11. CASTING II

Hah? Misi dadakan di saat seperti ini?

Melupakan sejenak kemarahan yang tersulut karena obrolan si ketiga wanita, Sea mengerutkan dahi bingung.

《 Misi dadakan : Permalukan dia! 》

Permalukan Donna Peach yang sudah menghina anda.

□ Berhasil, mendapat $500 dan 1 point.

□ Gagal, dipermalukan.

Sisa periode : 12 jam.

Hmm.

Oh, ayolah, siapa juga yang akan diam saja?

Sea langsung bangkit dan memperbaiki penampilannya, lalu membuka pintu dengan dramatis.

BRAK!

Ah, sepertinya dia terlalu keras membanting pintu tak bersalah itu. Sea meringis sesaat.

Ketiga wanita yang asyik berdandan di depan kaca wastafel terlonjak kaget dibuatnya. Sea melangkah maju dengan acuh tak acuh. Mengabaikan wajah kaku yang tertangkap basah olehnya, yang mereka tertawakan.

Suasana kamar mandi menjadi sunyi.

Mereka menyingkir tatkala langkah anggun Sea masuk di tengah-tengah ketiganya, menuju wastafel dan mengisi keheningan dengan percikan nyala air keran.

Tanpa sadar Donna menelan saliva gugup.

Sejak kapan? Apakah dia mendengar semuanya?

Donna tak tahu kalau wanita tersebut sedang berada di dalam salah satu bilik. Harunya ia tadi mengeceknya terlebih dahulu sebelum berkata yang tidak-tidak. Ia merasa ceroboh.

Menjukurkan lidah dan membuka mulut, tetapi berhenti di tengah jalan lalu tutup mulut lagi. Donna bungkam tatkala melihat Sea membasu mukanya dengan air dingin.

Air dari wastafel terus mengalir membasahi kulit tanpa noda milik wanita yang dikatakan ber-make up tebal. Mengalir dari dahi yang sempit, menuju bulu mata yang lentik, hidung kecil namun mancung, dan bibir padat berwarna merah alami, lalu aliran air berakhir di dagu yang menonjol.

Bagaimana bisa ada wajah sesempurna itu?

Donna merasa iri, namun, malu lebih mendominasi perasaannya. Malu dengan omong kosong yang sudah ia katakan sebelumnya.

Sea mematikan air lalu melirik wanita berambut cokelat melalui cermin, dan berkata, "Apa kau mempunyai tisu?"

[ Ding! Tuan Rumah, anda telah berhasil mempermalukan Donna Peach. 35% tingkat rasa malu. Bagus! Teruskan! ]

Bersama dengan celoteh cerah sistem, dia dapat melihat angka imajiner rasa malu Donna yang melayang di atas kepalanya. Sea paham dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dia harus meningkatkan angka tersebut menjadi 100% jika ingin misinya terselesaikan.

Donna tak menanggapi perkataannya, justru wanita berambut ikal yang menjawab, si yang paling bersemangat.

"Kau bisa memakai tisu milikku."

"Terima kasih."

Menerima tisu pemberian wanita tersebut, Sea menyeka wajahnya hingga kering. Kemudian kembali melirik Donna dan berkata dengan senyum menawan.

"Make up? Tapi aku tidak memakainya. Apakah kau bersedia mengajariku cara memakainya agar wajahku terlihat lebih baik?"

"Haruskah aku..."

Nada suranya terdengar bergetar. Donna berucap sambil menunduk, menghindari semua tatapan yang tertuju padannya, terlebih tatapan prihatian kedua temannya.

[ 47%. ]

"Kenapa tidak?"

Sea bertanya dengan polos, namun, terdengar mengintimidasi. Tak ada yang tahu bahwa dia sedang bersemangat karena angka di atas kepala Donna naik.

Tangan wanita yang sedang mati kutu itu terkepal di kedua sisi, rasanya dia ingin melarikan diri.

"Aku tidak mempunyai waktu mengajarimu. Lakukan saja sendiri."

"Oh, oke," tukas Sea kalem. Beralih mendekati Donna hingga mengikis jarak, dan bergumam sambil mengamati penampilan stylish wanita itu, "Sayang sekali, padahal aku ingin menjadi secantik dirimu."

Donna mengangkat kepalanya seketika, "...Apa?"

Sea berkedip sekali lalu memiringkan sedikit kepalanya. Jari lentik dengan kuku cantik mengusap sudut mata Donna yang hitam.

"Eyeliner-mu luntur, Nona. Akan lebih bagus kalau kau memakai eyeliner waterproof yang tahan lama."

Smirk smile.

Wajah Donna memerah seketika. Ia langsung tergesa beralih ke kaca dan memeriksa keadaan wajahnya. Benar saja, sudut matanya terlihat menghitam meski samar. Merasa semakin malu, angka presentase di atas kepalanya naik secara konstan.

[ 48%, 49%... Sampai ...73%. ]

Semalu itukah dia?

Namun, siapa peduli? Mengangkat bahu sedikit sambil menatap ujung jarinya yang menggantung. Kemudian Sea meraba seluruh pakaiannya untuk mencari sesuatu. Karena tidak menemukan apa yang dicari, ia menampilkan ekspresi bahwa dia melupakannya.

"Ah, aku tidak memiliki eyeliner waterproof yang bisa dipinjamkan padamu. Aku sangat menyesal."

Mendengar kalimat eufemisme yang dilontarkan Sea, yang berarti bahwa── "Aku tidak perlu memakai eyeliner karena mataku sudah indah seperti kacang almond," ──membuat Donna menggertakan rahang kuat. Itu terdengar seperti hinaan halus.

[ 81%. ]

Dan presentase tak kasat mata itu melonjak lagi. Kenyataannya, Sea tidak sengaja telah menghina Donna. Ia hanya benar-benar ingin meminjamkan wanita sensitif tersebut eyeliner namun ia tidak membawanya.

Memelototi Sea, lalu Donna menanggapi dengan ketus, "Ini tidak apa-apa. Aku memang ingin menghapusnya."

"Baiklah."

'Kalau begitu enyah sana!"

Batin Donna meraung kesal, mengharapkan Sea pergi dari hadapannya sementara dia memperbaiki riasannya. Tetapi, wanita dengan wajah sempurna tersebut tak kunjung meninggalkan kamar mandi, justru tengah memperhatikannya. Seolah sedang menunggu apa yang akan dia lakukan.

'Jal*ng sialan...'

"Donna, sebaiknya kita bergegas karena sudah cukup lama meninggalkan ruang tunggu. Giliran kita pasti tidak akan lama lagi."

Seketika menekan emosi yang meledak-ledak. Setelah mengatakan "Ya," Donna mencoba mengabaikan keberadaan Sea, menganggapnya debu yang tidak terlihat. Dia dengan cepat memperbaiki wajahnya.

Namun, debu yang tidak terlihat tersebut justru mengomentari setiap detail lukisan wajahnya. Seperti mengomentari bentuk alisnya yang tidak simetris, warna lipstik yang tidak sesuai, bedak yang terlalu tebal, dan sebagainya. Hanya dia saja. Sedangkan kedua wanita lainnya tidak mendapatkan komentar apapun.

Sedangkan Sea hanya menikmati dalam bingung. Heran saja, kenapa Donna menuruti setiap komentar menyesatkannya dan terus merubah riasannya sesuai dengan apa yang ia katakan? Apakah ini naluri bawah sadar mengikuti orang yang lebih unggul?

Entahlah, Sea tidak ingin ambil pusing.

Sebenarnya dia tidak ingin terus mempermainkan Donna, namun, presentase rasa dipermalukan wanita itu naik setiap dirinya berkomentar negatif.

'Apakah seperti ini rasanya menjadi orang jahat?'

Sea berpikir bahwa ini sedikit menyenangkan, mengingat Donna yang akan ikut menindasnya bersama Lilyana di masa depan.

Ya, lebih baik menjadi antagonis daripada figuran yang ditakdirkan untuk mati.

[ Ding! Tuan rumah telah berhasil mempermalukan Donna Peach. 100% tingkat rasa malu! ]

<< Anda mendapat $500 dan 1 point karena telah menyelesikan misi dadakan! >>

Bersama dengan notifikasi sistem, pintu masuk terbuka dan menampilkan wanita dengan kacamata. Staf yang sebelumnya menatap mereka, mengabaikan situasi aneh itu dan berkata.

"Apa sudah selesai? Nomer kalian akan segera dipanggil."

"Ya, kami akan keluar."

Mendengar keputusan sepihak yang diucapkan Sea, Donna menatap kosong karena riasannya masih berantakan.

**

Ini merupakan struktur alami dalam sebuah audisi film, hal ini dimulai dari mengevakuasi setiap pesarta.

Casting director memintanya untuk memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri, peserta diminta untuk berpose, mulai dari tampak depan, samping kiri, dan samping kanan. Casting director lalu memberikan sebuah potongan naskah. Dan peserta diberi sedikit waktu untuk mempelajari naskah tersebut.

"Peserta Dona Peach, Nomer 31! Silakan keluar!"

"Terima kasih!"

Salah satu peserta yang melakukan casting mengangguk menanggapi perkataan penata peran.

Dia adalah satu dari 31 peserta yang paling baik, dan dia seseorang yang layak untuk menjadi pemeran 'Emily'. Meski riasan wajahnya terlihat aneh.

Apakah ada peserta lainnya yang akan lebih baik? Atau dia hanya akan membuang-buang waktu?

Namun, direktur casting tidak nyaman karena orang yang mengawasi di belakangnya masih bergeming.

Pria itu memutar penanya dan mengerutkan kening. Kali ini peserta yang dievaluasi adalah seorang pemula yang mengambil kelas akting hanya selama seminggu. Sudah bisa dibayangkan seburuk apa aktingnya.

"Ini buruk."

Orang di sebelahnya juga tidak mengharapkan apapun, dengan tatapan tidak terkesan setelah membolak-balikkan dokumen yang tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Lagipula orang biasa mempunyai waktu 7 hari untuk mempersiapkannya, pasti akting peserta itu sangat lucu meski hanya menjadi pemeran pendukung.

Dia menatap panggung dengan ekspetasi yang sangat rendah.

"Peserta selanjutnya, silakan masuk!"

_To Be Continued_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!