13. GAGAL...?

"Selesai."

Sea keluar dari ruang audisi.

Menunggu pesan untuk dinyatakan lolos atau tidak. Tetap saja, mungkin dia akan mendapatkan kabar baik karena telah mendapatkan banyak pujian.

Bahkan meski dia belum siap menjadi selebriti, tapi jujur saja, dia sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia pikir apa yang telah dilakukannya benar, karena tanggapan negatifnya jauh lebih sedikit.

Namun, Sea tidak punya perasaan baik.

Setidaknya ada satu orang yang tidak terhanyut oleh suasana ketika ia bisa menyelesaikan casting. Orang yang berada di balik jendela hitam.

"Aku tidak tahu siapa dia, atau jangan-jangan──"

"Permisi, Nona 32!"

Seruan seorang pria yang keluar dari pintu tempat audisi masih berlangsung menginterupsi. Meski merasa aneh dipanggil seperti itu, Sea menoleh dan mendapati pria yang nampak familiar baginya.

James Tayler.

Pria itu adalah sekretaris Direktur Jerkin Sicario. Dia pernah bertemu dengannya beberapa kali. Apakah itu berarti sang sutradara film 'Arthur The Criminal' ada di sini?

"Ya, ada yang bisa kubantu?" tanya Sea dengan hati-hati, sambil berpikir apakah ada kritik yang tertinggal.

"Tidak apa-apa. Hanya tolong terima ini."

Menatap saputangan kelabu yang disodorkan pria itu. Agak ragu Sea menerimanya. Itu adalah saputangan pria bermerek berkualitas tinggi.

"Itu dari Direktur Jerkin. Kau bisa menggunakannya untuk menyeka wajahmu."

"Ah!"

Dengan gerakan cepat ia menyentuh wajahnya yang habis menangis, sudah dipastikan itu sembab.

"Y.. Ya, terima kasih. Aku memang sedang tidak membawa saputangan."

James tersenyum menanggapi, "Dia berkata Nona 32 bisa menyimpannya."

"Oke."

Mengejutkan. Setelah Sea kehilangan saputangan karena diambil Lucian Clark, kini ia mendapat saputangan pengganti yang berharga ratusan dolar. Entah ia harus senang atau bagaimana.

"Dapatkah ini diartikan sebagai pertanda kalau aku lolos?"

Sea menyuarakan isi hatinya. Segera ia mengatupkan bibirnya ketika tersadar, lalu meremas saputangan lembut tersebut.

"Soal itu hanya bisa dipastikan melalui surat elektronik dalam seminggu," ucap James tanpa melunturkan senyum profesionalnya.

"Oh, baiklah."

"Kalau begitu aku akan kembali."

"Ya, terima kasih."

Tak bosan melontarkan ungkapan umum tersebut. Sea masih berdiri di tempat meski James sudah berbalik pergi.

Ia menggunakan saputangan asing yang untuk membersihkan jejak lelehan air matanya dengan gerakan hati-hati, karena merasa hina jika ingusnya menempel pada saputangan beraroma kombinasi amber tersebut.

**

Perasaaan tidak baik yang dirasakannya terbukti sudah. Hanya inilah satu-satunya pikiran di kepala Sea selama hampir sebulan ia menunggu kabar.

Menunggu itu terasa sangat sulit.

Belum ada kabar dari pihak audisi pemeran 'Emily'.

Apakah Donna Peach yang terpilih?

Sea mengerang kering sambil menatap ponsel yang tergeletak di atas meja kecil depan TV. Wajahnya cemberut dan suram. Sepertinya dia terlalu percaya diri hanya karena mendapat pujian dari direktur casting dan paman pelatih akting. Meski pada akhirnya, keputusan utama ada di tangan Sutradara Jerkin Sicario yang ikut menonton di balik jendela hitam.

Yang dia ketahui tentang sang sutradara──yang hanya pernah dia lihat sekilas, bahwa pria itu memiliki kepribadian menyeramkan. Ia selalu membuat orang-orang bergidik dengan senyumnya. Ia masih muda dan pernah di tempatkan di cabang IAA luar negri selama 4 tahun, jadi Sea pikir ia berjiwa bebas. Nyatanya seleranya dalam memilih aktris untuk bermain dalam filmnya sulit ditembus oleh Sea Alison.

"Gagal..." gumamnya sedikit putus asa.

Jika dia benar-benar gagal mendapatkan peran 'Emily', dia akan mencari seorang sponsor yang bisa membantunya di dunia industri hiburan. Sea tidak harus menghabiskan hari-hari berkeliling kota dan mengikuti audisi lainnya karena dia memiliki batas waktu.

[ Ding! Tuan rumah bisa meningkatkan elemen 'Pesona' untuk mempermudah mendapatkan sponsor. ]

Mendengar arahan dari suara mekanik, dia merenung sejenak. Pesona? Apakah itu daya tarik?

Menghela napas berat, Sea meringkuk dan menopang dagunya di meja, ia kembali menatap ponselnya yang tak kunjung berdering. Bibirnya mengerucut dan berkata dengan lemas.

"Tapi memiliki sponsor sama saja dengan menjual tubuhku. Apakah aku harus melakukan itu...?"

Lantas apa bedanya dia dengan Lilyana Oswald, yang rela melakukan apapun demikian sebuah ketenaran?

Drrr...

Sea terlonjak tatkala mendengarkan ponselnya berdering. Jantungnya mendadak berpacu dan tangannya tergesa mengambil benda persegi tersebut. Itu adalah notifikasi masuknya sebuah email.

Malam ini. Pada pukul 9 lewat 27 menit, Sea Alison mendapat kabar bahwa dirinya lolos audisi untuk peran 'Emily' di film 'Arthur The Criminal'.

Sorak kegembiraan pun memenuhi town house kumuh itu.

<< Anda mendapat $700 dan 1 point karena telah lolos audisi film! >>

Oh, bahkan sistem juga merayakannya.

**

Bagaimana Oktober seharusnya diawali?

[ Ding! Tentu saja dengan semangat jiwa raga! ]

Sea mengangguk memberi persetujuan atas celetuk riang sistem. Ya, dia harus semangat.

Meninggalkan musim panas bulan September yang dipenuhi hal diluar nalar, meski sampai sekarang hal diluar nalar tersebut masih menempel padanya. Tetap saja, September adalah sebuah permulaan. Permulaan atas jalur karir yang baru. Sesuatu yang baik. Seharusnya seperti itu.

Hari ini adalah pertemuan pertemuan pertama untuk pembacaan naskah filmnya.

Jantung berdetak kencang saat skenario itu berada di pegangan tangannya. Ia menyadarkan dirinya di sofa, terletak di salah satu ruang tunggu kecil, lalu terhenyak sebentar setelah memulai membuka halaman pertama.

Sea tahu sedikit bocoran tentang skenarionya melalui novel cinta sang bintang, tapi membacanya secara keseluruhan benar-benar menakjubkan. Ia masih berkonsentrasi dalam kesendiriannya. Tiap lembar diteliti untuk dibacanya. Wajahnya serius, berusaha menyelami setiap kata-kata. Jika seorang tidak tiba-tiba mengetuk pintu ruang tunggu dan menyembulkan kepalanya dari cela pintu yang terbuka, jujur aja akan berapa lama lagi dia akan membiarkan dirinya berada di ruangan ini.

"Pertemuannya akan segera dimulai, kau bisa pergi sekarang."

"Aku akan segera pergi."

Sea segera bersiap, sementara orang itu kembali menutup pintu setelah memberi arahan di mana letak ruang pertemuan.

Menarik dan mengeluarkan napas berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup yang melanda. Dia akan bertemu orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film 'Arthur The Criminal'. Dia berharap tidak berakhir mempermalukan dirinya sendiri di pertemuan tersebut. Dengan catatan, dia harus menjalin hubungan yang baik dengan semua orang.

Tanpa adanya manager atau siapapun yang menemaninya. Aktris pendatang baru itu melangkah menuju ruang pertemuan.

Ya, bisakah Sea Alison menyebut dirinya aktris sekarang?

"Sepertinya itu terlalu cepat."

[ Ding! Tuan rumah akan menjadi penakluk dunia industri hiburan. Seseorang yang akan menjadi superstar! ]

[ Bukan masalah karena tidak mempunyai manager, sistem akan menjadi manajer anda. ]

Sea mengabaikan ocehan sistem sebagai latar langkah kakinya. Dan sampailah dia di depan sebuah ruangan dengan pintu bertuliskan 'Pembacaan Naskah Arthur The Criminal'.

Kriet. Saat Sea membuka pintu masuk, direktur casting yang duduk di kursi dan sedang mengobrol dengan seorang pria terlonjak.

"Ah, akhirnya kau datang! Aku dengar kau sudah lama menunggu di ruang tunggu."

Sea melihat jam di dinding. Masih kurang 5 menit sebelum jam pertemuan. Dia saja yang terlalu bersemangat dan datang dua jam lebih awal. Menggeleng dengan tersenyum lalu berkata jujur.

"Aku tidak sabar mulai bekerja."

"Kerja bagus. Persiapan produksi sedikit tertunda jadi kami sedikit terlambat memberimu kabar. Tapi, seharusnya jadwal syuting semua pemeran sudah ditetapkan. Lagipula, ini proyek besar."

"Tida masalah," Sea menggeleng cepat, meski uring-uringan akibat keterlambatan itu, "Aku senang ketika dinyatakan lolos audisi untuk kerja sama di film ini."

"Ini awal yang baik, benar 'kan?" pria berumur 30-an berkomentar dengan senyum.

Sea mengangguk, "Benar... Awal yang baik."

Setelah beramah-tamah dengan direktur casting, dia mulai memperkenalkan diri pada semua orang. Untungnya Sea disambut dengan baik. Bahkan para aktor hebat yang akan membuat film ini hit tersenyum ramah padanya.

Seiring berjalannya waktu, ruangan ini menjadi ramai.

"Maaf aku terlambat," ucap seseorang yang baru masuk.

Seketika Sea terdiam, ia pernah mendengar suara lembut dan manis ini. Mencoba berbalik, ia terhenyak sejenak ketika melihat pria berambut cokelat tua.

"Kau nona manager?"

Ekspresinya terkejut samar namun perlahan melengkungkan bibir ke atas dan melihat buku naskah di pelukan Sea. Orang-orang yang matanya melengkung saat tersenyum membuat kesan baik.

Sial, Sea hampir melupakan Lucian Clark yang menjadi protagonis di filmnya.

_To Be Continued_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!