Master Johnson saat ini sedang menatap arena di kelas dengan tatapan tak percaya.
Dia melihat semua orang saat ini terbaring di arena tak sadarkan diri.
Di antara kerumunan orang, terdapat seorang remaja yang berdiri diam sambil menyeka keringat yang mengalir di dahinya.
"Master, tak perlu khawatir. Aku hanya membuat mereka pingsan." ucap remaja tersebut yang tak lain adalah Van.
"Ya.... Baiklah." ucap Master Johnson sambil memikirkan kejadian sebelumnya.
...----------------...
Saat Master Johnson memulai pertarungan, Van bergerak dengan sangat cepat.
Setiap kali dia muncul, satu siswa terjatuh.
Meskipun pergerakan Van terbilang sangat cepat, tetapi Master Johnson dapat melihat pergerakan Van dengan sangat baik.
Namun yang membuat Master Johnson kagum adalah pukulan Van yang sederhana, tetapi penuh kekuatan.
Eksekusi pukulan Van sangat tepat, sehingga tidak membahayakan keselamatan para siswa.
Hanya dalam waktu 1 jam, Van berhasil mengalahkan semua siswa.
...----------------...
Adapun Van saat ini sedang terengah-engah sambil menyeka keringatnya yang mengalir di dahinya.
"Sungguh melelahkan, sepertinya latihan fisik perlu ditingkatkan." gumam Van.
Van kemudian kembali duduk di bangkunya dengan tujuan memulihkan tenaganya.
Setelah setengah jam menunggu, semua siswa akhirnya terbangun.
Mereka semua menatap Van dengan keterkejutan dan ketakutan di mata mereka.
"Baiklah semuanya, bersiaplah untuk pergi ke kelas berikutnya." teriak Master Johnson.
Van kemudian keluar dari kelas dan berjalan menuju kelas berikutnya.
Kelas berikutnya adalah [Kelas Pahlawan] yang membuat Van cukup menantikannya.
Setelah beberapa menit berjalan, Van akhirnya tiba di depan pintu [Kelas Pahlawan].
Namun sebelum membuka pintu, Van mendekati sebuah mesin di sebelah pintu.
Van memasukkan sidik jarinya di depan sensor sidik jari dan mesin tersebut mengeluarkan sebuah koper.
Van meraih koper tersebut dan langsung memasuki kelas.
Setelah masuk ke dalam kelas, Van melihat aula yang sangat luas. Lebih luas dari kelas sebelumnya.
Tidak ada bangku untuk duduk, tetapi terdapat belasan arena yang sangat besar.
Di masing-masing arena terdapat siswa tahun pertama yang telah tiba duluan sebelum Van.
Van kemudian berjalan menuju ruang ganti dan membuka koper yang diambilnya sebelum memasuki kelas.
Di dalam koper tersebut, Van melihat sebuah kostum pahlawan yang dirancang sendiri oleh para siswa akademi.
Van memilih kostum pahlawan berupa sebuah kaos hitam lengan panjang, celana hitam panjang, dan jubah panjang tanpa kerudung.
Sebuah kostum pahlawan yang sederhana, tetapi memudahkannya dalam hal fleksibilitas.
Van menatap dirinya di cermin dan mengangguk puas.
Van kemudian berjalan menuju arena dan disana dia melihat semua orang masih sibuk bermain dengan [Skill] mereka sambil menunggu Master datang.
Selang beberapa saat, sang Master akhirnya datang dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Perkenalan namaku Beatrix, pahlawan #8 (peringkat 8) - [Rune Master] sekaligus guru yang akan mengajar kalian di kelas [Kelas Pahlawan]." jelas Master Beatrix.
"Sebelum memasuki kegiatan kita, aku akan menjelaskan sedikit tentang [Pahlawan].
[Pahlawan] adalah orang-orang yang bertugas melindungi bumi ini dari berbagai masalah.
Mereka yang bertugas menyerang monster, melindungi masyarakat, dan melawan penjahat.
Mereka bertugas sambil mempertaruhkan nyawa mereka.
Jadi di kelasku, kalian akan diberikan pengalaman tentang menjadi pahlawan." jelas Master Beatrix.
"Baiklah mari kita mulai kelas kita." ucap Master Beatrix.
Master Beatrix mulai menulis bahasa Rune di udara dan sebuah Doppelganger dari setiap siswa mulai terbentuk.
"Coba lawan Doppelganger kalian. Dengan melawan diri kalian sendiri, maka kalian dapat melampaui batasan kalian." ucap Master Beatrix.
Tanpa memberi para siswa waktu untuk bersiap, para Doppelganger mulai berlari menuju para siswa.
Van juga sedang menghadapi Doppelganger miliknya sendiri.
Van mencoba menendang wajah Doppelganger dengan kakinya, tetapi berhasil ditahan.
Van melompat mundur dan Doppelganger Van memanfaatkan kesempatan ini dengan melompat ke arah Van.
Doppelganger mengepalkan tinjunya dan meninju ke arah kepala Van.
Namun, Van berhasil menahan tinju Doppelganger dengan telapak tangannya.
Van mengaktifkan [Decay] dan tangan Doppelganger mulai hancur menjadi debu.
Seolah menyadari bahaya yang mengancam nyawa, Doppelganger tersebut melompat menjauh.
Nampak selama melayang di udara, tangan Doppelganger tersebut mulai beregenerasi.
"Sudah kuduga, Doppelganger ini tidak berani menggunakan [Decay] karena tidak bisa mencelakakan siswa." gumam Van.
Van kemudian memasang pose bertarung jarak dekat dan menatap Doppelganger yang kembali berlari ke arahnya.
"Baiklah, akan kulampaui batasku sekarang tanpa menggunakan [Decay]." gumam Van.
Doppelganger memukul ke arah perut Van, tetapi Van berhasil menahannya.
Doppelganger itu melompat mundur sambil melakukan back kick.
Van menunduk, lalu mengangkat kakinya dan berhasil menendang dagu Doppelganger.
Doppelganger terlempar ke atas dan Van juga melompat untuk melawan Doppelganger tersebut di udara.
Van berputar di udara dan mencoba menendang perut Doppelganger.
Namun, Doppelganger tersebut menyilangkan tangannya di depan perut dan berhasil mengurangi impact serangan Van.
Meskipun begitu, Doppelganger tersebut tetap terlempar ke bawah.
Doppelganger membentur tanah, tetapi dapat be diri dalam sekejap mata.
Van yang baru saja mendarat langsung melompat ke arah Doppelganger dengan tangan kanan terkepal.
Tinju Van berhasil ditahan oleh Doppelganger, tetapi Van menggunakan tangan kirinya untuk meninju perut Doppelganger.
Tinju kiri Van berhasil ditahan oleh Doppelganger, tetapi Van menendang Doppelganger yang lengah dengan kaki kanannya.
Doppelganger akhirnya melepaskan tangan kiri Van, lalu mengangkat lengan kirinya untuk menahan tendangan Van.
Tendangan Van berhasil ditahan oleh Doppelganger, tetapi Van melakukan backflip dan kaki kirinya berhasil menendang wajah Doppelganger.
Van kemudian melompat dan mendaratkan tinjunya di wajah Doppelganger.
Tinju Van yang pertama berhasil melemahkan Doppelganger tersebut.
Akhirnya, Van terus melancarkan pukulan terus-menerus tanpa henti.
Setelah puluhan pukulan, muncul retakan di wajah Doppelganger dan Doppelganger tersebut mulai hancur menjadi debu.
Van menghela nafas ketika melihat Doppelganger tersebut hancur menjadi debu.
Van mengangkat kepalanya untuk melihat sekitarnya dan melihat semua orang masih sibuk melawan Doppelganger mereka masing-masing.
Van kemudian duduk menuruni arena dan duduk memulihkan tenaganya.
"Hei nak lama tak bertemu." suara Master Beatrix terdengar.
"Apa kita pernah berkenalan sebelumya?" tanya Van dengan datar.
"Astaga, aku ada di [Aula Kebangkitan] saat itu." ucap Master Beatrix.
"Ooo begitu." ucap Van.
"Jadi bagaimana dengan kondisimu di hari pertama [Akademi]?" tanya Master Beatrix
"Cukup melelahkan." jawab Van dengan singkat, padat, dan jelas
"Begitu, semangat nak. Kaulah harapan Ayahmu selanjutnya" ucap Master Beatrix dan pergi menjauh.
"Tak peduli apakah aku harapan Ayahku atau bukan. Selama itu tidak mengganggu urusanku, maka aku tak peduli." gumam Van.
...----------------...
30 menit kemudian.
Saat para siswa sibuk melawan Doppelganger, Doppelganger mereka tiba-tiba hancur menjadi debu.
Tentunya hal ini membuat mereka terheran-heran.
"Baiklah semuanya, kelas telah selesai dan sekarang waktunya makan siang." ucap Master Beatrix.
Mendengar ucapan Master Beatrix, semua orang tanpa sadar menghela napas lega.
"Akhirnya aku tak perlu melawan monster itu lagi."
"Sungguh melelahkan."
Van kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kelas menuju kantin.
Sesampainya di kantin, Van melihat kantin yang sangat ramai.
Van duduk di salah satu meja dan sebuah suara terdengar.
...[Selamat datang Siswa Van]...
...[Apa yang ingin Anda makan?]...
"Semangkuk ramen." ucap Van.
[Baiklah, 15 poin dikurangi dari penyimpanan Anda]
Semangkuk ramen akhirnya muncul setelah beberapa menit Van menunggu.
Setelah beberapa menit menikmati ramen, seorang siswa tiba-tiba menghampiri Van dan duduk di sebelahnya.
"Hai jenius, aku ingin melakukan transaksi denganmu." ucap siswa tersebut.
"Apa yang kau inginkan? Jangan membuang waktuku." ucap Van sambil memakan ramen miliknya.
"Aku memiliki biodata seluruh siswa tahun kedua dqn ketiga di [Akademi] ini." ucap siswa tersebut.
Van yang mendengarnya meletakkan sumpitnya dan bertanya dengan suara kecil, "Berapa yang kau inginkan?"
"Hanya 1000 poin, tak bisa kurang... Kau tahu kan jumlah poin kelas F." ucap siswa tersebut.
Van mengangguk setuju dengan argumen siswa tersebut.
Setiap bulan, poin akan dibagikan kepada setiap siswa akademi dengan 1 poin \= 1 dollar ($1)
Kelas S mendapat 5000 poin
Kelas A mendapat 4500 poin
Kelas B mendapat 4000 poin
Kelas C mendapat 3500 poin
Kelas D mendapat 3000 poin
Kelas E mendapat 2500 poin
Kelas F mendapat 2000 poin
Jumlah biaya hidup manusia rata-rata adalah $3000 (3000 dollar) dan dapat dipastikan kelas F dengan 2000 poin (2000 dollar) akan kesulitan untuk hidup di Akademi.
"Baiklah aku setuju, 1000 poin telah dikirim kepadamu." ucap Van.
"Baiklah, biodatanya akan tiba di depan asramamu nanti malam." ucap siswa tersebut lalu menjauh
"Sebaiknya kau tidak menipuku, jika tidak kau yang akan menanggung konsekuensinya." ucap Van dengan suara dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
☠zephir atrophos☠
kek kenal
2023-12-03
0