Larasati menyadari bahwa perihal peliknya hubungannya dengan Dirga adalah sepenuhnya salahnya. Salahnya yang tidak mampu untuk mengakui bahwa Jovanka yang memberinya uang, salahnya yang memilih jalan yang rumit untuk keluar dari masalah biaya rumah sakit Miko. Namun, ia juga menyadari bahwa jika dirinya harus kembali pada hari itu, Larasati pasti akan tetap mengambil uang yang Jovanka tawarkan. Sebab menurut Larasati, Jovanka adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.
Perdebatan antara dirinya dan Dirga siang tadi, cukup berhasil untuk membuat rasa bersalahnya membuncah. Maka saat ini, ketika ia sudah pulang dari kantornya, Larasati justru memilih untuk naik taksi menuju apartemen milik Jovanka, alih-alih pulang ke rumah atau menemui Miko di rumah sakit. Entah sejak kapan, apartemen itu menjadi tempat favorit Larasati. Bukan karena kemewahannya, namun karena rasa nyaman. Rasa nyaman karena dirinya bisa menepi sejenak dari riuhnya hidup, menepi dari hiruk-pikuk Jakarta, juga menepi dari realita yang tidak pernah berpihak padanya.
Lalu dalam kesendirian Larasati di ruang tengah apartemen itu, ia menerka-nerka apa yang akan terjadi jika Dirga mengetahui soal hubungannya dengan Jovanka. Ia menerka-nerka, sejauh mana Dirga akan berteriak dan kecewa padanya. Hingga tak lama, Larasati mendengar suara pintu apartemen terbuka. Ia menoleh hanya untuk menemukan Jovanka yang baru saja masuk.
Sementara Larasati masih mematung di tempatnya, Jovanka berjalan cepat untuk mendekat dan memeluk Larasati begitu saja— tanpa mengatakan apa pun. Yang bisa Larasati lakukan hanya membalas pelukannya, tak kalah erat. Bahunya mulai bergetar. Bisa Jovanka rasakan bahwa kemeja yang sedang ia kenakan mulai basah, sebab Larasati menangis dalam dekapannya.
Alih-alih bertanya, Jovanka memilih untuk menepuk pelan punggung milik Larasati, untuk mencoba menenangkannya. Baru saja Jovanka berencana untuk marah padanya, karena semalam Larasati tidak datang meski Jovanka sudah memintanya, bahkan ia mendengar dengan jelas suara lenguhan Larasati yang sedang bercinta dengan Dirga. Namun melihat bagaimana rapuhnya Larasati saat ini, Jovanka memilih untuk meredam amarahnya.
Cukup lama mereka sama-sama terdiam, dengan ditemani suara isakan dari tangis Larasati. Hingga akhirnya, Larasati melonggarkan pelukannya, lalu menatap Jovanka.
"Jo, gue harus apa?" tanya Larasati dengan suaranya yang parau.
"Kenapa?" Jovanka mengusap lembut puncak kepala Larasati. "Kenapa nangis gini? Ada yang salah sama Miko? Atau kerjaan lo?"
Sisi lain Jovanka yang seperti ini, yang membuat Larasati takut. Perlakuan lembut yang selalu Jovanka berikan padanya, membuat Larasati merasa bahwa ada Dirga dalam diri Jovanka. Dengan begitu, Larasati takut kalau-kalau ia jadi jatuh cinta pada laki-laki yang berada di hadapannya itu.
"Gue boleh egois, nggak? Boleh, nggak ...." Larasati menjeda kalimatnya, lalu menatap Jovanka lekat. Ia mencari-cari, bagian mana dari diri Jovanka yang pada akhirnya akan membuatnya jatuh lebih dalam lagi. "Boleh nggak, kalo gue jatuh cinta sama lo dan berharap lo jadi milik gue?"
Ada keheningan di antara keduanya setelah Larasati mengatakan kalimat itu. Jovanka masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja Larasati ucapkan. Mungkin Larasati hanya lelah— pada keadaannya, juga pada Dirga. Mungkin, Larasati tidak benar-benar mengatakannya. Setidaknya hal itu yang terlintas dalam pikiran Jovanka.
Namun, merasakan bagaimana kini Larasati memeluknya begitu erat, juga bagaimana Larasati menatapnya dengan tulus, membuat Jovanka juga ingin bersikap egois. Jovanka benar-benar ingin mengambil Larasati sepenuhnya dari Dirga. Membawanya menjauh dari semua hal yang menyakitinya, lalu membuatnya menjadi perempuan paling bahagia di sisinya.
Jovanka tersenyum, lalu kembali mengeratkan pelukannya. "Gue bakal berterimakasih banget kalo lo akhirnya jatuh cinta sama gue. Tapi, Ras ...."
Setelah melepas pelukannya, Jovanka mengusap lembut pipi Larasati dengan jemarinya. "Lo harus siap. Dengan gue tau perasaan lo, gue bener-bener nggak akan mundur. Gue bener-bener nggak akan biarin lo lepas dari gue."
...****************...
Hal pertama yang Dirga sadari ketika melangkahkan kakinya di halaman rumahnya adalah bahwa rumah itu terlalu dingin. Rumah dengan design japanese dimana terdapat elemen-elemen seperti bunga-bunga kecil di sudut halamannya itu, tidak lagi 'hidup' seperti tahun-tahun pertama mereka menempati rumah itu.
Masih sangat lekat dalam ingatan Dirga, bagaimana Larasati bercerita tentang rumah impiannya dulu. Saat itu, Dirga dan Larasati masih berada pada tahun terakhir di kampus mereka. Masih terekam dengan jelas dalam benaknya, bagaimana Larasati mengatakan bahwa dirinya ingin memiliki rumah dengan halaman belakang yang luas. Halaman belakang yang memiliki kolam ikan kecil di sudutnya, juga pohon flamboyan yang indah.
Saat itu, Dirga pikir dirinya bisa mewujudkan keinginan Larasati. Dirga terlalu naif dengan berpikir bahwa hidup akan berjalan sesuai keinginannya. Pada kenyataannya, sejak kepergian Bapak semuanya tak lagi sama. Hidup tak lagi mudah bagi Dirga. Memang, Bapak bukan orang kaya yang bisa memenuhi segala keinginan Dirga, namun selama ada Bapak, setiap jalan yang Dirga lalui selalu terasa mudah.
Setelah hari kepergian Bapak, Dirga memutuskan untuk mengambil pekerjaan apa saja, asal ia bisa menghidupi Ibu dan dirinya sendiri.
"Ras, aku terlalu kacau untuk jadi laki-laki yang bisa kamu banggakan," kata Dirga saat itu. "Aku nggak bisa kasih kamu harapan sebanyak dulu. Soal kebaya yang kamu pengen untuk pernikahan impianmu, aku bisa beli itu. Tapi cuma sebatas itu. Aku nggak bisa sewa gedung mewah atau pake dekorasi elegan kayak impianmu dulu."
Kemudian seperti biasa, saat itu Larasati menenangkan Dirga dengan senyum teduhnya. Katanya, Larasati tidak membutuhkan gedung mewah atau dekorasi elegan. Katanya, Larasati tidak lagi menginginkan rumah berhalaman luas dengan pohon flamboyan. Katanya, asal dengan Dirga, semuanya sudah cukup.
Lalu di tengah ingatan-ingatan Dirga soal Larasati dan hangatnya hubungan mereka dulu, Dirga kembali merasa sesak. Sudah terlalu banyak Larasati mengalah dan berkorban dalam hubungan mereka. Sementara dirinya, hanya menerima dan menuntut Larasati untuk tidak pernah berubah dan selalu berada di sisinya. Sesak itu semakin memenuhi setiap rongga dadanya, saat Dirga mengingat bagaimana dirinya marah pada Larasati siang tadi.
Dirga kini mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan pesan untuk Larasati. Pesan yang ia harap bisa menjadi penyambung hubungannya yang retak, pesan yang ia harap bisa membuat perasaan Larasati membaik.
Untuk yang selalu kucintai dan tidak pernah terganti, Larasati...
Ras, aku masih ingat gimana dulu kita kenal. Aku yang punya banyak sekali kekurangan ini, dengan berani memaksa untuk jadi bagian dari kamu.
Ras, aku bahagia. Aku bahagia ketika kamu mengijinkan aku untuk jadi salah satu rumah untuk kamu pulang. Aku bahagia ketika kamu mengijinkan aku untuk jadi tempatmu mengeluh. Apa pun itu, kamu selalu jadi alasan kenapa aku bahagia dan bertahan sejauh ini. Asal ada kamu, Ras, aku bahagia.
Tapi, Ras, aku lupa. Aku lupa tanya soal perasaan kamu. Apa kamu juga bahagia sama seperti aku yang bahagia setiap kali ingat kamu, Ras? Apa kamu bahagia jadi bagian dari hidupku?
Maaf karena terlalu banyak kekurangan dalam diriku. Maaf karena setelah kita berjalan sejauh ini, aku belum kasih kamu kehidupan yang pantas. Maaf, karena selama ini aku belum cukup kasih kamu kebahagiaan. Tapi, Ras, dengan segala kekuranganku, kamu harus tau kalau aku berusaha yang terbaik untuk kamu. Mungkin kamu belum bisa lihat hasilnya sekarang, tapi aku janji kita akan keluar dari keadaan sulit ini.
Ras, saat kamu baca ini, aku harap kamu nggak pernah berpikir untuk menyerah soal kita. Aku harap kamu nggak pernah melangkah pergi dari hidupku. Tetaplah jadi penguatku yang paling hebat, Ras. Tetaplah jadi alasanku untuk bertahan lebih jauh lagi.
Dari aku yang paling mencintaimu, Dirga.
Setelah membaca kembali pesan yang ia tuliskan di ponselnya, Dirga memilih untuk tidak mengirimkannya dan menyimpan pesan itu. Dengan sekuat tenaga, Dirga menekan rasa sakit yang entah dari mana asalnya. Diam-diam ia berdoa untuk hubungan pernikahannya dengan Larasati. Tanpa ia tahu, jauh di sudut lain kota Jakarta, Larasati sedang bercinta dengan penuh gairah bersama Jovanka ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments