ku berikan tidak lah cukup. Padahal seluruh uang keringat ku sebanyak lima juta rupiah selalu ku berikan untuk nya."

Begitulah kira-kira status yang di tulis di akun milik bang Burhan. Aku tidak percaya, selain pelit dan suka main tangan bang Burhan juga suka mengarang cerita buruk.

"Ganti istri aja bang, situ tampan pasti banyak yang suka."

Ucap salah satu aku bernama Tiwi-Tika. Ku yakin mereka pasti sekongkol menjelekkan nama ku.

Rasanya aku ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, namun itu tidak mungkin ku lakukan karena nanti Aska akan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bunda nya.

Ternyata bukan itu saja fitnah yang di berikan bang Burhan kepadaku. Seluruh status yang ia bagikan semua nya tentang aku. Tidak ada satu pun hal positif di sana.

Ku screenshot seluruh status yang isi nya fitnah itu. Ku simpan baik-baik di galeri handphone ku. Untung saja Asih telah banyak mengajari ku bermain ponsel.

Besok rencananya aku akan kerumah lama ku untuk mengabadikan seluruh harta yang ada di sana. Aku harus punya bukti kuat jika suatu saat nanti bang Burhan mulai bertingkah lagi.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

Good job Mala 👍

2024-10-01

0

Maz Andy'ne Yulixah

Maz Andy'ne Yulixah

Semangat Mala bangkit tanpa si Burhan🙄😏😏

2024-06-30

2

Truely Jm Manoppo

Truely Jm Manoppo

good job Mala ... kamu pinter pasti bisa melawan si burhan itu

2024-04-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Gara-gara Ayam
2 Bab 2 Uang Jajan ku dua ribu
3 Bab 3 Jamur Sawit
4 Bab 4. Anak Yatim
5 Bab 5 Istriku Pelit
6 Bab 6 Usaha Sampingan
7 Bab 7 Selalu Salah
8 Bab 8 Mencoba Hal Baru
9 Bab 9 Rezeki Aska
10 Bab 10 Fitnah
11 Bab 11 Instalasi Gawat Darurat
12 Bab 12 Menjadi Tersangka
13 Bab 13 Isi Pikiran Burhan
14 Bab 14 Kecurigaan Burhan
15 Bab 15 Tidak Rela
16 Bab 16 Bangkit Atau Jatuh
17 Bab 17 Di Buang
18 Bab 18 Bang Heru
19 Bab 19 Cerai
20 Bab 20 Apa Mau mu!
21 Bab 21 Viral
22 Bab 22 Pratiwi
23 Bab 23 Lagi dan lagi
24 Bab 24 Aku Bukan Pelakor
25 Bab 25 Apa lagi ini?
26 Bab 26 Cerai atau Tidak?
27 Bab 27 Kebenaran di Masa lalu
28 Bab 28 Hidup baru
29 Bab 29 Itu Tiwi?
30 Bab 30 Di Permalukan
31 Bab 31 Sejarah Kampung Kemala
32 Bab 32 Selamat Tinggal
33 Bab 33 Cinta
34 Bab 34 Akhirnya Malu
35 Bab 35 Pesta Pernikahan
36 Bab 36 Nina dan Burhan
37 Bab 37 Tiwi berulah
38 Bab 38 Enak kan, Tiwi!
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Gara-gara Ayam
2
Bab 2 Uang Jajan ku dua ribu
3
Bab 3 Jamur Sawit
4
Bab 4. Anak Yatim
5
Bab 5 Istriku Pelit
6
Bab 6 Usaha Sampingan
7
Bab 7 Selalu Salah
8
Bab 8 Mencoba Hal Baru
9
Bab 9 Rezeki Aska
10
Bab 10 Fitnah
11
Bab 11 Instalasi Gawat Darurat
12
Bab 12 Menjadi Tersangka
13
Bab 13 Isi Pikiran Burhan
14
Bab 14 Kecurigaan Burhan
15
Bab 15 Tidak Rela
16
Bab 16 Bangkit Atau Jatuh
17
Bab 17 Di Buang
18
Bab 18 Bang Heru
19
Bab 19 Cerai
20
Bab 20 Apa Mau mu!
21
Bab 21 Viral
22
Bab 22 Pratiwi
23
Bab 23 Lagi dan lagi
24
Bab 24 Aku Bukan Pelakor
25
Bab 25 Apa lagi ini?
26
Bab 26 Cerai atau Tidak?
27
Bab 27 Kebenaran di Masa lalu
28
Bab 28 Hidup baru
29
Bab 29 Itu Tiwi?
30
Bab 30 Di Permalukan
31
Bab 31 Sejarah Kampung Kemala
32
Bab 32 Selamat Tinggal
33
Bab 33 Cinta
34
Bab 34 Akhirnya Malu
35
Bab 35 Pesta Pernikahan
36
Bab 36 Nina dan Burhan
37
Bab 37 Tiwi berulah
38
Bab 38 Enak kan, Tiwi!
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!