Larasati lari tergopoh begitu mendengar dari Teressa bahwa kondisi Miko kembali menurun. Ia bahkan tidak lagi peduli meski dirinya sedang berada di tengah rapat bersama pimpinan di kantornya, dan langsung pergi begitu saja dari ruangan rapat. Menurut Teressa, jantung Miko sudah semakin melemah, dan ia harus segera mendapat tindakan transplantasi.
Sementara Larasati berdiri sambil menatap Miko yang sedang terbaring di ruang ICU dengan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya, Dirga justru hanya memperhatikan punggungnya dari jauh. Meratapi ketidakberdayaannya saat ini, sambil menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melakukan apa pun.
Punggung itu jelas membuat Dirga mengingat malam-malam saat Miko baru dilahirkan dulu. Larasati merawat Miko dengan begitu sabar. Bahkan meski Miko terbangun tengah malam dan menangis kencang, Larasati tidak pernah membangunkan Dirga. Padahal, Dirga tahu betul bahwa Larasati juga lelah harus merawat Miko sendirian di rumah, sementara ia juga belum sepenuhnya pulih setelah melahirkan. Malam itu, di kamar mereka saat Miko menangis, Larasati bernyanyi. Begitu lirih dan merdu, membuat Dirga ikut merasa nyaman mendengarnya.
"You are my sunshine, my only sunshine.
You make me happy, when skies are grey.
You never know, dear, how much i love you.
Please dont take my sunshine away." Dirga seakan masih bisa mendengar dengan jelas nyanyian Larasati saat itu.
Lalu hari ini, Dirga melihat punggung itu bergetar sebab Larasati sedang menangis tertahan. Dirga bisa melihat dengan jelas bagaimana punggung itu tampak sangat rapuh dan mengemban banyak sekali beban. Hingga tak lama, Dirga mulai melangkah untuk mendekati Larasati. Ia merengkuh tubuh bergetar Larasati, untuk mencoba menenangkan.
"Ras, kita ngomong sebentar. Yuk?" ujar Dirga lirih, lalu membawa Larasati untuk duduk di aebuah kursi tunggu.
Di kursi itu, Dirga menggenggam erat tangan Larasati. Genggaman yang justru Dirga harap dapat menenangkan kalut yang bersarang dalam kepalanya.
"Kenapa?" tanya Larasati dengan suaranya yang nyaris tak terdengar.
"Ras, maaf. Aku nggak tau sejauh mana lagi bakal bikin kamu kecewa." Larasati bisa mendengar dengan jelas helaan nafas Dirga yang begitu berat. "Beberapa waktu lalu, aku tarik semua depositoku dari bank."
Kini Larasati menatap Dirga. Ia penasaran apa yang membuat laki-laki itu tampak gugup kali ini.
"Then?"
"Aku tarik uang itu karena ada temen aku yang ngajakin buat bisnis bareng. Semacam investasi gitu. Katanya, aku bisa dapat profit tinggi. Aku mutusin buat ikut, karena kupikir profit dari uang itu bakal bisa dipake buat pengobatan Miko."
"Terus ternyata investasinya nggak sesuai sama ekspektasi kamu." Larasati menyela ucapan Dirga. "Am i right?"
Hanya anggukan yang dapat Dirga berikan kali ini. Ia tidak tahu lagi apa yang bisa ia katakan pada Larasati. Bahkan untuk sekedar menenangkan atau meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja pun, Dirga tidak mampu.
"Terus? Uang kamu gimana?"
Dirga menggeleng. "Aku nggak tau. Kata temen aku, orang yang nawarin dia investasi itu menghilang."
"Damn." Larasati menyugar rambutnya dengan jari, lalu mendengus setelahnya. "Dirga, kamu tau yang harus jadi priositas kita kali ini tuh Miko!"
"Gimana bisa kamu ambil semua deposito yang kamu punya untuk ikut investasi yang nggak jelas begitu?!" lanjut Larasati.
"Maaf, aku nggak tau kalo bakal jadi begini"
"Harusnya kamu bisa mikir, Ga. Dari pada dipake yang nggak jelas gitu, mending kita pake dulu buat pengobatan Miko." Larasati bangkit dari kursinya. Ia kembali menangis. "Kamu harus tau kalo investasi semacam itu bukan untuk orang kayak kita. Bukan untuk orang yang lagi bingung buat bayar biaya rumah sakit anak."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Larasati meninggalkan Dirga dengan perasaannya yang hancur lebur. Ia tidak tahu lagi sejauh mana hidup bisa menghantamnya. Masalah-masalah yang ia hadapi belakangan ini seakan datang bersamaan, tanpa memberinya kesempatan untuk bernafas dengan tenang.
Kaki Larasati kini melangkah tak tentu arah, menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika seorang pria tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.
"Hey, whats wrong?" Jovanka menangkup kedua pipi Larasati, lalu menghapus air mata Larasati dengan jarinya. "Kenapa nangis?"
Alih-alih menjawab, Larasati justru menangis lebih kencang. Air matanya tumpah lebih deras dari sebelumnya. Maka untuk menenangkan Larasati, Jovanka membawanya ke dalam pelukan, sambil mengusap kepalanya lembut.
"Its oke. Ada gue, lo bisa cerita kapan aja. Habisin dulu sedihnya, selesaikan dulu nangisnya. Gue di sini," bisik Jovanka lembut.
Laki-laki itu bahkan tidak menghiraukan beberapa perawat yang berlalu-lalang sambil memperhatikan keduanya.
"Itu bukannya suami dokter Teressa, ya? Dia lagi peluk siapa?" Kalimat lirih yang terdengar dari salah satu perawat itu, bahkan masih bisa masuk ke dalam pendengaran Jovanka.
Jovanka tidak tahu apa yang membuat Larasati terlihat begitu sedih saat ini. Namun dari pada bertanya, ia lebih memilih untuk terus memeluk sambil menenangkannya. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Dirga sedang memperhatikan keduanya. Dengan tangan yang mengepal di samping tubuhnya, juga gemuruh dalam dadanya yang seakan ingin keluar dan menghabisi Jovanka saat itu juga. Namun ia cukup tahu, bahwa melakukan hal itu hanya akan membuat Larasati semakin marah dan kecewa padanya.
Tidak hanya Dirga, dari sudut lain rumah sakit itu, Teressa diam-diam menatap mereka— dengan pendan mata paling nanar. Entah dari mana asalnya, Teressa merasa bahwa kini dadanya begitu sesak hingga ia ingin menangis. Melihat Jovanka menenangkan wanita lain dengan begitu lembut dan teduh, cukup membuat Teressa merasa cemburu. Selama lima tahun pernikahannya, Jovanka bahkan tidak pernah memperlakukannya selembut ia memperlakukan Larasati.
Maka dalam keterdiaman Teressa saat itu, diam-diam dia berkata lirih, "Jo, kamu nggak pernah tau kalo selama ini aku juga berharap kamu liat aku dan jatuh cinta sama aku, sama kayak aku yang mulai jatuh cinta sama kamu ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments