18. SEORANG PENGGEMAR

"Bagaimana dengan pemeran adik perempuanmu?"

"Ah, Sea Alison."

Lucian langsung tahu siapa orang yang dibahas managernya.

Gagasan tentang pendataan baru yang akan bermain film dengannya selalu terdengar di sana-sini. Seseorang yang terkenal jenius akting. Lucian tidak tahu apakah dia benar-benar memiliki kemampuan akting yang hebat atau hanya dibesar-besarkan karena wajahnya yang cukup cantik. Anehnya, ketertarikan Lucian pada orang lain selalu berada di level cepat melupakan, tapi itu berbeda dengan wanita bernama Sea tersebut. Mungkin itu karena dia telah mengetahui rahasianya.

"Bukankah dia tampak seperti orang yang tulus dan baik? Kupikir dia cocok dengan kepribadian lembutmu. Sepertinya dia juga bukan orang yang suka mencari sensasi."

'Hmm. Cocok dengan kepribadian lembutmu?'

Dalam diam Lucian mengulang kalimat Manager Hans di benaknya.

Ya, dia memang lembut, 'kan? Sampai-sampai tak tahan untuk mencabik-cabik orang yang mengusiknya. Bahkan dulu sebelum menjadi selebriti, ia gemar memukul bahkan membunuh orang secara acak. Tapi karena dia berhasil menyembunyikan sifat dan sisinya yang jahat, ia bisa memiliki citra seorang aktor berhati malaikat.

Awalnya, menjadi seorang aktor bukanlah cita-citanya. Dia juga selalu menolak melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Tapi dia bertanggung jawab dengan caranya sendiri. Karena Lucian adalah orang yang akan melakukan apa yang menurutnya harus dia lakukan, jika dia memutuskan bahwa dia juga bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu setelah mendengar isinya, maka ia akan mengambilnya.

Dulu Lucian yang berinisiatif memerankan film independen di kampusnya, meski kesal dan tidak mau melakukannya, tapi dia juga sadar akan nilai semester akhirnya yang harus diperhatikan. Melakukannya, karena bagian dari tanggung jawab, meski ia terlihat kesal. Tak disangka, dia dapat berakting dengan baik. Kemudian, tepat ketika film independen tersebut melejit secara tak direncanakan hingga dia menjadi seperti saat ini.

Seorang pria yang selalu melakukan apa yang menurutnya harus dia lakukan adalah seorang seperti itu. Untuk menyembunyikan gejolak batinnya yang jahat, Lucian berusaha menjadi seseorang yang glamor. Hari demi hari hanya membangun sebuah tembok, dan menjadi monster yang disukai semua orang.

Jelas, kepribadian lembut adalah sebuah omong kosong.

Duduk di kursi belakang, bersandar. Lucian menatap mata Manager Hans yang mengemudi di depan dari kaca spion tengah, dan berkata dengan lembut.

"Ya, aku berharap kami bekerja sama dengan baik."

"Itulah yang diharapkan dari Lucian kami. Kau memang senior yang baik."

Nampak mengubah warna wajahnya setelah mendengar ucapan itu, tapi Lucian tidak sepenuhnya berbohong secara terang-terangan.

Kenyataannya, dia benci jika ada seorang wanita di sisinya sepanjang waktu karena berisik. Selain itu, betapa berbakatnya Lucian Clark menyembunyikan dirinya, terkadang pribadi yang lain akan menonjol. Bahkan dia sering kali melontarkan kata-kata kasar pada managernya yang cerewet, "Kau babi sialan." Ketika Hans yang terkejut menghentikan mobilnya dan bertanya apa yang terjadi, dia mengatakan bahwa dia sudah pulih dari akal sehatnya dan mempraktikkan naskahnya, tetapi Lucian menyadari bahwa batasannya sudah dilanggar.

Batas penyembunyiannya adalah 6 sampai 8 bulan, setelah itu ia akan mengganti managernya. Namun, fakta bahwa Lucian yang suka berganti-ganti manager tidak terlalu diperhatikan reporter. Tetap saja merepotkan baginya. Itulah mengapa dia serius tatkala memberi tawaran pada wanita yang sudah mengetahui rahasianya untuk menjadi managernya.

"Tapi aku sudah ditolak."

"Eh? Apa maksudmu dengan sudah ditolak? Siapa orang aneh yang menolakmu?"

Suara Manager Hans tercekat, seolah-olah apa yang digunakkan Lucian adalah kemustahilan. Tidak percaya.

"Sea Alison," jawab sang aktor kalem, dengan melempar pandangan ke luar jendela mobil.

"Itu tidak mungkin. Dia penggemarmu."

Lucian mengangkat alisnya, "...Oke?"

"Dia bilang dia penggemar sejati. Dia telah melihat setiap filmmu."

"Hmm."

"Jadi perlakukan dia dengan baik, kalau tidak ingin kehilangan salah satu penggemarmu."

"Ya."

Seorang penggemar? Sea Alison padanya? Tapi, kedengarannya menyenangkan memperlakukannya dengan baik.

"Oh ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memberikan tanda tanganmu padanya."

"Kalau begitu, biar aku yang memberikannya secara langsung."

Dan kembali di waktu saat ini, ketika Lucian Clark berdiri di hadapan Sea. Setelah dia melihat fakta jika wanita itu memang benar-benar jenius akting. Ya, pujian yang dilontarkannya semenit yang lalu memang apa adanya. Dan aktor tampan itu memiliki ingatan yang bagus bahwa pendatang baru adalah penggemar beratnya.

Apakah itu hanya sebuah kebohongan? Apakah itu benar? Tiba-tiba penasaran, dia mengajukan pertanyaan.

"Aha, kudengar dari Hans kau itu penggemar beratku?"

"...Ya, aku adalah penggemarmu."

Sea menjawab dengan hati-hati, untungnya ia bisa menahan kata sangkalan yang hampir meluncur seketika.

"Sampai sekarang masih menyukaiku?"

"Ya."

Mendengar jawaban spontan itu, Lucian diam sejenak. Dan bersama itu juga sebuah notifikasi tembus pandang muncul di hadapan Sea.

<< Anda memperoleh $12800 karena presentase suka target 'Lucian Clark' naik 25% >>

'Hah? Apa dia sebegitu sukanya jika aku menjadi penggemarnya?'

Sea tak habis pikir dengan alasan setiap melonjaknya rasa suka pria tersebut. Ini mudah, tapi terasa menyeramkan.

Apa tidak apa-apa untuk menerima perasaan yang absurd itu? Lebih dari itu, dia mendapatkan $12800! Haruskah dia bersimpuh dan berterima kasih pada Lucian Clark? Tapi itu akan menjadi awkward.

Meski aneh, tapi Sea suka dengan uang yang didapatkannya. Ketika dia hendak membayangkan tumpukan uangnya, Lucian kembali berkata.

"Bagaimana rasanya melihatku di dunia nyata? Dikatakan bahwa ada kasus kekecewaan ketika kau melihat selebriti yang disukai secara langsung."

"Tidak seperti itu. Tidak merasa kecewa, tapi..."

Sekalipun seseorang menghujat Tuhan di depan umatnya yang setia, mereka tidak langsung melakukan hal itu. Sea menggeleng namun kembali menarik kata selanjutnya. Ia ragu untuk melanjutkan.

"Melanjutkan."

Mendengar kata desakan disertai senyuman setia si lelaki, Sea mengatakan hal selanjutnya.

"Aku hanya terkejut karena kau.... Ah, aku sudah melupakannya. Ya, benar. Tidak apa-apa."

Lucian menyeringai sambil melambaikan tangan, dan berkata, "Aku mengerti."

Sea langsung menutup mulutnya karena agak merinding. Ia tidak membuka mulut meski melihat pria itu merogoh saku celana panjangnya, seperti hendak mengambil sesuatu namun tangan eksotis itu terhenti.

Dia sempat melihat kain dengan corak yang sangat familiar sebelum benda tersebut kembali tenggelam di saku celana. Sea mengedipkan matanya lalu memiringkan kepalanya.

"Itu kan saputa──"

"Tanganmu."

Perkataan yang bukan untuk mengkonfirmasi keinginan tahunan wanita tersebut. Lucian menarik tangan kiri Sea dengan kasar, yang membuat si empunya tersentak dalam kebingungan.

Lucian mengambil pena dari balik jaket dan membuka tutup pena itu dengan giginya, lalu ia mencoret-coret sesuatu di telapak tangan yang terbuka. Sea mengernyit keheranan, bibirnya mengerucut hendak protes. Tapi aktor tampan itu bergerak dengan cepat dan melepaskan tangannya.

Sea menatap telapak tangannya seolah kehabisan kata-kata. Mulutnya terbuka mirip seperti ikan Mola mola yang bernapas di dalam air.

"Kau senang? Itu adalah tanda tangan aktor kesukaanmu. Aku juga menuliskan nomor pribadiku di sana."

'Hah? Pria gila ini dengan seenaknya mencoret-coret telapak tanganku!'

Sea bolak-balik menatap telapak tangannya lalu menatap wajah tampan Lucian yang tersenyum. Dia ingin sekali berteriak dan memarahi pria itu.

Siapa...?

Siapa juga yang ingin tanda tangan dan nomor teleponnya?

Tangan eksotis dengan jari-jari solid menepuk kepala Sea, lalu pria jangkung itu berbalik pergi untuk bersiap melakukan syuting adegan selanjutnya.

Sea tidak langsung memahami arti dari tindakannya. Dia hanya berekspresi kosong sambil bertanya-tanya apakah semua pria seaneh Lucian Clark.

Berbicara tentang pria lain, Sea belum menemukan empat target yang masih terkunci informasinya. Di mana lagi dia bisa menentukan para pria itu? Kalau dipikir-pikir setelah dia menemukan Lucian, pria itu sebenarnya adalah milik Lilyana. Bukankah hal itu memungkinkan pria lainnya juga sama? Jika benar, dia harus mencegah para target berburunya jatuh di tangan sang karakter utama.

Berdiri dalam diam. Sea kembali menggali ingatan dari plot novel cinta sang bintang. Mengingat siapa-siapa saja anggota perkumpulan harem Lilyana. Namun, suara magnetik dari balik punggungnya menghentikan lamunannya.

"Nona 32."

Sea masih ingat nomer apa itu. Segera ia menoleh. Matanya bertemu dengan mata cerah yang tersingkap di bawah rambut hitam lembut.

[ Ding! Target berburu terdeteksi! ]

[ Ding! ]

[ Ding! ]

Ah...

_To Be Continued_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!