7. PSIKOPAT BERDARAH DINGIN

Takut-takut, Sea menunjuk wajah Lucian dengan jarinya, dan pria itu menyekanya dengan telapak tangannya. Lalu tertawa pelan.

"Tidak apa-apa. Ini bukan darahku."

Dia menendang kepala Jamie sekali lagi. Pada saat yang sama, Sea mengerutkan kening dan meringis tanpa sadar. Lucian terus menyeka darah di sepatunya pada pakaian pria yang terbaring mengerikan.

"Mengapa kau datang?" tatapan teduh Lucian jatuh pada botol minuman keras di tangan Sea, yang mengacung siap memukul, "Apa kau sedang mencari bajingan ini untuk memukulnya juga?"

"...Tidak," jawab Sea dengan ludah kering di tenggorokannya, susah payah ia melanjutkan, "...Kau tidak datang, jadi Manager Hans khawatir terjadi sesuatu..."

Sea berakhir tergagap karena tak berhasil dengan kata-katanya, dan menunjukan ekspresi tidak percaya. Hal ini jelas mengkhawatirkan. Melihat pria yang terbaring di samping Lucian, sepertinya dia membutuhkan setidaknya tujuh minggu untuk pulih dari dislokasi yang dialaminya.

Bahkan setelah melihat situasi di depannya, Sea tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap tranformasi tidak terduga dari Lucian Clark yang terkenal seperti malaikat, yang diceritakan tidak pernah menunjukan kemarahan, dan tersenyum dengan apapun yang terjadi.

Sulit dipercaya bahkan jika dia melihatnya dengan matanya dan mendengarnya dengan telinganya sendiri.

"Kami bertemu satu sama lain saat perjalanan ke kamar mandi."

"..."

"Santai. Kau juga bisa bebas memukulnya. Aku memastikan tidak ada CCTV di sini. Aku memukulnya dari belakang agar dia tidak tahu kalau itu aku. Tidak akan ada sidik jari yang tersisa."

"...Aku benar-benar tidak ingin memukulnya."

Itu adalah kata-kata Sea dengan makna yang kompleks. Melupakan niatnya yang masih ingin menyalurkan sisa kemarahan pada Jamie.

"Oh, begitukah?"

[ Ding! Berbahaya, saat ini target sedang tidak dapat didekati. ]

'Sial, sial, sial.'

Sea terus mengutuk. Melangkah mundur selangkah demi selangkah, dia ingin sekali pergi dari sini. Persetan dengan menaikan presentase suka target berburu. Apa yang bisa dia lakukan untuk berhadapan dengan seorang psikopat berdarah dingin? Bisa-bisa ia berakhir dipukuli seperti seonggok tubuh Jamie Scott.

Namun, sebelum berhasil bergerak lebih jauh lagi, tiba-tiba lengan Sea ditarik kasar.

Ia berontak, mencoba menarik tangannya. Lucian menyeretnya masuk ke dalam. Lalu tubuh mungil itu dihempas kasar ke tembok setelah pria itu menutup pintu besi.

"Bahkan jika kau takut. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lihat."

"Akh──hmpt!"

Ingin berteriak, tapi tertahan. Lucian membekap mulutnya dengan telapak tangan.

Diserang mendadak begini, Sea terkejut dan gelagapan. Dia balas mencengkeram tangan besar si lelaki, berusaha melepaskan dari mulutnya, tapi kekuatannya tidak sebanding.

"Diam."

Suara Lucian terdengar rendah dan mengancam, berbeda dengan suara lembut ketika bertanya tentang keadaanya setengah jam yang lalu.

Faktanya, Lucian bukanlah orang baik. Meskipun dia menipu orang-orang dengan kesan baik dan nada lembutnya, dia adalah manusia yang kurang berekpresi hanya dengan mengatakan dia memiliki kepribadian buruk.

Mulut Sea sakit dan tidak bisa bernapas. Cengkeraman tangan pada mulutnya sangat kuat.

"Jangan berteriak."

Sea mengangguk dan menghentikan usahanya untuk memberontak. Nampak semakin jelas jejak darah di wajah iblis tampan itu.

Tatkala cengkraman tangan besar mengendur, mata biru turquoise menggelap dan melotot tajam.

Segera Sea menggunakan kesempatan untuk menggigit bagian sela ibu jari dan jari telunjuk tangan besar itu dengan keras, menyalurkan semua rasa rakut dan kesalnya. Takut karena telah melihat adegan berdarah, kesal karena Lucian telah seenaknya membekap mulutnya hingga hampir kehabisan napas. Lagipula bukan maunya melihat sisi menyeramkan pria itu.

"Kurang ajar, apa kau ingin membunuhku?"

Dia langsung meraup oksigen dengan cepat. Dengan keberanian yang terkumpul dan napas memburu, Sea bertanya dengan tatapan seolah berkata betapa gilanya pria yang meringis memegangi tangannya yang sedikit berdarah.

"Kau beraninya..."

"Aku tak takut padamu."

Meski masih terpojok di antara tubuh tinggi Lucian dan tembok, Sea tak gentar dan masih melotot tajam. Begitu pula lawannya yang menatap ganas.

Sea berusaha mati-matian menekan rasa takut, dan itu berhasil. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan masa lalu kelamnya. Anggap saja ia bodoh karena mencoba melawan seorang psikopat. Namun, jika ia takut dan masih saja terus diam saat ditindas, ia tidak akan pernah bisa berubah.

Dan menit berikutnya, setelah keduanya saling melempar tatapan tajam, Lucian tertawa pelan.

"Kau sangat lucu."

Sinting, seketika Sea merinding.

<< Anda memperolah 800$ karena presentase suka target 'Lucian Clark' naik 5% >>

Kedua mata wanita itu semakin terbuka lebar. Yang benar saja, naik menjadi 5%? Dia memang sudah curiga sejak awal bahwa sistem ini sama gilanya seperti pria di hadapannya.

[ Ding! Sistem menanggapi penyataan tuan rumah, anda sangat kejam. ]

'Memangnya siapa yang kejam di sini? Bukankah kau yang kejam karena membuatku berurusan dengan pria psikopat? Target berburu katamu? Yang ada aku yang menjadi buruan!'

[ Hihihi. Semangat! ]

Sea tidak dapat berkata-kata lagi, baik mulut dan pikiran.

"Hey, hal-hal yang kau lihat sebelumnya lupakan itu semua. Jika kau tidak melakukan itu, aku akan benar-benar membunuhmu."

"Tidak ada untungnya bagiku tidak melupakan kejadian ini."

Sea menjawab seketika ancaman Lucian, dia bisa melihat kebengisan di wajah lelaki itu.

Apakah orang ini benar-benar Lucian Clark? Orang yang selama ini dikenal fans di beberapa negara, dengan wajah yang seolah tidak mampu membunuh semut dan melontarkan kata-kata berdarah dengan nada lembut?

Omong kosong!

Bagimana bisa manusia seperti itu menjadi aktor nomer satu tanpa ada anti-fan? Astaga. Betapa pintarnya Lucian memakai topeng. Karena wajah pria ini terlalu bagus untuk dianggap menjadi orang gila, dia mengangguk dan menanggapi Sea tanpa menunjukan ekspresi yang tidak berarti apapun.

"Aha, aku suka dengan cara kau menjawab."

Lucian tidak menunjukan tanda-tanda rasa malu meski mengungkapkan sisi buruknya. Dia melepas sarung tangan kulitnya yang berlumuram darah seolah itu adalah prilaku alami dan menyerahkannya pada Sea.

"Tolong buang itu. Akan berbahaya jika aku membawanya."

"Oke."

Tanpa sadar Sea menerima sarung tangan kulit dengan wajah kosong. Apa sekarang pria itu menganggap dirinya sebagai komlotan? Kenapa juga dia ikut mengurus apa yang telah Lucian lakukan?

"Bagaimana jika kau menjadi managerku saja?"

Lucian menawarkan sesuatu yang konyol, dengan nada suara yang berubah bersahabat. Memang siapa yang mau, jelas Sea langsung menolak tanpa berpikir.

"Tidak. Terima kasih."

"Hmm, sayang sekali. Kalau begitu biarkan aku masuk dulu."

'Ya, cepat pergi sana!' Sea gemas karena Lucian tidak kunjung pergi, berduaan dengannya membuat udara terasa mencekik.

Lucian yang melewati Sea dan membuka pintu, sepertinya mengingat sesuatu, kembali menoleh dan berkata.

"Tolong pinjamkan aku saputangan."

"...Eh?"

Seolah dirasuki sesuatu, Sea mengeluarkan saputangannya dan menyerahkannya padanya. Lucian yang menyeka darah di wajah dengan sapu tangan, dan tidak menyerahkannya kembali pada wanita itu.

"Aku akan menyimpan ini untuk jaminan."

Lalu dia menutup pintu besi dan menghilang. Ketika Sea hendak menarik napas lega, dua pesan dari sistem membuat napasnya tercekat. Seolah tidak diberi kesempatan untuk bernapas.

<< Anda memperolah $1600 karena presentase suka target 'Lucian Clark' naik 10% >>

<< Anda memperolah $3200 karena presentase suka target 'Lucian Clark' naik 15% >>

_To Be Continued_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!