Pagi-pagi sekali, Dirga sudah bangun dan menyibukkan dirinya di dapur. Larasati bahkan masih bergulung di bawah selimut sambil memeluk Miko. Semalam setelah berdebat dengan Dirga, ia memilih untuk tidur di kamar milik Miko.
Masih sangat jelas dalam ingatan Dirga, bagaimana Larasati memilih untuk meninggalkan keluarga dan seluruh kenyamanan hidupnya, hanya untuk menikahi laki-laki yang tidak memiliki apa-apa sepertinya. Dulu, Larasati berasal dari keluarga yang cukup kaya. Lalu keluarganya mengambil seluruh aset dan fasilitas yang Larasati miliki, karena ia dan Dirga tidak mendapat restu untuk menikah.
Larasati tidak pernah mengeluh soal keadaan ekonomi keluarganya, pun tidak pernah nenibta barang mahal atau kehidupan yang mewah. Maka saat mendengar ucapan Larasati semalam, Dirga sangat menyadari bahwa dirinya sepenuhnya bersalah. Ia setuju pada opini Larasati bahwa dirinya tidak berguna.
Sudah sekitar satu setengah jam Dirga berkutat di dapur dengan bahan-bahan makanan. Sekarang, beberapa masakan sudah tersaji di atas meja makan. Larasati dan Miko baru saja keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah rapi. Setelah mendudukkan Miko pada kursi di samping meja makan, Larasati beranjak untuk keluar rumah.
"Sayang, nggak sarapan dulu?" tanya Dirga setengah berteriak, karena Larasati sudah berada di ambang pintu.
"Mama kerja, Ayah. Katanya buru-buru," sahut Miko yang memperhatikan Dirga sejak ia duduk.
Dirga tersenyum, lalu duduk di samping Miko. "Miko hari ini gimana? Apanya yang sakit?"
"Disini sakit, tapi Miko kuat." Miko menunjuk dada kirinya sambil tersenyum. "Kata Mama, kalo mau jadi Iron Man harus kuat, Miko kuat biar jadi Iron Man!"
Tanpa alasan, dada Dirga sakit. Begitu sakit hingga ia ingin berteriak. Kalau ada orang yang harus disalahkan dalam keadaan ini, maka ia adalah orangnya. Menurut Dirga, dirinya belum cukup berjuang untuk kehidupan Larasati dan Miko.
"Miko, makan yang banyak, ya. Sebentar lagi Ayah antar ke rumah Nenek. Ayah juga harus berangkat ke kantor."
Setelah mengangguk dengan antusias, Miko mulai menyantap makanannya dengan tenang. Tidak ada lagi percakapan di antara ayah-anak tersebut. Hingga tak lama, Dirga mendengar pintu rumahnya di ketuk. Ibunya datang. Wanita yang sudah terlihat cukup tua itu tersenyum di ambang pintu, lalu masuk begitu saja karena pintu rumah terbuka lebar. Rumah yang ditinggali mereka juga tidak luas, ibu Dirga bisa dengan leluasa melihat ke arah meja makan.
"Ibu? Baru aja Dirga mau antar Miko ke rumah Ibu."
Ibu tersenyum, lalu mencium pipi gembil milik Miko. "Mulai sekarang biar Ibu aja yang datang, kasian Miko kalau harus bolak-balik. Dia nggak boleh kecapekan, Nak."
"Larasati mana?" tanya Ibu setelah mengedarkan pandangan ke sekitar. Kini Ibu dan Dirga berjalan ke arah ruang tamu, meninggalkan Miko yang masih sibuk dengan sarapannya.
"Sudah berangkat, Bu. Belakangan ini dia lebih sibuk dari Dirga." Dirga menunduk sambil meremat jemarinya. "Dirga ngerasa bersalah sama Laras, Bu. Harusnya Dirga berusaha lebih keras buat pengobatan Miko."
"Rumah tangga itu yang menjalani dua orang, Nak. Kamu atau pun Laras, sama-sama harus berusaha keras untuk Miko. Ibu percaya kamu pasti bisa cari jalan keluarnya. Lagi pula, Dirga yang Ibu kenal selalu bisa menyelesaikan masalahnya," sahut Ibu sambil tersenyum.
...****************...
Kini Larasati sedang berada di dalam taksi yang membawanya ke sebuah apartement di kawasan elite, di daerah Kemang. Jovanka memintanya untuk datang ke alamat yang sudah ia berikan pada saat mereka bertemu di club.
Butuh waktu sekitar 45 menit hingga dirinya sampai di lobi apartement yang sangat mewah. Ia melangkah denga pasti, menuju sebuah lift yang berada di sisi kanan resepsionis. Setelah menekan angka 16, Larasati menarik nafas panjang. Jantungnya benar-benar berdebar. Ia bahkan belum tahu untuk apa Jovanka mengundangnya kemari.
Ting! Pintu lift terbuka, kemudian Larasati melangkah keluar dari lift tersebut. Matanya membulat sempurna, ketika mendapati bahwa di lantai tersebut hanya terisi lima unit apartement. Larasati benar-benar tidak bisa membayangkan seberapa luas unit milik Jovanka.
Kini Larasati berdiri di depan sebuah pintu yang bertuliskan angka 14 di sampingnya. Setelah kembali menghela nafas panjang, ia mulai menekan sandi pada pintu tersebut. Setelah pintu terbuka, ia mendapati Jovanka yang sedang duduk sambil sibuk dengan laptopnya.
"Welcome home, Ras," sapa Jovanka setelah mengalihkan atensinya pada Larasati yang masih berdiri di dekat pintu. "Ini satu-satunya unit apartement gue yang Terressa nggak tau. Mulai sekarang kita ketemu di sini."
"Gue udah atur sama pengacara kenalan gue, buat jadiin unit ini punya lo. Selama lo masih sama gue, lo nggak boleh jual unit ini. Kalo kita udah selesai—"
"Kenapa?" tanya Larasati yang mulai mendekat. "Kalo kita udah selesai, terus kenapa?"
Jovanka terkekeh, lalu meletakkan laptopnya di atas meja. "Gue nggak berharap kita bakalan selesai, sih. Tapi kalo hubungan kita selesai, lo boleh jual unit ini. Atau lo mau tinggal di sini sama Dirga dan anak kalian juga its oke."
"Bukannya ini berlebihan?" tanya Larasati yang masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Apartement itu bahkan lebih luas dari rumah yang selama ini ia tinggali. Ada sebuah jendela besar yang Larasati yakini bahwa pemandangannya akan sangat indah pada malam hari.
"Apanya yang berlebihan?"
"Apartement ini terlalu besar buat gue. Lo nggak perlu kasih gue sebanyak ini, cukup bantu gue sampe Miko sehat."
Jovanka tersenyum, lalu menarik Larasati untuk duduk di pangkuannya. "Nggak ada yang berlebihan, Ras. Kalo nggak karena bisnis keluarga, mungkin lo udah jadi milik gue. Jadi, sekarang gue nggak mau sia-siain kesempatan yang mungkin nggak bakal dateng dua kali ini."
"I'll make you a happiest woman in the world," lanjut Jovanka.
"Wanita paling bahagia?" Larasati tertawa kencang. "Bahagia nggak bisa dibeli dengan uang, Jo."
"Itu statement klasik, tapi kalo lo butuh cinta buat bikin lo bahagia, gue bakal kasih semua cinta yang gue punya. I swear."
"Soal Miko, gue udah ceritain ke Teressa. Dia bilang ada dokter bedah jantung terbaik di Jakarta yang kerja di rumah sakit punya keluarganya. Jadi lo bisa bawa Miko ke sana besok. Soal biaya, gue bakal kirim ke rekening lo."
"Teressa? Lo cerita soal Miko ke Teressa? Gimana bisa?"
Berbeda dengan Larasati yang tampak terkejut, Jovanka justru terkekeh. "Dia taunya Miko anak temen lama gue. Nggak mungkin gue bilang kalo Miko anak selingkuhan gue. Brengsek-brengsek gini gue juga punya akal."
"Baru hari pertama, lo udah kasih gue sebanyak ini. Jadi gue harus kasih apa buat bales semuanya?"
"Just making love with me. Puasin semua fantasi liar gue soal lo malam ini. Kasih gue semua yang Dirga dapat selama jadi suami lo."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Andira_Pena
terus memantau 🧐
2023-10-07
1