Sea masuk dengan pintu tertutup di belakangnya.
Di dalam, ada dua orang pria yang duduk di kursi belakang meja panjang yang nampaknya berusia pertengahan 40-an dan 30-an. Pria 40-an mengenakan baju kasual, dan pria 30-an mengenakan jas. Pria yang lebih tua tersenyum dan membalas sapaannya, tapi pria 30-an dengan rahang tajam dan fisik yang tegap menampilkan ekspresi tak berarti apapun.
Ruangannya lebih besar dari yang ia bayangkan, dan ada jendela hitam besar dengan pintu di belakang dua orang yang duduk berlawan arah. Itu seperti jendela di ruang interogasi polisi yang biasa di lihat di film-film.
[ Ding! Sistem mendeteksi ada seseorang di sana. ]
Kemudian pria berusia 40-an menyalakan kamera di meja.
"Lihat ke kamera dan perkenalkan dirimu."
"Sea Aliaon. 23 tahun."
Hening beberapa detik.
"Cuma itu?"
Dia bertanya, matanya beralih dari bidikan kamera, dan memutar kepalanya ke direktur casting di sebelahnya dengan suara "hmm" atas anggukan si peserta.
Lalu pria dengan jas meminta Sea untuk berpose, mulai dari tampak depan, samping kiri, dan samping kanan. Namun, pria dengan baju kasual yang entah kenapa terlihat lelah menatap Sea, lalu tiba-tiba melirik ke jendela hitam di belakangnya dan mengeluarkan suara dikeraskan.
"Aku tidak menyukai seseorang yang hanya menonjolkan wajah daripada bakat! Jadi apa yang membuatku harus memilihmu?"
Peserta yang satu ini terlihat sangat cantik, ia mempunyai wajah dengan standar kecantikan Amerika di atas rata-rata. Seolah-olah ia Dewi yang baru keluar dari tempat persembunyiannya. Direktur casting tak peduli ke mana saja wanita tersebut selama 23 tahun ia hidup.
Masalahnya suasananya masih membosankan, karena peserta itu terlihat hanya mempertontonkan kecantikannya dan berlaga misterius. Lalu ia dapat gambaran sombong padahal ia tidak pandai dalam hal itu.
"Aku tidak punya pengalaman untuk di perkenalkan."
"Ah, memang tidak ada apa-apa di formulir lamaran ini."
Direktur casting memukul penanya dengan tidak puas.
"Itu benar."
"Kalau kau tahu, pergilah."
Sea berdiri dalam diam mendengar direktur casting yang tidak memiliki minat sama sekali terhadapnya.
"Kau tidak paham dengan bahasa manusia Evaluasi sudah selesai, sekarang pergilah?"
Kembali terdengar suara keras dan disertai degusan. Sea tidak bergerak, ia merenung sejenak. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk berakting. Oh, mana bisa berakhir seperti ini!
"Aku tidak mau."
"Apa?"
Sea menatap direktur casting, yang mengangkat pandangannya karena kaget dengan ucapannya.
"Aku minta maaf, Tuan."
Menundukan kepala dan dengan sengaja menundukan pandangan. Kata-kata yang membuat sekeliling hening. Pria dengan baju kasual yang lelah mulai menatap dengan minat.
Wanita itu sengaja membuat kontak mata dengan mereka seolah-olah ia penakut. Ia telah melihat cara Lilyana Oswald bergumam terus-menerus untuk menghafal naskah ketika ia menjadi manager. Adegan ketika Lilyana memohon ampun selama menit kini kembali dibenaknya.
"Sungguh, aku minta maaf. Terkadang, tanpa kusadari, ah... Jadi, ada waktu ketika aku gugup dan takut. Aku gemetar hebat tanpa ampun dan ketika aku ingin mengatakan apa yang kuinginkan... Semua orang yang kukenal di hadapanku tidak peduli dan menganggapku hina. Ya... Aku ingin bilang bahwa bukan itu maksudku. Tapi, tapi aku sudah berusaha untuk menjadi lebih baik untuk bisa diterima. Bukan aku yang kikuk dan tidak percaya diri. Jadi, jangan menyuruhku pergi."
Hanya suara lirihnya yang bergema di seluruh ruangan. Itu bukan bagian arah ke mana ia harus menundukkan kepala namun Sea pikir itu mungkin tertangkap basah hanya bergumam dengan menggerakkan mulut, kalau ia membuat kontak mata.
"Aku sudah berusaha keras untuk bisa berdiri di hadapanmu. Jadi... Tolong jangan lihat aku dengan tatapan itu. Kumohon berikan aku kesempatan."
Setelah menyelesikan dialog terakhir, Sea perlahan mengangkat pandangan. Ia melihat direktur casting yang melamun, dan paman berumur 40-an yang nampak serius.
"Film 'Hate And Run' yang tayang dua bulan yang lalu, adegan minta maaf Lilyana Oswald."
Lalu, pria dengan jas bergumam, "Ah, itu" dan mengangguk. Segera ia menyadari situasinya dan menenangkan wajahnya dengan batuk kering, "Hmm, ah, jadi... Barusan kau akting?"
"Ya, aku hanya memberi jawaban kenapa kalian harus memilihku."
Saat Sea berbicara dengan sopan, direktur casting menghindari tatapannya dan tertawa canggung.
"Itu cukup mengejutkan. Akting yang bagus."
Ingin meminta maaf karena telah meremehkan peserta cantik tersebut, namun, ia terlalu malu. Direktur casting lalu memberikan sebuah potongan naskah.
"Aku memberimu sedikit waktu untuk mempelajari naskah tersebut. Setelah itu kau bisa kembali berakting."
<< Anda mendapat 1 point karena telah berhasil melewati ujian mental dari direktur casting! >>
Menerima naskah tersebut. Sea diam-diam berkedip tatkala melihat jendela hologram tembus pandang yang mendadak muncul. Ia tidak mengharapkan ini namun ia senang saja menerima 1 point.
Direktur casting memandangi peserta yang sedang membaca naskah. Tentu saja, menemukan pemeran berbakat untuk film itu menguntungkan, tapi ia masih kurang yakin dengan kemampuannya yang hanya belajar akting dalam 7 hari.
'...Itu bagus, karena peserta ini memberikan kami kejutan akting yang mungkin sudah dia persiapkan sebelumnya, tapi akting yang akan dia lakukan selanjutnya tidak akan mudah. Sebab dia harus melakonkan naskah yang belum pernah dia lihat. Mari kita lihat secepat apa dia menghafalnya. Sanggupkah dia kembali berakting dengan baik.'
Tentu saja, harus bisa melakukannya dengan baik. Namun, karena naskahnya adalah satu di antara adegan menyedihkan 'Emily', maka pembawaannya harus penuh emosi. Ia harus bisa menarik hati orang-orang yang mengevaluasinya.
Namun, direktur casting tak tahu bahwa Sea Alison memiliki karekteristik kelas D yang berguna di saat seperti ini. Dan mudah baginya yang memiliki elemen kecerdasan C untuk menghafal naskah kurang dari 5 menit.
C memang bukan nilai yang buruk. Itu setara dengan kecerdasan Donna Peach.
"Aku sudah bisa mulai."
[ Ding! Karakteristik 'Air mata buaya' aktif. ]
Dan seketika, segala macam emosi meluap memenuhi ruangan. Naskah yang meluncur dengan lancar. Badan yang meringkuk, arah pandangan kosong, ekspresi wajah yang menunjukkan kesedihan, kerutan di alis dan bibir, serta mata basah yang melupakan liquid bening.
Sea berakting begitu baik.
Pada akhirnya, kedua pria yang menonton menangis dibuatnya. Terkecuali pria dibalik jendela hitam yang menatap dengan tatapan sulit diartikan.
Sea menundukkan kepala begitu ia selesai berakting. Lalu dia menambahkan kata-katanya, sedikit kosong.
"...Terima kasih."
Terjadi keheningan singkat. Direktur casting mengembara penanya erat-erat. Matanya memerah karena habis menangis.
'Wanita ini benar-benar luar biasa...'
Pria berumur 40-an bersemangat setelah menghapus air matanya yang tumpah, dan berkomentar kagum.
"Wow, Sea Alison!"
Dia adalah pelatih akting yang terkenal tegas dan berterus terang. Dia tersenyum sampai matanya menyipit seolah menyukainya.
"Kau tahu, kau melakukan pekerjaan dengan baik, 'kan?"
"Aku berlatih keras untuk berakting dengan baik."
Direktur casting dengan cepat menambahkan.
"Tidak, kamu baru saja dilahirkan dengan itu. Kamu punya bakat."
Sea menundukkan kepalanya, berteriak di dalam hati. Kedua pria itu terus membanjirinya dengan pujian.
Apakah dia akan lolos?
_To Be Continued_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments