Van berjalan kembali menuju pohon yang anehnya masih berdiri setelah terkena dampak mengerikan [Decay].
Van berbaring sambil mengistirahatkan dirinya dengan cara menutup matanya.
...----------------...
Satu jam kemudian.
Van membuka matanya dan melihat matahari telah hampir terbenam yang menunjukkan waktu telah sore.
Van juga menyadari bahwa sebagian besar siswa Akademi telah terbangun dari pingsannya.
"Baiklah semuanya, berikut hasil dari pertarungan tadi, lihatlah!" ucap Kepala Akademi dan menjentikkan jarinya.
Kemudian, sebuah layar hologram muncul dan memperlihatkan peringkat kelas.
Juara 1 - 100 memasuki kelas S
Juara 101 - 250 memasuki kelas A
Juara 251 - 500 memasuki kelas B
Juara 501 - 800 memasuki kelas C
Juara 801 - 1200 memasuki kelas D
Juara 1201 - 1600 memasuki kelas E
Juara 1601 - 2000 memasuki kelas F
Tentunya Van memasuki kelas S dengan urutan peringkat 1.
Peringkat Van membuat semua orang kagum dan tak ada yang heran karena Van telah membuktikan kekuatannya selama pertarungan tadi.
"Baiklah, kalian pasti lelah karena pertaruhan tadi, jadi silahkan pergi ke asrama kalian untuk beristirahat....
Kelas S pergi ke asrama tingkat S, kelas A pergi ke asrama tingkat A dan seterusnya." ucap Kepala Akademi.
Van dan yang lainnya mengikuti arahan Kepala Akademi dan pergi ke asrama.
Lagi pula rasa lelah selama pertarungan tadi tidak bisa disembunyikan dan perlu diredakan sesegera mungkin.
Saat di perjalanan, Van melihat asrama tingkat F yang memiliki fasilitas sebanding dengan hotel bintang 3 di kehidupan sebelumnya.
Jika tingkat F saja sudah sebanding dengan hotel bintang 3, bagaimana dengan tingkat S?
Setelah beberapa menit perjalanan, Van akhirnya tiba di asrama tingkat S.
Sebuah ekspresi puas muncul di wajah datar Van saat melihat asrama tingkat S di depannya.
Fasilitas seperti ini cukup mengagumkan dan bisa dikatakan sangat mewah.
Van memasuki asrama tingkat S dan melihat beberapa siswa asing berjalan di lobby asrama.
Kedatangan Van menyebabkan orang-orang yang sedang berjalan mengalihkan perhatian pada Van.
"Hei itu wajah yang asing, apa kau mengenalnya?"
"Tidak, apakah dia penghuni asrama tingkat A yang nyasar ke asrama tingkat S?"
"Apakah dia siswa Akademi yang baru? Hari ini adalah hari penerimaan murid baru kan?"
"Kau benar, sepertinya dia adalah siswa tahun pertama."
Van mengabaikan tatapan yang diarahkan padanya dan berjalan menuju layanan service.
"Atas nama siapa?" tanya seorang wanita paruh baya pada Van.
'Kuat, setidaknya berada di peringkat 100 besar di antara pahlawan.' pikir Van ketika merasakan aura yang dipancarkan oleh wanita paruh baya di depannya.
"Van Black." jawab Van dengan ringan.
"Van Black yah." gumam wanita paruh baya itu.
"BLACK?!" sambung wanita paruh baya tersebut dengan nada terkejut dalam suaranya.
Suara wanita paruh baya itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk bergema di lobby.
"Hei hei kau bercanda?"
"Van Black? anak pahlawan #1 (peringkat 1)?!"
"Mana kamarku?" tanya Van dengan wajah datar.
"Ahh maafkan aku, di lantai 8, kamar nomor 801." ucap wanita paruh baya tersebut.
Van mengangguk sebagai tanggapan dan berjalan menuju lift.
...----------------...
"801... 801... ketemu" gumam Van sambil mencari kamarnya.
Van kemudian menempelkan sidik jarinya pada sensor sidik jari.
Setelah itu, pintu besi yang setebal 15 cm terbuka dan Van memasuki kamar miliknya.
...[Selamat datang, Master Van]...
...[Perkenalan Aku A.I.]...
...[Pelayan Cerdas Siap melayani Anda]...
"A.I. isikan bathub dengan air hangat." ucap Van.
...[Baik Master]...
Van kemudian berjalan menuju kamar mandi dan melihat bathub sudah terisi air.
Tanpa berlama-lama, Van melepas pakaiannya dan berendam di bathub.
Van sangat menikmati berendam di bathub hingga tanpa sadar tertidur.
...----------------...
Van membuka matanya dan tersadar setelah dia mendengar suara A.I.
[Master]
[Berendam lebih dari 1 tidak baik untuk kesehatan]
Van akhirnya bangkit dari bathub, lalu mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian khusus miliknya.
Catatan : sebuah pakaian lengan panjang hitam, celana training hitam, blazer hitam panjang hingga lutut dengan penutup kepala, dan kain hitam yang menutup bagian bawah mata hingga leher
Van kemudian berjalan keluar dari kamar miliknya melalui jendela dan naik ke atap asrama.
Visi Van akhirnya menyebar dan dia dapat melihat tiga orang siswi akademi sedang membully seorang siswi tahun pertama.
Van kemudian berlari ke arah tersebut sambil menghindari pandangan CCTV.
Setelah 15 menit perjalanan, Van akhirnya tiba dan bersembunyi di balik dinding.
Van melihat 3 siswi akademi yang buruk rupa sedang membully siswi tahun pertama yang sangat cantik.
"Hei hei, ada apa tahun pertama? Seorang tanpa [Skill] sepertimu masih berani bersekolah di akademi?"
"Ya, hanya karena wajah cantikmu, banyak pria menatap dirimu bahkan idolaku menatapmu."
"Sungguh Aku ingin sekali merusak wajah cantikmu itu."
Akhirnya salah satu dari mereka mengambil pisau dan mencoba merusak wajah cantik siswi tahun pertama tersebut.
"Hentikan, kumohon hentikan, aku tidak melakukan apa-apa pada kalian." mohon siswa tahun pertama itu dengan menangis.
Namun, permohonannya tak digubris sama sekali oleh ketiga siswi tersebut.
Siswi tahun pertama menatap pisau yang mendekati wajahnya dengan ketakutan.
'Tolong!' teriak siswi tahun pertama di dalam hatinya.
Saat pisau semakin mendekat, sebuah suara terdengar yang membuat siswi senior tersebut berhenti.
"Berhenti."
"Siapa?"
Kemudian sebuah sosok muncul dari belakang dengan pakaian serba hitam yang menutup seluruh tubuhnya, kecuali bagian mata.
Melihat sosok tersebut, salah satu dari ketiga siswi tersebut menjadi ketakutan.
"Me-mengapa Ia disini?!"
"Hei ada apa?"
"Mengapa kau ketakutan?"
"Apa kalian tidak melihat berita? Dia [Darkness] sang pembunuh pahlawan!"
"Astaga!"
Sosok yang tak lain adalah Van berlari mengambil pisau yang ada di tangan salah satu siswi
Setelah meraih pisau, Van mengayunkan pisau tersebut ke arah leher siswi yang tadinya memegang pisau.
Pisau tersebut kemudian merobek leher siswi tersebut dan darah merah segar mengalir deras keluar.
Siswi tersebut mencoba menutup lukanya dengan tangannya, tetapi usahanya sia-sia.
Akhirnya, dia terjatuh ke tanah dan vitalitas di matanya benar-benar habis.
Namun, sebuah bola api sebesar 2 meter tiba-tiba muncul dari belakang dan berusaha menyerang Van.
Van kemudian melompat dan melempar pisau di tangannya ke arah siswi yang menyemburkan bola api kepadanya.
Pisau tersebut akhirnya menancap di kepala siswi tersebut dan memanen nyawanya.
Siswi tersebut terkejut dengan serangan Van, tetapi sebelum dia bisa tersadar dari keterkejutannya, dia terjatuh dan mati
Adapun satu siswi yang tersisa.
Saat ini, dia terjatuh ke tanah dan menatap Van dengan ketakutan.
Van kemudian berjalan mendekatinya yang membuatnya semakin ketakutan.
"Ja-jangan, jangan bunuh aku."
Van berhenti di depan siswi itu dan berjongkok.
Akhirnya, siswi tersebut bisa melihat mata Van yang dingin, datar, dan tanpa emosi seolah-olah pembunuhan barusan tidak berdampak apapun padanya.
"Hei dengarkan aku, saat polisi datang, katakan bahwa kau membunuh mereka...
Jika kau tidak mengatakannya, maka aku akan menyiksamu sampai-sampai kematian adalah sebuah hadiah bagimu, paham?" ancam Van dengan dingin.
Siswi itu pun mengangguk, lalu Van memukul perutnya.
Rasa sakit yang berlebih membuat wanita itu jatuh pingsan tanpa sempat berteriak kesakitan.
Van kemudian berbalik dan menatap siswi tahun pertama yang sedang menatap kosong pada mayat yang baru saja Van bunuh.
Menyadari tatapan Van, wanita itu juga berbalik menatap Van.
"Ada apa? Kau ingin membunuhku? Bunuh saja aku. Lagi pula kematianku tidak berpengaruh apapun."
"Katakan namamu." ucap Van.
Siswi tersebut tertegun mendengar ucapan Van, tetapi kembali tersadar setelah beberapa saat.
"Alice, tanpa nama belakang. Orang tuaku membuangku sejak aku lahir" ucap Alice.
"Alice. Jika kau diberi kesempatan kedua, apa kau akan menerimanya? Balaskan semua dendammu dan buktikan bahwa kau berguna." tanya Van.
"Jika ada hal seperti itu, maka aku akan menerimanya." ucap Alice.
Van mengangguk atas tanggapan Alice, lalu melukai jarinya dan menyentuh dahi Alice.
Setelah itu, darah Van mengalir keluar dan terserap ke dalam dahi Alice.
Alice seketika merasa kekuatan aneh menyebar di dalam tubuhnya dan merasa dirinya penuh kekuatan.
...[Bawahan #1 - Alice - Telekinesis]...
[Telekinesis] : Kemampuan untuk mengendalikan suatu objek dengan kekuatan pikiran.
Van pun ikut merasakan perubahan pada tubuhnya dan bisa merasakan sensasi yang sama saat kebangkitan [Skill] saat di [Aula Kebangkitan].
Bersamaan dengan kebangkitan [Skill] baru, Van juga dapat merasakan hubungan antara dirinya dan Alice.
Dia merasa dapat mengetahui apa yang dipikirkan Alice, dimana dia berada, dan bahkan dapat mengendalikan tindakan yang dia lakukan. Apa pun yang Van katakan akan selalu menjadi perintah bagi Alice.
Adapun Alice, saat ini dia terdiam ketika merasa [Skill] miliknya dibangkitkan dan menatap Van dengan terkejut.
Tanpa keinginannya sendiri, Alice tiba-tiba berlutut pada Van.
"Mulai sekarang, lupakanlah mengenai identitasmu, tinggalkan Akademi. Rumahmu sekarang adalah organisasi [Dark Shadow]" ucap Van dengan nada datar.
"Baik Master." ucap Alice tanpa sadar dan pergi menjauh dari Akademi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Huang Ling'er
hey pakaiannya sangat sopan 😌
2024-10-15
0
Zeno
kayak shadow garden Jir
2024-06-14
0
☠zephir atrophos☠
ini entar kayak tatsumaki kah?
2023-12-03
0